
"Ly! Kamu seriusan tau punya siapa sapu tangan ini?" tanya Adam sekali lagi.
"Tau Adam, keponakan ku tersayang. Itu sapu tangan miliknya Yura, sahabat aku. Lagian kok bisa sih tuh sapu tangan ada sama kamu, itu sangat penting buat dia tau gak?" ujar Sherly sangat yakin membuat Adam menghela lega setela mengetahui siapa pemilik sapu tangan itu.
Adam teringat dengan Yuri yang lagi-lagi mengaku-ngaku. Entah apa maksudnya itu. Kenapa ingin menjadi Yura dan mengaku milik Yura adalah miliknya, Adam tidak mengerti.
"Hey, di tanya malah bengong. Jawab dulu nie sapu tangan lo dapat dari mana? Biar gue bisa kasih tau Yura nie, kasihan tau gak dia itu nyariin terus," ujar Sherly membuyarkan lamunan Adam.
"Kamu tau kan kalau aku di selamatkan oleh seorang wanita sewaktu aku kecelakaan dulu?" ujar Adam. Sherly mengangguk. Polisi juga menceritakan tentang seorang wanita yang menyelamatkan Adam sebelum mobil terbakar. Sherly sangat ingin berterima kasih pada penyelamat keponakannya itu jika bertemu.
"Ini adalah bukti milik si penyelamat aku. Sewaktu dia sedang berusaha mengeluarkan aku dari mobil, tanpa sadar aku menarik sesuatu dan ternyata itu adalah sapu tangan. Aku pikir jika bajunya yang robek. Jika ini adalah miliknya Yura, itu artinya si penyelamat aku waktu itu adalah dia," jelas Adam.
Sherly menganga, ia sangat tidak menyangka jika penyelamat keponakannya itu adalah sahabatnya sendiri.
"Ya Allah, jadi itu adalah Yura!" ucap Sherly dengan mata berkaca-kaca.
"Ini adalah bukti sapu tangan ini, dan sangat yakin jika penyelamat aku memang adalah Yura. Walaupun Yuri mengakui jika sapu tangan ini miliknya," ucap Adam.
"Yuri! Kamu kenal sama kembarannya Yura?" tanya Sherly. Adam menggeleng, nyatanya memang tidak kenal. Hanya saja gadis itu yang ingin mengenal dirinya dengan mengaku sebagai Yura.
"Jangan deket-deket sama dia," ucap Sherly mengingatkan.
"Aku gak deket-deket, tapi dia nya aja. Aku gak kenal sama dia, tapi dia nya yang ngaku-ngaku sebagai Yura," ucap Adam.
"Hah! Kok bisa?" kaget Sherly.
"Sssssttt, gak boleh teriak-teriak," tegur Alex yang sedari tadi hanya diam. Alex mengelus lembut pundak Sherly.
"Kaget aku Mas, kok bisa gitu Yuri mengaku sebagai Yura? Apa kamu pernah salah mengira atau apa, Dam?" tanya Sherly pada Adam.
"Iya, dulu aku gak tau kalau Yura punya kembaran. Aku sapa lah dia, dan dengan entengnya Yuri mengiyakan ucapan ku yang menyebut namanya dengan sebutan Yura. Dan tadi pun juga sama, dia masih mengaku jika dirinya adalah Yura, dia pikir aku masih belum tau," cerita Adam.
"Dasar gila, tuh cewek memang udah gak benar. Pokoknya jangan deket-deket sama dia, Yura itu sangat kasihan. Gara-gara Yuri yang manja, Yura selalu di salahkan sama papahnya," ujar Sherly dengan hati sangat kesal jika mengingat nama Yuri.
Karena Yuri, sahabatnya selalu sedih.
"Sayang, gak boleh ngomong begitu. Ingat, kamu lagi hamil," tegur Alex kembali sambil mengusap perut istrinya lembut mengingatkan jika sedang hamil sebaiknya jaga ucapan.
"Abisnya aku kesel Mas. Yuri itu udah keterlaluan tau gak. Giamna kalau Adam gak kasih tau aku tentang sapu tangan itu, dan Yuri terus mengaku-ngaku jika sapu tangan itu miliknya, dan Adam percaya sama omongan dia. Kita bakalan berterima kasih pada orang yang salah tau gak!" ucap Sherly menahan rasa amarahnya di dada.
