Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Season 2, drama di rumah Yura


__ADS_3

Yuri nampak panik serta mengeluarkan keringat dingin di wajahnya yang terlihat sangat gugup.


"Yuri." ucap Andin lembut.


"Yuri suka sama Adam Mah," ucapnya langsung to the poin.


"Gila," ucap Dara, sedangkan Sherly mengerutkan keningnya.


"Tidak tahu malu, kenal aja kagak," ucap Dara mengejek.


"Oh iya Tante, kami ke sini mau ketemu sama Yura. Ada sesuatu mau kita tanyakan sama dia," ujar Sherly yang sudah malas berhadapan dengan Yuri.


Andin sebenarnya bingung, tetapi ia mengangguk sembari melirik anaknya.


"Yuri, lain kali kamu gak boleh kayak gitu. Itu gak sopan namanya," tegur Andin sebelum mengajak ketiga tamunya ke kamar Yura.


Yuri mengepalkan tangannya kesal menatap kepergian mereka.


" Apa bagusnya dia. Kenapa semuanya pada suka sama cewek sakit-sakitan itu," ucapnya kesal.


Andin mengetuk pintu lebih dulu baru lah ia membukanya dan melihat jika sang anak sedang berbaring di kasur dengan wajah yang nampak pucat dan lemah.


"Sayang, liat siapa yang datang," ucap Andin sembari mengusap pucuk kepala anaknya.


Yura membuka matanya lalu melihat arah sang mamah dan melihat sosok di belakangnya yang merupakan 3 orang.


"Hey, Kelian datang?" ucap Yura dengan suara lemah.


"Yura, kamu sakit apa?" tanya Dara langsung seketika. Ia duduk dekat kaki Yura dengan perasaan khawatir.


"Aku cuma sakit biasa aja kok, biasalah kecapean," jawab Yura memaksakan senyumnya.


"Yura udah di bawa ke rumah sakit, Tan?" tanya Sherly.


"Yura nya gak mau, katanya nanti juga sembuh sendiri setelah minum obat pereda demam," jawab Andin.


"Dasar keras kepala, ke rumah sakit supaya lebih cepat sembuh," ejek Dara. Yura hanya tersenyum saja.


"Eh, kok ada Adam di sini? Kalian kenal sama dia?" tanya Yura melihat sosok laki-laki bersama kedua sahabatnya. Dan tidak menyangka jika lelaki itu adalah Adam.


"Dasar bodoh, kenapa kamu gak kasih tau aku? Gak cerita ke aku. Kami terus-menerus mencari penyelamat hidup Adam, tau gak," ucap Sherly dengan mata berkaca-kaca.


"Maksud kamu apa, Ly? Aku gak ngerti?" tanya Yura yang kebingungan? Bahkan Andin pun sama.


"Kamu ingat waktu di jalan tol ada sebuah mobil kecelakaan di sana yang nyaris saja meledak?" tanya Sherly. Yura mengingat-ingat.


"Iya, aku ingat," jawabnya.


"Andai saja kamu tidak dengan cepat menyelamatkannya, mungkin sekarang ini kami sekeluarga tidak bisa melihatnya lagi, dan mungkin waktu itu dia sudah habis terbakar hidup-hidup di dalam mobil. Tapi kamu, dengan beraninya menyelamatkan nya dengan susah payah, aku dan sekeluarga mengucapkan terima kasih banyak pada mu, kami berhutang nyawa padamu," ucap Sherly sembari meneteskan air matanya.


"Maksud kamu apa? Menyelamatkan apa?" tanya Andin yang benar-benar kebingungan.


"Yura telah menyelamatkan nyawa seseorang yang nyaris meledak dalam mobil akibat kecelakaan Tante," jawab Dara. Andin menutup mulutnya tak percaya jika anaknya sangat pemberani seperti ini.


"Dan kamu tau siapa orang yang sudah kamu selamatkan Yur?" tanya Sherly.


Yura menggeleng." Nggak tau, karena waktu itu mukanya penuh darah sehingga aku gak mengenali wajahnya," jawab Yura.


"Ternyata begitu, pantas saja dia tidak menyinggung tentang kecelakaan itu," batin Adam. Ia pikir Yura berpura-pura tidak mengenali dirinya dan menyembunyikan semuanya.


"Tapi, dari mana kamu tau? Aku bahkan gak cerita sama siapapun?" tanya Yura heran dengan Sherly dan Dara mengetahui semuanya.


