Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Episode 102


__ADS_3

Wisnu menatap serius Angga, lelaki itu meminta dengan serius padanya. Apa yang harus ia lakukan sekarang. Keyra sudah meminta padanya untuk tidak memberitahu keberadaannya, tapi yang di ucapkan oleh Angga ada benarnya juga.


"Mas, tidak ada yang namanya mantan anak. Orang tuanya boleh pisah, tapi tidak dengan anaknya. Bagaimana oun juga anak pasti menginginkan kasih sayang dari orangtuanya, walaupun mereka tidak bisa bersama lagi, namun masih bisa kan menjalani persaudaraan?" lanjut Angga terus meyakinkan.


"Saya minta maaf kelakuan Leo pada Keyra, tapi Leo juga peduli sama anaknya, dia juga berhak tau keberadaan anaknya sekarang. Jika kalian tetep ingin memisahkan antara ayah dan anak, saya takut nantinya justru sang anak lah akan membenci kalian karena sudah memisahkan mereka," sambung Angga lagi.


Wisnu bungkam, hanya terdengar suara hembusan nafasnya panjang dari mulutnya. Lelaki paruh baya itu memijit pelipisnya terasa pening. Sebenarnya hari ini ia handak pergi ke laur kota di mana tempat Keyra berada karena sudah mengetahui jika anaknya sudah melahirkan.


"Baiklah, kali ini saya akan memberitahu mu. Tapi kalau Keyra menolak bertemu dengan kalian dan kembali pergi jauh, jangan salahkan saya jika benar-benar akan memisahkan cucu saya menjauh dari kalian," ancam Wisnu tegas.


"Ya, kami usahakan," jawab Angga.


Wisnu memberitahu keberadaan Keyra, jika wanita itu berada di kota Surabaya tinggal di rumah ibunya di sana. Angga berterima kasih, lalu pamit pulang untuk memberitahukan berita ini pada Sera dan juga Leo.


Tibanya di rumah, Angga langsung mencari keberadaan istrinya.


"Sayang," panggilnya lembut, mengecup keningnya, kedua pipi lalu terakhir bibir.


"Kamu habis dari mana Mas?" tanya Sera.


Angga menceritakan tentang dirinya bertemu Wisnu, dan menceritakan juga keberadaan Keyra. Sera merasa seneng dan lega, ia menjadi tak sabar ingin bertemu dengan sahabat sekaligus cucunya. Walau bukan cucu kandungan, tetapi Sera selalu menganggapnya cucu kandung.


"Terus kapan kita ke sana?" tanya Sera sudah tak sabaran.


"Kita? Kenapa kita harus ke sana juga," tanya Angga.


Sera memutar bola matanya malas." Ya jelas dong, gimana sih? Kalau hanya Leo aja yang ke sana, kamu pikir Keyra bakalan mau ketemu sama Leo?"


Angga diam mencerna ucapkan Sera, benar juga. Jika Leo saja yang pergi sudah pasti wanita itu akan merasa canggung dan pasti bakalan pergi lagi menjauh. Angga menghembuskan nafasnya berat.


"Besok kita ke sana. Nanti malam kita ke rumah ibu sekalian memberitahu padanya juga Leo."


Sera mengangguk, lalu menyadarkan kepalanya ke dada Angga. Lelaki itu mengecup pucuk kepalanya dan mengusap perut Sera yabg semakin membesar itu.

__ADS_1


"Udah makan, hem?" tanya Angga.


"Belum sih, tapi masih jam 11. Lagi pula aku belum masak, hehehe." Sera berkata jujur, hari ini bawaannya malas. Mau ngapa -ngapain sangat malas, bahkan untuk memasak.


Angga tersenyum mengelus rambutnya lembut, mana mungkin lelaki itu marah. Walau ia juga laper sekarang. Dan tak ada makanan sama sekali di dapur. Tetapi ia tidak mungkin marah, apa lagi pada istrinya, istri tercintanya.


"Tunggu di sini ya, biarkan suamimu ini yang masak," ucapnya sangat yakin.


"Hah, emang bisa masak?" Sera tidak yakin.


"Jangan meremehkan suami tampan mu ini sayang. kamu mau makan apa, aku pasti bakalan memasak nya untukmu," ucap Angga percaya diri sekali.


"Oh, benar kah? Kalau begitu aku mau makan ikan goreng dong, bisa?"


Angga mengusap ibu jempolnya ke hidung, dengan sombong ia bangkit, berdiri sambil mengacungkan jempolnya. Lalu melangkah keluar kamar. Sera memandang kepergian suaminya, ia terkekeh dan menunggu masakan dari suami tampannya itu.


