
Alex menangisi jenazah yang masih tertutup itu dengan sangat pilu. Bahkan menjerit-jerit karena tak rela di tinggal pergi.
"Sayang ku mohon bangunlah, aku gak bisa hidup tanpa kamu. Jangan tinggal kan aku sayang. Ku mohon," ucap Alex, ia memeluk jenazah itu tanpa membuka penuntut kepalanya.
"Mas kenapa nangis?" tanya seseorang laki-laki yang baru saja keluar dari ruang persalinan.
Alex mendongak, lalu mengusap air matanya dan menatap laki-laki bertubuh gemuk itu yang ternyata juga sedang menangis.
"Saya sedih Mas, istri saya meninggal...." Alex melanjutkan tangisnya.
"Yang sabar Mas, saya juga merasakan apa yang kamu rasakan," ujar lelaki bertubuh gemuk itu sambil menepuk pundak Alex.
Alex menatap sang pria asing itu.
"Anda sendiri kenapa menangis?" tanya Alex.
"Saya menangis karena istri saya meninggal setelah melahirkan. Huaaaaa."
Alex pun juga ikutan menangis, kedua lelaki itu sama-sama menangis.
"Saya turut berduka cita atas meninggal nya istri anda. Tapi, apa hubungan anda dengan istri saya?" tanya si laki-laki gemuk bingung itu melihat Alex memeluk jenazah yang terbaring di brankar pasien tersebut.
"Ini istri saya Pak!" jawab Alex.
"Bagaimana bisa? Apa kamu suami ke duanya?" tanya heran si lelaki tersebut.
"Apa maksud anda? Saya ini suami satu-satunya dari istri saya. Dan anda jangan ngaku-ngaku ya," jawab Alex tegas dengan expresi marah.
"Pak, maaf jangan bertengkar. Ini rumah sakit," tegur salah suster tersebut.
"Dia yang mulai!" ucap keduanya kompak saling tunjuk.
"Jadi ... siapa suami pasien ini?" tanya suster yang lainnya.
"Saya!" jawab keduanya lagi kompak.
"Hey, saya tidak perduli suami ke berapa anda dari istri saya. Tapi bagi saya, dia tetep istri saya, dan saya berhak atas pemakaman nya," ujar si pria itu sambil menarik kerah baju Alex.
"Apa-apaan laki-laki ini. Kenapa dia ngotot banget kalau istri ku adalah istrinya? Mana di kiranya aku ini suami kedua lagi. Sialan," batin Alex bergumam menatap sebel lelaki di hadapannya ini. Ingin mengamuk jika tidak ingat sekarang ini lagi berada di rumah sakit.
"Woy, belut sawah! Lo ngapain di situ?" tanya Angga seketika lewat hendak ke ruangannya sebentar.
Alex menoleh." Papah, Lily Pah!" ujar Alex sedih menoleh arah jenazah yang masih tertutup dengan kain putih itu.
"Lily di dalam noh, lagi nungguin lo bangun. Sudah bangun bukannya langsung masuk malah gangguin orang lo," sahut Angga ketus.
"Eh, maksudnya? Lily ...." Alex pun kebingungan. Dengan cepat ia membuka kain putih yang menutupi wajah jenazah tersebut. Dan ....
"Astagfirullah, salah orang." batinnya terkejut. Jadi sedari tadi dirinya menangisi istri Orang. Patut saja lelaki di hadapannya ini ngotot banget,bahkan sampai ngatain jika dirinya adalah suami kedua istrinya.
Angga ingin tertawa tapi takut dosa, ia pun pura-pura tidak tahu saja. Wajar menantunya akan seperti itu, toh baru sadar dari pingsan 3 jam lamanya. d
Dan bangun-bangun sudah ada pasien yang meninggal sehabis lahiran di tempat ruangan yang sama di mana Sherly melahirkan tadi.
"Emmm, anu ... saya minta maaf," ucap Alex merasa malu, ia menjadi tidak enak sama lelaki tersebut.
"Jadi istri saya bukan istri anda?" tanya si pria itu.
"Hehehe, maafkan saya. Saya yang salah tidak membuka terlebih dulu kain penutup ini. Dan istri saya ternyata baik-baik saja, Alhamdulillah." Alex benar-benar merasa tidak enak, apa lagi seketika bilang jika istrinya baik-baik saja.
"Syukurlah kalau begitu, selamat untuk anda dan istri ada atas kelahiran bayi kalian. Jangan pernah menyia-nyiakan nya apa lagi sampai menyakiti. Jika sudah di tinggal pergi seperti ini akan sangat menyesal seumur hidup seperti saya," ucap lelaki itu lirih bahkan menasehati Alex agar menjadi suami yang lebih baik lagi dari pada dirinya.
