Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Season 2, bertemu.


__ADS_3

Hari minggu tiba, sesuai janji yang terucap. Pacarnya Sherly datang ke rumah untuk menjemputnya.


"Assalamualaikum," salamnya.


"Waalaikumsalam, eh Nak Devan. Mari masuk Nak," ajak Sera ramah.


"Terima kasih Tante."


Lelaki yang bernama Devan itu duduk du shopa. Ia melirik jam tangan nya menunjukan pukul 9 pagi. Ia berharap Sherly tidak baru bangun tidur seperti yang sudah -sudah.


"Udah dateng?" tanya Angga dingin.


"I-iya Om, apa kabar?"


Angga tak menjawab, ia duduk tepat di depan Devan yang terlihat gugup walau keduanya sudah beberapa kali bertemu. Namun wajah Angga terlihat galak di mata Devan membuatnya sedikit takut.


"Mau di bawa ke mana anak kesayangan saya?" tanya Angga dengan wajah datar.


"Devan ingin membawa Sera berkunjung ke rumah nenek Om. Gak apa kan?"


"Berapa lama?" tanyanya dengan ekspresi sama.


"Gak terlalu lama kok Om, gak sampai malam," jawab Devan yang sudah berkeringat dingin berhadapan dengan calon mertuanya yang terlihat galak.


"Papah, wajahnya jangan galak-galak napa? Kasihan calon mantu kita sampai ketakutan gitu," tegur Sera yang lewat melihat wajah pucat Devan.


"Emang saya terlihat galak?" tanya Angga menatap horor Devan.


" T-tidak Om." Devan justru semakin gemetar, Angga kenapa menjadi sangat menakutkan dengan lontaran pertanyaan itu.


" Tidak galak, tapi kenapa kamu berkeringat? Kamu takut sama saya?"


Sera menghembuskan nafasnya sambil geleng-geleng kepala. Suaminya itu bertanya seperti ngajak ribut, wajar saja Devan badannya sampai menciut karena takut. Siapa yang berani menatap calon mertua yang galak, hanya Angga saja yang berani menatap mertuanya.


"T-tidak Om," jawab Devan terbata.


"Kalau gak takut tapi kenapa ngomongnya terbata-bata? Kamu benaran takut sama saya?"


Devan menelan ludahnya, Angga benar-benar membuatnya semakin menjadi takut.


"Jawab, saya gak suka orang yang berbohong. Apa lagi deket dengan anak saya!"


Devan menarik napasnya dalam-dalam. Mencoba menetralkan dirinya.


"Iya Om, Devan takut sama Om!" jawab Devan jujur.


" Kenapa kamu takut? Apa wajah saya galak seperti para rentenir saat menagih hutang, begitu?"


"Bukan Om, tapi sama seperti orang yang di tagih hutangnya, lebih galak dari pada yang menagih hutang," jawab Devan membuat Angga melotot kan matanya lebih horor lagi.


"Apa, jadi kamu mengatai saya galak begitu? Berani kamu sama saya?" kata Angga kesal, enak aja dirinya di bilang galak.


Devan melongo, tadi bilang gak galak tapi di suruh jujur. Giliran udah jujur malah menjadi semakin galak. Sebenarnya akik tua ini maunya apa sih? Belum jadi mertua aja udah galak banget, gimana kalau udah jadi mertuanya kelak? Bisa-bisa kena stroke di usia muda, pikir Devan.


" Bu-bukan begitu Om ...."


"Apa?" potong Angga cepat dengan wajah galak membuat Devan langsung menelan ludahnya.

__ADS_1


"Ada apa sih? Pagi-pagi udah pada ribut aja?" Sherly baru turun dari tangganya. Suara Angga terdengar sampai kamarnya membuatnya cepat-cepat segera turun. Karena kalau tidak, kekasihnya itu bisa saja mati dalam ketakutan.


"Papah galak lagi sama pacarnya Lily?" tanya Sherly menatap tajam Angga.


"Nggak," jawab Angga cepat." Emang nya saya galak sama kamu?" tanya Angga pada Devan.


"T-tidak Om," jawab Devan.


"Tidak salah lagi maksudnya," tambah Devan namun hanya dalam hati saja.


"Tadi bilang saya galak sama seperti orang yang di tagih utangnya, seorang malah bilang nggak. Sebenarnya kamu maunya apa sih?" tanya Angga membuat Devan tertegun.


"Papah, udah deh. Jangan bikin Devan cepat mati, kita belum menikah tapi Papah udah bikin dia sport jantung," omel Sherly.


"Dia yang mulai." Angga gak mau kalah.


Sherly menghela nafasnya.


"Udah ah, kami mau berangkat. Pamit pergi dulu ya." Sherly pun mencium tangan Angga.


"Om Devan pinjem Sherly dulu ya," ucap Devan yang juga mencium tangan Angga.


"Hem, awas kamu kalau macam-macam sama dia, saya sunat lagi helm kamu sampai putus," ancam Angga membuat Devan bergidik ngeri.