Angga masuk kw dapur, ia membuka kulkas dan melihat isinya. Karena Sera ingin makan ikan goreng. Angga pun mengambil ikan di dalam freezer yang sudah agak membeku. Lalu ia merendamkan nya ke dalam air yabg sudah ada di wadah agar es yang membeku di. ikan tersebut mencair.


Pada saat mencemplung kan ikan ke dalam minyak panas, Angga langsung berlari ngacir bahkan sampai masuk ke dalam kamar lalu menguncinya. Sera di dalam tersebut nampak kaget.


"Kenapa Mas?"


Angga menyengir lalu menggaruk alisnya berjalan mendekati Sera.


"Anu, em ... ikannya meletus-meletus, aku lari supaya gak kena minyak," ucap Angga pelan sambil mengusap tengkuknya.


"Hah, jadi ikannya kamu tinggal? Gosong dong Mas nanti, gimana sih. Cepet sana di balik ikannya."


Angga menelan ludahnya, ia mengambangkan senyum lebar, takut - takut.


"Kenapa? Gak berani," ejek Sera lalu hendak bangkit," ya udah biar aku aja yang melanjutkan."


"Jangan dong, aku aja ya, kamu diam di sini, oke!" cegah Angga, lalu menarik nafasnya dalam. kemudian keluar dari kamar dan kembali menuju dapur.

__ADS_1


Namun sebelum kembali masuk ke dapur, Angga mengambil helm nya dulu, lalu memakainya dan menutup wajahnya.


"Heheheh, beres..."


Angga masuk kembali ke arah dapur lalu mengambil spatula dan membalikan ikan tersebut. Saat membalik ikan, ternyata minyak itu masih meletup-meletup dan mengenai tangannya.


"Ah, sial!" Angga kembali menjauh dan sembunyi di balik tembok.


"Gimana cara membaliknya, aduh tanganku..." Angga mengusap tangannya yang kena minyak, sesat matanya melihat spatula masih di tangan, ide cemerlang itu pun keluar dari kepala hingga memancarkan cahaya lampu bersinar yang keluar dari kepalanya.


Beberapa setelahnya, Angga kembali ke dapur, namun tidak mendekati kompor gas tersebut. Ia sembunyi di balik tembok yang tak jauh jaraknya. Angga membalik ikan tersebut dengan spatula, namun ia masih di dekat tembok dan langsung bersembunyi cepat jika mendengar suara letupan minyak lagi.


Angga memasang spatula dengan kayu. panjang lalu ia ikat, sehingga dirinya dapat membalik ikan tersebut tampa harus mendekati kompor gas itu. Layaknya sedang bermusuhan....


"Sayang, ikan gorengnya sudah matang, ayo makan," teriak Angga memanggil Sera.


Sera keluar dari kamar, ia juga penasaran masakan dari suaminya itu. Sera berjalan pelan, ia dapat mencium aroma masakan itu rada-rada gosong. Angga menyambutnya lalu menarik kursi dan mempersilahkan Sera duduk.


Sera nampak kaget melihat hidangan di atas meja tersebut, hanya ada sebotol kecap manis, seiring nasi dan di piring satu lagi berisi ikan.


"Ini apa?" tunjuk Sera.


"Ikan lah, emang kamu pikir apa?" jawab Angga.


Sera memperhatikan bentuk ikan tersebut, bentuk hancur yang sisa tulangnya saja di bagian atas, dan di bagian bawah sudah tidak ada warna lagi hanya hitam saja alias gosong. Sera menggaruk-garuk kepalanya, apa benar tuh ikan bisa di makan, ia sendiri jadi ragu.


"Em, sebaiknya kamu jangan memakan ini deh. Kita pesan makanan aja, yuk?" usul Angga melihat ikan yang sudah tak ada bentuknya lagi itu.


Sera pun langsung tertawa pecah yang sedari tadi ia tahan -tahan. Angga mendengus sambil mengerucut bibinya.


"Terima kasih ya, Papah. Kamu sudah bersusah payah." Sera mengecup pipi Angga, setidaknya ia menghargai kerja keras suaminya itu.


Angga kembali tersenyum lalu mengecup balik Sera, dan langsung menyingkirkan ikan tak enak di pandang tersebut untuk di berikan kepada kucing, itupun kalua mau... Keduanya menunggu pesanan makan mereka, dan setelah itu bersiap-siap pergi ke rumah ibu Endang....

__ADS_1


__ADS_2