
Selama di dalam perjalanan, Alex tak mau melepaskan Sherly dalam pelukannya. Lelaki itu bahkan membiarkan istrinya duduk di atas pangkuannya dengan sangat sosesif. Sherly merasa ada yang aneh dengan suaminya, biasanya tidak sampai setakut seperti ini. Namun Sherly membiarkan perlakuan suaminya itu, karena ia juga menikmati nya.
Sesampainya di kamar Hotel, Alex langsung mengajak Sherly ke tempat tidur lalu menindih tubuh istrinya tersebut.
"Hey, ada apa?" tanya Sherly lembut sambil mengusap pipinya.
Tanpa kata Alex langsung mencium nya. Dan melakukan mantap-mantap saat itu juga. Sherly yang kebingungan hanya bisa pasrah walau dalam hati selalu bertanya ada masalah apa. Namun ia begitu menikmati kehangatan yang di berikan oleh suaminya itu, nanti saja soal tanya-bertanya yang penting nikmati saja dulu keliaran si Ucok yang semakin menjadi gila.
"Sayang, sebenarnya kamu kenapa? Sikap kamu menjadi aneh setelah makan malam bareng Takasi tadi," ujar Sherly bertanya dengan nada lembut.
Alex tak menjawab, ia justru kembali menindih tubuh Sherly dengan tatapan tajam, dan langsung mencium bibir istrinya kasar.
"Mas, kamu ini kenapa? Sakit loh," omel Sherly mendorong tubuh Alex karena bibirnya terasa sakit akibat ciuman Alex yang kasar, bahkan sedikit robek di dalam akibat terkena goresan gigi suaminya.
"Aku gak suka, di saat kita lagi berdua kamu malah nyebut-nyebut nama laki-laki lain di hadapan ku," ujarnya dingin dengan nada sinis.
"Apa?" Sherly mematung tak percaya dengan ucapan suaminya.
Apa lagi Alex sudah pergi dari hadapannya menuju kamar mandi bahkan pintu saja di banting olehnya.
"Mas Alex sebenarnya kenapa sih, aku hanya bertanya kenapa sampai semarah itu. Apa aku melakukan sesuatu yang tidak kamu sukai Mas, kalau kamu diam saja seperti ini aku gak tau di mana letak kesalahan aku, karena aku bukan para normal yang bisa tau segalanya," ujar Sherly menangis, sikap suaminya membuatnya bingung.
Alex mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Tangannya sudah memerah akibat memukul dinding yang keras. Ia marah pada dirinya sendiri yang tak bisa mengontrol rasa cemburunya. Padahal ia seharusnya sudah tau jika Sherly bukanlah wanita yang haus akan kekuasaan apa lagi uang. Namun tetep saja rasa takut atas perkataan Takashi membuatnya prustasi.
"Apa yang sudah aku lakukan? Aaaaaakkkkhhhh, bodoh kau Alex." Alex terus menyalahkan dirinya sambil terus memukuli dinding sambil mengguyur badannya dengan air dingin.
Setalah selesai mandi, Alex memandang arah istrinya yang duduk melamun di tempat tidur sambil memeluk lututnya di balik selimut.
Alex yang sudah memakai celana, ia menghampiri perlahan. Sangat sakit hatinya melihat mata sembab istrinya yang ia yakini jika air mata itu habis menetes dari kelopaknya yang indah.
"Sayang, aku ...."
"Sebaiknya kamu tenangkan diri dulu, aku mau mandi. Setelah itu baru kita bicara," ujar Sherly dingin membuang muka.
Alex terdiam, ia menunduk sedih.
Sherly turun dari tempat tidur membawa selimut menutupi tubuhnya yang polos menuju ke kamar mandi. Alex hanya menatapnya sendu.
"Maaf." lirihnya setelah Sherly sudah menutup pintu.
Sherly berendam dalam air hangat di bak mandi, semoga keputusan tidak salah membiarkan suaminya itu tenang sebentar supaya lebih enak jika bicara dalam keadaan kepala dingin.
"Aku gak tau apa masalah nya, tapi aku gak suka dia tiba-tiba marah-marah seperti ini. Apa kamu gak bisa sedikit terbuka Mas." lirih Sherly sedih sambil terus mengingat apa kesalahan yang ia bawa sehingga membuat suaminya itu marah padanya.
