Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Hari interview


__ADS_3

Pagi-pagi buta Dara sudah terlihat sangat sibuk, selain menyiapkan keperluan dirinya sendiri. Dara juga harus menyiapkan keperluan sekolah anaknya, setelah selesai ia pun tak tinggal diam karena wanita itu harus menyiapkan sarapan pagi mereka, di rumah yang lumayan besar Dara tak mempekerjakan ART karena Dara merasa ia bisa sendiri untuk mengurus semuanya. Anak, ibu bahkan membersihkan rumah Dara bisa melakukannya tanpa mengeluh rasa lelah letih lesu. Di tambah lagi ia harus bekerja menjadi tulang punggung keluarga, wanita itu merasa sangat bahagia ia ikhlas melakukan semuanya asal keluarga yang ia sayangi itu bahagia dan tercukupi kebutuhan nya terutama sang anak.


" Mamah bantu ya." 


Liana sangat kasihan kepada anaknya itu, ia merasa sangat bersalah sekali sebab dirinya lah yang membuat keluarganya hancur hingga harus membuat anak semata wayangnya bekerja keras menjadi tulang punggung. Ia sebagai ibu merasa tak berguna sekali. Terkadang di balik senyumnya itu ada kesedihan di dalam hatinya.


" Makasih ya Mah." 


Dara tidak menolak, wanita itu justru merasa senang. Itung-itung olahraga untuk Liana mengingat kesehatan nya yang kurang baik, namun Dara juga tidak ingin mamanya itu sampai kecapean, jika hanya membantu menyiapkan sarapan tidak apa toh sarapan yang mereka siapkan tidaklah banyak ala kadarnya saja karena mereka harus menghemat mengingat belum ada pemasukan selama beberapa hari ini. Keuangan sudah sangat menipis sekali itupun sisa mereka seketika masih berada di Singapura.


" Kamu bangunkan Nikco aja, biar mamah yang menyiapkan semuanya sayang," ucap Liana. 


" Nanggung Mah, bentar lagi selesai kok." Dara menjawab seraya tersenyum.


Setelah selesai menyiapkan sarapan yang hanya nasi goreng telor ceplok, kini hidangan itu sudah tertata rapi di meja makan. Dara melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul enam pagi, sudah waktunya ia membangunkan anaknya karena harus sekolah. 


" Dara bangunin Nikco dulu ya Mah," pamit Dara, Liana hanya mengangguk tersenyum saja.


" Nikco sayang, bangun Nak. Hari sekolah pertama kamu loh." Dara berkata lembut sambil membuka hordeng kamar Nicko.


" Lima menit lagi, Mom," jawabnya malas tanpa membuka mata llalu menuntup seluruh tubuhnya dengan selimut. 


Dara berkacak pinggang dia menggeleng melihat kelakuan malas anaknya, selalu seperti ini jika di bangunkan. 


" No, di sini gak ada lima menit- lima menitan. Kamu harus bangun, mandi karena masuk sekolah jam delapan." Tegas Dara sembari membuka selimut anaknya.


" Pagi banget, biasanya kan jam sembilan," jawab nya lagi-lagi tanpa membuka mata.  


Wanita itu menghela sabar. " Tempat kita sekarang berbeda sayang, jadi kamu harus terbiasa, ok." Dara mengusap kepala Nikco hingga laki-laki tampan itu membuka matanya dengan paksa.


" Mau Mami mandiin atau mandi sendiri?" Tawar Dara sembari membereskan tempat tidur Nikco setelah anaknya bangkit dari tempat tidurnya.


" Berhenti memperlakukan Nikco seperti anak kecil, Mom. Nikco sudah besar," ucapnya tak suka.


" Oh, benarkah? Baiklah kalau begitu." Dara hanya menggeleng kan kepalanya sembari tersenyum menatap punggung anaknya yang kini sudah melangkah menuju kamar mandi. Ia bersyukur anaknya sudah mandiri. 