"Kesel banget aku tuh, ingin ku jambak-jambak tau gak rambutnya. Ngaku-ngaku milik dia, dan lebih parahnya lagi ngaku sebagai Yura. Apa coba maunya dia?" ucap Sherly menggebu dengan mata berkaca-kaca. Ia sangat kasihan pada sahabatnya itu.
"Apa mungkin Yuri tertarik sama kamu Dam?" tanya Alex. Adam diam berpikir, lalu mengangkat kedua bahunya tak tau.
"Entahlah, mungkin saja. Aku kan ganteng," ucap Adam dengan penuh percaya diri. Alex memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Jika bener sapu tangan ini milik Yura. Kau harus bertanya langsung padanya," gumam Adam. Ia bangkit dari duduknya, lalu berpamitan dengan buru-buru.
"Eh, sableng! Lo mau ke mana?" tanya Alex membuat Adam menghentikan langkahnya, lalu menengok arah suami dari tante nya itu.
"Mau ke rumah Yura. Kau ingin bertanya langsung sama dia," jawab Adam.
"Kira-kira dong. Lo kalau mau jadi sableng boleh, tapi jangan gendeng juga lo borong deh. Liat jam noh," ucap Alex mengejek.
Adam melirik arah jam dinding yang tertempel di rumah apartemen Alex. Jam sudah menunjukkan pukul 10 kurang.
" Orang mana yang mau menerima tamu selarut ini? Yang ada lo langsung di tendang sama bokap nya Yura," sambung Alex lagi sembari terkekeh mengejek.
Adam menghembuskan nafasnya panjang. Dengan langkah lesu ia kembali duduk di shopa.
"Udah larut ya? Kok cepet amat sih," ucap Adam dengan muka masam karena sangat tidak sabaran ingin segera bertemu dengan Yura.
Wanita yang sudah mencuri perhatiannya. Pantas saja seperti ada magnet yang menarik kuat dirinya untuk mengenal lebih dalam. Ternyata memang sudah di rencanakan oleh Alla supaya ia lebih mudah mengetahui siapa malaikat yang sudah menolong dirinya. Dan itu ternyata adalah Yura. Sungguh bahagia hatinya saat ini, tak sia-sia ia ke rumah Alex dan bertanya, kenapa gak dari awal-awal saja kalau tau begitu.
"Aku sangat berterima kasih sama Yura. Dia memang sahabat aku yang baik selain Dara. Bahkan dia gak ngomong apa-apa soal menyelamatkan kamu, dia memang bukan tipe orang yang yang suka pamrih," ucap Sherly memuji kebaikan hati sahabatnya itu.
"Apa dia sudah punya pacar?" tanya Adam ragu dengan nada malu-malu.
Sherly langsung menoleh dan melotot."Lo suka sama Yura?"
Adam menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal dengan senyum malunya. Sherly pun menoyor kelapa keponakannya itu.
"Sialan, kamu kira aku ini anak kecil apa? Umur kita itu gak jauh beda Oneng, kamu aja bahkan udah nikah, hamil pula. Lalu kenapa aku nggak boleh?" sahut Adam ketus.
"Makanya kamu harus banyak belajar sama trio wek-wek deh Dam. Biar gak di bilang bocah sama Lily," timpal Alex.
"Trio wek-wek! Siapa itu?" tanya Adam bingung, ia tidak tahu siapa itu trio wek-wek.
"Siapa lagi lah kalau bukan, opah, papah dan papah kamu! Mereka kan trio wek-wek," jawab Alex.
"Oalah, kirain siapa. Mereka itu buka trio wek-wek Om! Tapi trio sableng, mending gak usah deh belajar sama mereka. Yang ada aku juga ikutan gendeng," ujar Adam menolak.
"Gak ikutan aja lo Ujah gendeng, Dam!" ejek Sherly. Adam berdecak sebel.
"Dah lah, aku mau pulang dulu kalau begitu. Makasih info yang sangat penting ini," ucap Adam berpamitan. Ia bangkit dari duduknya.
