
Angga terburu-buru masuk ke dalam rumahnya, ia mengetuk pintu dengan tak sabaran takut sang istri semakin marah padanya.
"Saya..."
Belum sempat memanggil, Sera tiba-tiba langsung menghambur ke dalam pelukannya.
"Aku seneng banget kamu pulang Mas," ucap Sera masih memeluk suaminya menghirup aroma tubuh membuatnya merasa nyaman.
Angga diam kebingungan, istrinya itu bersikap biasa saja seolah tak ingat waktu di telpon tadi yang marah-marah serta menangis padanya. Ia benar-benar tak mengerti wanita, atau memang dirinya yang tak tau sikap wanita.
"Mas, kok diam aja sih? Lagi mikirin apa?"
Lagi-lagi Angga menatapnya kebingungan bahkan sampai kepala ia miringkan tanpa sadar. Apa istrinya lagi amnesia atau apa? benar-benar tidak ingat sama sekali dan sungguh membuatnya bingung. Namun syukurlah, setidaknya ini lebih baik dari pada marah-marah apa lagi menangis pikir Angga.
"Nggak apa-apa sayang, ya udah yuk masuk!" ajak Angga merangkul pinggang istrinya.
Sera menggelayut manja, ia terus mengembangkan senyumnya senang.
"Kamu udah makan, Mas?" tanya Sera.
Angga tersenyum kecil, ia memang sudah makan waktu di kantin rumah sakit tadi. Tapi melihat makanan banyak terhidang di meja makan membuatnya berbohong." Belum sayang."
"Hah, kok belum? Kamu ini gimana sih? Sekarang udah lewat jam makan siang, bisa-bisa kamu belum makan," omel Sera menatap horor suaminya.
"Aku tau kamu seorang dokter, tapi bukan berat mengabaikan kesehatan kamu juga 'kan? Kalau sakit maag gimana? Kamu sengaja ya mau bikin aku khawatir!"
__ADS_1
Angga menelan ludahnya kasar, ia salah perhitungan rupanya. Niat berbohong agar istrinya tidak kecewa karena sudah masak banyak. Namun justru kena omelan yang membuat gendong pendengarnya ingin pecah.
"Maaf sayang."
"Sekarang bilang maaf, nanti bilang sakit. Besok mau bilang apa lagi kamu. Sekarang makan, awas kalau gak habis."
Angga menggaruk-garuk kepalanya tak gatal, ia serba salah. Tak ingin membuat kecewa hati istrinya dan membiarkan dirinya yang di omelin karena tak makan. Padahal sudah jelas perutnya sudah sangat kenyang sekarang.
"Iya sayang, kamu juga makan ya, gak baik marah-marah terus, nanti cepat tua ... aya makan, katanya tadi mau makan bareng aku," bujuk Angga mengajak Sera makan juga.
"Oh jadi kalau aku marah-marah, cepat tua gitu. Terus kamu gak mau lagi sama aku, cari perempuan lain lagi yang lebih muda dan gak cerewet kayak aku!" mata Sera berkaca-kaca, entah kenapa hatinya tersinggung hanya karena candaan suaminya itu.
Angga menjadi panik, ia salah berkata lagi. Apa yang harus ia lakukan sekarang. Angga menjadi kebingungan sendiri dengan sikap istrinya sekarang.
Sera menyeka air matanya menatap Angga.
"Yang benar? Kamu gak lagi bohong, kan?" ucap Sera.
"Iya sayang, kalau perlu belah dada ini dan lihatlah, hanya ada nama kamu terukir di hati aku," jawab Angga menggombal receh.
Sera tersenyum, ia berpindah duduknya di pangkuan Angga dan menyandarkan kepalanya di dada yang bidang itu.
"Maaf ya aku udah marah-marah sama kamu, aku gak tau kenapa akhir -akhir ini aku ingin marah-marah, dan tiba-tiba nangis gak jelas. Padahal aku lagi gak datang bulan," cerita Sera.
Angga mengerutkan keningnya, gak datang bulan. Bukanya seharusnya minggu ini istrinya itu sudah memasuki tanggal itu. Apa mungkin?
__ADS_1
"Emmmm, sayang! Apa kamu mau mengeceknya?" tanya Angga ragu.
Sera mendongakkan kepala menatap Angga.
"Mengecek? Maksud kamu...!"
"Iya, mengeceknya. Ya kalau misalkan memang belum ada, ya gak apa-apa. Kita bakalan berusaha lebih keras lagi."
Sera terdiam, hatinya ragu untuk mengeceknya. Takut kecewa untuk kesekian kalinya. Namun mengingat minggu ini telat datang bulan, apa ia boleh berharap?
Angga mengelus surai hitam panjang Sera lembut, ia tidak akan memaksa jika istrinya belum siap. Ia mengerti perasaan Sera setelah mengetahui hasilnya yang selalu negatif. Mungkin butuh waktu lagi untuk memastikan. Angga juga dalam hati sangat berharap namun karena menjaga perasaan ia tak mungkin menunjukkan.
"Tidak apa, jangan terburu-buru. Sekarang kita. makan ya, kamu pasti belum makan, kan?"
Angga menyuapi Sera makan, dan membiarkan duduk di atas pangkuannya karena ia juga senang dapat memeluknya.
"Nanti kamu ke rumah sakit lagi, Mas?"
"Iya sayang, kamu gak apa-apa kan?"
Sera mengangguk, setidaknya hatinya sudah tidak gelisah lagi karena sudah tersampaikan keinginan nya makan bareng suami.
Saat menguyah makanan, Sera berpikir.
"Mengeceknya ya? Apa aku kembali mengecek lagi bulan ini? Tapi ... ah sudahlah gak ada salahnya mencoba," batin Sera memutuskan untuk mengeceknya. Dalam hati kecil sangat berharap namun tak ingin terlalu menunjukan takut kecewa lagi.
__ADS_1