
"Key, apa-apaan kamu? Kenapa begitu bodoh hah!" bentak Vindra kembali.
"Udah, Nak. Sudah cukup, hentikan!" sahut Vira.
"Ck, Vindra heran. Kenapa anaknya janda, kalian berdua malah mendukung," desisnya ketus.
Keyra mendongak, ia tersenyum menatap abangnya.
"Ini demi kebaikan aku sama Leo, Bang. Kalau Keyra bisa memilih, Keyra tetep ingin mempertahankan pernikahan ini sampai maut memisahkan," ucap Keyra memaksa senyumnya.
"Tapi sayangnya Keyra bukan Tuhan yang dapat memutar balik perasaan seseorang. Keyra tidak bisa memaksanya, dan akan hanya menyakiti perasaan dia begitu juga Keyra." Diam sesaat....
"Bodoh! " umpat Vindra bergumam.
Keyra menyeka air matanya yang hendak keluar. " Berhenti selalu menuntut ku untuk menjadi yang sempurna, sedangkan kau tidak pernah ada untuk menjadikan aku yang sempurna!" jawab Keyra kali menatap kakaknya tajam.
"Aku melakukannya supaya kamu bisa lebih baik lagi, Keyra. Apa kau tidak mengerti, hah!"
" Apa yang harus ku mengerti? justru Abang yang tidak mengerti! Abang selalu saja memarahiku, dan memintaku jauh lebih baik lagi. Tapi bukan itu yang aku mau, Bang?" teriak Keyra, dan mengejutkan semuanya.
" Aku hanya menginginkan kasih sayang seorang Abang pada adiknya itu nyata, dengan kelembutan dan kehangatan. Itu yang aku mau Bang, tapi kau tidak pernah ada setiap aku membutuhkan Abang. "
" Itu karena aku sibuk, Keyra. Jangan seperti anak kecil," jawab Vindra.
Keyra berdecih, ia tertawa dingin menatap Vindra.
"Iya, kau sama saja seperti Mamah dan papah. Selalu sibuk, sibuk dan sibuk. Kalian sama sekali tidak pernah perduli bagaimana aku begitu kesepian tanpa kalian. Tanpa peduli apa aku perasaan aku, kalian terlalu mengabaikan aku ... Maka sebab itulah aku selalu iri kepada Sera!" Keyra menantikan ucapannya sejenak melirik arah Keyra yang tertegun.
"Ya, aku iri padanya yang selalu mendapatkan kasih sayang dari keluarganya. Kasih sayang yang begitu tulus, penuh kehangatan dan kelembutan. Berbeda denganku yang justru kebalikkan nya. Sebab itulah aku menginginkan apapun yang ia miliki, bahkan termasuk Leo! karena apa? Karena aku butuh kehangatan dan kasih sayang sama seperti dia."
__ADS_1
Keyra tanpa ragu lagi mengungkapkan semuanya di depan keluarga dan keluarga Leo. Ia mengeluarkan semua isi ada di dalam hatinya yang selama ini ia pendam terhadap keluarga nya itu.
"Maafkan Mamah Nak? " Vira menangis, ia tidak tau putrinya itu begitu menderita.
" Maafkan Mamah, Mamah terlalu sibuk sehingga mengabaikan kamu ... Mamah minta maaf." Vira memeluk erat anaknya, ia menyesali semuanya.
Keyra menarik nafasnya panjang, ia berusaha untuk mengikhlas dan melupakan semuanya.
"Sudahlah Mah, yang lalu biarlah berlalu. Keyra juga minta maaf karena sudah menjadi anaknya durhaka ... apa boleh Keyra pulang ke rumah? "
Vira melepaskan pelukannya lalu mengangguk sembari tersenyum senang." Tentu, tentu saja boleh. Kamu adalah anak Mamah, ayo kita pulang!" ajaknya.
"Iya, ayo kita pulang. Rumah Papah juga rumah kamu, pintu selalu terbuka lebar untuk kamu. " Wisnu menyela ia merangkul anaknya lembut. Di masa depan ia pasti akan memberikan perhatian lebih untuk menembus kesalahan di masa lalu.
