
Setelah debat yang tak berfaedah tidak ada habisnya oleh Angga dan Bobby. Dewi dan Sera memutuskan untuk berangkat sekarang saja ke rumah sakitnya Karena sudah tak tahan mendengar perang mulut dari keduanya yabg selalu saja ada yang ingin di debat kan. Bahkan jejak telapak kaki pun mereka ributkan, ini milik gue, tidak. Ini milik gue. Begitulah sekiranya yang mereka ributkan.
Mungkin, kotoran ayam pun mereka jadikan bahan untuk debat. Kalau tidak debat sedikit saja bagi itu rasa ada yang kurang. Bukan Angga dan Bobby namanya jika tidak debat. Apa-apapun debat seperti hal nya sekarang ini.
"Lily naik mobil Opah aja, lebih lega, dan besar," ujar Bobby menyindir jika mobil Alex.
"CK, walau kursi penumpang cuma muat 4 orang tapi mobil ini gue beli dengan jeri payah sediri, chas pula. Emangnya situ, credits," balasnya menyindir seraya mengejek.
"Biarin, bilang aja lo iri kan? Mobil gue walau masih credits tapi masih baru woy, emangnya punya lo dah karatan?" balas Bobby mengejek dan membuat Angga seraya di tampar.
"CK, menyebalkan," gumam Angga jengkel."Ayo masuk, jangan mau masuk ke mobil aki-aki tua itu, jalanya gak lurus," ujar Angga menarik Sherly masuk ke mobilnya paksa.
"CK, mogok tengah jalan jangan sebut-sebut nama gue. Ogah banget mau datang," cibir Bobby, lalu ia masuk ke mobilnya sendiri yang sudah ada Dewi di dalam. Wanita itu selalu saja menghela panjang melihat suami dan menantunya jika sudah bertemu.
"Emangnya jin, tapi mirip sih. Dah lah, jangan hiraukan lelaki tua itu, ayo kita ke rumah sakit aja sekarang," ucap Angga dan menjalankan mobilnya cepat dan meninggalkan Bobby.
__ADS_1
"Woy! Dasar menantu sialan. CK..." Bobby pun mengejar mobil Angga tak mau ketinggalan. Keduanya menguasai jalanan berjalan beriringan bahkan saling adu balap walau tidak secepat pembalap.
"Pah, jangan mengada-ada deh. Fokus aja ke jalanan," tegur Sera. Suaminya itu gak ingat jika sedang membawa ibu hamil di mobilnya.
"Iya sayang, tapi papah kamu itu. Benar-benar menyebalkan," jawab Angga dengan nada manjanya.
"Kamu pun juga sama Mas, Mas. Jangan saling mengejek deh, 11 12 kalian itu. Jangan kebut-kebutan, Lily lagi hamil muda, apa gak ingat?" omel Sera.
"Iya, maaf," cicit Angga patuh walau dengan bibir mengerucut.
Sherly hanya terkekeh saja tanpa berkomentar apapun.
"Gugup?" tanya Sera.
"Sedikit Mah, ini kan baru pertama kalinya Lily USG," jawabnya sembari mengelus perutnya.
__ADS_1
Sherly tidak mengantri lagi karena sudah janjian dengan dokter kandungan sehingga tak perlu menunggu antrian seperti pasien lainnya. Ia dan kedua orangtuanya dan omah, opanya masuk ke ruangan di mana dokter wanita sudah menunggu kedatangan mereka.
"Selamat datang Nyonya Alex. Wah, pengawalnya banyak ya," ujar dokter Irma melirik arah Angga dan Bobby. Tentu saja ia kenal karena kedua lelaki itu adalah dokter di rumah sakit ini.
"Iya dong, mana mungkin kami melewatkan momen seperti ini. Selagi napas masih berhembus, insyaallah akan selalu menemani cucu untuk di periksa," sahut Angga, dan di angguki eleh Bobby.
Dokter Irma tersenyum, ia kembali duduk lalu membuka dokumen di hadapan.
"Suaminya gak ikut?" tanya dokter Irama.
"Lagi kerja Dok," jawab Sherly.
"Wah, sayang sekali. Padahal anak pertama seharusnya ia tidak melewati momen ini," ucap dokter Irma.
Sherly hanya tersenyum getir menanggapi nya.
__ADS_1
****
Segini aja dulu ya, gak kuat banget mata ku ðŸ˜