Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Bab 32


__ADS_3

Nick dan Gita saling berpandangan melihat tingkah menantunya.


"Raju," panggil Nick.


Seketika langkah Raju yang hampir sampai di pintu rumah terhenti begitu saja.


"Iya, Yah?" tanya Raju.


"Kamu sudah melupakannya sesuatu," ujar Nick mengingatkan Raju bahwa dia sudah meninggalkan Kanaya.


Nick melirik ke arah putrinya agar Raju mengerti apa yang dimaksudkannya.


"Astaghfirullah, apa yang sudah aku lakukan? Dasar bodoh," umpat Raju di dalam hati.


Dia merasa malu pada kedua orang tua istrinya.


"Mungkin Raju kangen banget sama mamanya sehingga lupa kalau dia sudah memiliki istri," ujar Gita membantu Raju menutupi rasa malunya.


Raju hanya cengengesan sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal.


Raju pun menghampiri sang istri yang kini sudah berdiri di samping Ibu mertuanya.


"Ayo, Sayang," lirih Raju berpura-pura mesra di hadapan ibu mertuanya.


Dia sengaja berkata seperti itu di hadapan kedua mertuanya agar kedua mertuanya tidak kecewa.


Saat itu Gita sempat meminta Raju memanggil putrinya dengan sebutan Sayang.


Gita dan Nick bahagia mendengar ucapan menantunya terhadap sang putri.


"Ya Allah, semoga ini awal dari kebaikan rumah tangga putri kami," lirih Gita pelan.


Kanaya menoleh ke arah ibunya, dia dapat mendengar ucapan sang ibu.


Kanaya tidak suka mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh ibunya, karena dia tidak menginginkan pernikahan ini.


Kanaya masih berharap dia dan Raja akan bersatu, mereka harus memperjuangkan cinta mereka.


Raju dan Kanaya melangkah masuk ke dalam rumah.


"Assalamu'alaikum," ucap Raju saat dia sudah membuka pintu.


Kebetulan pintu rumah tidak terkunci, sehingga mereka bisa masuk.


Kayla dan Raffa keluar kamar saat mendengar suara Raju.


"Wa'alaikummussalam," jawab Kayla dan Raffa bersamaan.


Raju menghampiri mamanya dan papanya, Kanaya mengikuti langkah sang suami.


Raju menyalami dan menciumi punggung tangan mamanya lalu papanya, Kanaya pun melakukan hal yang sama.


Dia menyalami tangan mama mertuanya setelah itu dia berdiri di samping mama mertuanya itu.

__ADS_1


Gita pun masuk dan menghampiri Kayla mereka saling berpelukan, begitu juga Nick dan Raffa.


"Bagaimana perjalanannya?" tanya Raffa pada sahabat sekaligus besannya itu.


"Alhamdulillah, lancar dan aman," sahut Nick dengan senyum yang melebar.


"Kalian pasti lelah, ayo istirahat dulu.


Raffa mengajak besannya untuk duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.


Sedangkan barang-barang mereka dibawa masuk oleh pelayan ke kamar tamu, barang-barang Raju dan Kanaya dimasukkan ke dalam kamar Raju.


"Ma, Raja mana?" tanya Raju pada mamanya.


"Raja akan berangkat besok dari Yogya, om Reza masih ada pekerjaan yang harus diselesaikannya," jawab Kayla.


"Sepertinya, Raju sudah merindukan saudara kembarnya," ujar Nick.


"Hehehe, mereka memang seperti itu, di saat bersama mereka bertengkar kalau berjauhan saling merindu," ujar Kayla.


Mereka pun tertawa mendengarkan ucapan Kayla. Seketika ruang keluarga itu heboh dengan suara mereka.


"Oh, begitu. Kalau begitu aku ke kamar dulu, ya," ujar Raju pamit.


"Oh, ya udah. Kanaya pasti lelah, kalian istirahat saja dulu," ujar Kayla.


"Ayo, kita ke kamar," ujar Raju mengajak istrinya untuk masuk ke dalam kamarnya.


Kanaya melirik tangan Raju yang kini menggenggam tangannya.


