
Alex keluar dari kamar mandi, saat ini dirinya sudah berpakaian lengkap. Dengan baju kaos ketat berwarna putih, serta memakai celana pendek, bokser santai. Sambil menggosok rambut yang basah dengan handuk kecil, Alex berdiri di ambang pintu dengan mata tertuju arah Sherly.
"Mandilah, aku sudah menyiapkan air hangat untuk mu," perintah Alex lembut.
Sherly tak menjawab, ia masih tertegun menatap suaminya. Melihat suaminya itu berpakaian santai membuat dirinya terpana. Gantengnya, bahkan lebih ganteng dari biasanya. Kali ini nampak lebih seksi dan Maco.
"Hey, apa aku ganteng?" goda Alex yang kini sudah berada di hadapan Sherly.
"Iya," jawab Sherly tanpa sadar yang masih terpana menatanya binar.
" Kalau begitu, boleh dong cium." Alex bermaksud hanya menggoda. Namun siapa sangka ternyata Sherly patuh. Tanpa sadar gadis itu mengecup pipinya.
Deg ... oh tidak, Alex langsung on. Di bagian bawahnya sudah berdiri tegak namun bukan keadilan.
Sherly yang baru sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan.
Matanya langsung melotot, spontan mendorong tubuh Alex hingga lelaki itu tersungkur di lantai. Wajah Sherly sudah merah melebihi tomat saat ini. Ia pun menutupinya dengan bantal akibat malu.
Angga hanya tersenyum melihatnya, terlihat gemes-gemes dan lucu.
"Atasaga, apa yang sudah aku lakukan tadi? Aku di hipnotis kah?" batin Sherly malu. Ia tak berani menatap wajah suaminya sekarang.
"Hey, kenapa malu? Sudah menjadi suami istri ini," kata Alex menahan senyumnya sambil mengambil bantal yang menjadi penutup wajah Sherly.
"Ihs, nyebelin banget sih?" Rajuk Sherly. Alex pun tertawa.
" Om tukang sulapnya?" tanya Sherly.
"Kok tau?" jawab Alex.
"Pantas saja, karena kau telah menghipnotis hatiku."
Alex langsung tersenyum malu, kok malah dirinya di gimballi. Sherly pun langsung berlari ke kamar mandi dengan langkah cepat.
"Ini gila, apa yang sudah aku katakan tadi? Oh My God ...." Sherly tak sadar lagi berkata seperti itu, seolah bukan dirinya sendiri. Alex benar-benar sudah membuatnya gila, belum seharian menjadi istrinya, jika terus begini ia bisa saja klepek-klepek di dalam waktu yang dekat. Sherly menyentuh dadanya merasakan detak jantung nya berdetak layaknya bom atom.
__ADS_1
Sementara Alex terkikih melihat tingkah gemes istrinya, makin suka saja dirinya dengan mantan kekasih keponakannya itu. Cepat atau lambat ia pasti bisa menenangkan hati Sherly.
Setelah cukup lama berendam di air hangat. Sherly menelan ludahnya saat membuka pintu, hatinya kembali deg-degan. Tubuhnya menegang saat melihat suaminya duduk selonjoran di kasur sambil melihat layar ponselnya dan sangat terlihat tampan dengan kacamata yang di kenakan nya.
"Hey, kemarilah," pinta Alex sembari menepuk kasur di sampingnya.
Sherly ragu, ia begitu gugup saat ini. Ingin melangkah saja rasanya berat. Perasaan nya campur aduk, takut sudah pasti.
"Aku tidak akan menggigit mu, kemarilah," ujar Alex lagi dengan nada lembut membuat kaki yang terasa berat tadi seakan menjadi ringan.
Sherly berjalan perlahan dengan wajah menunduk naik ke tempat tidur lalu duduk cukup jauh dari Alex hingga 5 orang muat duduk di tengah-tengah itu.
"Apa aku semenakut kan itu?" heran Alex.
"Hey, apa aku virus? Kenapa kamu duduknya jauh banget, sini heh," pinta Alex. Sherly menggeser tubuhnya pelan.
"Lagi," ujar Alex, karena istrinya hanya berpindah seinci saja dari tempat duduknya yang tadi.
Sherly pun menggeser lagi.
" Lagi."
Alex menghela napasnya sabar, bergeser namun tak ada perubahan hingga ia menarik tangan Sherly, dan spontan tubuhnya itu menabrak tubuh Alex. Keduanya pun saling pandang.