"Apa karena aku bilang apakah Sasuke ganteng kali ya? Atau marah karena aku makan pedas bersama tuan Takasi tadi?" Sherly terus mengingat-ingat kesalahan nya.
Alex mengacak-acak rambutnya tak tenang. Sudah cukup lama istrinya itu berada di dalam kamar mandi. Ia mondar di depan pintu kamar mandi. Alex menoleh lega saat istrinya membuka pintu.
"Syukurlah kamu gak kenapa-napa. Aku khawatir banget soal nya kamu udah lama di dalam gak keluar-keluar," ujar Alex memeluk istrinya erat.
"Aku gak kenapa-napa. Aku hanya berendam aja kok," ujar Sherly menenangkan." tolong lepasin aku dulu, aku mau ganti baju, dingin."
"Ma-maaf." Alex melepaskan pelukannya dan memperhatikan istrinya itu berganti pakaian tidurnya. Alex duduk di tempat tidur menuggu. Mengobrol sambil bersandar dengan kaki selonjoran jauh lebih nyaman.
__ADS_1
"Sayang, kemarilah." panggil Alex. Sherly yang sudah berpakaian lengkap menurut dan naik ke tempat tidur perlahan. Wanita itu menarik nafasnya.
"Cobalah cerita, sebenarnya kamu ada masalah apa? Aku tidak bisa mengingat semua tentang kejadian tadi sore yang membuat kamu marah sama aku! Jika aku ada salah tolong katakan, agar aku bisa menyadari kesalahan ku," ujar Sherly bertanya dengan nada lirih.
Alex menarik nafasnya panjang dan membuangnya perlahan kemudian menatap istrinya sendu karena raut wajah ceria istrinya berubah menjadi suram.
"Maafkan aku, aku hanya takut kehilanganmu, sayang. Aku takut kamu pergi meninggalkan ku dan pergi bersama laki-laki lain," ujar Alex menatap kedua mata Sherly dengan serius, ia berkata dengan nada sangat lirih sambil memegang kedua tangan istrinya, benar-benar takut akan kehilangan.
"Apa kamu masih meragukan Aku Mas? Apa kamu masih tidak percaya padaku?" tanya Sherly dengan mata berkaca-kaca, sesak dadanya mendengar untuk kesekian kalinya Alex selalu mengatakan takut jika ia akan pergi darinya, padahal ia sudah puluhan kali meyakinkan jika ia tidak akan pernah pergi karena hatinya, cinta nya sudah miliki suaminya itu.
"Bu-bukan seperti itu, bukan seperti itu sayang. Aku hanya takut jika ada laki-laki yang jauh lebih tampan, jauh lebih kaya, memiliki kekuasaan. Bisa memberikan segalanya, membawa keliling dunia. Perusahaannya ada di mana-mana, dan di takuti oleh banyak orang. Dan tiba-tiba lelaki itu mengatakan jika ia menyukai mu. Menyukai wanita yang sudah bersuami, istriku. Dan suatu hari dengan berani nya lelaki itu mengungkapkan isi hatinya padamu, lalu kamu bersedia menerima cinta nya kemudian pergi bersamanya dan meninggalkan aku yang jauh kalah jika di bandingkan dengan nya. Aku takut sayang, a--aku .... aku ...."
Sherly menarik tangannya dari genggaman tangan Alex, ia menutup mulutnya tak percaya jika Alex memiliki pikiran seperti itu terhadap dirinya.
"Jadi seperti itu aku di matamu Mas? Apa di matamu aku adalah wanita yang tergila- gila dengan uang, haus akan kekuasaan? Seperti itukah aku di matamu Mas?" tanya Sherly dengan suara sedikit membentak. Sakit hatinya dengan tuduhan suaminya, ucapan seperti itu bukannya sama saja menuduh jika dirinya adalah wanita matre, gila dengan harta kekayaan saja.
Alex menganga, tidak, bukan seperti itu. Istrinya sudah salah paham, ia tidak sama sekali berpikir jika istrinya itu matre, ia cuma takut kehilangan, iya ... hanya saja ia takut kehilangan.
Alex ingin sekali mengatakan tidak, tapi entah mengapa rasanya sangat berat, mulutnya seakan terkunci. Suaranya seperti tertahan di tenggorokan.
