Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Episode 135


__ADS_3

Agne turun dari taksi, ia sekarang berdiri di depan rumah sakit dengan wajah berseri serta jantung dag-dig-guk. Ia berjalan memasuki lorong rumah sakit, melewati setiap orang yang duduk atau berdiri di kursi tunggu setiap bangsalnya. Ia berjalan sembari membungkuk kan kepala sambil tersenyum ramah kepada setiap orang yang ia lalui. Terus berjalan hingga sampai tepat di depan salah satu ruangan.


"Duh, kok deg-degan gini ya? Apa Mas Angga nya ada di dalam?"


Agne mengetuk pintu, namun sudah yang ketiga kalinya ia tidak mendapatkan jawab dari dalam membuatnya mendesah kecewa.


"Masuk aja kali ya?" ucapnya yakin, lalu ia menerobos masuk dengan lancangnya.


"Gak berubah sama sekali," gumamnya setelah berada di dalam ruangan


Ia memperhatikan sekeliling.


"Eh, ada bingkai foto? Tumben nie orang narok foto di mejanya, foto siapa ya? Apa jangan-jangan foto aku, hihihihi, GR banget sih aku," ucapnya sesaat melihat bingkai foto dari depan meja, ia hanya melihat belakang bingkai foto tersebut yang terletak du meja ruangan Angga.


Agne duduk di shopa, ia menunggu kedatangan Angga. Namun mata terus tertuju 0ada bingkai foto tersebut yang membuatnya sangat penasaran dengan foto itu.


"Foto siapa sih sebenarnya, dulu dia gak pernah deh narok foto di mejanya?Tapi sekarang ... liat aja kali ya, gak apa-apa mungkin lancang sedikit."


Agne bangkit dari duduknya, ia hendak mengayunkan kakinya namun tiba-tiba pintu di buka seseorang membuatnya berhenti dan menoleh.


"Mas Angga," ucapnya penuh girang, lalu berlari hendak menghambur ke pelukan Angga. Namun lelaki itu menghindar.


"Agne, apa yang kamu lakukan?" bentak Angga merasa aneh dengan sikap Agne yang sekarang.


"Hehehe maaf Mas, habisnya aku terlalu rindu sama kamu," jawab Agne sembari menyengir manja.


Angga acuh, lalu ia melewati Agne begitu saja dan mengambil barang-barangnya di meja kemudian berjalan kembali melewati Agne lagi keluar dari ruangan. Angga tidak ingin orang-orang berfikir yang tidak-tidak.


"Mas Angga mau ke mana? Ih tungguin dong." Agne mengejar Angga.


"Kamu kenapa di sini? Bukanya Bobby sama Dewi menjemput kamu di bandara?" tanya Angga yang terus berjalan.


"Kan tadi aku udah bilang kalau aku rindu sama kamu Mas. Kamu udah gak pernah lagi hubungi aku, aku menunggu tau gak? Mau minta nomor kamu ke Mas Bobby tapi malu," ucapnya malu membuat Angga menghentikan jalannya, lalu ia menoleh pada Agne.


"Aku blokir nomor kamu," jawab Angga jujur membuat Agne terkejut.


"Kenapa? Kenapa kamu memblokir nomor aku Mas?" tanya Agne kecewa.


"Bukan hanya nomor kamu aja kok, tapi hampir seluruh nomor di kontak hp aku, karena tidak penting menyimpan nomor banyak, sebab itulah aku blokir," jawab Angga santai. Namun ia tidak tahu jika ucapannya melukai hati Agne.


"Apa aku nggak penting, Mas?" tanya Agne pelan dengan suara serak hendak menangis.


"Maksud kamu apa?" tanya Angga tak mengerti, ia tidak tahu sama sekali tentang perasaan Agne. Angga menganggap Agne hanya sebagai adik dari sahabatnya tidak lebih.


Agne tertegun, ia diam dengan gelengan kepala kecil. Apa ia mengaku jika dirinya menyukai Angga. Namun bukan waktunya yang tepat melihat Angga berjalan dengan tergesah-gesah.


"Kamu mau ke mana Mas?" tanya Agne melihat jalan Angga menuju arah parkiran mobil.


"Aku mau pulang, kamu mau pulang ke rumah Bobby kan?" Agne langsung mengangguk.


"Ayo masuk," ajak Angga membuka pintu mobil lalu masuk lebih dulu. Agne tersenyum senang. Dengan semangat ia membuka pintu mobil dan duduk di samping Angga.