Ketiganya menikmati sarapan bersama, Dara yang sudah siap dengan baju kerja nya, begitu pun juga dengan Nikco yanh sudah siap dengan baju sekolah TK nya. Dan kali ini Liana menunggu cucunya itu di sekolahan walaupun sebenarnya Nikco menolak keras karena baginya itu sama saja seperti anak bayi yang harus di jaga. Namun Liana maupun Dara tetap tegas harus di jaga karena ini baru pertama kalinya Nikco sekolah di Indonesia tentu belum mengenal lingkungan sekitar dan juga orang-orang di kota Jakarta ini.


" Mami berangkat duluan ya sayang, ingatya jangan main terlalu jauh dari sekolahan, jangan bicara sama orang asing, dan jangan jajan sembarangan, ok." Dara kembali mengingatkan.

__ADS_1


" Iya Mami ku yang cantik," sahutnya bosan karena ini sudah keseratus kalinya Dara mengingatkan dirinya.


" Ank Mami memang pintar." Dara memeluk dan menciumnya gemes.


" Dara titip Nikco ya, Mah." Lalu berpamitan pada Liana mencium tangan kemudian kedua pipinya. 


" Hati-,hati di jalan ya Nak." Liana dan Nikco mengantar Dara sampai depan. 


" Bye, Mami …" Keduanya melambaikan tangan seketika Dara sudah menyalakan kendaraan motor nya. Ia lebih memilih memakai motor ketimbang mobil, karena tak ingin membuat mama dan anak kepanasan atau kehujanan, lebih baik ia saja yang mengalami itu semua. Mau membeli mobil dua tentu saja duitnya tidak cukup lagi.


" Bye Nikco, bye Mah." Dara sudah memakai helm, dengan semangat membara ia menjalankan motor tersebut.


" Bye … semangat ya Nak," teriak Liana sambil melambaikan tangannya.


" Ayo sayang, kita mesti berangkat juga," ucap Liana pada Nikco setelah Dara sudah menghilang dari pandangan mereka. Liana masuk kedalam untuk mengambil tas milik Nikco.


" Masih terlalu pagi, Oma …" Protes Nikco melihat jam masih jam tujuh pagi.


" Nanti perjalanan macet sayang, ini kota Jakarta bukan di Singapura!" Jawabnya sambil mengunci pintu jendela yang sempat di buka tadi supaya angin segar masuk ke rumah.


Nikco tak lagi protes, dia hanya berdecak lalu mengambil tas miliknya itu dengan tampang cemberutnya. Liana hanya tersenyum saja. Tak ada supir, untunglah Liana tahu cara mengendarai mobil jadi tidak perlu bingung siapa yang akan mengantar mereka pergi ke sekolah.


" Nikco sekolah di sini, Oma?" Setelah sampai di depan gerbang barulah anak itu mulai membuka suara. Liana mengangguk kemudian membuka sabuk pengaman dirinya dan juga Nikco.


Terlihat sekolahan itu sangat sederhana, tak terlalu besar seperti sekolah nya dulu semasa tinggal di negara lain. Namun apa boleh buat, karena cuma di sekolahan ini yang cukup untuk keuangan mereka. Akan tetapi, sekolah TK tersebut sangatlah bagus dan terbaik di kota itu. Duit memang pas-pasan tetapi untuk kepentingan anak sekolah tetap lah nomor satu. 


Sementara itu, Dara sudah sampai di depan kantor. Dia menarik nafasnya supaya tidak gugup saat interview nanti. Bukan hanya dirinya saja yang datang, ada 4-5 orang lainnya yang juga sedang interview yang sama. Jadi dia harus berusaha dan semangat, menjadi sekretaris adalah impiannya ditambah lagi dengan tawaran gaji yang lumayan besar. Tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Dara menyemangati dirinya sendiri.


Cukup lama dalam ruangan, Dara menyapa saingannya dengan ramah akan tetapi malah dibalas dengan sinis bangkah ada yang ingin menjatuhkan nya supaya tidak lolos tentu bikanhanya Dara saja pada yang lainnya juga pastinya. Akan tetapi Dara bukalah gadis bodoh, karena dia cukup pintar sehingga bisa lulus S3 dan ingin mencapai cita-cita menjadi sekretaris direktur. 


