Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Episode 100


__ADS_3

Sera diam di tempat, sampai -sampai tidak menyadari seseorang datang menghampiri dirinya.


"Sayang, kamu lagi apa?" tanyanya. Sera terkejut, ia memegang dadanya menatap orang itu yang tak lain tak bukan, siapa lagi kalau bukan suaminya.


"Ya Allah, Mas. Bikin kaget aja," ucap Sera memukul lengan suaminya.


"Lagian kamu juga aneh, bengong di pinggir jalan. Kalau ada yang menculik kamu bagaimana? Jangan di ulang lagi, lagian ngapain sih di sini?"


"Em, anu ... eh, kok kamu ke sini? Emang udah gak sibuk lagi?" Sera malah bingung ingin menjelaskan, akhirnya ia mengalihkan pembicaraan saja.


"Ya begitulah," jawab Angga, ia melihat ke arab anaknya yang sedang mengobrol dengan seorang wanita yang ia yakini jika itu adalah Nadira, tetapi mereka terlihat akrab. Karena penasaran, Angga pun mengajak Sera menghampiri keduanya.


"Leo, terima kasih sudah menjaga Mamah kamu," ucap Angga.


"I-iya, Pah," jawab Leo kikuk.


Leo pada awalnya tidak ingin keluar rumah , tetapi Angga meneleponnya dan menyuruh menghampiri Sera dan sahabatnya di sebuah restoran. Karena tak ingin terjadi kenapa -napa pada istrinya itu sebab itulah Angga menyuruh Leo, dan memberi tahu padanya jika Sera bersama sahabat yang bernama Nadira. Leo pun bersemangat langsung menyetujui permintaan ayahnya tersebut. Sebab itulah Leo berada di sana sekarang.


Nadira nampak canggung bertemu Angga untuk pertama kalinya, ia hanya menyapa dengan sebutan om, dan Anggar membalas dengan senyuman saja.


"Aku tidak tau hubungan kalian, dan juga tidak ingin ikut campur apa lagi melarang kalian. Tapi tolong selesaikan dulu masalah yang kalian buat, jangan semakin besar dan berlangsung lama, api tidak akan padam sebelum di siram dengan air dingin. Jangan sampai nama baik kalian cacat dulu lalu baru bertindak," nasihat Sera berbicara tegas pada keduanya.


"Iya, kami akan menyelesaikan masalah ini dan meluruskan kejadian yang sebenarnya," jawab Leo menatap Nadira.


"Dan satu hal lagi, kamu juga harus ingat dengan status kamu. Aku tau kamu sekarang lajang dan bebas mencari kebahagiaan sendiri, tapi jangan sampai lupa peran kamu sebagai seorang ayah. Jangan mentang -mentang Keyra menghilang lalu kau seenaknya saja lepas dari tanggung jawab! Apa lagi sekarang Keyra sudah lahiran, bagaimana pun juga anak itu adalah darah daging kamu, dia berhak mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya," ucap Sera lagi -lagi tegas pada Leo. Sedangkan Leo hanya diam tertunduk.


Angga tak mengerti apa-apa sekarang, namun mendengar nasihat Sera, ia pun paham.

__ADS_1


"Papah akan bantu kamu mencari Keyra, nanti Papah coba bicara sama Om Wisnu tentang keberadaan Keyra," sela Angga menimpali, lalu ia menepuk pundak anaknya.


"Cobalah lupakan masa lalu, dan belajarlah ikhlas menerima semua takdir. Walau kalian tidak bisa bersama lagi, tetapi tak ada salahnya berdamai, menjalani ikatan tali persaudaraan, demi anak kalian. Setelah tahu di mana Keyra, cobalah bicara baik-baik padanya. Papah yakin kau bisa, kamu sudah dewasa," ucap Angga pada Leo. Ia hanya bisa menasihati anaknya.


"Iya Pah, terima kasih banyak, mohon bantuannya."


"Baiklah, kalau begitu Papah pulang dulu, kasihan Mamah kamu terlalu lama di luar, apa lagi sedang mengandung adik kamu," ujar Angga berpamitan.


"Iya Pah, hati-hati di jalan."


Angga mengangguk, lalu ia menatap Nadira yang tersenyum padanya. Angga merangkul Sera dan membawanya masuk ke dalam mobil.


"A-aku juga mau pulang," ucap Nadira.


"Aku antar ya," tawar Leo cepat.


Nadira menggeleng." Tidak perlu, terima kasih tawarannya."


"Apa kamu gak ngerti Leo, sudah cukup aku menerima semua tuduhan itu. Tolong mengertilah, jangan kejar aku lagi. Urus saja masalah kamu, jangan bawa-bawa aku," ucap Nadira memohon, sudah cukup dirinya menderita.


"Kenapa? Aku hanya ingin menyampaikan perasaan aku, jujur aku suka sama kamu Nad. Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki diri dan menyelesaikan semuanya, tapi aku mohon jangan menghindar dariku," pinta Leo serius dengan ucapannya.