"Terima kasih Pak. Dan saya turuti berdua cita. Semoga istri anda selalu di terima amal ibadahnya di sisi Allah, dan untuk anda dan keluarga semoga selalu di beri ketabahan," ucap Alex turut sedih. Lelaki itu pun mengangguk.
"Baiklah kalau begitu, saya pamit dulu untuk membawa jenazah istri saya ke rumah duka, salam untuk keluarga," balsanya dengan senyum di paksa.
__ADS_1
"Terima kasih, dan hati-hati di jalan." Alex mengerti senyuman itu, senyuman penuh kesedihan. Tetapi ia bersyukur dan lega, ternyata istrinya itu baik-baik saja.
"Terima kasih ya Allah, terima kasih karena engkau telah menyelamatkan istri dan anak hamba. Terima kasih."
Alex bahkan sampai bersujud syukur karena istrinya itu baik-baik saja.
"Sayang, aku datang. Nak, Papah datang." Alex bergegas menuju ruang rawat Sherly yang sudah lama di pindahkan tanpa sepengatahuan Alex. Tentu saja, kan pingsan.
"Sayang?" Begitu saja membuka pintu, dan menyelonong masuk laku mendorong Angga yang sedang berada duduk di samping Sherly dengan tidak sopan nya.
"Woy, dasar menantu kurang ajar." Ketus Angga sebel. Ia bangkit karena dirinya di dorong sampai tersungkur ke lantai.
"Sorry Pah, gak sengaja," ucap Alex tak merasa bersalah.
"Ck, sekarang aja lo bisa tersenyum. Padahal beberapa menit yang lalu sedang menangisi istri orang," ujar Angga mengejek tentang yang tadi. Alex meletakan jari telunjuknya ke bibir supaya Angga tutup mulut tidak membocorkan rahasia yang memalukan seperti tadi.
"Hah? Istri siapa?" tanya Sherly.
"Istri orang tadi, aku salah kira sayang. Aku pikir ...."
"Lo pikir anak gue gitu yang meninggal," jawab Angga cepat.
"Ya kan aku gak tau Pah. Kaget lah bangun-bangun tiba-tiba melihat jenazah di dorong ke luar dari ruangan persalinan." lirih Alex menjawab. Tetapi ia lega setidaknya itu bukanlah istrinya.
Alex tak bisa membayangkan itu terjadi, walau hanya salah orang tapi rasa sesak di dada terasa sangat menyakitkan. Bahkan sampai sekarang masih terasa.
"Makanya, jadi orang itu yang kuat doang. Seharunya nemani bini melahirkan malah di tinggal pingsan. Dasar payah," kini Bobby yang mengejek.
"Mau gimana lagi, sudah menjadi keturunan, kita bisa apa?" balas Leo menyahuti.
"Ck, nggak bapak. Nggak anak sama aja," celoteh Angga malas.
Alex hanya menghela tak peduli. Anggap saja angin ribut yang sedang lewat. Ia fokus menatap istrinya dan membelainya lembut dengan pandangan sendu.
Sherly tersenyum." Yang penting kan sekarang aku dan anak kita selamat," jawab Sherly mencoba Menenangkan.
"Terima kasih sayang. Terima kasih banyak karena sudah mau berjuang demi melahirkan anakku, anak kita. Terima kasih banyak, aku bahkan tidak tau cara membalas semua ini padamu. Tak ada kata lain lagi selain terima kasih dan aku mencintai mu," Ungkap Alex lirih. Bahkan ratusan ucapan terima kasih rasanya tidak lah cukup untuk membalas semua perjuangan seorang istri yang telah mempertaruhkan nyawa demi keturunannya.
"Cukup memberikan kami cinta dan kebahagian. Itu sudah cukup untukku Mas," jawab Sherly tulus.
Alex meneteskan air matanya bahagia. Mendapatkan seorang istri seperti malaikat sungguh luar biasa dalam hidupnya. Patut di syukuri dan berusaha sebisa mungkin tak akan pernah menyakiti wanita sebaik istrinya itu.
"Di mana anak kita sayang? Aku pengen melihatnya?"
"Lagi tidur, lihatlah," ujar Sherly menoleh arah box bayi.
Perlahan Alex berjalan menuju arah box bayi tersebut. Jantung nya berdetak melihat dari Dagingnya yang sedang tidur dengan lelap itu.
"Ya Allah, anakku," ucapnya haru. Dengan tangan yang gemetar Alex menyentuh wajah mungil anaknya tersebut.
"Sayang, ini beneran anak kita?" tanya Alex rasa tak percaya.
"Ya iyalah. Lo pikir itu anaknya orang?" sahut Ratna mengeplak kepala anaknya. Pake nanya lagi, sudah jelas tiap malam dia yang bikin adonan. Di kira anak ajaib kali ya yang tiba-tiba ada dengan sendirinya.
