
"Aku ... aku minta maaf! Apa kamu terluka?"
Sherly menggeleng." Aku gak apa-apa, kalian kali hati-hati Mas. Nyawa manusia cuma satu, bukan 9 kayak kucing," omel Sherly.
Alex kembali meminta maaf. Mobil kembali di jalankan. Namun keduanya sama-sama saling diam. Alex sesekali melirik arah istrinya yang sedang menatap luar jendela.
"Kenapa Lily menyinggung soal Jepang. Gak mungkin hanya kebetulan kan?" batin Alex yang kembali mirik istrinya.
"Kenapa dia gak mengatakan sesuatu, apa beneran gak mau ngasih tau aku sama sekali? Apa dia benar-benar akan pergi diam-diam, tapi untuk apa? Toh aku juga gak akan melarang, karena ini merupakan masa depan perusahaan juga kan?" Sherly membatin, ia sangat sedih.
Selama perjalanan masih saja diam-diamam, gak ada yang mau membuka suara. Sampai mobil sudah sampai di parkiran pun masih sama ya itu bungkam. Sherly yang kesal ia langsung saja turun dari mobil tanpa menunggu Alex yang membukakan pintu, wanitanya itu setelah turun lalu berjalan lebih dulu tanpa kata lagi apa lagi menunggu suaminya.
Alex hanya terdiam menatap punggung belakang Sherly sambil berjalan membuntutinya.
Sesampai di dalam apartemen, Sherly membanting pintu kamar mandi. Alex hanya bisa mengelus dadanya, ia tau istrinya itu pasti sangat marah padanya. Kenapa selalu seperti ini, lagi-lagi ia melakukan hal kesalahan.
"Sayang ...." Alex hendak mengajaknya bicara. Namun Sherly menghindarinya.
"Mandilah hari semakin sore, aku mau masak dulu," perintah Sherly dengan nada terdengar dingin. Alex menatapnya sendu. Paling tidak tahan jika istrinya itu marah, Alex rasa ingin menangis saat ini. Namun ia simpan saja dulu karena belum mandi, nanti saja kalau sudah wangi, nangisnya sambil peluk istri.
Setelah selesai mandi, Alex menghampiri istrinya yang sedang memasak dengan raut wajah cemberut. Ia yakin jika masakannya pasti rasanya masam, gak ada manis-manisnya kayak raut wajahnya.
Alex perlahan mendekati, lalu ia memeluknya dari belakang.
"Sayang, app kamu marah?" tanya Alex, namun Sherly tak menjawab.
"Ternyata kamu udah tau ya, apa mamah yang kasih tau kamu?" tanya Alex kembali masih di posisi yang sama.
Sherly lagi-lagi tak menjawab, ia terus mencincang daging dengan pisau dapurnya.
TAK ... TAK .... Bunyi suaranya cukup keras. Sesekali Alex menelan ludahnya.
"Sayang, padahal aku sengaja loh belum mau memberitahu kamu," kata Alex. Spontan Sherly langsung menghentikan aktivitas nya sesaat . Kemudian ia kembali mencincang daging itu dengan kesal sampai suaranya lebih keras bahkan talenan bisa belah menjadi dua.
Alex kembali menelan ludahnya. Sherly memutar balik tubuhnya lalu menatap tajam Alex dengan pisau dapur berukuran besar itu di tangan sambil berkacak pinggang sebelah tangan nya.
"Sengaja? Apa kamu sengaja ingin pergi tanpa memberi tahu aku, iya?" herdik Sherly dengan wajah seramnya.
__ADS_1
"B-bukan begitu ...."
"Bukan begitu apa, hah?" Sherly menggebrak pisau itu ke talenan yang sudah pecah itu dengan kuat.
"Jelas-jelas kamu udah berencana 5 hari yang lalu, tapi kamu sama sekali gak kasih tau sama aku. Jika mamah gak kasih tau aku tadi siang, apa kamu bakalan kasih tau sama aku?" tanya Sherly tajam.
"Nggak kan?" lanjutnya kesal.
Alex menarik nafasnya dalam-dalam, tanpa kata ia menarik istrinya menuju ke kamar mereka. Setelah sampai di dalam kamar, Alex menyuruh Sherly duduk di tepi kasur, sedangkan dirinya mengambil suatu di dalam laci nakas samping tempat tidur mereka.
"Buka lah, " ucap Alex menyodorkan amplop berwarna coklat pada istrinya.
Sherly memandangi suaminya, kemudian pandangan nya beralih ke amplop coklat tersebut.
"Ini apa?" tanya Sherly.
