
Kanaya sadar headset dan ponselnya tidak di tangannya saat dia bangun.
"Hah? Apakah jangan-jangan Raju yang membuka headset dari telingaku," gumam Kanaya di dalam hati.
Dia mencurigai suaminya.
"Eh, mana mungkin dia mau membuka headset di telingaku, melirik aku saja dia enggan," gumam Kanaya lagi.
Kanaya pun mencoba untuk mengabaikan hal sepele tersebut, dia melangkah menuju kamar mandi untuk berwudhu, dia akan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslimah yaitu shalat dzuhur.
Setelah Kanaya keluar dari kamar mandi, dia melihat Raju sudah selesai shalat. kini pria yang berstatus sebagai suaminya itu kembali duduk di atas sofa sambil memegangi tablet yang ada di tangannya.
Kanaya tidak memusingkan apa yang dilakukan oleh sang suami saat ini, dia mulai melaksanakan shalat dzuhur.
Di saat istrinya tengah menunaikan ibadah shalat dzuhur, Raju menatap sang istri dengan sangat dalam.
"ya Allah, akankah engkau murka dengan apa yang kini aku lakukan terhadap istriku? sebagai seorang suami aku tidak pantas mengabaikan keberadaannya, tapi apa yang bisa aku lakukan saat ini? Wanita yang sudah menjadi istriku merupakan wanita yang sangat dicintai oleh saudara kembarku, jika aku perhatikan mereka terlihat saling mencintai, aku mohon beri pengampunan atas apa yang sudah aku lakukan saat ini," gumam Raju di dalam hati.
Sebenarnya saat ini Raju sangat merasa bersalah pada wanita yang berstatus sebagai istrinya tersebut, karena sejak mereka menikahi hingga saat ini Raja selalu bersikap cuek terhadap istrinya.
Di saat hatinya merasa kasihan terhadap wanita itu, terlintas wajah saudara kembarnya yang sangat mencintai sosok Kanaya.
Tatapan mata raja dan Kanaya di waktu mereka berada di pantai membuat baju yakin mereka berdua saling mencintai.
Raju tidak ingin menjadi penghalang untuk bersatunya cinta mereka.
Meskipun saat ini wanita yang dicintainya sudah sah menjadi istri saudara kembarnya, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena rajut tidak tahu bagaimana hati Kania terhadapnya.
"Sudah waktunya makan siang, ayah dan ibu sudah menunggu di ruang makan," ujar Kanaya sebelum keluar dari kamar.
"Baiklah," lirih Raju.
Kanaya menunggu merajuk di ambang pintu kamar.
Raju berdiri dan melangkah menghampiri istrinya yang kini sudah menunggunya.
Mereka melangkah beriringan keluar dari kamar menuju ruang makan.
Di ruang makan Gita dan Nick sudah duduk di kursi yang biasa mereka tempati.
"Kanaya, Raju, ayo sini ikut makan," ajak Gita.
Gita dan Nick baru saja hendak mulai makan siang.
"Iya, Bu," lirih Kanaya
__ADS_1
Kanaya pun duduk berhadapan dengan ibunya sedangkan Raja dudu tepat di sampingnya.
Kanaya mengambil piring yang ada di depan Raju, lalu dia pun mengisikan nasi dan lauk di piring tersebut, seperti biasa Raju tidak banyak berkata apa makanan yang diinginkannya,. dia selalu makan makanan apa saja yang diambilkan oleh istrinya itu.
"Terima kasih," ucap Raju pada Kanaya.
Gita mendengar ucapan Raju pada putrinya yang terdengar sangat kaku dan dingin.
"Nak Raju," lirih Gita.
Raju menoleh ke arah ibu mertuanya heran.
"Iya, Bu," sahut Raju.
"Mhm, kamu sama Kanaya tidak panggil Sayang atau istriku begitu?" ujar Gita.
Gita sengaja memancing Raju dan Kanaya membiasakan diri berucap dengan sapaan yang romantis.
Raju menoleh ke arah Kanaya, begitu juga dengan Kanaya. Mereka saling melempar pandangan, masih dalam dalam diam.
