
"Wa'alaikumsalam, gimana keadaan kamu? Sehat," tanya Leo.
"Ini siapa?" tanyanya kembali, karena nomor tak di kenal.
Leo terkekeh, entah apa yang membuatnya terkekeh kecil." Leo, gimana keadaan kamu, Keyra?"
Keyra nampak kaget, ia tak percaya jika Leo menghubungi nya. Keyra menatap kembali layar ponselnya. Nomor tak di kenal itu ternyata nomor Leo.
"K-kabar aku baik," jawab Keyra gugup. Jantung nya berdetak cepat sekarang.
"Syukurlah kalau begitu. Em ... di mana Abian? Aku meneleponnya tapi nomornya tidak aktif. Apa dia ada di sana?" tanya Leo kembali.
Keyra yang masih gugup pun sedikit gagap menjawab," Mas Abian gak ke sini. Restoran miliknya lagi ada masalah sehingga ia tak bisa datang ke sini."
Leo menghembuskan nafasnya, jika Abian tidak ada di rumah sakit lalu siapa yang menjaga Keyra dan anaknya? Leo menjadi khawatir dalam hatinya. Ia sendiri tidak tahu mengapa ia mengkhawatirkan mereka, ah pasti sekarang ini ia sedang mengkhawatirkan anaknya, ya hanya anaknya.
"Lalu siapa yang menjagamu di sana? Gimana kabar Adam, apa masih suka menangis?"
Keyra tertegun mendengar suara cemas Leo, pasti dirinya salah mendengar. Lelaki itu mana mungkin mengkhawatirkan dirinya sekarang.
"Tidak ada, hanya aku dan Adam saja di sini. Dan Adam masih suka menangis, wajar saja karena tali pusarnya masih belum lepas, mungkin perih," jelas Keyra. Leo terdiam kala itu.
Keyra tidak tau harus berbicara apa lagi karena ke bungkaman Leo sekarang.
"Bagaimana denganmu, apa kamu sudah makan?" tanya Leo, ia melihat jam melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 11 lewat, seharusnya wanita itu sudah waktu makan siang sekarang mengingat Abian selalu membalikan makanan untuk Keyra jam seperti ini.
"Belum, suster masih belum datang. Aku tidak mungkin keluar seorang diri dan meninggalkan Adam. Dan mana mungkin juga jika aku mengajak Adam, bisa-bisa dokter akan memarahiku nantinya." Keyra terkekeh lirih, hatinya merasa sesak sekarang. Tak ada yang menemaninya tetapi ia tak ingin mengeluh.
Leo memejamkan kedua matanya, ia ingat perkataan Abian jika seorang ibu menyusui harus banyak mengkonsumsi makanan. Karena makanan itu akan menjadi makanan untuk anaknya, dan si ibu hamil akan terus merasa lapar setelah ASI nya di hisap oleh si bayi. Jika sekarang Keyra masih belum makan, apakah tidak merasa lapar? Sedangkan dirinya sendiri saja sudah sangat lapar sekarang. Leo menjadi merasa bersalah, sekaligus sangat khawatir dengan keadaan Keyra.
"Jika suster tidak datang? Apa kamu tidak makan?" tanya Leo pelan.
Keyra menghela sembari tersenyum miris, apa lelaki ini mengkhawatirkan dirinya sekarang? Apa benar ini Leo yang ia kenal? Jika ia, lalu apa yang terjadi padanya, kenapa hari ini menjadi beda? Keyra bertanya dalam hati.
__ADS_1
"Aku tidak akan mati jika tidak makan seharian, aku masih ingin membesarkan anakku. Suster pasti datang, hanya saja tidak tahu jam berapa dia ke sini," jawab Keyra tegas lagi-lagi membuat Leo bungkam.
Sesaat sambungan telepon masih terhubung, Adam terbangun dan menangis, Leo dapat menderita suara anaknya yang menangis.
"Adam," ucap Keyra melirik arah box bayi.
"Tolong jangan matikan telponnya. Aku ingin mendengar suara Adam," pinta Leo lirih, Keyra mengangguk. Perlahan ia turun dari brankar dan berjalan pelan menuju box bayi lalu menggendongnya.
Leo masih mendengar suara tangisan Adam. Hatinya rasa teriris perih mendengar suaranya yang kencang. Suara tangisan itu semakin terdengar jelas. Leo yakin jika Keyra sudah kembali ke brankar bersama Adam di gendongnya.
Keyra mencoba menenangkan Adam, Leo hanya diam mendengar suara Keyra.
"Hey sayang, coba dengar. Ini papah yang menelepon Adam," ucap Keyra mendekatkan handphone nya ke Adam dan mengaktifkan speaker handphonenya agar dapat mendengar suara Leo tanpa mendekatkan handphone ke kupingnya kembali.
"Adam, hey anak Papah yang sholeh, yang ganteng, yang pintar. Jangan menangis ya Nak. Kasihan mamah sayang. Mamah masih sakit loh, nanti kembali di jahit Adam bakalan sendirian. Jangan nangis lagi ya," ucap Leo mencoba menenangkan anaknya dari sambungan telpon.
