Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Season 2


__ADS_3

Dev memandang kearah Nadia yang sedang duduk di shopa sambil membersihkan lukanya sendiri, karena ini adalah kesempatan bagai Nadia untuk mengobati lukanya selagi Natasya lepas darinya.


"Mamah, kenalin ini papahnya Natasha. Namanya Devino, mamah boleh panggil papah Dev."ujar Natasha memperkenalkan papahnya kepada Nadia.


Nadia tersenyum kemudian ia berdiri berjalan mendekat."halo, saya Nadia."Nadia mengulurkan tangannya.


Dev hanya melirik sekilas tanpa memperdulikan tangan Nadia yang sudah berdiri tegak berharap berjabat tangan denganya, lelaki itu kemudian menatap anaknya.


Nadia tersenyum kikuk, kemudian ia menarik kembali tangannya yang malang tak di perdulikan.


"Sayang, kenapa kamu memanggil orang lain dengan sebutan mamah? itu gak sopan."ujar Dev mengajari anaknya.


"Tapi mamah Nadia memang mamah Natasha, Pah."ujar Natasha.


"Tapi sayang, kita gak kenal sama orang asing. Bagaimana kalau dia berniat jahat sama kamu."kata-kata Dev menyinggung perasaan Nadia.


"Permisi tuan yang terhormat, anda menilai saya terllau berlebihan seperti nya. Kalau saya berniat jahat, untuk apa saya susah payahnya menolong ibu dan anak anda."kesel Nadia tak suka di tuduh sebagai orang jahat.


Dev terdiam melirik sekilas kepada Nadia yang terlihat kesal denganya, entah mengapa mulutnya itu begitu lancang berucap demikian. Padahal sudah tau ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana gadis itu memperlakukan anaknya dengan baik serta tulus. Seharusnya ia berucap terima kasih bukan malah menuduhnya.


"Pokoknya Natasha mau mamah Nadia jadi mamah nya Natasha, kalau mamah Nadia gak jadi mamahnya Natasha! jangan harap Natasha mau minum obat apa lagi untuk sembuh. Dan Natasha bakalan benci sama papah."ancam Natasha berucap tegas tak mau di bantah.


"Apa!" Nadia terkejut dengan ucapan anak yang sudah ia tolong itu.


Dev menghela nafasnya, menatap anaknya yang kini sedang cemberut membuang muka kearah laen.


"Iya sayang, mamah Nadia akan menjadi mamah kamu asal kamu cepat sembuh, oke." bujuk Dev karena anak nya itu paling sudah jika minum obat atau dapat perawatan saat sakit.


"Janji, kalau mamah Nadia bakalan jadi mamahnya Natasha?"Natasha mengeluarkan jari kelingking tanda mengucap janji.


"Iya Papah janji."Dev pun menerima jari kelingking itu dan mengucapkan janji, janji adalah sebuah janji yang tak dapat di ingkari, karena itu sama saja seperti hutang yang harus di lunasi.


What! mereka Memeng gila.


Nadia memijit pelipisnya tiba-tiba merasa pening di kepala, bangaiama tidak melihat hal gila gadis kecil yang meminta dirinya menjadi mamahnya. Dan lebih gilanya lagi adalah ayahnya yang menerima permintaan konyol anaknya.


"Apa-apaan ini? aku rasa kalian berdua sudah gila."pekik Nadia tak terima karena keduanya seenaknya saja mengucap janji tanpa persetujuan dari nya. Gadis itu pun berlalu keluar meninggalkan ruangan tersebut tanpa peduli teriak Natasha yang memanggilnya.


"Mamah, mamah."teriak Natasha.


"Pa, mamah Pah."rengek Natasha tak mau Nadia pergi meninggalkan nya.


"Kamu tunggu di sini ya, biar papah yang bicara sama mamah kamu."Natasha memanggil, kemudian Dev berlari keluar mengejar Nadia.


"Nadia, tunggu."Dev menarik pergelangan Nadia sehingga gadis itu menghentikan langkahnya.


"Apa lagi sih?"bentak Nadia mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman Dev.


"Lepaskan."Nadia masih kekeh mencoba melepaskan tangannya.


"Kalau saya tidak mau!"


"Dokter Dev, jangan menguji kesabaran saya."teriak Nadia menatap tajam pada Dev.


"Kalau begitu, tidak usah."


Ini orang sudah gila, bagaimana bisa ada orang gila seperti dia. Nadia benar-benar di buat kesal oleh lelaki itu.