" Itulah kebodohan kamu!" jawab Dara.


Sherly tersenyum." Tentu saja aku tau, karena kamu sudah menyelamatkan keluarga ku, keponakan ku. Dan kamu tau siapa keponakan ku?"


Yura menggeleng.


Sherly kembali tersenyum lagi sembari melihat arah Adam.


"Laki-laki yang kamu tolong waktu itu adalah Adam. Adam adalah keponakan ku," jawab Sherly.


Yura terkejut lalu melihat arah Adam. Sangat tidak menyangka ternyata dunia begitu sempit.


"Jadi, kamu adalah laki-laki itu?" tanya Yura. Adam mengangguk pelan.


"Terima kasih banyak Yura, terima kasih banyak. Berkat kamu Adam selamat, walaupun tadinya dia mengalami kebutaan akibat pecahan kaca yang mengenai matanya. Tapi seseorang dengan baik hati mau mendonorkan matanya untuk Adam sehingga Adam bisa kembali melihat," ucap Sherly sembari menggenggam tangan Yura erat.

__ADS_1


Andin tersenyum bangga pada anaknya. Tapi ia mengingat sesuatu mengenai donor mata itu.


"Tunggu! Jangan-jangan kamu yang menerima mata dari ibu mertua Tante?" tanya Andin.


Sherly dan Adam saling pandang.


"Kami tidak tahu, yang tahu papah, mamah dan keluarga lainnya. Tapi kami tahu namanya. Kalau gak salah, Ayu Maharani," ucap Sherly.


Yura terkejut, dunia ini benar-benar sangat sempit seperti daun kelor. Tidak menyangka sama sekali.


"Itu nama mertua Tante, dan beliau telah memberikan sepasang matanya pada pasien yang mengalami kebutaan akibat kecelakaan. Ya Allah, jadi anak itu adalah kamu, dan ini adalah mata ibu," ucap Andin menyentuh wajah Adam untuk melihat kedua mata mertuanya.


"Kami benar-benar berhutang banyak pada kalian terima kasih banyak," ucap Sherly. Bukan hanya Yura yang sudah menyelamatkan hidup Adam. Tapi nenek nya juga yang sangat berjasa kerana sudah ikhlas mendonorkan matanya.


"Terima kasih banyak, berkat kebaikan hati kalian semua saya bisa hidup sampai sekarang ini dan bisa melihat indahnya dunia ini lagi. Sekali lagi saya ucap banyak terima kasih, saya tidak tau harus membalas kebaikan hati kalian seperti apa!" ucap Adam sedikit membungkukkan badannya bersungguh-sungguh mengucapkan terima kasih.


"Jangan seperti itu, mungkin 8ni sudah menjadi takdir Allah. Tanpa izin darinya, Yura maupun ibu tidak bisa melakukan apa-apa," ucap Andin tulus.


Sherly dan Dara saling lirik sembari tersenyum senang. Begitu juga dengan Adam yang sedari tadi mencuri-curi pandang pada Yura yang nampak syok.


"Em, Tante. Sepertinya kita keluar sebentar deh. Kayaknya Adam ingin bicara sesuatu sama Yura. Jadi kita jangan ganggu mereka!" bisik Sherly pada Andin sembari merangkulnya, begitu juga pada Data dan membawa Andin keluar dari kamar yang menegok arah Yura.


"Apa mereka memiliki hubungan?" tanya Andin.


"Sepertinya begitu," jawab Sherly.


"Tapi gara-gara seseorang yang ngaku-ngaku, jadi bikin hubungan mereka rusak," sahut Dara.


"Huuus," ucap Sherly merasa tidak enak dengan Andin Karena bagiamana pun juga Yura adalah anaknya.


"Maafkan anak Tante ya, Tante sangat menyesal karena tidak becus menjadi ibu yang baik untuk mengajarinya," ucap Andin sedih sekaligus malu atas perbuatannya anaknya.


Sherly menjadi melotot pada Data, gara-gara ucapan membuat ibu dari sahabatnya bersedih.


"Emang bener kok, kok aku yang di salahkan." gumam Dara sebel.


Sementara itu, Adam duduk di samping Yura sembari menatapnya lekat.


Yura menjadi gugup dan salah tingkah.