Butiran bening kristal itu mengalir dengan tentang di pipi mulus nan putih itu.
"Apa yang dia katakan sama kamu?" tanya Sherly berusaha untuk tenang, ia menghapus air matanya.
Alex menelan ludahnya dengan gugup. Aura istrinya sedang tidak bersahabat. Dan ini semua karena kebodohannya yang masih meragukan cinta istrinya untuk dirinya.
"Takasi mengatakan jika tak ada wanita di dunia 8ni mampu menolak laki-laki kaya dan berkuasa. Karena bagi wanita kekayaan dan kekuasaan sama saja seperti nyawa mereka, itu yang di katakan oleh Takasi," ujar Alex menceritakan sebelum ia melangkah menghampiri Sherly.
"Jadi ...bapa menurut mu aku seperti itu?" tanya Sherly lagi, Alex menggeleng tidak tau.
"Tentu, aku sangat mencintaimu. Sangat-sangat mencintai mu," jawab Alex cepat.
"Dan jika ada lelaki kaya menginginkan ku, apa akan menyerahkan aku begitu saja?" Sherly terus mengajukan pertanyaan.
"Tidak, Samapi nyawa terakhir aku tidak menyerahkan kamu, kecuali kamu sendiri yang memintanya," jawab Alex serius.
"Kenapa?"
"Karena aku tidak bisa menahan kamu jika kamu memang ingin meninggalkan ku, asal kamu bahagia, aku pun akan bahagia. Mencintai tidak perlu harus memiliki, karena jika memang jodoh tidak akan pernah kemana," jawab Alex.
"Lalu apa yang kamu pikirkan tentang ku? Apa kamu pikir aku akan pergi dengan nya?" tanya Sherly.
Alex bingung harus menjawab apa, ia benar-benar ragu. Belum terlalu lama mengenal Sherly, jadi belum tau watak aslinya seperti apa. Karena biasanya 2 Minggu setelah menikah baru akan terlihat sikap-sikap yang tersembunyi dalam diri masing-masing pasangan
"Apa kamu pikir aku memilih kamu menjadi suami ku, karena kamu sudah mapan, memiliki perusahaan sendiri? Apa aku wanita semacam itu di matamu Mas?" tanya Sherly lagi dengan lirih. Alex bungkam.
Sherly menarik nafasnya panjang.
"Jika aku pergi bersamanya, apa kamu pikir aku akan bahagia? Dia menginginkan ku hanya karena penasaran, jika nantinya dia sudah merasa bosan aku akan di buang layaknya sampah tak berguna sama seperti wanita lainnya. Dan saat itu terjadi aku akan sangat menyesal karena telah memilih kesenangan semata, sedangkan kesenangan dunia akhirat, telah aku sia-sia kan. Usiaku memang masih muda, tapi aku tau mana yang baik dan mana yang tidak, aku memilih mu bukan karena kamu memiliki harta! Aku memilih mu karena aku percaya kamu bisa menuntun ku ke jalan surga," tegas Sherly serius. Yang ia katakan benar-benar
"Walau ada banyak lelaki yang kaya raya, berkuasa, bisa berkeliling dunia, membeli apapun yang di inginkan. Tapi untuk apa itu semua jika yang aku cari hanya surga yang ada di telapak kaki suamiku, menuntun ku ke jalan yang benar menuju surga. Sedangkan kekayaan hanya kesenangan semata di dunia yang hanya sekedar titipan dan bisa kapan saja di ambilnya kembali dalam sejenak. Lalu untuk apa aku memilih kesenangan yang hanya sekejap namun menyesatkan dalam akhirat? Tempat selamanya kita berada di sana," lanjut Sherly.
Alex menunduk, ia salah karena sudah meragukan istrinya. Air matanya menetes benar-benar malu di hadapan Sherly.
__ADS_1
"Mas, aku tidak akan pernah meninggalkan mu. Kamu adalah suamiku, imam ku, surga ku. Bukankah kita sudah berjanji untuk selalu bersama, dalam keadaan senang maupun susah, suka maupun duka. Bahagia, sedih kita hadapi bersama. Bukankah kita sudah berjanji!"
Alex mendongak, ia mencari kebohongan dari kedua mata Sherly. Sayangnya yang ia dapatkan hanyalah ketulusan, Sherly benar-benar tulus ingin hidup bersama nya. Alex langsung memeluknya erat menangis menumpahkan segala perasaan dalam hatinya, ia bahagia. Sangat-sangat bahagia.