"Nadia!"panggilnya.


Nadia mendongkan kepalanya menatap Dev yang cukup tinggi dirinya, lelaki berkacamata itu berucap lembut saat memanggil namanya. Aah, mungkin ia salah dengar!


"Menikahlah denganku."


Lagi-lagi Nadia merasa ada yang tidak beres dengan pendengarannya.


"Aku rasa kupingku bermasalah, besok-besok pergi periksa ke dokter THT dulu."ucap Nadia mengorek-ngorek lubang telinganya.


"Jangan lakukan itu, kamu bisa melukai telinga mu."larang Dev melepaskan tangannya kemudian meraih tangan Nadia satunya yang kini sedang mengorek-ngorek lubang telinganya dengan jari kelingkingnya.


Nadia sedikit mundur dari Dev yang kini memang agak sedikit dekat darinya.


"Saya serius, menikahlah denganku."

__ADS_1


Hah! jadi ini bukan salah pendengaran.


"M-menikah?apa kau gila. Sejak kapan kita sedekat itu sehingga kau dengan mudahnya mengucapkan soal menikah?"Nadia tersentak, namun ia mencoba untuk berusaha tenang.


"Wow, apa ini sebuah lelucon? bagaimana bisa anda ingin menikah dengan seseorang yang baru saja anda jumpai."


"Kenapa? apa ada undang-undang nya tidak boleh menikah dengan orang yang baru di kenal? satu kali pertemuan dan kamu bisa langsung menikah bukanya itu momen yang langka. Sangat jarang ini dapat terjadi."ujar Dev percaya diri membuat Nadia mengerutkan dahinya.


"Katakan itu pada orang laen, saya yakin pasti banyak wanita yang senang mendengar anda berkata seperti itu."


"Tapi anak saya hanya menginginkan kamu menjadi mamahnya, dan saya rasa ibu saya juga menyukai kamu. Jadi kamu tidak bisa menolaknya lagi,"ucap Dev seolah tak ingin di batah lagi.


"Gila, kamu benar-benar sudah gila. Pernikahan bukan sebuah lelucon pak dokter, saya hanya akan---- menikah dengan orang yang memiliki ikatan cinta. Bagaimana bisa membangun rumah tangga tanpa adanya cinta?"kata Nadia membuat Dev tersenyum miring.


"Cinta? heh, apa gunanya dengan cinta jika ujung-ujungnya berakhir dengan sebuah penghianatan dan perceraian."


Nadia menatap Dev dengan menaikan sebelah alisnya, ia yakin jika itu adalah masalah pribadi lelaki ini karena nampak dengan jelas dari raut wajah suram lelaki itu.


"Yang saling mencintai saja bisa berakhir di meja hijau, lali apa kabar dengan yang tidak saling mencintai? mungkin baru satu hari menjadi pengantin sudah ada kata-kata cerai terucap. Dan aku paling tidak suka dengan itu. Maaf saya tidak bisa menerima permintaan anda, karena saya tidak mau menikah bukan karena cinta."


Dev tersenyum kecut mendengar kata saling mencintai, dulu pernikahan begitu banyak kata cinta di dalamnya. Tapi semuanya itu hilang dalam sekejap Karena penghianatan dan itu membuat pernikahanya berakhir dari kata perceraian.


"Mamah jahat, mamah gak sayang sama Natasha. Mamah bohong katanya tidak akan pergi meninggalkan Natasha, tapi mana buktinya? mamah saja tidak mau menjadi mamahnya Natasha. Natasha benci sama mamah."Natasha menangis kemudian berlari keluar dari rumah sakit.


Nadia dan Dev terkejut ternyata Natasha mendengar pembicaraan mereka.


"Natasha tunggu, dengarkan penjelasan mamah dulu."Nadia mengajar Natasha yang sudah jauh darinya.


"Mamah jahat, mamah gak sayang sama Natasha."Natasha terus saja berlari hingga terasa sudah berada di luar jalan raya.


"Natasha awas."teriak Nadia saat melihat Natasha berada di jalan serta motor berlalu kencang.


BRAAAAAAK...


Namun sayangnya teriakan Nadia terlambat, karena Natasha sudah berguling di lantai akibat tabrakan motor mengenai dirinya.


"Tidaaaak." lagi-lagi Nadia melihat dengn mata kepalanya sendiri kecelakaan tersebut, dan lagi-lagi korban nya adalah orang yang sama hanya saja bedanya Natasha seorang.