__ADS_1


Angga sebelum menjalankan mobilnya, ia mengirim pesan lebih dulu pada Sera jika dirinya akan segera pulang bersama Agne di sampingnya. Angga menjelaskan di pesan tersebut jika Agne datang ke rumah sakit dan ia pun mengajaknya pulang bareng karena satu arah tujuan.


Sera membalasnya singkat, ' Hati-hati di jalan Papah, kami menunggumu.' hanya itu balasan Sera. Sebenar nya Sera penasaran. Kenapa tantenya datang ke rumah sakit, bukanya pulang lebih dulu karena papannya yang menjemput di bandara, jadi besar ke mungkin jika tante nya itu bukan menemui Bobby di sana. Sera ingin bertanya melalu pesan. Namun ia urungkan karena lebih baik bertanya langsung saat suaminya tiba nantinya.


Di dalam mobil Angga acuh, lebih acuh dari dulu pikir Agne. Ia ingin membuka suara namun tidak berani melihat sikap dingin Angga padanya. Lelaki itu banyak berubah, tiga tahun tidak bertemu Agne merasa asing dengan Angga.


" Kita langsung pulang Mas?" tanya Agne ragu.


" Kenapa?" tanya balik Angga acuh tanpa menoleh.


"Em, nggak makan dulu gitu. Aku laper banget, kita mampir makan dulu yuk!" ajak Agne membuat Angga mengernyit dengan sikap Agne yang seolah manja padanya


Angga merasa ada yang salah dengan sikapnya Agne.


"Di rumah orang-orang sudah menunggu Agne, dan pasti mereka juga sudah menyiapkan makanan di sana. Apa kamu tidak menghargai mereka yang menunggu kedatangan kamu?" ucap Angga ketus membuat Agne bungkam lalu tidak lagi mengeluarkan suara. Sikap Angga membuat nya asing, beda seperti dulu.


Sementara itu, Bobby, Dewi dan Manda sudah tiba di rumah. Sera menyambutnya dengan wajah ceria.


"Selamat datang adikku yang cantik," sambut Sera pada adik nya.


"Aaaah, kakak. I miss you." Manda langsung memeluk Sera erat.


"Kamu sekarang makin besar ya, luat deh badan kakak aja kalah sama badan kamu. Bongsor," ejek Sera melihat tubuh Manda jauh lebih besar dari tubuhnya yang mungil.


Manda mengerucutkan bibirnya." Aku udah diet tauk," jawabnya membuat Sera tertawa.


"Kakak jahat, kenapa gak ikut jemput Manda."


"Oh iya, di mana keponakan aku?" tanyanya semangat tak sabar ingin bertemu.


"Ada di dalam."


Manda langsung berlari masuk ke rumah. Sera mencium tangan orangtuanya. Bobby dan Dewi saling pandang heran, kenapa Sera tidak bertanya keberadaan Agne.


"Manda pelan-pelan, Sherly masih bayi," teriak Dewi melihat anak keduanya menggendong cucunya.


"Manda tau Mah, ini udah hati-hati kok," jawab Manda. Sera hanya tersenyum melihatnya, lalu ia berjalan ke dapur untuk menyiapkan makanan yang sudah ia masak tadi.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam." Bobby dan Dewi menoleh kearah pintu, dan ternyata Angga datang bersama Agne di belakangnya.


"Tumben lo pulang jam segini?" tanya Bobby membuat Angga memutar bola matanya malas.


"Gue udah janji sama Sera untuk pulang cepet," jawab Angga, lalu berjalan melewati ruang tamu dan menghampiri Manda yang sedang menggendong anaknya. Sedangkan Agne, ia mengerutkan keningnya mendengar ucapan angga yang mengatakan jika sudah janji sama Sera. Apa maksudnya?


Agne memperhatikan Angga yang menghampiri Manda.


"Eh anak Papah udah cantik, pasti udah mandi ya," ucap Angga pada putrinya yang berada di gendongan Manda. Manda hanya tersenyum menatap wajah Angga.


"Hay Manda, selamat datang kembali. Selamat atas kelulusan kamu ya," ucap Angga pada Manda.

__ADS_1


"I-iya, Om ... eh?" Manda kebingungan hendak memanggil Angga apa.


"Panggil Mas dong Manda, kamu ini," sahut Dewi.


Agne menutup mulutnya, ia terkejut saat mendengar Angga menyebut papah pada bayi mungil di gendongan keponakan nya itu.