Dia tak menyangka sang suami bisa bersikap manis seperti itu.


"Mungkin yang dia lakukan saat hanya pencitraan di hadapan kedua orang tuanya," gumam Kanaya di dalam hati.


Kanaya tidak mau besar kepala dengan apa yang dilakukan oleh sang suami terhadap dirinya.


Dia harus tetap membatasi diri dengan sang suami, karena dia akan tetap memperjuangkan cintanya dengan Raja, pria yang sudah dicintainya sejak lama.


Saat mereka berada di dalam kamar, Kanaya mengedarkan pandangannya ke dalam kamar sang suami.


Sebuah kamar yang luasnya 2 kali lipat dari kamar miliknya, di dalam kamar itu terdapat sebuah tempat tidur berukuran big size, di dalam kamar itu juga terdapat sofa yang mana di sana juga terdapat TV layar lebar.


"Wah, kamar ini benar-benar luas. Mereka memang orang-orang kaya," gumam Kanaya takjub.


Sebenarnya dia sangat beruntung bisa menikah dengan pria kaya dan baik hati seperti Raju, tapi bagi Kanaya hanya Raja yang pantas menjadi suaminya meskipun mereka sama-sama orang kaya.


Warna kamar yang identik dengan warna putih itu menghadirkan kesan mewah dan nyaman berada di dalamnya.


Di kamar itu sudah terpasang foto Kanaya dan Raju saat menikah.


Mata Raju langsung tertuju pada foto berukuran besar yang di sana ada dirinya dan sang istri, foto tersebut sudah menggantikan foto dirinya yang dulu seorang diri.


Mata sepasang suami istri itu sama-sama tertuju pada foto yang terpajang di dalam kamar itu.

__ADS_1


Mereka saling berpandangan, lalu mereka pun terlihat canggung.


"Mhm, istirahatlah terlebih dahulu," ujar Raju.


Setelah itu raja pun melangkah mendekati lemarinya, dia mengambil pakaian gantinya.


Seketika Raju teringat dengan pakaian Kanaya yang tak seberapa dibawanya.


Dia mengembalikan tubuhnya terlalu menoleh ke arah istrinya yang kini tengah duduk di pinggir tempat tidur.


"Sayang," lirih Raju.


Raju memanggil Kanaya dengan kata 'sayang' meskipun kedua orang tua mereka tak berada di sana.


Raju mulai terbiasa memanggil Kanaya dengan sebutan tersebut.


Kanaya mengangkat wajahnya, lalu dia menatap dalam sang suami.


Mereka saling bertatapan beberapa waktu, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


"Astaghfirullah, apa yang aku lakukan," gumam Kanaya merutuki dirinya saat tersadar dari tatapan itu.


"Ada apa?" tanya Kanaya.


"Bersiaplah, kita akan pergi ke butik om Agung untuk membeli pakaianmu," ujar Raju.


"Hah?" Kanaya belum sempat menanggapi ucapan Raju.


Suaminya itu pun menarik tangannya, lalu membawa Kanaya keluar dari kamar.


"Sekarang saja, setelah itu kamu bisa membersihkan diri dan mengenakan pakaian yang baru." Raju terus melangkah menuruni anak tangga.


Mau tak mau Kanaya mengikuti langkah suaminya.


"Kalian mau ke mana?" tanya Kayla saat melihat Putra dan menantunya hendak keluar dari rumah.


"Kami keluar sebentar, ya. ada yang perlu kami cari," jawab Raju sambil berpamitan langsung kepada kedua orang tua dan mertuanya.


Raju melangkahkan kaki menuju garasi mobil, di garasi mobil itu terdapat beberapa mobil yang terparkir di sana.


"Wah, ini mobil buat di jual atau dipakai sendiri, sih?" gumam Kanaya semakin takjub dengan kekayaan keluarga sang suami.


Raju mengajak Kanaya masuk ke dalam sebuah mobil sport mewah berwarna black white.



Raju sengaja memakai mobil ini karena mobil ini yang berada di bagian terdepan dan mudah di keluarkan.


Raju membukakan pintu mobil, lalu meminta Kanaya untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Masuklah," ujar Raju pada istrinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2