"Langsung pulang benaran, entar nyasar lagi ke rumah Yura. Minta di tampol lo sama bapaknya, bapaknya galak banget," ucap Sherly mengantar Adam ke depan pintu.
"Emang galak banget ya?" tanya Adam.
"Hoh ... galak pake banget. Udah galak, serem, nyebelin pula. Pokonya kalau ketemu sama om Yuda pokonya harus banyak gelus dada, apalagi kalau ada Yuri, pokoknya jangan deket-deket sama dia. Dia itu wanita ular berkepala dua," ucap Sherly.
__ADS_1
"Sayang, kalau ngomong mulutnya di jaga gih. Kamu lagi hamil loh." Lagi-lagi Alex mengingatkan.
"Amit-amit jabang bayi, maafkan maafkan Maaf Nak. Maaf khilaf," ucap Sherly sembari mengelus perutnya yang masih rata.
Alex merangkul istrinya sembari memandangi Adam yang berjalan menuju lift. Setelah Adam masuk lift, barulah Alex dan Sherly masuk juga.
"Aku gak nyangka banget loh Mas kalau yang udah menyelamatkan Adam adalah Yura," ucap Sherly.
Alex membawa istrinya duduk di atas pangkuannya.
"Semoga aja mereka berjodoh, sepertinya Adam sangat menyukai Yura!" seru Alex sambil membenamkan wajahnya di dada Sherly.
"Amin ... iya, semoga saja."
"Hari sudah larut, tidur yuk!" ajak Alex mendongak dengan wajah yang seperti meminta sesuatu.
Sherly tahu expresi wajah itu, ia menahan senyumnya karena sangat imut sekali.
"Tapi benaran tidur ya, gak ngapa-ngapain loh. Ingat, aku kan lagi hamil," ucap Sherly menggoda suaminya.
"Tapi boleh kok, kata dokter Bayu boleh aja asal dengan lembut dan pelan-pelan. Jadi ... jangan coba-coba mengelak, malam ini biarkan suamimu ini yang bekerja keras, kamu nikmati saja hasilnya." Alex menggendong istrinya sangat hati-hati. Malam ini ia meminta jatah walau hanya satu kali, tapi tak apa. Yang penting masih ada jatah untuknya.
Alex melakukannya sangat lembut dan hati-hati supaya janin mungil di dalam perut istrinya tidak kenapa-kenapa.
"Kalau perut kamu merasakan sakit atau keram. Bilang ya, biar aku menghentikan nya," ucap Alex dengan suara parau.
Sherly mengangguk sembari memejamkan mata, menikmati indahnya surga dunia yang di berikan oleh suaminya itu.
******
Sementara Adam ....
Di dalam kamarnya ia terus memandangi sapu tangan di tangannya itu. Ia tersenyum karena sudah tidak penasaran lagi dengan si pemilik sapu tangan ini.
"Yura, kamu itu malaikat yang segaja Allah kirimkan untukku. Aku tidak akan melepaskan mu, apapun yang terjadi aku akan selalu melindungimu, menjaga dan mencintaimu."
Adam mencium sapu tangan itu sambil membayangkan senyuman manis Yura dalam benaknya.
"Gak sabar menunggu besok hari, rasanya ingin cepat-cepat ketemu sama kamu. Kangen," ucap Adam sembari tersenyum sendiri layaknya seorang orang gila. Anak jaman sekarang kalau lagi kasmaran, memang meresahkan ya Bun?
Adam ingat bawah ia memiliki nomor telepon Yura. Kenapa hak telpon aja coba. Kan lumayan bisa mengobati rasa kangen dengan mendengar suaranya saja. Adam cepat-cepat menekan tombol dan meletakkan hp di kupingnya dengan perasaan yang berdebar.
"Halo Yura, kamu apa kabar?" tanya Adam dengan gugup.
"Tolong jangan hubungi aku lagi. Aku gak mau di bilang pelakor. Tolong jangan pernah temui aku lagi atau hubungi aku lagi, kalau ketemu berpura-pura lah untuk tidak saling kenal." Setelah mengatakan itu Yura langsung mematikan sepihak.
__ADS_1
Adam mematung tak percaya. Ada apa sebenarnya?