
Malam ini mati lampu masih berumur panjang, awet dan tahan lama. Antara kesal dan juga senang, bagi Alex. Kesalnya karena panas dan harus capek-capek menjadi kipas dadakan untuk istrinya karena kepanasan akibat tak ada AC atau kipas angin. Namun seneng nya karena mati lampu membawa berkah untuk nya, berkah karena sudah menjadi suami seutuhnya. Jadi sebab itulah mati lampu ini antara membawa berkah atau musibah.
"Kalau ngipasin itu yang benar lah Mas, kondisikan tangan mu itu, gerah loh," kesal Sherly, sudah panas makin panas pula akibat ulah suaminya.
"Aku kan hanya pengang-pegang, itu pun tidak boleh," rajuk Alex sebel.
"Ya pegang sih pegang, tapi gak pake grepek- grepek juga kan bisa? Makin panas tubuhku," geram Sherly, tangan Alex entah menjalar kemana-mana di sekujur tubuhnya, tubuhnya menjadi semakin panas di buat suaminya itu.
"Makanya bajunya di lepas biar kamu gak kepanasan, kayak aku gini. Adem pun," ucap nya enteng.
"Aku bukan pake baju Mas, tapi pake tangtop bahkan gak pake daleman. Mau lepas kayak mana lagi? Itu mah kesenangannya kamu, mau menang banyak," protes Sherly memukul tangan suaminya kesel.
"Aku kan cuma memberi saran, kalau gak mau ya udah gak usah pake urat kali, telur aja lebih enak. Aku punya dua kalau mau, lebih praktis tanpa di masak."
Sherly melorotkan kedua matanya, lalu menyentil bibir suaminya itu yang bicara enteng banget.
"Mulut kamu itu kalau ngomong butuh di saring ya Mas, kotor kali kayak kotoran ayam. otak kamu juga butuh di traveling biar gak mesum, jangan temanan lagi sama papah lah, racun semua mereka itu," kesel Sherly, Alex pun hanya diam saja tanpa komentar.
"Dah lah aku ngantuk pengen tidur, kamu pun jangan ganggu-ganggu aku lagi. Kipas aja yang bener sampai lampu nya menyala, awas kalau sampai berhenti, besok gak ada jatah."
Alex hanya patuh, tak berani membuka suara sedikitpun. Ia pun terus mengisap istrinya dengan kipas tangan sangking takutnya gak dapat jatah di hari esok.
"Akhirnya tidur juga, cerewet bangat loh mulutnya ini. Tapi pengen aku cium terus karena rasanya enak dan ada manis-manis nya gitu. Iih gemes deh." Alex mengecup lembut bibir istrinya itung-itung mengantar mimpi indah.
"Huuuuf capek banget tangan ku, ini semua gara-gara mati lampu. Ngapa pula harus meledak, percuma aku bayar mahal-mahal. Besok harus di urus, minta ganti rugi pokoknya," ucap Alex melampiaskan kekesalannya akibat lelah pada lampu.
Pagi harinya, Sherly membuka mata perlahan. Tubuhnya ras agak dapat bergerak, dan benar saja ternyata duamin8itu memeluknya erat. Patutlah gak bisa bergerak pikir Sherly memperhatikan wajah suaminya.
"Aku belum tau perasaan aku padamu Mas? Tapi jujur saja, aku merasa sangat nyaman, berbeda saat bersama Devan dulu. Takut, resah, gelisah dan sangat tidak nyaman. Aku gak tau kenapa?" Sherly berbicara pelan sambil menyentuh wajah Alex lembut.
"Kenapa berhenti? Lagi dong," ucap Alex yang belum membuka matanya. Sherly sontak kaget.
"K-kamu sudah bangun Mas? Sejak kapan?" tanya Sherly gugup.
"Sejak kamu menyentuh wajahku," jawabnya lalu membuka mata," usap lagi dong."
"A-aku mau mandi, lepaskan tangan kamu." Sherly ingin menghindar, namun Alex semakin mempererat pelukannya.
__ADS_1
"Mau kabur, hem? Kiss selamat pagi nya aja belum ada," ucapnya manja.
"Pagi-pagi udah mesum aja kamu Mas, mulut aja masih bau jigong udah kas-kiss, kas-kiss aja," protes Sherly ketus.
"Tapi jigong aku wangi keles, mau coba?" goda Alex yang melepaskan istrinya.
"Ogah ... dah ah, aku mau mandi Mas, lepasin napa."
Alex menggeleng." Kiss dulu," pintanya melas sambil memonyongkan bibirnya.
Sherly menghela napasnya, ia pun mendekatkan kepalanya lalu mengecup sekilas bibir Alex. Tetapi lelaki itu curang, dan menekan kepalanya hingga kecupan itu berubah menjadi ciuman hot di pagi hari.
"Dasar mesum." Sherly menutup mulutnya lalu berlari cepat ke kamar mandi dengan wajah yang memerah. Sedangkan Alex tertawa puas melihat tingkah gemes istrinya itu.
"Nanti kamu kuliah jam berapa?" tanya Alex saat Sherly sedang memakaikan dasi di lehernya. Tangan Alex melingkar di pinggang sang istri.
