
"Om, please ...." Mata Sherly berkaca-kaca berharap.
"Hanya Om yang bisa membantu aku, aku akan melakukan apapun yang Om suruh asal Om kabulkan keinginan ku, kali ini saja," pinta Sherly, rasa sakit di hatinya sudah menguasai pikiran nya jernih. Yang ada di pikirannya hanyalah balas rasa sakit hatinya, hanya itu.
Alex menghembuskan nafasnya menatap Sherly.
"Baiklah, tapi dengan satu syarat," kata Alex.
"Apapun aku pasti akan penuhi," jawab cepat Sherly gembira.
"Syarat nya, setelah kita menikah kau harus memenuhi tugasmu sebagai istri sepenuhnya. Tanpa penolakan," kata Alex tegas membuat Sherly menelan ludahnya.
"I- istri sepenuhnya?" Sherly mengulangi kata-kata Alex yang mengajukan syarat sebagai seorang istri sepenuhnya setelah menikah nanti.
"Ya, apa kau keberatan?" tanya Alex serius.
Sherly berpikir sejenak, kemudian menggeleng yakin." Tidak, baiklah aku terima syarat dari Om."
Sherly memutuskan untuk menerima nya, toh sudah sah menjadi suami istri, menang sepatutnya ia melayani suaminya walau tidak memiliki perasaan apa-apa padanya.
"Apa kau yakin?" tanya Alex memastikan sekali lagi.
Bagiamana pun Alex adalah seorang laki-laki dewasa yang normal, memikirkan kata istri saja tumbuhnya sudah panas dingin. Apa lagi memikirkan hal-hal yang terlarang, otaknya langsung traveling kemana-mana. Sebab itulah ia meminta syarat itu sebelum hari pernikahan. Alex tidak mau hanya menjadi suami pajang selama satu tahun. Apa lagi pada gadis yang sudah mencuri hatinya. Rasanya WAH banget jika tak dapat memilikinya selama dalam pernikahan.
"Iya Om, aku sangat yakin. Aku akan ikhlas lahir batin untuk menjadi istri sepenuhnya. Aku sudah pikirkan ini matang- matang," jawab Sherly sangat yakin dengan nada tegas.
Alex tersenyum dalam hatinya. Ingin melompat sekarang juga sangking bahagia nya. Masa bodo dengan masa depan tidak tahu apa yang terjadi, setidaknya jalani saja dulu dan berusaha membuat Sherly secepatnya jatuh cinta padanya sehingga tak perlu ada kata perceraian.
"Baiklah, deal!" kata Alex mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Deal."
Sherly dan Alex saling berjabat tangan sambil melempar senyuman. Alex yang terus memandang wajah Sherly membuat gadis itu menjadi salah tingkah.
"Em, a-aku mau makan dulu. Perut ku laper banget," kata Sherly gelagapan lalu melepaskan tangannya cepat.
"Mari kita makan bersama, aku juga laper," balas Alex. Kebetulan pesanan mereka sudah datang. Sherly, Alex pun makan bersama.
"Apa kamu begitu kelaparan?" tanya Alex melihat nafsu makan Sherly tak biasa pada wanita pada umumnya. Lahap dan seperti orang kelaparan layaknya tak makan selama satu tahun.
"Apa oM gak mau makan? Kalau begitu aku yang habiskan ya." Tanpa menunggu jawaban lagi, Sherly mengambil makanan di piring Alex begitu saja.
Alex yang melihtnya pun bergidik ngeri. Ternyata seperti ini wanita yang sedang patah hati, semuanya di lampiaskan dengan makan.
******
"Pah, Mah. Alex mau ngomong sesuatu," kata Alex serius.
"Tumben, biasanya juga ogah," sahut sang mamah. Alex memutar bola matanya malas.
"Mau ngomong apa? Biasanya juga tinggal ngomong aja, kenapa sekarang mesti minta izin," timpal sang papah. Membuat Alex kembali memutar bola matanya malas.
"Pah, Mah ini serius. Tolonglah." Alex langsung mematikan tv.
"CK, biasanya juga tidak pernah serius. Mau ngomong apaan? Awas aja kalau gak serius," kata Ratna galak. Alex menghembuskan nafasnya perlahan sebelum berucap.
Sang Papah meminum2tehnya sambil menunggu.
"Alex mau menikah!"
__ADS_1
Bagas spontan langsung menyemburkan teh di dalam mulutnya ke wajah Alex.
"Hah, pasti kamu salah makan kan?" Ratna spontan langsung memeriksa tubuh anaknya.
"Pah, Mah serius lah. Ya Allah ...." Alex menepuk wajahnya dengan satu tangan. Saat dirinya berbicara serius mengenai pernikahan justru orangtuanya yang menganggap jika omongannya hanyalaha gurauan. Kesurupan lah, salah makan obat lah, salah tidur lah. Macem-macem tuduhan dari orangtuanya itu.
"Hah, jadi kamu beneran serius? Kamu gak lagi ngeprank kita kan?" kata kata Ratna masih tak percaya.
"Ya nggaklah, Alex serius Mah, Pah. Alex mau menikah."
Ratna spontan langsung bersujud.
"Alhamdulillah ya Allah, akhira engkau telah meluruskan anakku kembali dari godaan jalan yang berbelok. Akhirnya tibalah saatnya anakku melepaskan tahtanya sebagai raja jomblo," kata Ratna mengangkat kedua tangan berdoa. Alex melongo di buatnya, kenapa ada emak semacam ini di alam semesta ini? Pikir Alex menepuk keningnya sambil geleng-geleng.
"Baiklah, sekarang juga kita pergi ke rumahnya malam ini. Papah jadi tidak sabar, gadis mana yang malang mau menikah dengan lelaki jomblo tua seperti mu," kata Bagas semangat.
"Tapi ...."
"Gak pake tapi- tapian. Sekarang pergilah bersiap-siap. Mamah juga mau siap-siap," potong Ratna tak mau dengar tapi- tapian dari Alex.
"Tapi ...."
"Tapi apa lagi sih? Jangan bilang kalau kamu ...."
"Ya, Alex gak tau rumahnya?" kata Alex sambil memalingkan wajahnya sembari menggaruk-garuk kepalanya.
"Apa!"
Alex langsung menutup kedua kupingnya. Nyatanya ia memang tidak tahu dimana rumah Sherly. Bahkan ia juga belum mengatakan siapa gadis yang akan ia nikahi, orangtuanya itu terlalu bersemangat sehingga tidak menanyakan gadis mana, atau seperti apa, latarbelakang keluarga bagiamana. Bagi mereka yang penting seorang wanita, sebab itulah orangtuanya itu tidak peduli. Akan tetapi, jika ia mengatakan gadis yang nikahi itu adalah kekasih cucu mereka. Akan seperti apa reaksi mereka menanggapinya. Alex tak dapat membayangkan.
__ADS_1