Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
EPISODE 122


__ADS_3

Leo menggenggam erat tangan Keyra, menatapnya dalam.


"Key, mungkin kamu berpikir jika aku melamar kamu tanpa modal, gak ada cincin apa lagi suasana romantis. Tapi sebenarnya ada, malah udah rencana bahkan aku udah pesan cincinnya tapi di jakarta. Karena sekarang udah kepalang, jadi biarkan saja melamar tanpa modal."


Leo berlutut mendongak menatap serius Keyra dengan tangan masih menggenggam.


"Keyra, mau kah kamu menikah denganku kembali? Dan membangun rumah tangga mulai dari awal lagi, dengan cinta dan bersama-sama membangun kebahagian dalam rumah tangga kita. Merawat dan membesarkan anak-anak kita hingga mereka memiliki keluarga sendiri. Mau kah kamu hidup bersamaku, menua bersamaku?"


Leo bersungguh-sungguh melamar Keyra, ia sudah sangat mencintai wanita di hadapannya ini. Dan menyesal kenapa tidak melihatnya dari dulu. Memang benar penyesalan itu selalu datangnya dari belakang.


Karena tak ada jawaban dari Keyra, Leo memasang wajahnya murung. Sangat kecewa karena sepertinya di tolak.


"Iya," jawab Keyra dengan suara serak, ia sangat susah payah menjawab satu kalimat saja sangking syok tak percaya tadi. Hal seperti ini ia tunggu - tunggu dulunya, sehingga ia menyerah karena cintanya tak terbalas. Namun siapa sangka justru Leo sendiri yang datang padanya tanpa di undang, bahkan menyatakan cinta bahkan menginginkan dirinya. Sungguh keajaiban luar biasa. Sehingga Keyra tak mampu berkata apa-apa selain terharu menangis bahagia.


"Apa? Kamu mengatakan apa tadi? Aku tidak dengar," ucap Leo, ia samar-samar mendengar iya, tapi ingin memastikan sekali lagi.


Keyra menghela nafasnya dalam lalu tersenyum menatap Leo.


"Iya, aku mau menikah lagi sama kamu," jawab Keyra yakin dengan senyum bahagia di wajahnya. Tak dapat di pungkiri lagi jika dirinya masih sangat mencintai Leo, bohong jika ia sudah bisa lupa lelaki ini, nyatanya ia masih belum bisa melupakan sosok Leo yang sudah membuatnya gila sehingga tega melakukan hal kotor untuk mendapatkannya. Akan tetapi sekarang ia benar-benar sudah bertaubat dan menerima semua karmanya. Sampai Leo sendiri yang menginginkan dirinya, mungkin karmanya sudah selesai dan saatnya untuk bahagia bersama orang yang ia cintai.

__ADS_1


"Sungguh, kamu beneran mau kembali lagi sama aku? Kamu gak lagi bohong kan?" Leo senang, ia memeluk Keyra erat menumpahkan kebahagiaannya dengan isak tangisnya. Bersyukur karena masih di beri kesempatan kedua. Ia mengecup seluruh wajah Keyra tanpa ampun.


"Leo, hentikan. Aku gak bisa nafas," ucap Keyra. Dan Leo menghentikan lalu memandangi wajah mantan istrinya, eh ralat. Calon istrinya.


"Apa aku menyakitimu?" tanya Leo khawatir.


"Hem, kamu bahkan memelukku terlalu erat dan menciumiku tanpa membiarkan aku bernafas, itu penyiksaan namanya," rajuk Keyra, membuat Leo terkekeh lalu kembali mengecup tapi di bagian kening dan cukup lama menyalurkan rasa cintanya yang dalam. Sedangkan Keyra menutup kedua matanya.


***


Tiga hari kemudian, Abian sudah siuman dan kesehatannya juga sudah membaik. Ia juga sudah mengetahui dengan dirinya yang di selamatkan dengan donornya darah Zahra. Dan ia pun berterima kasih atas kebaikannya dan berhutang nyawa padanya.


"Apa yang kamu ucapkan Mas, pikiran saja dulu kesehatan kamu," sahut Zahra yang masih setia selalu menjenguk Abian dan merawatnya.


"Nak, apa kamu yakin ingin menikah dengan Zahra?" tanya sang ayah pada Abian.