Keyra yang mendengar meneteskan air matanya, hatinya sedikit terharu mendengar Leo sedikit perhatian. Walau ia tak tau mengapa Leo sangat perhatian sekarang, apa karena kasihan padanya. Keyra tak tau, tapi hatinya sedikit menghangat sekarang.
"Keyra," panggil Leo. Keyra cepat menghapus air matanya.
"Apa kamu akan memberinya ASI?" tanya Leo.
"Hem, karena hanya itu satu-satunya cara membuatnya diam," jawab Keyra, dan benar saja Adam langsung diam setelah mendapatkan ASI dari ibunya.
"Tapi kamu belum makan? Apa tidak bertambah lapar."
Keyra tersenyum miris, apa itu penting sekarang. pikiran Keyra.
"Aku masih bisa menahan lapar, tapi tidak anakku. Setidaknya dia masih bisa memakan sisa makanan ada di dalam ASI-ku sekarang. Aku harus terbiasa seperti ini. Tidak mungkin aku terus merepotkan mas Abian, dia bukan siapa-siapaku, bantuannya selama ini aku sangat berterima kasih padanya. Dan sekarang aku tidak akan merepotkan dia lagi karena dia juga pasti memiliki urusan pribadinya sendiri."
Leo terdiam, tangannya mengepal erat sekarang. Perasaan merasa sesak. Entah kenapa? Apa karena Adam tak ada yang menjaganya, atau karena Keyra yang begitu memprihatinkan.
"Maaf, maafkan aku karena tidak bisa bersama Adam sekarang. Kau pasti begitu kesusahan mengurusnya seorang diri. Sedangkan aku sebagai ayahnya malah duduk santai di sini. Aku terlalu egois, bukan?"
__ADS_1
Keyra menangis dalam diamnya, kata-kata Leo begitu dalam. Ini semua salahnya, tak ada keluarga yang menemani di saat seperti ini membuatnya sadar, ada yang yang menemani mengurus anak membuatnya terdiam. Ini karma, karma ke egoisan dirinya dulu. Tega memisahkan dua insan saling mencintai, tega merebut paksa dengan cara kotor. Dan apa yang ia dapatkan sekarang. Ini adalah hukuman untuknya.
"Aku mengerti, ini bukan salahmu. Aku seharusnya yang meminta maaf. Kamu jangan khawatir, aku akan menjaga Adam dengan baik. Kamu tenang aja di sana, tidak perlu memikirkan Adam. Carilah kebagian mu, menikahlah dengan wanita yang kau cintai. Sekali lagi aku minta maaf."
Setelah mengatakan itu, Keyra memutuskan panggil telponnya. Ia kembali menangis tanpa suara sekarang. Ia memeluk anaknya mencoba menerima karmanya sendiri dengan menjadi ibu tunggal tanpa keluarga, apalagi suami.
"Maafkan Mamah ya Nak, gara-gara Mamah kamu sekarang jauh dari ayahmu."
***
Leo bangkit dari duduk nya, ia keluar dari ruangannya buru -buru
Sesaat dalam perjalan ia berpapasan dengan Nadira dan teman di sebelahnya.
"Leo, kamu mau ke mana? Gak ke kantin?" tanya Nadira melihat arah jalan Leo berbeda dengannya.
"Tidak, aku mau ke ruangan Direktur sekarang," jawab Leo.
"Oh, apa kamu mau aku bawakan makanan?" tawar Nadira.
"Tidak, terima kasih. Kalian pergilah saja. Aku harus pergi."
Nadira memandangi punggung Leo yang sudah menjauh, sebenarnya ia ingin bertanya mengenai Keyra dan anaknya. ia mendapat kabar dari Sera jika Keyra sudah lahiran. Tetapi, melihat Leo yang tergesah-gesah membuat Nadira mengurungkan niatnya.
Malam hari telah tiba. Keyra bangun dari tidurnya karena ingin segera ke kamar mandi. Keyra melihat arah box bayi di mana anaknya masih terlelap. Keyra lega sedikitnya dirinya dapat pergi ke kamar mandi sekarang karena selalu menahan kala Adam menangis hari ini.
Setelah beberapa saat di dalam kamar mandi, Keyra panik mendengar suara tangisan Adam. Tidak mungkin dirinya keluar sekarang di saat lagi tanggung -tanggungnya mengeluarkan sesuatu di dalam tubuhnya. Tidak mungkin ia masukkan kembali yang sudah susah payah ia mengeluarkan setengah bagiannya saja. Keyra mencoba membiarkan Adam menangis sebentar saja. Karena hanya tinggal sedikit lagi.
Akan tetapi, suara Adam tiba-tiba tak terdengar lagi. Keyra merasa heran. Mengapa Adam tiba-tiba diam, apa mungkin hanya mengigau saja. Tapi rasanya tak mungkin.
"Ada siapa di sana?" teriak Keyra curiga.
"Ini aku, sekarang Adam sudah tidur lagi," jawabnya, membuat Keyra mengerutkan keningnya bingung.
__ADS_1
"Siapa?"