"Buka aja, biar kamu tau apa isinya," jawab Alex. Sherly langsung membuka amplop tersebut, ia mengeluarkan isinya.
"Tiket?" gumaman nya.
"Tiket untuk pergi ke Jepang, kamu liatnya ada berapa di sana?" jawab Alex, kemudian bertanya.
"Ada dua, kalau ini buat kamu pergi ke Jepang lalu yang satunya untuk siapa?" tanya Sherly penasaran dengan dua tiket tersebut. Apa Alex berencana pergi bersama sekretaris nya?
"Itulah kenapa aku gak ada bilang ke kamu tentang rencana keberangkatan aku yang mau ke Jepang. Tadinya aku berencana mau kasih kamu kejutan dengan memberikan tiket ini ke kamu malam ini, karena kita akan berangkat bersama ke sana. Eh, kamu nya malah udah tau duluan dari mamah dan akhirnya marah sama aku," cerita Alex dengan raut wajah yang serius.
Sherly menutup mulutnya, jadi ini tiket untuk dirinya. Suaminya itu mau mengajak nya pergi ke Jepang. Dalam hatinya sangat senang bukan main.
"Lalu bagaimana sama proyek bisnis kamu jika aku ikut, apa gak apa-apa?" tanya Sherly.
"Kamu ini, kerja gak mungkin sampai sehari semalaman kan? Makanya aku butuh kamu supaya aku tidur gak sendirian, dan bisa menjadi obat menyemangat aku di mana pun itu. Setelah proyek aku sel8, kita lanjutkan saja berbulan madu tanpa ada gangguan kerjaan," ujar Alex.
"Dan aku yakin, selama kita di sana bulanan kamu pasti udah selesai kan?" lanjutnya berbisik.
Wajah Sherly langsung merona di buatnya, kemudian mengangguk perlahan. Alex tersenyum lebar jadi tak sabar ingin cepat-cepat pergi bulan madu.
" Iih gemesnya." Alex pun mencubit kedua pipi sang istri sangking gemesnya tadi.
__ADS_1
"Sakit Mas, tapi kenapa kamuu gak bilang-bilang. Kan aku gak akan berpikir yang nggak-nggak tentang kamu?" tanya Sherly, coba kasih tau nya dari awal, mana mungkin ia marah seperti sekarang ini.
"Kalau bilang-bilang ya bukan kejutan dong sayang. Duh gimana sih kamu ini." Greget Alex tak tahan jika tak mencubit pipi cabi istrinya itu.
"Iya juga ya, hehehe ... tapi aku seneng banget, terima kasih loh Mas karena mau mengajak aku," ucap Sherly sembari memeluk suaminya girang.
"Mana mungkin aku tega ninggalin kamu sendirian, lagian aku juga gak tahan berpisah sama kamu. Bisa-bisa aku gak bisa tidur, dan malah gak konsen," jawab Alex.
"Lebay, biasanya kan bisa tidur sendiri sebelum sama aku?" ledek Sherly.
"Itu kan dulu sebelum mengenal rasa enaknya mantap-mantap itu seperti apa?" ucap Alex asal ceplos.
"Emang rasanya seperti apa? Sakit aja kan?" tanya Sherly, pertama kali baginya melakukan itu, dan rasanya hanya sakit dan perih aja.
"Em, itu karena ...." Alex menggaruk-garuk kepalanya, itu semua salah si Ucok, kenapa pula hanya bertahan 3 menit. Ya mana puas lah si Baba. Bikin malu saja.
"Karena apa Mas? Karena cuma 3 menit?"
Jleb ... seperti di tusuk, sakit namun malu.
"Tapi lain kali gak akan terulang lagi kok. Percayalah," ucap Alex meyakinkan.
Sherly menahan senyumnya." Iya, aku percaya kok. Bikin si Baba puas ya, biar dia ketagihan," ucap Sherly.
"Tentu, aku akan membuat kamu gak akan bisa turun dari tempat tidur, percayalah."
"Iya-iya percaya. Sekarang makan yuk, laper nie!"
"Kita makan di luar aja ya, tapi gak dinner loh. Kita makan ayam lele aja di Abang Gani!" ajak Alex.
"Kenapa, trauma di ganggu ya?" ledek Sherly.
"Nggak sih, nanti kita dinner nya di Jepang aja. Lebih aman dari siapapun, mereka gak akan datang ke Jepang bukan?"
"Dasar, itu mah sama aja karena takut ganggu."
Alex pun tertawa, keduanya melanjutkan makan malam bersama.
__ADS_1