"Terima kasih sayang, terima kasih. Dan maaf karena sudah meragukan mu, aku janji tidak akan pernah meragukan mu lagi, maafkan aku," ucap Alex yang terus mengeluarkan air mata.
"Berjanjilah untuk selalu terbuka, sebaiknya bertanya dulu sebelum mengambil keputusan sendiri. Apa yang orang lain pikirkan bum tentu saja sama dengan kenyataan. Berjanjilah untuk saling percaya, karena aku tidak akan pernah meninggalkan mu, aku sudah jatuh cinta sama kamu Mas!"
Alex melepaskan pelukannya, ia hendak bangkit namun dengan cepat Sherly menarik tangannya menyuruhnya duduk kembali. Sherly tau jika Alex pasti akan menjedotkan kepalanya lagi di dinding, sungguh lelaki yang aneh.
"Jangan lakukan itu, ini bukan mimpi oke. Sekali lagi aku katakan jika aku mencintaimu, sangat mencintai mu suamiku, imamku, surgaku."
"Be-benarkah, tidak bohong?" tanya Alex meyakinkan sekali lagi. Sherly mengangguk.
"Terima kasih sayang, terima kasih. Aku juga sangat mencintai mu, bahkan lebih sangat mencintaimu." Alex mengecup setiap inci wajah istrinya. Kemudian mendarat di bagian bibir hingga keduanya saling mengutarakan perasaan satu sama lain lewat ciuman penuh kelembutan itu.
"Sayang, mau nambah lagi," pinta Alex dengan wajah melas.
"Bukannya tadi udah?" tanya Sherly, nambah di kira makanan minta nambah.
"Iya tapi masih kurang, pokonya mau lagi. Nggak banyak kok, cum 2 ronde aja nambah nya," ucap Alex santai seraya tanpa dosa.
"Mas, dasar mesum ... aaakh aku belum siap, kau udah main masuk aja, dan sejak kapan aku udah gak berpakaian." Sherly memukuli dada Alex yang kini sudah kembali bersarang. Lelaki itu hanya tertawa lalu menutup mulut istrinya dengan ciuman agar tidak mengoceh lagi.
"Nikmati saja sayang, si Ucok lagi berjuang keras ini agar keinginan mamah untuk mendapatkan cucu segera terkabul," ucap Alex yang terus memompa si Ucok.
Sherly hanya bisa pasrah, suaminya itu sudah kecanduan dengan dirinya. Ia bisa apa selain menikmati kehangatan yang di berikan oleh lelaki yang ia cintai, cinta Alex yang tulus telah membuat hatinya luluh. Akan sangat menyesal jika ia sia-sia kan. Di luar sana belum tentu bisa mendapatkan suami seperti Alex.
Saat lagi panas-panasnya, handphone Alex berdering.
"Mas ada telpon," ujar Sherly.
"Biarlah, jangan di hiraukan. Fokus aja sayang, sedikit lagi mau keluar nie," ucap Alex.
Handphone itu terus berdering hingga panggilan 10 x tak terjawab. Setelah mencapai puncak, Sherly yang penasaran lalu melihat siapa yang menelpon suaminya malam-malam seperti ini.
"Hah, Papah," ujar Sherly kaget, ternyata yang menelpon suaminya itu adalah Angga.
"Ngapain pak tua itu menelpon?" tanya Alex, Sherly mengangkat kedua bahunya tak tau.
Sesaat kemudian ....
"Ya Allah Mas, kita kan lupa pamitan sama papah dan mamah!" pekik Sherly baru menyadari jika ia dan suaminya lupa memberi tahu keberangkatannya ke Jepang pada orangtuanya.
Handphone Alex kembali berdering, Sherly menyerahkan handphone itu pada suaminya untuk segera di jawab.
"Halo ...."
"Aleeeeeeeex. Kau dasar menantu sableng! Beraninya kau pergi ke Jepang gak bilang-bilang sama kami?"
Alex menjauhkan HP tersebut dari kupingnya, suara mertuanya itu benar-benar sangat nyaring sampai-sampai gendang telinganya nyaris pecah.
" Maaf, lupa," jawab Alex santai.
__ADS_1
"Apa!"