Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Season 2, mati lampu


__ADS_3

Hari ini Sherly sudah berada di kampus, Alex yang mengantar nya dan akan datang menjemput saat mata kuliahnya nanti telah berakhir.


"Cie-cie pengantin baru masuk kuliah, gak bulan madu lo?" tanya Dara dan Yura.


"Apaan sih, gak ada bulan madu, bulan maduan. Bulannya jauh dan madunya masih di proses sama lebah," ketus Sherly menjawab malas.


"Ck sensi amat Bu, gak dapat servis sama ayang beb?" ledek Dara seraya tertawa.


"Eh, gimana? Sakit gak?" tanya Yuna berbisik kepo.


"Nggak," jawab singkat Sherly.


"Hah, serius gak sakit? Bukanya kalau pertama kalinya itu sakit ya, kan berdarah," heran Yuna berpikir


"Atau, jangan-jangan lo sudah gak ...."


"Sembarang aja kalau ngomong, gue masih bersegel tau. Gak sakit karena gak ngapa-ngapain sama dia," ucap Sherly. Kedua sahabatnya kaget.


"Kok bisa? Bukannya lo sudah janji sama dia bakalan ngikuti syarat darinya?" tanya Dara dan di angguki oleh Yuna.


"Iya sih, tapi aku ada rasa takut dan rasa belum siap gitu. Tapi untungnya om Alex baik banget, dia ngertiin gue dan tidak meminta hak nya," cerita Sherly.


"Beruntung banget sih Lo dapatin suami kayak gitu. Coba kalau gue, pasti seneng banget. Udah ganteng, mapan, baik, pengertian pula, kurang apa lagi coba?" ucap Yuna kagum dengan sosok suami sahabatnya.


"Bener banget, jika di bandingkan sama Devan, jauh kemana-mana. Gak ada apa-apa nya tauk gak," timpal Dara.


"Iya sih, makanya kadang gue merasa gak enak hati. Tapi mau gimana, aku belum memiliki perasaan apa-apa sama dia, walau sebenarnya aku nyaman dekat dengannya," ucap Sherly lirih, hatinya tak bisa di bohongi jika perasaan nya masih belum terpikat dengan Alex.


"Lo harus belajar melupakan Devan, Ly. Belajar membuka hati Lo untuk om Alex. Jangan menyesal jika suatu hari om Alex pergi karena lo masih belum bisa menerima dia," nasehat Dara sembari menyentuh pundak Sherly.


"Iya bener, gue percaya jika om Alex bisa membuat lo bahagia. Dan kayaknya dia suka suka deh sama lo, jangan sampai di ambil pelakor dulu baru lo mau membuka hati untuknya, terlambat sudah." Yuna pun memberikan nasehat, ia tidak mau Sherly menyesal. Karena ia dapat melihat ketulusan di mata Alex untuk sahabat nya.


"Hiks, hiks ... gue sayang kalian." Sherly terharu, kedua sahabatnya memang yang terbaik. Tidak ada salahnya untuk mencoba membuka hati, Alex sangat baik padanya.


Ketiganya pun berpelukan, sampai dosen pun datang.


*****


Jam kuliah pun berakhir, Sherly dan kedua sahabatnya sedang menunggu kedatangan Alex. Tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka.


"Sherly!" panggil orang yang menghampiri itu.


"Ada apa?" tanya Sherly malas.


"Dengar-dengar lo sama Devan udah putus ya?" tanya dengan seringai.


"Emangnya apa urusannya sama lo?" sahut Dara sinis. Lelaki itu tersenyum lalu mendekat srah Sherly.


"Gue boleh dong mengejar lo. Gue lebih baik dari pada dia, dan gue jauh lebih tampan," ucapannya dengan nada sombong sambil mengusap rambut klimis nya.


Dara dan Yuna ingin muntah mendengar nya.


"Tapi kalian sama, sama-sama brengsek!" jawab Sherly sinis. Lelaki yang bernama Joni itu malah tertawa.


"Ini yang gue suka dari lo, selain masih perawan. Lo juga pilih-pilih, dan gue suka itu," ucapannya sembari meraih rambut Sherly hendak di ciumannya. Dengan cepat Sherly menepis nya.


