Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Bab 34


__ADS_3

Alex melihat dengan jelas Kanaya membentak suaminya, dia semakin yakin pernikahan keponakannya memang tidak sehat.


"Lihatlah, Kak. Putra dan menantumu saling membentak. Apakah mereka akan tahan dengan pernikahan seperti ini hingga satu tahun?" gumam Alex di dalam hati.


Raju tidak menyadari omnya saat ini tengah duduk di bangku taman di halaman rumah.


"Ayo, masuk." Raju pun menarik tangan istrinya lalu membawa Kanaya masuk ke dalam rumah besar dengan desain sederhana.


"Assalamu'alaikum," ucap Raju.


Raju langsung masuk ke dalam rumah karena pintu rumah terbuka.


"Wa'alaikummussalam," jawab Irene yang datang dari dapur.


"Raju, kalian sudah datang?" tanya Irene.


"Iya, Tante." Raju tersenyum pada tantenya lalu melirik istrinya.


Kanaya hanya diam, dia mencoba mengingat sosok Irene tapi karena baru sekali bertemu dia tidak terlalu jelas mengingat Irene.


"Salam dulu sama Tante, ini Tante Irene istrinya om Alex," ujar Kanaya memintanya menyalami tantenya.


"Siang, Tante," ujar Kanaya.


Kanaya pun menyalami Irene lalu menciumi punggung tangan wanita yang terlihat seumuran dengan ibunya maupun mertuanya.


Irene tersenyum.


"Istri kamu cantik sekali, Ju," puji Irene.


Irene senang melihat Kanaya yang juga terlihat santun. Tak jauh berbeda dengan ibunya.


"Kamu kapan datangnya?" tanya Irene.


"Kami baru sampai, Tante," jawab Raju.


"Kenapa tidak istirahat terlebih dahulu?" tanya Irene heran.


"Kebetulan tadi ada yang kami cari, jadi sekalian mampir, aku kangen nenek," ujar Raju.


"Ya sudah, ayo kita ke sana," ajak Irene.


Mereka pun melangkah menuju kamar tempat Hurry berada.


"Assalamu'alaikum, Nenek," ujar Raju lalu dia melangkah menghampiri tempat tidur Hurry.


"Wa'alaikummussalam, Raju. Kamu datang, Nak?" tanya Hurry.


Hurry juga sangat merindukan cucunya itu.


"Iya, Nek. Ini aku," jawab Raju.

__ADS_1


Raju pun mengecup puncak kepala neneknya.


"Bagaimana kabar nenek?" tanya Raju.


"Alhamdulillah, baik. Seperti yang kamu lihat," ujar Hurry.


"Mana istrimu? Nenek mau lihat," ujar Hurry.


"Mhm, ini Kanaya, Nek." Raju meminta Kanaya untuk menghampiri bunda Hurry.


"Assalamu'alaikum, Nek," sapa Kanaya.


Kanaya meraih tangan Hurry lalu mencium punggung tangan wanita tua itu.


Kanaya bersikap ramah pada wanita tua yang kini hanya terbaring lemah di atas tempat tidur.


"Wa'alaikummussalam, ya ampun, istrimu cantik sekali. Mama sama papa kalian memang pandai mencarikan jodoh untuk kalian," ujar Hurry memuji paras cantik sang cucu menantu.


"Nenek bisa saja, jangan terlalu memuji," lirih Kanaya.


Kanaya tersenyum manis pada nenek Raju.


Mereka mengobrol sejenak, berbagai hal diceritakan Raju. Dia menghibur neneknya sehingga wanita tua itu tertawa kecil mendengar cerita cucunya.


Kanaya melihat sisi positif yang ada pada diri sang suami.


Dia melihat pria yang selama ini dingin padanya, ternyata memiliki jiwa yang rumor dan penyayang.


Kanaya hanya banyak diam, walaupun sesekali dia ikut tertawa kecil mendengar candaan sang suami.


Satu jam mengobrol dengan Hurry, Raju pun pamit pulang pada neneknya.


Dia takut Kanaya kelelahan, padahal 2 hari lagi mereka akan melangsungkan resepsi pernikahan.


Raju tidak ingin Kanaya sakit di saat acara penting tersebut.


