
Satu minggu ke kemudian, Leo sudah meminta izin pada neneknya Keyra untuk membawa anak dan mantan istri yang sudah resmi menjadi calon istrinya kembali itu pulang ke Jakarta. Sang nenek hanya bisa merestui dan berpesan agar Leo tak menyakiti Keyra, dan berbahagialah menjalani hidup rumah tangga sampai sehidup semati dan tak lupa sering -sering berkunjung ke rumah tua ini. Itulah pesan nenek yang di berikan pada Leo.
"Jangan khawatir Nek, aku mencintai Keyra. Aku pastikan hidupnya akan bahagia dan akan aku taruhan nyawa sebagai bayarannya."
Nenek tersenyum bahagia, ia mengelus kepala Leo yang sedang mencium tangannya lembut.
"Masuklah, Keyra lagi membereskan barang -barangnya," perintah sang nenek. Leo pun mengangguk lalu berjalan muju kamar Keyra.
"Sayang lagi apa?" tanya Leo sesaat memasuki kamar Keyra.
"Astagfirullah, Leo. Kamu mengagetkanku," pekik Keyra terkejut mendapati Leo tiba-tiba datang dan memeluknya dari belakang. Ia sedang berdiri di depan lemari sembari memilih baju yang akan ia bawa.
"Lagian serius amat sampai gak ngeh kalau calon suaminya datang." Leo terkekeh laly semakin mempereratkan pelukannya.
"Leo, sesak," ucap Keyra.
"Tapi aku kangen sama kamu, emangnya kamu gak kangen sama aku?"
Leo baru saja datang, setelah sadarbya Abian ia memutuskan kembali ke Jakarta karena kerjaannya tidak bisa di tinggal lama-lama. Di sana juga ia sudah memberi tahu pada eyang Endang, Sera dan Angga tentang hubungannya dengan Keyra yang akan segera rujuk. Tentu waja Sera sangat senang mendengarnya. Ia bahkan tidak sabar menanti Keyra kembali menjadi menantunya.
Dan hari ini, Leo datang untuk membawa Keyra dan Adam ke Jakarta dan akan segera meminta Angga melamar kembali Keyra pada Wisnu dan Vira untuknya sebelum Sera lahiran.
"Masih berapa banyak lagu yang harus du bawa? Jangan terlalu banyak karena kita pasti bakalan ke sini nantinya," ucap Leo.
"Aku tau, makanya aku pilih -pilih yang maba harus di bawa. Makanya lepas dulu biar cepat kelar kerjaannya nanti keburu sore loh."
"Kamu mah gak kangen sama aku," rajuk Leo melepaskan pelukannya. Keyra terkekeh melihat tampang cemberut Leo.
"Kangen dong, banget malah. Tapikan aku mau cepet biar masih ada waktu buat berduaan sama kamu." Keyra melingkarkan tangannya ke leher Leo dan merayu calon suaminya itu agar tidak lagi cemberut.
__ADS_1
Leo tersenyum dan tak menyia-nyiakan kesempatan, ia melingkarkan tangannya di pinggang Keyra, dan sebelah tangannya menahan tengkuk Keyra lalu mencium bibirnya lembut. Keyra memejamkan matanya dan membalas hingga keduanya sama-sama saling mencecap, *******, memainkan lidah mereka hingga ke rongga dan saling menukar saliva mereka cukup lama hingga terbawa suasana dan Leo yang hilang kendali memasukkan tangannya yang ada di pinggang ke dalam kaos Keyra lalu mengusap punggungnya lembut hingga tangannya yang besar itu bertemu dengan bukit kembar yang kenyal masih terbungkus bra tersebut lalu meremasnya pelan.
"L-Leo." Keyra mencoba menghentikan Leo yang sudah mulai hilang kendali." Leo hentikan," ucapnya terbata karena menahan gejolak di hati saat Leo mulai menjilati lehernya.
Leo mendengar suara Keyra memohon, ia pun menghentikan aktivitasnya lalu menatap Keyra sendu. Ia sadar apa yang telah ia lakukan.
"Maafkan aku Keyra, sungguh aku benar-benar hilang kendali," sesal Leo lirih.