"Sayangnya gue gak sudi, dan lo gak akan mendapatkan kesempatan itu. Sebaiknya lo taubat sebelum karma berlaku buat lo," ucap Sherly tegas, lalu berlalu pergi.


"Cepat atau lama lo bakalan bertekuk lutut di hadapan gue Sherly. Gak ada satu orangpun yang bisa menolak gue," teriak Joni tanpa malu, lelaki itu sangat percaya diri.

__ADS_1


Saat Joni berada di parkiran. Tiba-tiba ia mendapatkan pukulan dari seseorang hingga membuatnya tersungkur di lantai. Bahkan sudut bibirnya mengeluarkan darah.


"Jauhi Sherly, atau gue akan buat wajah sok kegantengan lo ini hancur," ancamnya sambil menarik baju Joni yang masih tersungkur di lantai.


"Ck, lo gak ada hak ngelarang gue. Dia bukan siapa-siapa lo lagi, bukan?" jawab Joni seolah menantang.


"Walau gue buka siap-siapnya, tapi sedikit saja lo menyentuhnya. Hidup lo berada di tangan gue, ingat itu."


Devan, lelaki itu adalah Devan. Ia mengikuti Sherly dari ke jauhan. Dan melihat apa yang di lakukan oleh Joni, yang secara kebetulan mereka berdua memiliki masalah padahal dulunya bersahabat.


Devan menghajar Joni, karena ia tau niat busuk lelaki itu yang tak jauh beda brengseknya dari dirinya. Tak bisa lagi Devan lakukan selain melindungi mantan kekasihnya itu secara diam-diam. Ia mengakui kesalahannya, dan mencoba menerima keputusan Sherly. Kemudian Devan langsung pergi begitu saja meninggalkan Joni yang tengah menahan kekesalannya.


Sementara itu, mobil jemputan Sherly sudah tiba. Alex keluar dari dalam mobil menghampiri istrinya.


"Sore Om," sapa Dara dan Yura.


"Halo girls, udah lama menunggu?" tanya Alex melirik arah istrinya.


"Selama apapun, Lily mau kok tetep menunggu. Ya kan Ly," ledek Dara menyengol tangan Sherly dengan siku nya.


"Apaan sih, dah lah gue mau pulang ... ayo Om." Sherly masuk ke mobil.


"Cie pengen cepet-cepet pulang. Mentang-mentang sudah punya ayang beb," ledek Dara saat Sherly membuka pintu kaca mobil. Alex hanya tersenyum menanggapi nya.


"Terserah, bye."


"CK, ngambek. Om yang sabar ya menghadapi Lily, dia emang begitu orangnya suka ambekkan," ucap Dara. Dan hanya di acungkan jempol oleh Alex lalu menghidupkan mesin mobilnya.


"Capek?" tanya Alex saat melihat wajah lesu istrinya.


"Hem, lumayan," jawab Sherly lesu.


"Mau langsung pulang atau mampir kemana dulu?" tawar Alex.


"Di mana? Cafe es krim mau?"


"Boleh deh."


Alex pun memutar stir mobilnya menuju cafe yang menyediakan beragam aneka macam es krim.


"Kamu mau pesan yang apa?" Setelah sampai di cafe, Alex dan Sherly sudah duduk di pinggiran kaca jendela lalu membuka menu.


"Yang semua rasa aja deh, kayaknya enek," tunjuk Sherly.


" Oke ... yang ini dua ya Mbak!"


"Baik Kak, ada yang lain lagi?" Sherly dan Alex menggeleng, lalu pelayan cafe tersebut pergi untuk menyiapkan pesenan mereka.


"Em, di kampus tadi ada ketemu sama Devan?" tanya Alex ragu-ragu.


"Nggak," jawab Sherly jujur. Alex pun manggut-manggut. Lalu keduanya kembali diam.


"Lagi pula jika kami bertemu tidak akan mengubah apapun, kami tidak melulu hubungan apa-apa lagi," ucap Sherly tiba-tiba.


"Aku percaya sama kamu, walaupun kalian menjali pertemanan gak apa kok."


Sherly hanya diam tanpa menjawab ucapan Alex. Sampai kesunyian keduanya terhenti dengan datang nya pesanan mereka.


