Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Bab 38


__ADS_3

Raja dan Kania menoleh ke arah asal suara yang memanggil nama Raja.


Di belakang mereka berdiri seorang wanita berhijab dengan gaya modisnya, wanita itu mengenakan blouse yang dipadu padankan dengan celana jeans ketat, dan tidak lupa outer yang dikenakannya hingga lutut.


Hijab dikenakannya melilit dilehernya, bukan dipanjangkan menutupi d**Anya.


Raja kaget saat melihat adik sepupunya tengah berada di Yogya, yang mana selama ini dia berada di Jakarta.


Dia bekerja sebagai selebgram, kedua orang tuanya Alex dan Irene tidak setuju dengan jalan yang dipilih putrinya, tapi sifat keras kepalanya membuat Fatiya memilih jalan yang diinginkannya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Raja pada Fatiya.


Kania heran melihat sosok wanita yang sangat akrab dengannya.


Kania semakin mempererat genggamannya di tangan sang suami, wanita itu melihat dengan jelas aksi Kania yang menjaga sang suami.


Dia melirik sinis ke arah Kania.


"Siapa dia?" tanya Fatiya.


Fatiya tidak suka melihat Raja berdekatan dengan wanita lain, karena dia sudah lama menyimpan rasa cinta pada sepupunya itu.


"Aku istrinya, kamu siapa?" tanya Kania dengan nada posesif.


Dia juga tidak suka melihat wanita lain dekat dengan sang suami.


Raja kaget melihat sosok Kania yang berani menyatakan bahwa dirinya adalah istri Raja di hadapan Fatiya.


Fatiya tidak percaya dengan ucapan Kania, dia tak menyangka Omnya Raffa menikahkan Raja dengan wanita lain selain dirinya.


"Bohong," ujar Fatiya.


Raja tersenyum melihat adik sepupunya yang terlihat kecewa mendengar jawaban istrinya.


Raja tahu betul bahwa Fatiya sangat mengagumi dirinya sejak mereka kecil, dia yang selalu mencari alasan agar bisa bersama dirinya dalam berbagai hal.


"Apa yang dikatakan Kania memang benar, kami sudah menikah," jawab Raja.


"Aku tidak percaya," ujar Fatiya menyangkal kenyataan.


"Lagian kamu ke mana saja, sih? Apakah Om dan Tante tidak memberitahumu besok akan diadakan resepsi pernikahan aku dan Raju?" tanya Raja heran pada sepupunya yang satu ini.


"Apa?" Fatiya tak percaya.


Dia mencoba membuka tasnya, dia mengambil ponselnya yang biasa digunakan untuk keluarga.


Dia melihat di sana banyak panggilan tak terjawab serta pesan yang masuk dari keluarganya dalam 2 pekan terakhir.

__ADS_1


Fatiya yang sibuk dengan jadwal syuting produk endorsenya membuat dirinya lupa mengecek informasi apa saja yang terjadi di dalam keluarga besarnya.


Raja menarik tangan Kania untuk meninggalkan Fatiya yang kini sibuk dengan ponselnya.


Kini gadis itu terduduk di kursi yang ada di dalam food court tersebut.


Dia membaca satu persatu pesan yang sudah dikirim oleh Ayah dan Ibunya. Dia tak menyangka kebodohannya telah melewatkan hal penting dalam hidupnya, seandainya waktu itu dia tahu sepupu yang dicintainya akan menikah, dia akan datang menghalangi pernikahan itu.


"Kita duduk di sana saja," ujar Raja berharap posisi yang dipilihnya tak terlihat oleh Fatiya sehingga wanita itu tidak akan mengganggu mereka.


"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Kania dengan wajah manjanya.


Entah mengapa sifat pemalu yang ada di diri Kania hilang begitu saja saat dia bersama sang suami.


Selama ini dia dikenal sebagai gadis yang lugu, anggun, dan pemalu.


Raja menatap dalam wajah cantik istrinya, dia tidak menyangka istrinya akan berbuat seperti ini untuk mendapatkan cintanya, tapi Raja masih ingat dengan janjinya pada Kanaya yaitu dia akan memperjuangkan cinta mereka.