"Tidak, sanagt bangun sayang. Maafkan mamah."Nadia gemetar mengangkat tubuh Natasha.


"Apa yang sudah kamu lakukan pada anakku, hah."bentak Dev kemudian ia mendorong Nadia menjauh dari Natasha.


"Maaf."lirih Nadia terisak menayesal.


"Kalau sampai Natasha kenapa-kenapa, saya tidak akan pernah maafkan kamu."ucap Dev dingin kemudian membawa Natasha kerumah sakit supaya dapat segar mendapatkan pertolongan.


Nadia mengekori Dev membawa Natasha, ia ingin mengetahui keadaan anak itu walapun di larang kerasa oleh Dev yang mengusirnya keluar. Andai saja ia tidak menolak permintaan Natasha yang meminta ayahnya menikah dnegannya, mungkin kecelakan ini tidak akan terjadi.


Nadia duduk di kursi tunggu, ia begitu resah gelisah berharap tak terjadi sesuatu yang fatal terhadap anak itu. Ia sangat merasa bersalah jika itu sampai terjadi, andai saja waktu dapat di putar ulang mungkin hal semacam ini tidak akan terjadi. Pikir Nadia merasa bersalah.


"Ya Allah, semoga gak terjadi apa-apa pada Natasha."Nadia tak ada henti-hentinya berdoa demi kesembuhan Natasha, anak yang baru beberapa jam yang lalu baru saja ia tolong, dan kini kembali lagi mengalami nasib naas terjadi pedannya lagi.


"Dokter Dev."Nadia menghampiri Dev cepat saat melihat pintu UGD di buka olehnya.


"Bagiamana keadaan Natasha?"sambung Nadia bertanya harap-harap cemas.


"Untuk apa kau sok pura-pura peduli dengan anakku, belum puas ku membuatnya kembali terluka, hah."kata sinis Dev sedikit membentak.


"Tidak Dev, aku memang sangat mengkhawatirkan keadaan Natasya. A-aku minta maaf."Nadia menarik sedikit baju jas Dev memohon supaya dirinya dapat di maafkan.


"Pergilah, jangan sampai saya melihat muka kamu lagi di sini."usir Dev kemudian lelaki itu menepis tangan Nadia berlalu meninggalkan gadis itu yang kini menangis.


"Tidak, Dev aku mohon tolong izin kan aku merawat Natasha."Nadia berlari mengejar lelaki itu kemudian kembali menarik bajunya tapi kali ini berada di pergelangan Dev.


"Enyalah."dingin Dev, Nadia menggeleng.


"Tidak, aku tidak akan pergi. Walapun kau menyeret ku keluar."imbuh Nadia tegas tak ingin pergi karena ia ingin menebus rasa bersalahnya pada Natasha.


Dev memandang Nadia dengan pandangan tak tak dapat di artikan, hingga suara seseorang menyadarkannya.


"Dokter Dev, Natasha sudah siuman. Sekarang anak anda terus memanggil mamahnya."ucap suster yang baru saja keluar dari ruangan UGD.


"Itu aku, Natasha memangil ku."Nadia berlari menuju ruang UGD tak peduli jika Dev akan marah padanya.

__ADS_1


"Sayang, kamu sudah sadar?"ucap Nadia merasa lega yang sudah berada di samping sisi bangkar tempat Natasha terbaring lemah.


"Mamah."lirihnya menatap Nadia.


"Iya sayang, mamah di sini. Maafkan mamah ya karena mamah, kamu terluka."ucap Nadia lirih dengan mata berkaca-kaca, entah kenapa perasaannya pada Natasha begitu dalam bahkan rasa sayang pun hadir dengan sendiri ya di dalam hati.


"Hiks,,hiks, apa mamah akan pergi meninggalkan, Natasha?"isak lemah Natasha, ia tak ingin kehilangan Nadia yang sudah ia anggap sebagai ibunya sejak gadis itu menyelamatkan nyawanya.


"Ngak sayang, mamah tidak akan pernah meninggalkan Natasha, karena mamah sayang sama Natasha."jawab Nadia mengecup kepala gadis kecil yang kini sedang terbaring sembari menangis.


"Tapi, bukannya mamah tidak mau menikah sama papah? dan itu artinya mama tidak mau menjadi mamanya Natasha, kan? dan akan pergi meninggalkan Natasha."ujar gadis kecil itu mengingat ucapan dari Nadia.