Saat di ajukan pertanyaan, dengan mudahnya Dara menjawab tanpa ragu hingga pertanyaan dari yang paling mudah dan pertanyaan paling sulit di ajukan pada calon sekretaris yang ada di ruangan. Tentu saja Dara dapat menjawab sehingga dirinya lah yang terpilih. 


" Nikco, Mamah. Dara berhasil." 


Ucap syukur Dara panjatkan, hatinya lega sekaligus senang berkat doa sang mamah dan kerja kerasnya membuahkan hasil. 


" Tolong di tangan tangan ya, sekali lagi selamat!" Ucap HRD sembari menyerahkan berkas kontrak tersebut.


" Terima kasih, Bu!" Dengan senang hati Dara menandatangani surat kontrak tersebut, dia mengambil selama tiga tahun saja. Mungkin ini lebih dari cukup ia bekerja, ya kalau bisa mungkin suatu saat nanti dia bakalan memperpanjang kontrak kerjanya.

__ADS_1


" Terima kasih, nanti Maya yang akan mengantarkan kamu ke ruangan direktur untuk memperkenalkan diri. Ya walaupun data diri kamu sudah ada di tangan direktur. Akan lebih baik kamu memperkenalkan diri secara langsung padanya," kata kepala HRD tersebut menjelaskan.


" Baik, Bu. Sekali lagi terima kasih." Dara membungkukkan setengah badannya hormat. 


Tak lama kemudian seorang gadis muda datang dengan senyum ramahnya. Dara pun membalas dan keduanya berjabat tangan. Gadis itu adalah Maya yang akan mengantar Dara ke ruang direktur sekaligus ruangan dirinya dengan senang hati Dara mengikuti langkah Maya tanpa banyak bertanya.


" Di sini ruangan kamu, dan di sebalah sana adalah ruangan direktur kita." 


Dara mengikuti arah Maya menunjuk ruangan yang ada tulisan direktur di depan pintu. 


" Kamu masuk aja, dan selamat berkerja semoga kamu betah ya," ucap Maya menepuk pundak Dara. 


" Terima kasih, Mbak Maya." 


Gadis itu sebelum melangkah pergi, ia membisikkan sesuatu pada Dara terlebih dahulu. " Siapkan jantung cadangan ya." 


Dara mengerutkan keningnya tak mengerti, Maya tersenyum lalu melangkah pergi tanpa memberi tahu kejelasannya. Namun tak ingin terlalu lama direktur nya itu menunggu, Dara pun mengangkat kedua bahunya masa bodo dengan ucapan Maya. Dia menghela nafasnya lebih dulu sebelum mengetuk pintu.


Deg-degan sudah pasti, namun bukan Dara namanya jika tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya itu. Tidak ingin kan di hari pertama kerja sudah di cap jelek terlebih lagi pada atasan utamanya sendiri.


Tok … tok …


Dara mengetuk pintu, lalu ia masuk dengan helaan nafas yang kesekian kalinya. 


" Selamat pagi Pak! Saya sekretaris baru anda. 


" Oh ," jawab sang direktur acuh bahkan tidak mengalihkan pandangannya pada dokumen yang ia pegang.


Dara kembali menghela nafasnya atas sikap atasannya itu. Sekarang dia mengerti apa yang di maksud oleh bisikan Maya tadi.


" Perkenalkan nama saya Dara Kartika Putri umur saya 26 tahun. Saya akan lebih giat lagi untuk bekerja, mohon kerjasamanya."


Dara memperkenalkan dirinya dengan sedikit membungkuk. Sementara sang direktur terhenti gerakan tangannya saat mendengar nama Dara terucap pada wanita di hadapannya ini. Dia langsung melihat kearahnya.


" Angkat kepala kamu!" Katanya dengan nada tak sabaran.


Dara mengangkat kepalanya hingga keduanya matanya bertemu dengan sang direktur, senyum mengembang dia harus terlihat ramah.


" Dara!" Bulpen yang di pegang langsung jatuh, bahkan dia spontan berdiri sangking terkejutnya melihat siapa yang di hadapannya ini. 

__ADS_1


Namun bedahal pada Dara yang bersikap biasa saja …


__ADS_2