"A-aku ...."
Alex tersenyum, ia mengelus lembut rambut Sherly. jangan takut, aku tau kamu pasti belum siap. Aku tidak akan memaksamu, dan akan menunggu sampai kamu benar-benar siap."
Mata Sherly berkaca-kaca, ia sangat terharu dengan lelaki di hadapannya ini. Bukan hanya baik, namun juga sangat pengertian. Reflek ia pun memeluknya erat, tubuhnya seakan bergerak dengan sendirinya.
"Terima kasih, Om." Sherly membenamkan wajahnya di dada Alex yang bidang itu. Terasa sangat hangat dan nyaman.
Alex tersenyum senang, ia membalas pelukan dari istrinya. Bahkan beberapa ia mengecup pucuk kepala sang istri. Tak mendapatkan jatah malam ini tak apa, setidaknya mendapatkan pelukan hangat pun jadilah. Waktu masih panjang, pelan-pelan namun pasti ia akan menaklukkan hati Sherly sepenuhnya.
"Tidur lah, aku tau kamu pasti lelah. Jangan khawatir, aku selalu memegang kata-kataku."
__ADS_1
Seoalah seperti memiliki sihir, rasa takut dan gugup tadi lenyap seketika menjadi rasa tenang dan damai dalam hati Sherly. Ia pun memejamkan matanya, tak menunggu waktunya lama napas tak beraturan dapat di dengar tanda jika Sherly sudah terlelap dalam tidurnya.
Alex tersenyum menatap wajahnya yang damai, nampaknya sangat lelah akibat seharian menjamu tamu undangan di pesta pernikahan. Alex membelai wajahnya lembut, mengusap pelan bibir Sherly penuh perasaan.
"Ingin kembali mencicipi nya. Jika mengemutnya apa labih manis lagi?" batin Alex menelan ludahnya. Perlahan wajahnya mendekat.
Cup ....
Mencuri ciuman diam-diam tidak apa 'kan? Toh sudah suami istri ini, sah-saha aja dong, pikir Alex. Ia mengemutnya lembut4, sangat lembut agar Sherly tidak terganggu dalam tidurnya.
"Ah, manis. Sangat manis!" Alex menyentuh bibirnya bersorak senang. Ia pun kembali mengulangi nya lagi, dan lagi. Sampai dirinya puas, hingga bibir Sherly sudah membengkak.
"Selamat malam istriku, moga hari esok hatimu perlahan membuka untuk ku, aku menyukaimu."
Cup ... kecupan terakhir di kening, lalu Alex ikut terlelap sambil membawa Sherly ke dalam pelukannya di tidurnya yang lelap.
******
Pagi hari mulai berganti, matahari pun menyapa indahnya dunia. Sherly menggeliatkan tubuhnya dengan mata masih terpejam. Karena masih sangat merasa nyaman ia pun kembali memeluk bantal guling yang berotot itu erat lalu kembali tidur.
"Bangun, hari sudah semakin siang." Alex menarik hidung mancung istrinya gemes.
"Hah, O-Om Alex?" kaget bukan main, biasa tidur sendirian. Kini tiba-tiba ada orang di sampingnya, bahkan berlawan jenis.
"Ayo bangun, terus mandi. Pagi-pagi udah bengong, nanti kesambet setan ganteng loh." Alex bangkit dari tidurnya, ia meregakan otot-ototnya dengan santainya. Sementara Sherly mengerjab-ngerjabkan matanya masih belum terkumpul semuanya nyawanya itu.
"Kyaaaaa, jadi tadi malam aku tidur berpelukan sama om Alex sepanjang malam? Aaaakh, sangat memalukan?" Sherly menutup wajahnya dengan tangan, ingatan nya sudah pulih jika dirinya sudah menikah dengan lelaki dewasa itu.
"Duh, gugup lagi deh." Sherly mengigit bibir bawahnya.
"Kamu mau mandi duluan, atau aku yang ...."
"A-aku duluan." Sherly menjawab cepat, ia langsung bangkit lalu berlari cepat menuju kamar mandi.
"Apa dia menghindari ku?" Alex menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat." Kau tidak akan bisa lari my baby girl."
__ADS_1
"Aaaaaakkkkhhhh ... kok bibir aku bisa bengkak?" teriak Sherly.
Alex hanya tersenyum mengingat bepata manisnya benda kenyal itu. Bagiamana dengan bagian-bagian yang lainnya ya?