
"Selamat datang di rumah lama, sayang," ucap Dara seketika membuka pintu setelah sampai di kediamannya yang lama. Dimana dia dulu hanya tinggal sendiri tanpa kedua orang tua. Untungnya masih ada para ART yang menemani. Dan sekarang ia kembali lagi ke rumah yang menyedihkan ini. Tetapi ia bersyukur setidaknya ada anak dan ibu bersamanya kali ini walau tak ada lagi para ART yang bekerja.
"Ini rumah Mami yang dulu?" tanya Nicko melihat-lihat sekeliling. Rumah yang nampak tak terawat, kusam, berantakan dan banyak debu. Barang-barang di tutupi oleh kain putih.
"Iya sayang, semoga kamu betah ya tinggal di sini. Karena cuma ini satu-satunya harta kita yang masih ada sisa," ucap Dara mengusap kepala anaknya.
"Oh." Nicko pun membuka kain penutup shopa karena sudah sangat lelah ia pun duduk bersandar di sana.
"Kamu tunggu di sini dulu ya, Mami mau bersihin kamar Nicko biar bisa istirahat."
Nicko hanya mengangguk, lalu ia mengeluarkan hp nya dan langsung memainkan game kesukaan. Sementara Liana masih sibuk melihat-lihat keadaan rumah.
__ADS_1
Dara membuka pintu kamar, tanpa mengeluh ia membersihkan setiap sudut. Mengebas, menyapu, mengepel lantai. Hingga satu kamar bersih, lalu ia langsung pindah ke kamarnya juga kamar untuk ibunya tersebut dengan semangat walau peluh bercucuran.
"Alhamdulillah selesai, setidaknya bisa bersih dulu di kamar dan kamar mandi, yang lainnya mah bisa besok-besok. Capek!" ucapnya yang benar-benar sudah sangat kecapean tak ada lagi tenaga untuk membersihkan ruangan lainnya.
Setelah selesai, Dara kembali turun untuk memanggil ibu dan anaknya supaya bisa istirahat di kamar kasihan juga karena nampak sangat lelah melihatnya.
"Mom, istirahat dulu gih di kamar. Tadi Dara udah bersihin, ya walaupun sepere sama barang lain yang lama, tapi masih bersih kok. Ya walaupun agak bauk apek soalnya udah kelamaan di dalam lemari, besok Dara beli yang baru ya," kata Dara menjelaskan. Liana hanya mengangguk dan tersenyum saja, tak ada hak untuknya berkomentar apalagi protes. Bersyukur saja cukup ia lakukan.
"Masha Allah, anak Mami kecapean ya ampe ketiduran begitu." Dara terkekeh melihat anaknya yang kini tengah ketiduran di shopa, bahkan hp saja masih menyala akibat game tidak di keluarkan lebih dulu.
"Semoga sehat selalu ya Nak. Mami bahagia memilikimu," ucap Dara lirih, tiba-tiba air matanya mengalir dengan perasaan sedih.
__ADS_1
"Maafkan Mami ya Nak, maafkan Mami karena kamu lahir tanpa sosok ayah di sampingmu. Mami terlalu egois."
Dara menahan suaranya supaya anaknya tidak terbangun. Ia pun cepat-cepat pergi dari kamar Nicko menuju kamarnya. Masih teringat banget gimana ia bisa mendapatkan Nicko tersebut. Tak ada yang mau mengandung dan melahirkan tanpa adanya suaminya yang menemani. Tak ada yang mau menjadi seorang ibu tunggal yang berperan sebagai ibu sekaligus ayah untuk anaknya. Tetapi, Dara mau tak mau harus memerankan sosok tersebut, jangankan di temani oleh suami, bahkan menikah saja tidak terlaksana. Untungnya ia tinggal di negara asing sehingga tak mendapatkan cemohan dari para tengga yang tidak terlalu heboh seperti di Indonesia ini, yang sering kebanyakan digosipkan, dicaci, dihina bahkan di-bully.
Dara mengingat kejadian lima tahun yang lalu ....
FLASHBACK LIMA TAHUN YANG LALU ...
****
Lanjut besok ya, soalnya masih sibuk ðŸ¤
__ADS_1
Oh iya, aku ada novel bagus dan menarik untuk di baca nie, karya teman aku. Jangan lupa mampir ya kali aja suka 🤗