"Ibu dan Ayah dulu, setelah menikah langsung memanggil pasangan kami dengan sebutan sayang, berawal dengan ungkapan lama-lama bisa jadi sayang benaran," nasehat Gita pada putri dan menantunya.
Nick hanya diam sambil tersenyum di dalam hati mendengar aksi istrinya yang terlihat ingin sekali putri dan menantunya lekas saling mencintai.
"Mulai hari ini, Ibu tidak mau mendengar kalian berbicara tanpa panggilan kata sayang," ancam Gita.
"Ya Allah, bagaimana bisa aku ngomong kata sayang padanya, dia kan bukan pria yang aku cintai," gumam Kanaya di dalam hati.
"Astaghfirullah, haruskah seperti itu. Apakah aku harus memanggil wanita yang dicintai kakak kembarku dengan sebutan sayang," gumam Raju bingung.
Saat ini dia risau dengan sebutan yang wajib mereka lakukan di hadapan Gita.
Gita tersenyum puas melihat reaksi keduanya. Dia harus berusaha keras untuk mempersatukan putri dan menantunya agar rumah tangga mereka bahagia hingga tua nanti.
"Coba ulangi, tadi Raju bilang apa pada Kanaya," titah Gita dengan wajah tegas.
"A-apa?" lirih Raju.
"Kamu bilang apa tadi sama Kanaya," ujar Gita lagi.
"Mhm, te-terima ka-kasih, Sa-sayang," lirih Raju canggung.
Raju melihat mata Kanaya dengan dalam saat mengatakan hal itu.
Kanaya hanya tersenyum, dia berpura-pura bahagia dengan apa yang diucapkan oleh sang suami di hadapan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Nah, begitu dong. Ibu suka mendengarnya," ujar Gita tersenyum lebar.
Mereka pun menikmati makan siang dengan lahap.
Nick hanya diam dengan wibawa dan kesahajaan di hadapan putri dan menantunya.
Setelah selesai makan siang, mereka pun kembali ke kamar.
Saat berada di kamar lagi-lagi Raju bersiap-siap untuk melangkah menuju sofa tempat dirinya terus berdiam diri selama berada di kamar.
"Ba-bang," lirih Kanaya memanggil Raju.
Raju pun menghentikan langkahnya lalu dia menoleh ke arah sang istri.
"Ibu dan Ayah pasti merasa ada yang aneh dengan sikap kita ini," lirih Kanaya.
Kanaya merasa bosan dengan apa yang telah terjadi di antara mereka.
"Lalu?" tanya Raju penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh Kanaya.
"Lalu?" Kanaya kesal mendengar respon dari Raju.
Baru kali ini Kanaya bertemu dengan seorang pria yang sama sekali tidak memiliki inisiatif sedikitpun.
3 hari mereka sudah menikah, hanya sikap dingin yang di dapat oleh Kanaya.
"Lalu kami maunya apa?" tanya Raju.
Raju ingin Kanaya menyampaikan apa yang saat ini diinginkannya.
"Huhft." Kanaya merasa kesal pada suaminya.
Kanaya mengurungkan niatnya, awalnya Kanaya ingin memulai pertemanan di antara mereka.
Paling tidak dengan berteman, mereka tidak perlu canggung untuk memperlihatkan hubungan rumah tangga mereka yang baik-baik saja di hadapan kedua orang tuanya.
Kanaya pun meninggalkan Raju, dia melangkah menuju tempat tidur, dia kembali memasang headset di telinganya, setelah itu dia pun membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Kanaya menutup wajahnya dengan selimut, dia menunjukkan kekesalannya terhadap sang suami dengan cara menutup wajahnya.
Raju hanya bisa melihat apa yang sedang dilakukan oleh istrinya.
"Apa sebenarnya yang kamu inginkan?" gumam Raju di dalam hati.
Raju ingin mereka menjalin pertemanan terlebih dahulu tapi dia tidak bisa mengungkap lebih awal apa yang ada di hatinya pada Kanaya karena gengsi.
__ADS_1
Bersambung...