"Bukannya gitu Mah, Alex masih gak percaya ini kalau sudah punya anak," bantahnya dengan pandangan tak beralih dari anak.
"Cm, karena kelamaan jadi bujang lapuk ya lo dulu. Makanya sekarang rasa gak percaya kalau sudah punya anak!" ejek sang papah berkomentar.
Alex hanya memutar bola matanya malas.
"Jenis kelaminnya apa sayang?" tanya Alex. Dirinya dan anggota keluarga yang lain tak ada yang tahu jenis kelamin anak Sherly dan Alex karena sengaja tak ingin mengetahui walau sudah di USG. Biarlah menjadi tebak-tebakan seketika lahir.
"Menurut kamu, gimana? Laki- laki apa perempuan?" tanya Keyra memberi Alex tebakan.
Alex pun mengamati dengan seksama." Di lihat dari bentuk wajahnya ini, sepertinya ..."
__ADS_1
Semua orang menunggu.
"Tidak tau lah, aku mana bisa menebak. Kan bukan orang pintar!" ucapnya.
GUBRAAAAK. Semuanya pun pingsan berjamaah.
*****
Keadaan kembali normal....
"Bayi nya laki-laki Mas," jawab Sherly. Dan Alex tersenyum senang. Tadinya tak masalah kalau anaknya perempuan atau laki-laki. Karena baginya yang penting sehat.
"Alhamdulillah," ucapnya sembari menggendong bayi mungil nan tampan itu.
"Ganteng banget sih? Mirip kayak aku kan Yang?" ujar Alex.
"Eleh, mana! Anak cucu gue itu, yang ganteng sudah pasti karena keturunan gue lah. Secara gue kan ganteng?" ujar Angga menjawab cepat dengan penuh percaya diri sambil mengusap rambutnya dan menaikan turunkan alisnya dengan senyuman di wajah.
"Uwwwek, pengen muntah," sahut Bobby geli.
"Wajah pas-pas gitu di bilang ganteng. Ganteng di lihat dari mananya? Dari atas monas dan di lihat dari sedotan baru ganteng," lanjutnya mengejek sinis.
"Ck, bilang aja lo iri. Iya kan?" Balas Angga tak terima.
"Ck, aku ... iri? Hahaha gak mungkin? Orang ganteng sejagat raya sealam semesta ini sudah pasti tidak akan iri, apa lagi cuma tampang buluk kayak lo," lanjutnya seraya tertawa mengejek.
"Apa kau bilang? Gue buluk!"
"Hadew, kepala ku rasanya hampir mau pecah dengan dua orang ini. Tiap kali ketemu selalu saja berantem." Dewi sudah lelah menghadapi dua lelaki yang bersahabat sekaligus menantu dan mertua itu.
"Entahlah Mah, Sera pun juga pening?" jawab Sera pasrah.
"Sudahlah tu, jangan hiraukan mereka yang sama-sama sableng itu. Siapa nama beby nya sayang? Kalau belum ada nama Mamah punya nama yang bagus untuk cucu Mamah," ujar Ratna.
"Siapa memangnya Mah?" tanya Sherly.
"Junkiok," ujar Ratna.
"Hah? Junkiok! Yang benar aja?" sahut Keyra tak suka.
"Nama macam apa itu Junkiok? Jongkok kali!" sela Leo.
"Is kamu orang laki bini ini. Nama bagus bagus juga. Itu loh nama aktor korea, Jungkook." Kata Ratna.
"Tadi katanya Junkiok, sekarang Junkook! Kasih nama kok gak bener," jawab Leo. Ratna pun langsung mengeblak kepala Leo sebel.
"Lee Joo Hyuk mungkin?" ujar Sera.
"Nah itu, iya itu namanya. Gimana? Keren kan?" sahut Ratna bangga.
"Ck, lidah blebet aja sok-sok an pake nama orang korea," gumam Leo.
"Ngomong apa kau?" tanya Ratna mode galak.
"Hehehe, namanya bagus!" ujar Leo sambil mengancungkan jempolnya takut.
"Mah, kita ini orang Indonesia. Bukan orang korea. Yang ada nanti anak Alex di panggil opah-opah. Kakek-Kakek doang," tolak Alex tak suka.
"Benar itu, lagian aku udah ada nama yang bagus untuk cucu ku. Gak akan susah kayak nama orang-orang k-pop tapi wajah cantik itu," ujar Angga." Namanya Bryan Michael Jackson Alexander Anggara!" ucapnya dengan tegas.
"Gimana? Bagus kan!"
*****
Maaf ya yang bab itu lagi eror sistem. udah tanya admin katanya lagi tahap perbaikan. Moga besok bisa normal lagi.
__ADS_1