Keyra lega setidaknya Leo masih bisa mengontrol diri.
"Ayo bantu aku, sepertinya Adam sudah bangun tidur," ajak Keyra, ia sebenarnya sangat canggung dengan detak jantung berdetak kencang. Namun ia coba untuk bersikap biasa saja.
"Baiklah." Lei membantu Keyra memasukkan baju -baju ke koper, sesekali ia lirik Keyra yang serius. Senyum tipis mengembangkan di bibirnya membayangkan dirinya yang seperti binatang buas kelaparan. Dulu ia tak begini pada Sera mau pun Keyra yang menjadi istrinya. Tapi mengapa sekarang ia benar tergoda pada jandanya sendiri setiap kali melihat tubuh Keyra yang makin aduhai.
Hari semakin sore, Leo dan Keyra pamit pada neneknya. Wanita tua itu menangis memeluk cucunya, sebenarnya dalam hati tak ingin berjauhan lagi mengingat dirinya yang semakin tua dan kesepian. Tapi ia tidak bisa menahan kebahagiaan cucunya sehingga ia merelakan kepergian mereka.
"wa'alaikumsalam, hati -hati di jalan Cu," jawab sang nenek menahan rasa sedihnya sembari melambaikan tangannya.
Keyra dan Leo membalas melambaikan, Keyra juga mengangkat tangan Adam agar melambai juga dari gendongannya. Sesaat hendak masuk ke mobil taksi yang sudah menunggu untuk mengantar mereka ke bandara. Tiba-tiba seseorang memanggil nama keduanya.
"Bagus ya kalian berdua, pergi tanpa pamit padaku," ucap seseorang dengan suara sinis, Leo dan Keyra menoleh.
"Mas Abian," gumam Keyra lalu berjalan menghampiri Abian yang datang duduk di kursi roda di dorong oleh Zahra.
"Ck kau ini, setelah apa yang di dapat langsung pergi begitu aja membawa adik dan keponakanku," sinis Abian mengejek pada Leo yang memutar bola matanya malas.
"Aku pikir kau tidak lagi ingat karena sudah ada calon istri," balas Leo.
"Dasar bocah tengik." Abian ingin memandang Leo, namun lelaki itu menghindar sembari tertawa.
__ADS_1
"Sini kau tengik," teriak Abian. Dan Leo menjulurkan lidahnya ngeledek, sedangkan Zahra dan Keyra hanya tersenyum sembari geleng-geleng.
"Awas kalau kalian gak datang ke pernikahan kira. Kita juga gak akan datang ke pernikahan kalian lalu ... lo, gue and."
Leo pun tertawa mendengar ucapan sinis Abian, lelaki yang tadinya rival cintanya dengan Keyra kini berubah menjadi sahabatnya.
"Lo gak takut kalau gue hadir bakalan mengganggu malam pertama lo?" ucap Leo. Zahra menunduk dengan wajah merah dengan ucapan Leo yang bercanda.
"Lo berani," jawab Abian ancang-ancang hendak menendang dan Leo lagi-lagi menghindar.
Karena waktu tidak banyak, Leo dan Keyra pamit. Abian dan Zahra menatap kepergian mobil taksi online yang membawa Leo, Kerya dam Adam sampai hilang dari pandangannya.
"Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan bersamanya Key, aku di sini akan selalu mendoakan mu dan ikut bahagia jika kamu bahagia," batin Abian tersenyum melepas kepergian Keyra dan Adam. Ia menggenggam tangan Zahra erat tersenyum padanya.
*****
Pejalan cukup lama, malam semakin larut sehingga ia terpaksa membawa Keyra ke rumah eyang untuk menginap semalam baru lah esok hari ia mengantar ke rumah orangtuanya. Sesaat masuk ke rumah, Leo tak mendapati eyang. Ia sudah mencari ke kamarnya tapi tidak menemukan di mana eyang berada.
"Mas Leo udah datang," sapa bi Inem.
"Eyang di mana Bi?" tanya Leo.
"Anu Mas ...."
"Anu apa Bi?" sahut Keyra.
"Eyang di rumah sakit, soalnya mbak Sera ...."
"Rumah sakit, Sera? Kenapa dengan mamah Sera Bi?"
__ADS_1