"Siapa bilang mamah gak mau menikah dengan papah? mamah mau kok."ujar Nadia membuat Dev tersentak yang sedari tadi berdiri tak jauh dari mereka sambil menyimak saja interaksi dari keduanya.


"Maksudnya mamah, mamah mau menikah sama papah? tapi tadi mamah bilang..."


Dev pun sama ingin tau, dengan apa yang di maksud dari omongan Nadia. Bukanya tadi ia mengatakan tidak akan menikah dengan orang yang tidak ia cintai. Lalu sekarang apa?


Nadia tersebut membelai pucuk kepala Natasha."Mamah hanya marah saja pada papah kamu."ujar Nadia.


"Marah? marah kenapa."kini Dev yang bertanya.


"Iya, mamah marah kenapa sama papah?"Natasya pun ikut bertanya.


"Mamah marah sama papah, karena Papah melamar mamah gak pakai cincin."Nadia menunjukan jari maninya yang masih kosong sembari tersenyum.


"Papah."Natasha menatap tajam kearah Dev.


Dev melirik kearah Nadia yang kini menganggukan kepalanya.


"Iya sayang, maafkan papah ya. Papah janji bakalan pesan cincin yang istimewa buat mamah. Tapi kamu janji juga harus untuk segera sembuh."kata Dev membuat Natasha mengambangkan senyum lebarnya senang.


"Bener Pah, papah gak bohong 'kan?"Natasha memastikan.


"Iya sayang, papah gak bohong."Dev meyakinkan, demi anaknya ia rela melakukan apapun bahkan termasuk menikah dengan orang yang baru ia kenal.


"Yeeee Natasha bakalan punya mamah beneran."sorak Natasha girang.


"Sayang kamu jangan terlalu banyak gerak."cemas Dev.


"Mah, mamah gak bohong juga 'kan, mau menjadi mamahnya Natasya?"gadis kecili itu bertanya sekali lagi untuk lebih yakin.


"Iya sayang, mamah janji."jawab Nadia yakin membuat Natasha merasa senang degan jawaban calon mamahnya itu.


"Tapi kamu harus janji akan selalu patuh apapun yang di katakan oleh pak dokter, karena kalau tidak dia akan marah hingga mengeluarkan tanduk."bisik Nadia menutup mulutnya dengan sebelah tangan berharap Dev tak melihat gerakan mulutnya. Natasha mengangguk sambil mengacungkan jempol tanda setuju.


"Eheeeem"Dev berdehem.


Kedua wanita itu kemudian saling lempar seyumnya, sambil mengedipkan sebelah mata.


"Kamu istirahat dulu ya, Papah mau bicara sebentar sama mamah kamu."ujar Dev pada anaknya.


"Tapi janji gak lama."kata Natasha.


"Iya sayang, hanya sebentar aja kok, janji."Dev mengulurkan jari kelingkingnya, Natasha tersenyum menerima jari kelingking dari ayahnya.


"Ayo kita bicara di luar."aja Dev pada Nadia yang nampak bingung.


"Oh, em baiklah."desahnya pasrah walaupun tak mengerti.


"Sayang mamah keluar sebentar ya sama Papah, kamu istirahat yang baik ya biar cepat sembuh."ucap Nadia berpamitan kemudian ia mengecup kening gadis kecil itu.


"Iya mah, Natasha sayang mamah."


"Mamah juga sayang Natasha."


Dev hanya memandangi instraksi antara anaknya dan Nadia yang sangat akrab itu, sebenarnya ia tidak tau mengapa Natasha bisa begitu sangat akrab dengan orang asing. Tak seperti biasanya anaknya sellau cuek bahkan terkesan dingin jika ada seorang yang mendekatinya. Namun dalam hatinya ia merasa haru karena Nadia nampak tulus menyayangi anaknya.


Kini Dev dan Nadia pun sudah berada di luar ruangan Natasya. Lelaki itu duduk di kursi tunggu, begitu juga dengan Nadia mengikuti duduk tepat di sampingnya.


"Kamu..."keduanya menjadi canggung, bahkan membuka suara pun sampai barengan.


"Kamu dualan yang berbicara."ujar Dev mempersilakan.

__ADS_1


Nadia menghela nafasnya menetralkan dirinya, entah kenapa ia menjadi sangat gugup saat ini berbeda dengan awal bertemu dengan lelaki di sampingnya ini.


"Kamu mau ngomong apa, sama aku?"tanya Nadia.


__ADS_2