
Awal musim baru, 15 tahun kemudian.
*****
"Alex, kamu mau kemana?" tanya sang mamah melihat anaknya yang baru turun dari tangga tapi berjalan lurus begitu saja melewati meja makan yang sudah ada sepasang suami istri menunggu anaknya sarapan bersama.
"Ke kantor lah Mah, kemana lagi coba?" jawab malas Alex.
"Gak sarapan dulu, Mamah udah bangun subuh loh, capek-capek bikinin kita sarapan," timpal sang papah menyindir.
Alex memutar bola matanya malas. Lagi-lagi ia tak bisa membantah. Terpaksa ia pun mengayunkan kakinya berat menuju meja makan.
"Kamu itu ... ini masih terlalu pagi. Buru-buru mau ke kantor buat apa? Masih mending kalau ada pacar kamu di sana, Mamah masih maklum," ujar wanita paruh baya yang bernama Ratna tersebut menyindir.
"Itulah yang Alex malas kalau gabung sama Papah dan Mamah. Pasti itu lagi yang omongin. Alex bosen tau Mah?" keluh Alex malas.
"Makanya cari istri, Mamah gak akan berhenti ngomongin ini sampai kamu punya istri," tegas Ratna. Alex mendesah.
"Alex masih pengen sendiri Mah, belum kepikiran mau menikah," jawab Alex lesu, semakin di desak semakin pula ia malas untuk mencari calon istri.
Ratna memukul tangan Alex dengan sendok di tangan hingga lelaki itu meringis.
"Aduh, sakit Mah." Namun Ratna hanya menatapnya sinis.
"Kamu itu kenapa gak ingat umur Alex? 33 tahun itu sudah mateng untuk berumah tangga. Kakak kamu dulu saja menikah di usai muda dan sekarang lihatlah, pernikahan mereka bahagia, rukun aja sampai sekarang." Bagas menimpali.
Alex Mahendra adalah lelaki lajang yang sudah menjomblo kurang lebih 7 tahun. Ia lebih baik menyibukkan diri dengan bekerja dari pada pacaran. Masih belum ada yang wanita yang manarik hatinya sehingga ia betah mendapatkan julukan raja jomblo dari keluarga dan para sahabatnya.
"Sepertinya kita akan mati lebih dulu Pah sebelum melihat anak bungsu kita menikah, hiks, hiks. Mamah sedih tau gak? Anak kita sudah tua, Mamah takut wanita di luaran sana tidak mau lagi menikah dengannya karena sudah loyo," ucap Ratna menyandarkan kepalanya di bahu Bagas dengan tangisan tapi tangisan itu di bikin-bikin. Alex tau itu.
"Apa itu yang kau inginkan Alex? Menunggu kami yang sudah tua in8 mati dulu baru kau mau menikah?" tanya dingin Bagas menatap tajam pada anaknya.
"Bukan begitu, astaga ... kenapa kalian yang baper sih? Alex pasti bakalan menikah, Oke! Tapi bukan sekarang."
"Kapan? Dari 5 tahun yang lalu selalu berkata janji, Alex pasti akan menikah. Tapi sampai sekarang belum menikah juga tuh, jangankan menikah, pacar aja gak punya?" sindir Ratna sinis.
"Atau jangan-jangan kamu pencinta sesama jenis ya?" lanjut Ratna menuduh Alex dengan tatapan tajam.
"Astagfirullah, Mamah mendoakan Alex seperti itu?" protes Alex tak terima, ia normal hanya saja belum menemukan wanita yang pas di hatinya.
__ADS_1
" Gimana Mamah gak berpikir ke sana. Kamu sudah ke jomblo selama 7 tahun Alex. Apa kamu gak malu sama keponakan sendiri, dia saja sudah punya pacar loh."
Alex memutar bola matanya bosan." Jangan samakan Alex dengan Devan Mah. Dia masih muda, wajar saja dia punya kekasih," jawab Alex ketus.
"Tuh sadar diri kamu sudah tua. Keburu mati dengan keadaan jomblo, nyesel seumur hidup, tau rasa kamu."
Astagfirullah ... Alex menepuk keningnya sambil istighfar, kenapa mamahnya itu sering kali mendoakan dirinya yang tidak-tidak. Jadi yang kebelet kepengen kawin itu sebenernya siapa? Alex tak habis pikir, ia lebih baik menghabiskan sarapannya lalu cepat-cepat pergi dari rumah ini segera. Karena kalau tidak, bisa saja ia beneran mati dengan keadaan jomblo yang mengenaskan akibat kutukan dari sang mamah layaknya maling Kundang.
"Alex berangkat ke kantor dulu Mah, Pah," pamit Alex buru-buru yang masih mengunyah makanan di mulutnya.
"Minum dulu Alex," ujar sang mamah.
"Gak sempet Mah, Alex buru-buru."
"Tapi nanti kamu tersedak ...." Belum satu detik sang mamah memperingati. Namun suara batuk-batuk sudah keluar dari mulut Alex.
"Di bilangin ngeyel sih, kualat kan," omel Bagas.
" Ya ampun, anaknya dah hampir mati bukanya cepat-cepat di tolong malah di omeli, dah lah Alex pergi dulu. Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam," jawab keduanya menatap kepergian anaknya.
Bagas menghela nafasnya panjang, ia juga takut jika demikian mengingat anaknya yang tidak lagi mau mendekati wanita setelah putus dari kekasih nya di masa lalu.
"Gimana kalau kita jodohin saja Alex Mah, siapa tau dia suka," usul Bagas.