" Iya... " Keyra senang, setidaknya ada tempat untuk kembali. Bersyukur keluarganya masih mau menerima dirinya dan calon anaknya.
" Tunggu, kalian pulang tidak mungkin dengan keadaan seperti ini, kan? " cegah ibu Endang melihat mata bengkak serta kondis begitu kasut.
" Anda benar Bu, orang -orang akan melihat kami aneh jika pulang dengan keadaan seperti ini," ujar Vira terkekeh.
Ibu Endang juga ikut tertawa kecil." Cuci muka dulu, setelah itu kita minun teh anget agar badan juga lebih enakan. "
" Baiklah, terima kasih. "
Setelah membasuh wajah, kedua. keluarga itu kini duduk santai di ruang tamu. Tak ada lagi tangis di sana.
" Kami bukan mengusir kamu, Nak. Dan jika memang ini sudah menjadi keputusan kalian, Papah tidak bisa berbuat apa-apa. Namun jangan anggap kami ini musuh setelah perceraian kalian." Angga membuka suara.
"Iya, betul apa yang di katakan oleh Angga, cerai bukan berarti putus tali persaudaraan. Sering -sering main ke sini, Eyang kesepian di sini. Jangan hiraukan Leo, anggap saja dia tidak ada. Kalau dia berani mengusir kamu bilang sama Eyang, " ucap eyang tulus.
__ADS_1
" Iya Eyang, insyaallah ... Papah tenang saja, Keyra tidak membenci kalian, apa lagi menganggap musuh."
"Syukurlah kalau seperti itu, dan misalnya Leo tidak bertanggung jawab dengan cucu Papah. Jangan khawatir, karena Papah sendiri yang akan bertanggung jawab! "
Semuanya langsung menatap kearah Angga, terutama Sera.
" Eh ... em, maksud aku bertanggung jawab pada bayinya. " Angga meluruskan ucapnya," sayang jangan salah paham! "
Yang lainnya menjadi tertawa melihat Angga begitu takut dengan istrinya.
" Keyra mengerti Pah, terima kasih. Papah begitu baik, Sera benar-benar beruntung mendapatkan suami seperti Papah. " Keyra melirik Sera yang tersenyum padanya, walaupun wanita itu masih belum mau berbicara kepadanya.
" Hus, jagan lirik-lirik. Nanti kamu iri dan kepengen Angga juga jadi suami kamu!" canda Vira pada anaknya.
Keyra jadi ketawa, begitu juga dengan yang lainnya.
"Mamah tenang saja, Keyra udah tobat kok. Lagi pula Keyra gak suka om-om. Bukan tipe Keyra," jawabnya sembari tertawa seraya bercanda. Namun Angga mendengus kecil karena di sebut -om-om.
"Bukan om-om, tapi hot Daddy, tau!" Sera. menyahuti membela suaminya.
"Aaah, kamu memang istriku, love you ... muaah. "
" Angga..." Semuanya berteriak, lelaki itu tidak tahu malu bermesraan di hadapan semua orang.
"Ups ... sorry, keceplosan," jawab Angga seraya tanpa dosa.
Wajah Sera memerah bak kepiting rebus, ia sangat malu. Sera pun mengerucutkan bibirnya sebel pada suaminya itu, Angga hanya tertawa melihatnya karena begitu gemes dan berusaha membujuk nya kembali.
Suasana kini menjadi hangat, tawa tulus begitu nampak dari. mereka semua. Keyra baru menyadari, melakukan hal baik dan jujur itu seperti ini rupanya. Hangat, damai dan sangat tulus.
__ADS_1
Hidup bagaikan cermin, yang akan selalu meniru setiap perbuatan yang di lakukan. Jika berbuat jahat dan keburukan pula balasannya, begitu juga sebaliknya. Ia benar-benar bodoh, karena rasa iri membuat mata hatinya buta. Dan kali ini ia ingin hidup lebih baik lagi, berharap kehangatan seperti ini yang akan ia dapatkan di masa depan kelak.
..