"A-anak? Maksudnya apa?" tanya Agne membuat semuanya menoleh padanya.


Namun belum sempat seseorang menjelaskan, Sera dagang dari arah dapur membawa mangkok berisi masakan di tangannya lalu ia letakan di meja. Kemudian menghampiri Angga.


"Mas." Sera mencium tangan Angga, dan Angga membalasnya dengan mengecup kening Sera.


"Kamu abis masak apa sayang? Bau nya sampai membuat perut aku berbunyi," ucap Angga yang masih memeluk pinggang Sera.


"Masak rendang Mas," jawab Sera.


"Pantes baunya wangi banget, tapi masih wangian kamu sih," ucap Angga menggoda istri nya.


"Dasar." Sera memukul pelan dada suaminya. Angga pun terkekeh.


" Ehem ...." Bobby berdehem, ia memutar bola matanya malas melihat pemandangan itu. Menantunya itu memang benar-benar gak ada akhlaknya, bisa-bisanya bermesraan di hadapan semua orang, apalagi dengan situasi seperti ini.


Namun Angga acuh, toh ia tidak tahu menahu dengan keadaan, apalagi Agne yang sudah meneteskan air matanya terkejut dengan semua yang ia lihat dan dengar. Angga dan Sera justru terkejut melihat Agne yang tiba-tiba menangis seakan syok.


"Tente kenapa?" tanya Sera kebingungan, begitu juga dengan Angga.


"Ini pasti bohong kan? Nggak mungkinkan suaminya Sera adalah Angga?" ucap Agne menatap kakaknya.


"Apaan sih? Angga memang suami aku. Tapi kenapa Tente sampai segitu kagetnya, nangis pula," heran Sera.


"Bob, Agne kenapa?" tanya Angga tidak mengerti sama sekali.


"Jawab," teriak Agne menatap tajam kakaknya, ia tidak peduli dengan pertanyaan Sera yang bilang jika Angga adalah suaminya.


"Tidak usah berteriak Agne, Angga dan Sera memang suami istri, dan itu anak mereka," jelas Bobby.


Agne menggeleng tak percaya, lalu ia menatap Angga yang merangkul pinggang Sera.


"Tolong katakan padaku jika ini bohong, Mas." lirih Agne pada Angga yang menatapnya heran dengan kening berkerut.


"Kamu ini kenapa sih, dari awal datang ke rumah sakit sikap kamu aneh. Dan aku memang suaminya Sera. Kami sudah menikah setahun yang lalu, dan kami saling mencintai, lalu ada apa dengan mu?" ucap Angga yang masih tidak mengerti situasi.


"Tante suka sama suami aku?" tanya Sera menebak. Angga membelalakkan matanya menatap istrinya.


"Maksudnya apa?" Angga menatap Agne serius.


"Kenapa? Kenapa kamu tega sama aku Mas Angga? Aku menyukai kamu dari dulu sampai sekarang. Dan kamu malah menikah dengannya, keponakan aku sendiri," ucap Agne terisak membuat Angga mengerutkan keningnya heran. Kenapa harus tega? Toh, tidak memiliki hubungan apa-apa padanya. Bahkan ia sendiri saja baru tahu jika Agne menyukai dirinya.


"Kenapa? Kita tidak memiliki hubungan apa-apa. Dan aku tidak memilik perasaan apapun sama kamu. Aku menganggap kamu hanya sebagai adik dari sahabat aku, tidak lebih. Lalu kenapa aku harus tega?" jawab Angga santai sambil tangan terus merangkul istrinya. Sara terus memperhatikan tantenya yang menangis semakin deras bahkan tubuhnya merosot ke lantai.


"Kamu tahu Mas kalau tante menyukai kamu?" tanya Sera pada suaminya.

__ADS_1


"Nggak, sumpah. Aku malah baru tau sekarang. Selama ini Agne memang sering datang menemui aku di rumah sakit, ngajak makan bareng, sms, telpon. Tapi aku selalu menganggap nya biasanya saja, aku pikir dia begitu karena aku sahabatnya Bobby, dan aku pun menghargai dia," jelas Angga serius meyakinkan jika dirinya memang tidak tahu apa-apa karena memang selama berteman dengan Agne Angga lebih banyak acuh, hanya karena menghargai Agne adik dari sahabat nya sebab itulah ia selalu menerima tawaran Agne.


__ADS_2