"Papah ...."


"I-iya Om"


Sherly dan Devan tak lupa pamit juga pada Sera.


"Hati-hati di jalan ya ... Devan, salam sama keluarga kamu ya?" ujar Sera.


Sera melambaikan tangannya lalu melirik arah suaminya yang seperti tak rela melepaskan anaknya.


"Udah, mereka cuma pergi bentar aja kok. Sama pacarnya anak aja cemburu. Kayak gak pernah muda aja," ejek Sara.


"Justru itu Papah cemburu karena merasa jika Devan bukan anak yang baik buat anak kita sayang. Papah takut dia cuma memainkan perasan anak kita aja," jujur Angga. Ia merasa tidak terlalu menyukai Devan walau belum terbukti jika lelaki itu memainkan perasaannya anaknya, tetapi hatinya berkata tidak terlalu menyukainya.


"Tapi Mamah liat dia baik kok, sopan pula. Perasaan Papah aja itu mah. Kita doakan saja semoga anak kita mendapatkan jodoh yang baik seperti kamu," jawab Sera.


"Iya dong, karena aku mencintai kamu. Mencintai kalian. Tidak ada alasan lagi untuk aku tidak bersikap baik pada kalian semua, terutama kamu. Terima kasih karena sudah mau menemaniku, mendampingiku sampai setua ini."


Sera menyandarkan kepalanya di bidang dada Angga.


"Kamu belum tua, hanya umur dan wajah saja yang tua. Namun kamu masih seperti ABG yang baru pacaran. Selalu memberikan aku kehangatan dan selalu romantis."


Angga mengangkat dagu Sera lalu mencium bibirnya.


"Ehem...."


Sera dan Angga cepat-cepat melepaskan ciuman mereka dan menoleh ke sumber suara.


"Rico, kenapa kamu mengganggu kesenangan Papah?" geram Angga melotot pada anaknya.


"Salah siapa bermesraan tidak tau tempat. Ini kan di depan pintu, menghalang orang lewat saja," sahut Rico berucap santai.


Sera malu setengah mati, ia sudah terbuai dari ciuman suaminya hingga lupa jika mereka masih di depan pintu selepas mengantar Devan dan Sherly tadi.

__ADS_1


" Ck, ngeles aja kayak bajai," sewot Angga.


"Kamu mau kemana Nak?" Sera cepat mengganti topik.


"Keluar," jawab Rico.


"Gak bareng Nico?"


"Nggak, Nico di kamar lagi asik main game. Rico keluar dulu Mah, Pah."


"Pergi sana, hus -hus. Ganggu aja," usir Angga pada Anaknya.


"Ck, dasar tua-tua yang sedang puber."


Angga menendang bokong anaknya, namun tidak kena karena Rico keburu menghindar dan berlari sambil mengejek menaiki motor gedenya.


******


Sementara itu, mobil Devan sudah sampai depan rumah neneknya.


"Aku gugup Van," ucap Sherly.


"Gak apa-apa, mereka sama kik seperti mami, papi. Gak galak seperti ...."


"Papah aku?" sela Sherly cepat. Devan menyengir kuda sambil garuk-garuk kepala.


"Masuk yuk, tenang aja ada aku."


Sherly mengangguk, tanganya di gandeng oleh Devan lembut. Keduanya berjalan beriringan.


"Assalamualaikum," salam Devan dan Sherly bersama.


"Waalaikumsalam"


Yang ada di ruang tamu menoleh ke ambang pintu. Nenek dan kakek Devan sudah mengetahui juka cucunya akan datang bersama pacar, sebeb itulah mereka menunggu kedatangan keduanya.


"Nek, Kek. Kenalin ini pacarnya Devan. Sherly," ucap Devan mengenalkan.


"Aduh cantik banget," puji nenek Devan.


"Halo Nek, Kek. Apa kabar?" Sherly mencium tangan keduanya dengan perasaan sedikit gugup.


"Alhamdulillah sehat, ayo duduk!" ajak kakek nya Devan.


"Kamu pinter memilih pacar, gak kayak om kamu itu. Sudah tua tapi masih saja jomblo," ucap nenek Devan.


" Siapa yang sudah tua? Aku belum tua Mah, hanya saja matang," sahutnya yang baru saja turun dari anak tangga.


"Hay Om," sapa Devan sambil memeluk om nya ala laki-laki.


"Ck, anak ingusan seperti kamu sudah punya pacar sekarang?" ejek Om nya itu.


"Alex, kamu itu harusnya malu sama ke ponakan sendiri. Contoh dirinya yang sudah mendapatkan pacar, dasar kamu ini."


Alex meringis saat kuping nya di tarik oleh mamahnya.


"Aduh Mah, sakit."

__ADS_1


Sherly tertawa Melihatnya. Mendengar suara tawa yang pernah ia denger, Alex menoleh.


"Dia ...."


__ADS_2