"Silahkan di nikmati."

__ADS_1


"Terima kasih."


Sherly langsung saja menyantapnya.


"Em, seger banget," ucapnya meresapi. Alex tersenyum melihatnya, ia juga memasukkan sendok berisi es krim itu ke mulutnya.


"Iiiisssh." Alex meringis sambil memegangi pipinya dengan mata setengah terpejam.


"Kenapa Om?" tanya Sherly.


"Ngilu banget," jawab Alex. Sherly pun tertawa.


"Terus gak bisa makan es krim nya dong?"


"Masih bisa di tahan kok, sayang kalau gak di makan, mubazir."


"Oh, kirain gak bisa memakannya. Mau aku habiskan tadi nya," ucap Sherly pelan.


"Gak boleh, kamu pesen semua rasa itu ukuran jumbo loh. Nanti sakit perut kalau makan terlalu banyak," larang Alex tegas.


"Huh, dasar pelit," celetuk Sherly sambil terus memakan es krim nya


"Bukanya pelit, tapi demi kesehatan kamu,' bantah Alex.


"Ya-ya, intinya pelit."


Alex hanya menghela nafasnya mengalah. Setelah 2 jam puas menikmati es krim. Kedua memutuskan untuk kembali pulang.


"Aku mandi dulu ya, gerah banget."


Hari sudah mulai gelap, jam pun sudah menunjukkan pukul 7 malam. Sherly pamit mandi. Pada saat. asik tengah keramas rambut, tiba-tiba lampu padam. Sherly yang tak dapat melihat apa-apa pun ketahuan karena ia takut dengan gelap.


"Om, Om Alex," teriak Sherly dengan tubuh gemetar.


"Om Alex," teriaknya lagi dengan isak tangisannya.


Alex membuka pintu kamar mandi dengan senter hp di tangannya, ia melihat istrinya tengah telanjang duduk memeluk lutut di lantai.


"Jangan takut, aku disini." Alex mengambil handuk lalu menutupi tubuh Sherly. Untungnya cukup gelap karena Alex mengarahkan senter lampu nya ke arah lain sehingga tak dapat melihat tubuh istrinya itu.


"Aku takut Om." Tubuh Sherly gemetar, Alex pun langsung memeluknya.


"Tidak apa, aku disini. Sekarang bilas rambut kamu dulu ya, masih banyak sabunnya. Aku tunggu di luar pintu senter nya aku tinggal kok."


"Gak mau, Om di sini aja temanani aku," cegah Sherly, ia benar-benar takut dalam kegelapan walau ada cahaya sedikit namun tetep aja arah lain gelap.


"Tapi ...."


"Om gak mau ya," lirih Sherly sedih. Alex menelan ludahnya, sekarang aja ini si Ucok sudah bangun, apa lagi saat melihat tubuh indah itu, bisa lepas sendiri dia dari tempat aslinya berpindah ke dalam gua yang sempit.


"Bukan baiklah." Alex meletakkan senter hp nya ke sisi tembok, lalu dirinya duduk di closed yang tertutup sambil mengarah pandangan ke arah lain. Sesaat Sherli membilas rambutnya yang masih ada shampo. Mata nakal Alex melirik.


Astagfirullah, Astagfirullah ....


Alex langsung berucap sambil mengelus dada terkejut melihat pemandangan yang sangat indah di bandingkan dengan apapun.


"Astagfirullah, Ya Allah. Kuatkan iman hamba untuk menghadapi cobaan ini,' batin Alex berteriak.


"Aduh, aduh Om mata ku pedih," teriak Sherly menutup matanya karena pedih akibat kemasukan air bekas shampo dari rambutnya.

__ADS_1


"A-aku ambilkan air bersih." dengan tubuh gemetar Alex menyerahkan segayung air bersih itu pada istrinya sehingga matanya benar-benar dapat melihat dari jarak dekat tubuh istrinya bahkan dapat melihat benda bulat cukup besar yang nampak kenyal tak bertulang itu. Ia pun menelan ludahnya. Lagi-lagi mata nakal nya mengarah ke ....


Astagfirullah ... astagfirullah.


__ADS_2