"Iya Ayah, Zahra adalah wanita yang baik, tidak ada alasan lagi untuk Abi menolaknya. Karena Abi yakin pilihan Bunda dan Ayah yang terbaik buat Abi," jawab Abian yakin.


"Bukannya kamu tidak menyukai Zahra, Abi. Apa karena dia sudah mendonorkan darahnya sama kamu sehingga kamu ingin berbalas budi dengan cara menikah dengannya?" ucap sang ayah, ia tidak ingin anaknya memaksa menikah hanya karena balas budi. Ia ingin anaknya bahagia dengan cinta pilihannya sendiri.

__ADS_1


Abian menggeleng pelan, ia menoleh arah Zahra yang sedang berdiri di sampingnya. Tangan Abian terangkat bermaksud ingin meraih tangan Zahra. Zahra yang mengerti pun sempat menoleh pada bunda Fatimah yang tersenyum sembari mengangguk kecil lalu bangkit dari duduknya di samping sang anak agar Zahra bisa duduk di sana.


Zahra mengulurkan tangannya dan duduk di samping Abian tempat ibu Fatimah tadi. Ia menatap laki-laki yang tengah terbaring lemah di brankar dengan serius.


"Zahra, aku minta maaf ya karena sebelumnya aku sempat menolak kamu," ucap Abian.


Zahra menggeleng pelan." Nggak Mas, justru aku yang meminta maaf karena telah lancang menyukai kamu, sedangkan kamu tidak menyukaiku. Aku minta maaf karena langsung menyetujui saat orang tua kita ingin menjodohkan kita tanpa persetujuan kamu lebih dulu, dan aku juga minta maaf gara-gara aku kamu justru masuk ke rumah sakit. Andai aku menolak dari awal, mungkin semua ini tidak akan terjadi," ucap Zahra lirih.


"Tapi kejadian aku sadar, Zahra. Jika kamu adalah wanita yang baik, pantas saja ayah dan bunda selalu memuji kamu, dan nyatanya kamu memang sangat baik, dan aku pasti akan menyesal karena menyia-nyiakan wanita sebaik kamu," jawab Abian.


Abian sadar jika cintanya pada Keyra tidak bisa di paksa, sehingga ia mencoba untuk membuka hatinya untuk Zahra, wanita yang telah ikhlas mendonorkan darah untuknya padahal ia secara tidak langsung menyakiti hatinya dengan menolak mentah - mentah dan memilih Keyra daripada dia. Karena masih ada kesempatan, Abian pun tidak ingin menyia-nyiakan lagi, karena Keyra ia tahu pasti sudah bahagia bersama Leo, dan saatnya dirinya juga bahagia dengan membuka lembaran baru bersama Zahra. Ia kan menyesal nantinya jika tetep menolaknya, dan akan kehilangan cintanya lagi dan belum tentu kedepannya akan mendapatkan wanita sebaik dan se sholeha Zahra.


"Tapi Mas, aku tidak mau kamu melakukan itu karena terpaksa? Aku mengerti jika kamu tidak mencintai aku. Aku ikhlas kok di anggap sebagai adik oleh kamu, asalkan kamu bahagia bersama wanita yang Mas cintai," ucap Zahra lirih, ia benar-benar tulus, dan Abian dapat melihatnya dari pacaran matanya.


"Sebab dari itu aku meminta sama kamu untuk bersabar agar aku mencintaimu sepenuhnya, aku akan membuka hatiku untuk menerima cintamu. Kamu mau kan menungguku?"


Zahra menitikkan air matanya sembari mengangguk, hatinya sangat bahagia. Cintanya untuk Abian sudah begitu lama ia pendam dari usia mereka masih kanak-kanak hingga sekarang tanpa Abian sadari. Dan hari ini, ia benar-benar bersyukur karena masih ada kesempatan untuknya bersama lelaki yang ia cintai dan akan berusaha lebih sabar lagi mendapatkan cintanya sampai kapanpun asal selalu bersama.


Abian pun tersenyum senang dan mempereratkan genggaman tangannya di tangan Zahra. Kedua orang tua Abian menangis harus, ia bahagia akhirat Abian mau menerima Zahra walau belum mencintainya. Namun, fililng seorang ibu tidak pernah salah, ia yakin suatu saat Abian akan mencintai Zahra dengan seiringnya waktu berjalan.

__ADS_1


__ADS_2