"Apa kamu gila, Leo? Lalu bagaimana dengan Keyra? Anakmu."


Leo menghembuskan nafasnya panjang." Aku dan Keyra sudah tidak ada hubungan apa lagi, aku tidak bisa bersamanya walau ada anak di antara kami. Jujur, aku tidak bisa membuka hati aku untuknya, sebab itulah mengapa aku tak pernah peduli padanya. Aku sudah mencoba Nadira, aku sudah belajar menerimanya. Tapi hati ini selalu menolak, bagaimana sih kalau perasaan kita memang benar-benar tidak suka, mau di paksa seperti apapun tetep tidak mau menerimanya," lirih Leo menceritakan isi hatinya.


Bukan masalah terluka, tapi hati memang tidak bisa di paksa untuk menerima cintanya, sudah berusaha mencoba ikhlas tapi tetep tidak bisa sehingga hanya goresan luka itu semakin terbuka, sampai hati dan perasaannya tidak kuat untuk terus bersama.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan anakmu? Ingat Leo, tidak ada yang namanya mantan anak."


"Aku tau, Nadira. Selama ini apa kau pikir aku hanya diam saja? Nggak, Nad, aku terus mencari kemana Keyra pergi." Leo menghentikan ucapannya sejenak.


"Tapi kemampuan aku ada batasnya. Aku hanya karyawan kecil di kantor dan hanya mendapatkan libur dua kali dalam seminggu. Dan di hari libur itulah kesempatan aku mencari di mana dia sekarang. Aku sudah mencari ke sana ke mari, dari teman ke teman, tapi semua jawaban sama, ya itu tidak tahu. Sedangkan sanak saudaranya jangan harap memberikan informasi, yang ada aku malah di caci oleh mereka. Aku bukan orang kaya yang bisa membayar detektif hebat, apa yang bisa aku lakukan sekarang, Nad? Aku juga tidak mau berpisah dari anakku."


Nadira terdiam sambil memandang Leo, ada perasaan iba dalam hatinya. Egois jika ia pergi meninggalkan Leo yang sedang terpuruk dalam keadaan. Apa yang harus ia lakukan sekarang, apa ia tetep menghindar darinya atau memberinya kesempatan. Nadira di ambang kebimbangan.


"Aku akan menyelesaikan masalah Keyra dan anakku dulu, tapi aku mohon jangan pernah menghindari aku lagi setelah semuanya selesai!" sambung Leo menatap Nadira dalam.


******


Sementara itu, seorang laki-laki baru saja. keluar dari musholah di rumah sakit, ia habis melaksanakan kewajiban sholat asar. Entah angin apa telah membawanya kembali ke depan rungan persalinan tersebut. Ia menggaruk kepalanya tak gatal sembari tersenyum dan menggeleng kepalanya. Lelaki itu hendak melangkah pergi, namun tiba-tiba seorang suster paruh baya keluar dari rungan itu dengan seorang bayi di gendongnya.


"Eh, kamu mau kemana? Jangan coba -coba kabur ya?" ucap sang suster pada lelaki itu.


"Siapa yang kabur sih? Aku hanya mau pulang, itu aja," jawabnya geram.


"Jangan banyak alesan kamu, nie anak kamu menangis, coba gendong dan diamkan dia, aku sibuk, banyak kerjaan yang harus aku urus." suster tersebut menyerahkan bayi laki-laki mungil tersebut pada lelaki itu. Mau tak mau ia harus menerimanya.


"Astaghfirullah, Buk sudah berapa kali saya katakan, saya ini bukan suaminya!" ucap lelaki itu.


"Saya tidak peduli, lebih baik kamu diamkan anak kamu agar berhenti menangis," jawabnya ketus tak perduli.


"Ya Allah, gimana mau menenangkan bayi ini? Punya anak aja belum," gumamnya sambil menimang -nimang bayi tersebut dengan sangat hati -hati.


Ada perasaan iba, tidak tega meninggalkan bayi dan ibunya tersebut. Apa lagi mengingat belum ada satupun keluarga dari ibu bayi ini datang menjenguk.

__ADS_1


"Alhamdulillah akhirnya tidur juga, tidur yang nyenyak ya bayi tampan," ucapnya dengan nada pelan lalu mengecup lembut keningnya. Dan membawanya masuk kedalam ruangan untuk menidurkan di box bayi.


"Hey, bayimu sudah menangis hari ini. Apa kamu gak kasihan padanya? Seharunya dia meminum ASI-nya untuk pertama kali, tapi malah meminum susu formula karena kamu belum bangun. Tapi anakmu sangat pintar, dia menangis hanya sebentar saja, mengerti keadaan ibu nya yang belum sadarkan diri. Maka dari itu cepat lah bangun," ucap lelaki itu berdiri di samping wanita yang masih betah memejamkan mata tersebut.


__ADS_2