"Ya udah kalian hati-hati di jalan, ya," ujar Hurry.


Hurry sangat terhibur dengan kehadiran cucunya, dia tenang karena cucunya selalu menyampaikan diri untuk mengunjunginya meskipun mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


"Kami pulang ya Nek. nenek sehat-sehat terus," ujar Raju.


Raju mengecup puncak kepala sang nenek dengan penuh kasih sayang.


"Tante kami pulang dulu, ya." setelah itu Raju pun pamit kepada Irene.


"Iya, Nak." Irene tersenyum kepada sepasang suami istri yang kini ada di hadapannya.


Kanaya menyalami Irene lalu mencium punggung tangan tante dari suaminya itu.


"Oh iya, Tan, aku sampai lupa Om Alex mana?" tanya Raju heran sejak tadi dia belum berjumpa dengan omnya.

__ADS_1


"Mhm, tadi Om Alex di rumah sih tapi nggak tahu sekarang di mana, bisa jadi dia sedang di kamar," jawab Irene.


"Ya udah, Tan, kalau gitu aku titip salam ya buat om," ujar Raju.


Setelah itu mereka pun keluar dari rumah Alex, rajuk menggenggam erat tangan Kanaya, lalu dia pun membawa istrinya keluar dari rumah tersebut.


Raju membukakan pintu mobil untuk istrinya setelah mereka sampai di samping mobil milik Raju.


tak menunggu lama Kak Naya langsung masuk ke dalam mobil tersebut lalu duduk di sana dan tidak lupa memasangkan sabuk pengaman, Kanaya sudah terbiasa menaiki mobil.


Sehingga memasang sabuk pengaman merupakan hal yang sudah menjadi kebiasaan baginya setiap kali menaiki mobil.


Raju melajukan mobil sportnya menuju rumah kediaman keluarga Surya Atmaja ya kini ditempati oleh putranya dan cucu-cucunya.


mereka sampai di rumah saat waktu ashar masuk, laju menghentikan mobilnya tepat di depan pintu utama.


Dia keluar dari mobil, lalu menghampiri kepala pelayan yang sedang berdiri di teras.


"Bi Narti, tolong bawakan barang-barang ini ke dalam kamarku," ujar Raju pada wanita paruh baya yang sudah bertahun-tahun mengabdikan diri di kediaman Surya Atmaja.


Kebetulan saat itu Bi Narti tersebut sedang membersihkan teras rumah.


"Baik, Tuan muda," sahut Bi Narti.


Bi Narti pun ikut mengeluarkan beberapa paper bag yang ada di dalam bagasi mobil tuannya.


Raju tidak menyuruh si pelayan membawa semua barang belanjaan istrinya, sebagian lagi dia yang membawa menuju kamar.


Raju tidak membiarkan sang istri membawa satupun barang belanjaan sehingga Kanaya kini melangkah dapat di belakang si Bi Nah.


Mereka masuk ke dalam rumah lalu melangkah menaiki satu persatu anak tangga menuju kamar Raju yang ada di lantai 2.


Sesampai di kamar Raju meletakkan paper bag yang ada di tangannya di atas tempat tidur diikuti oleh si pelayan.


"Bi, tolong panggilkan pelayan yang biasa membersihkan kamar ini, ya," pintar aja kepada wanita yang sudah berumur tersebut.


"Baik, Tuan. kalau begitu bibi keluar dulu," ujar si Narti.


Setelah itu pelayan yang sudah berumur itu pun melangkah keluar dari kamar majikannya.


Dia pun mencari pelayan yang biasa membersihkan kamar yang ada di lantai 2.


Setelah b inarti keluar dari kamarnya, baju melangkah menghampiri istri yang kini berdiri di samping tempat tidur.


Kanaya hanya bisa diam saat sang suami menghampirinya, suaminya kini menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Seketika jantung Kanaya berdetak dengan kencang, dia takut Raju akan berbuat hal yang tidak diinginkannya.


"Masuklah ke dalam kamar mandi, bersihkan dirimu, aku akan membersihkan diri setelah kamu selesai," ujar Raju pada istrinya dengan nada datar.


Raju masih belum bisa bersikap manis pada istrinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2