"Bukan hanya sekali Pah, tapi sudah ratusan kali Mamah mengenalkan dia sama perempuan, tapi hasilnya nihil. Sebab dari itu Mamah sengaja masukkan Sekretaris wanita, kali saja Alex tertarik padanya."
*****
Setelah di kantor. Alex dengan serius bekerja, ia sama sekali tidak goyah mesti perut sudah berbunyi tanda lapar. Namun ia kekeh dalam pendirinya yang pantang berhenti di tengah jalan jika melakukan sesuatu harus sampai selesai.
Pintu ruangan di buka, seseorang masuk nyelonong begitu saja. Alex yang tak bergeming, ia tidak mengalihkan pandangnya sama sekali, lelaki itu tetep fokus dengan mata menatap layar laptopnya. Toh dia juga sudah tau siapa yang masuk ke ruangannya tanpa mengetuk.
"Nie makan, kakak ipar kamu sudah membuatkannya untukmu. Dia kasihan sama adik iparnya karena tidak ada yang mengurus," ucap sang kakak yang bernama Ikbal Mahendra menyindir.
"Aku tidak lapar," jawab Alex ketus tanpa menoleh, sudah biasa baginya di sindir seperti itu.
Kriiiuuuk ....
__ADS_1
Ikbal tertawa mengejek mendengar bunyi perut adiknya yang super gengsi itu.
"Ck, gak laper tapi perut berbunyi. Memangnya mereka ngapain lagi kalau bukan minta makan, gak mungkin lagi karaokean kan?"
Alex menghembuskan nafasnya kasar lalu menutup laptopnya. Kenapa seluruh keluarganya itu sangat menyebalkan, gak papah, gak mamah sekarang kakak. Semuanya sama saja, tapi kenapa ia sangat sayang!
"Berapa lama lagi kau akan menggangguku? Sana pergi, aku akan memakan makanannya," usir Alex sinis.
"Ck, lelaki kalau lagi dapat pasti bawaannya marah-marah terus. Cerewet melebihi wanita, padahal sudah jelas mereka yang memiliki mulut dua, tapi kenapa kamu juga ikutan," ejek Ikbal membuat Alex mendengus namun acuh, ia membuka rantang makannya.
"Wah masakan kakak ipar sangat harum, pasti enek," puji Alex. membuat Ikbal tersenyum bangga.
"Iya dong, itulah gunanya istri. Bukan hanya menjadi teman hidup di dunia dan akhirat, tapi juga menyiapkan segala keperluan suaminya, contohnya makanan seperti ini, makanya nikah, biar tau betapa enaknya kalau udah punya istri."
"Ck, lagi-lagi," gumam Alex menggerutu.
Setelah sore harinya. Alex bersiap-siap hendak pulang yang kini sudah berada di parkiran mobil. Sesaat membuka pintu mobil, seorang Wanita menghampiri dirinya.
"Pak Alex mau pulang?" tanya nya lembut dengan nada manja.
"Iya, kenapa?" tanya Alex dingin.
"Em anu pak, mobil saya mogok. Boleh tidak saya menumpang di mobil bapak, rumah kitakan jalannya searah," ucap Vani sekretaris Alex menawarkan dirinya dengan sedikit menggoda.
"Kau pulang naik taksi online saja Vani, saya pikir kau masih memilik uang untuk bayar ongkosnya. Saya sibuk, tidak ada waktu untuk mengurusi hal tidak penting seperti ini," sinis Alex lalu masuk ke mobil begitu saja tanpa menoleh lagi.
Vani mengepalkan tangannya, ia sudah lama masuk ke perusahan ini sejak Alex menggantikan direktur utama yang pensiun. Sejak 3 tahun silam ia menyukai Alex namun lelaki itu sangat acuh dan begitu sulit untuk di dekati.
Alex menjabat Sebagi direktur di perusahan Bagas sudah 5 tahun lamanya. Walau perusahaan itu tidak sebesar samudra, tidak seluas lautan, tidak setinggi gunung. Namun mereka bangga karena dapat membangun perusahan kecil dengan jeri payah mereka sendiri dan dapat mencukupi kebutuhan keluarga mereka hingga tidak kelaparan dan dapat membuka lowongan pekerjaan bagi para karyawan/karyawati yang teladan.
"Tidak lama lagi kau akan menjadi milikku Alex!"
Alex menjalankan mobilnya, seketika matanya melihat sebuah restoran. Ia pun menepikan mobilnya. Bersantai di sini dulu tidak masalah, lagipula ia sangat malas pulang, pasti ujung-ujungnya di tanya lagi soal kapan memiliki istri.
Sesaat menunggu pesanan datang Alex duduk santai dengan mata melihat layar hp nya. Namun seketika pendengaran nya menarik perhatian pada meja di barisan depannya. Ia mendongak dan menatap arah meja di depannya. Ia melihat ketiga wanita muda tengah mengobrol asik dengan tawa riang mereka.
Alex menangkap salah satu gadis di antara ketiganya. Ia dapat melihat tawa lepas dari gadis itu yang entah mengapa membuat hatinya menghangatkan. Alex terus memperhatikan tingkah gadis yang cantik jelita itu seakan ada daya tarik di hati sehingga ingin terus menatapnya. Tawanya yang begitu tulus, wajah polos yang lugu itu tak luput dari pandangan nya.
"Cantik." Satu kata keluar dari bibir Alex dengan senyum tipis melihat tingkah lucu, gemes gadis itu.
__ADS_1
Bersambung....