"Jam 2, kenapa?" tanya balik Sherly yang lagi fokus.
"Temani aku ke rumah papah bentar yuk! Ada berkas kantor di sana yang belum aku bawa," ajak Alex.
Saat Sherly dan Alex tengah berada di dalam lift apartemen. Para tetangga penghuni yang lain juga ada di dalam lift tersebut. Sekitar 3-4 orang di dalam lift tersebut yang terus menatap arah Sherly bahkan mereka terlihat tertawa kecil yang malu-malu. Ada laki-laki dan perempuan. Sherly merasa risih dan serba salah karena ia yakin mereka sedang menertawakan dirinya.
"Mas, apa ada yang salah sama aku? Atau pakaian ku, dandanan ku?' tanya Sherly berbisik.
"Nggak ada yang salah kok, kamu itu sempurna," balas Alex berbisik juga.
"Tapi kenapa semuanya pada liatin aku gitu?" tanya Sherly lagi.
"Itu karena kamu sangat cantik sayang, wajar saja mereka melihat kamu terus. Itu artinya mata mereka masih bagus, dah jangan di hiraukan." Alex merangkul pinggang istrinya, Sherly hanya berpikir, apa mungkin benar yang di ucapkan suaminya itu? Sherly pun tak lagi bertanya dan tak menghiraukan mata yang menatap arahnya.
Sesampai di rumah orang tua Alex.
"Assalamualaikum."
"Wa'allaikumsalam, eh ada menantu Mamah. Mari masuk sayang!" Ratna langsung mengajak Sherly masuk, dan menghiraukan anaknya.
"Sebenarnya aku ini siapa sih Mah? Gak di anggap sama sekali, hantu?" cemberut Alex.
__ADS_1
"Ah, kamu tidak penting. Sana jauh-jauh." Ratna mengusir anaknya. Alex hanya melongo tak percaya jika dirinya di lupakan secepat itu.
"Apa-apaan itu, yakin aku anak kandung mu?" gerutu Alex sebel.
Ratna pun acuh. Sherly hanya terkekeh melihatnya, interaksi anak dan ibu itu tidak biasa. Sesaat Sherly menoleh arah suaminya, Ratna nampak kaget, bahkan keduanya tangannya menutup mulutnya. Sesaat kemudian tersenyum senang.
"Pah, papah sini deh." Ratna pun langsung berteriak.
"Ada apa sih Mah? Pagi-pagi sudah teriak-teriak," heran Bagas langsung menghampiri istrinya itu.
"Liat Pah," ucap Ratna, Bagas pun melihat arah yang ditunjuk istrinya itu.
"Oh ada anak dan menantu kita toh. Gitu aja pake teriak-teriak mah, dah kayak apaan aja."
Ratna pun langsung memukul suami, bukan itu. Tapi di leher menantu kita, coba liat." Ratna berbisik. Bagas memperhatikan arah leher belakang Sherly. Seketika wajah Bagas pun langsung ceria.
"Hahahaha, kerja bagus. Akhirnya anak bujang lapuk yang kulit ini sudah melepaskan perjaka nya juga." Bagas tertawa bangga, ia menepuk-nepuk pundak anaknya itu.
Sherly melotot kan matanya terkejut, bagiamana mertuanya itu tau? Pikirnya kebingungan.
Alex hanya tersenyum malu-malu.
"Cie-cie, gimana, enak?" ledek Bagas menyenggol anaknya. Sherly benar-benar malu, bagaimana bisa mertuanya itu tau. Apa suaminya itu memberitahunya, atau ada sesuatu tulisan di keningnya jika mereka berdua sudah melepaskan perjaka dan perawan mereka. Sherly pun berpikir keras.
"Sayang, lain kali kalau habis melakukan itu sebaiknya pakai baju yang tertutup ya. Gak enak di liat sama orang, cukup kalian berdua saja yang tau," ucap Ratna menasehati dengan nada lembut.
"M-maksud Mamah apa?" Sherly merasakan firasat buruk.
"Itu di belakang leher kamu, banyak tanda Alex di sana. Emangnya kamu gak tau?" Ratna mencoba menahan senyumnya. Ternyata anaknya itu nakal juga.
Dengan cepat Sherly berlari arah wastafel yang ada kaca nya. Ia menoleh arah belakang lehernya yang sedikit terlihat bekas tanda kepemilikan suaminya itu. Matanya melotot, dengan baju sedikit model Sabrina, dan rambut ia kuncir seperti ekor kuda sehingga nampak jelas merah kebiruan itu di lehernya. Pantas saja orang-orang di lift melihat terus ke arahnya.
"Mas Aleeeeex, awas kamu ya. Tak gembok si Baba malam ini," teriak Sherly kesal. Entah kapan suaminya itu melakukan nya, ia tak tahu sama sekali.
" Yang sabar ya Lex, anggap saja ini cobaan," ucap sang papah menyemangati anaknya sambil mengusap pundak Alex. Sedang kan hanya tertunduk lesu.
"Yah, nasib lo Cok. Gigit jari deh kita malam ini."
__ADS_1