"Sayang," lirih Kania lagi.


Kania melambaikan tangannya tepat di depan wajah sang suami.


"Eh," lirih Raja.


Raja tersadar dari lamunannya.


Dia kembali mengulangi pertanyaannya.


"Mhm, aku mau soto Lamongan," jawab Raja.


Saat ini dia ingin menikmati sesuatu yang berkuah-kuah.


"Minumannya apa?" tanya Kania.


"Es lemon tea," jawab Raja.


"Ya sudah, biar aku yang mengambil pesanannya," ujar Kania.


Dia bersiap untuk berdiri, dan mengantri dengan pengunjung lainnya.


Raja menahan tangan Kania.


"Biar aku saja," ujar Raja menawarkan diri.


"Tapi," lirih Kania.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Raja pada istrinya.

__ADS_1


"Samain saja sama kamu," jawab Kania.


"Baiklah, kalau begitu." Raja berdiri lalu melangkah menuju tempat pemesanan makanan.


Sebagai seorang pria sejati, Raja tidak ingin membiarkan istrinya mengantri makanan untuknya meskipun dia belum mencintai wanita tersebut.


Sementara itu, Fatiya yang baru saja membuka pesan dari keluarganya langsung keluar dari mall.


Dia membatalkan jadwal syuting hari ini, karena dia harus pulang ke Padang.


Dia ingin mempertanyakan perihal pernikahan Raja dan Raju yang mendadak tanpa sepengetahuan dirinya.


"Ini," lirih Raja setelah dia kembali ke tempat Kania berada dengan membawakan menu makanan yang sudah mereka pesan tadi.


Raja duduk di hadapan Kania, dia bersiap untuk memakan soto yang sudah dipesannya tadi.


"Eh, Sayang. Tunggu sebentar," ujar Kania menghentikan Raja yang hendak mengangkat sendok dan menyantap soto itu.


Kania menambahkan saus cabe dan kecap ke dalam. soto sang suami.


Lalu dia mencicipi rasa soto tersebut, tak lupa dia membacakan do'a agar hati sang suami luluh dan memberikan cintanya pada sang istri.


Raja mengernyitkan dahinya melihat apa yang sedang dilakukan oleh sang istri.


"Udah, rasanya sudah enak," ujar Kania lalu memberikan mangkok soto itu pada sang suami.


Raja memperhatikan sendok yang tadi digunakan sang istri saat mencicipi rasa soto tersebut.


"Sayang, aku ini sehat tidak memilik penyakit apa pun di dalam tubuhku, ayo makan," ujar Kania menyadari sang suami Ragu menyantap makanannya dengan sendok bekas sang istri.


"Aku melakukan hal itu agar, jika di dalam makananmu itu ada racun maka akulah yang terkena racunnya. Setiap istri harus menjaga makan dan minuman yang akan dimakan oleh suaminya." Kania juga mencicipi minuman Raja laku dia kembali meletakkan minuman tersebut di hadapan sang suami.


Raja terharu mendengar ucapan sang istri, dia tak menyangka istrinya memiliki ilmu sejauh itu.


Akhirnya Raja pun menikmati Soto yang ada di dalam mangkok di hadapannya.


Entah mengapa soto tersebut terasa lebih enak baginya dari pada soto Lamongan yang pernah dimakannya selama ini.


Mereka pun menyantap makanan yang ada di hadapan mereka, Raja mulai terbiasa dengan perilaku dan sikap Kania yang posesif terhadap dirinya.


Setelah selesai menghabiskan makanan yang ada di hadapan mereka, Kania menatap dalam wajah sang suami, setelah diperhatikannya, Kania dapat melihat dengan jelas ketampanan sang suami.


"Aku tak salah mengambil keputusan ini, aku akan melupakan cinta pertamaku dan memperjuangkan rumah tanggaku agar tak ada badai yang bisa menghancurkannya," gumam Kania di dalam hati.


Dia akan terus melakukan apa yang menurutnya benar sambil berserah diri pada Allah agar, Allah membantunya membukakan pintu hati Raja agar tertuju pada dirinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2