"Bukan aku, tapi Allah. Aku hanya mengikuti apa yang di katakan oleh hatiku, aku tidak melakukan apapun," jawab Yura.


"Tapi tetep saja, karena dirimu byang memiliki hati yang baik maka dari itu Allah memutuskan kamu yang menjadi penyelamat aku," ujar Adam.


"Walaupun gak ada aku, pasti ada orang lain yang akan menyelamatkan kamu. Jadi tolong jangan di bahas lagi, aku takut menjadi besar kepala, dan menjadi sombong nantinya," ucap Yura. Adam mengangguk sembari tersenyum.


"Oh iya, ada sesuatu yang ingin aku kasih ke kamu," ucap Adam. Ia merogoh kantong celananya.


"Nggak usah repot-repot, aku gak mau menerimanya. Sudah aku bilang jangan di bahas lagi, aku ikhlas tanpa imbalan apapun, jadi tolong simpan kembali saja," ucap Yura yang sudah menolak yang ingin di berikan oleh Adam.


"Oh, baiklah." Adam tidak jadi mengeluarkan yang ada di kantong celananya." Padahal aku hanya ingin memberikan sapu tangan kamu, bukan ingin memberikan hadiah," gumamnya.


"Apa? Sapu tanga!"


"Iya, sapu tangan yang berwarna pink yang ada tulisan baby girl," ucap Adam.


"Itu sapu tangan punya ku, kembalikan!" pinta Yura.


"Tadi kamu bilang gak usah, dan simpan lagi aja. Jadi ... karena kamu gak mau, ya aku simpan lagi aja buat kenang-kenangan," ucap Adam yang berpura-pura, ia kembali mengeluarkan sapu tangan itu.


"Itu punya aku Adam. Aku pikir tadinya kamu mau ngasih aku barang yang lain, makanya aku tolak," jawab Yura yang hendak mengambil sapu tangan di tangan Adam.


"Kembalikan Adam. Itu punyaku." Yura terus berusaha ingin mengambil sapu tangan yang ada di tangan Adam.


Adam terus menghindar supaya Yura tak mendapatkan sapu tangan itu dengan mudah, ia hanya ingin menggodanya saja.


"Tapi tadi bilangannya simpan lagi aja. Ya udah berarti ini milik aku dong," goda Adam yang lagi-lagi terus menghindar.


"Iih, aku kan gak tau kalau barang itu sapu tangan punya aku sendiri. Balikin gak? Kalau nggak aku kitikkin nie," ancam Yura.


"Nggak!" jawab Adam kekeh.


Yura kesal, lalu ia mengitiki ketiak Adam hingga lelaki itu terus tertawa ke gelian.


"Ampun gak? Ampun gak kamu!Masih mau mengelak lagi?" ucap Yura.


" Curang, kan katanya tadi gak mau. Ya bukan salah aku dong," ucap Adam menahan tawanya.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu aku kitikkin lagi sampai kamu menyerahkan sapu tangan itu sama aku."


Yura terus mengitiki ketiak Adam. Adam yang sudah tak tahan dengan rasa geli


Ia meraih tangan Sherly lalu menariknya ke dalam pelukan yang kini ia sudah terbaring di kasur dan Yura di atas tubuhnya.


Keduanya saling berpandangan, hingg cukup lama.


"Kamu sangat cantik Yura," kata Adam pelan.


Wajah Yura memerah, ia dapat melihat wajah tampan Adam dari jarak yang lumayan dekat. Keduanya masih saling pandang.


Adam mengusap pipi Yura lembut.


"Yura. Aku suka sama kamu!" ucap Adam serius.


Mata Yura melotot lebar mendengar pengakuan cinta Adam padanya. Tetapi belum sempat Yura menjawab. Pintu di dobrak paksa oleh seorang.


"Apa-apaan ini!" herdiknya marah.


Dengan cepat Yura bangkit dari tubuh Adam. Adam pun langsung bergegas bangkit dan berdiri menatap orang yang sangat terlihat marah itu padanya dengan tatapan tajam.


"Siapa kamu! Kenapa kamu bisa masuk ke kamar anak saya?" Dan ternyata orang itu adalah Yuda, papahnya Yura.


"Dan kamu Yura. Papah benar-benar tidak percaya dengan kelakuan senonoh kamu yang berani-beraninya kamu melakukan itu di rumah Papah! Anak macam apa kamu hah!" Marah Yuda pada Yura.


"Pah, Papah salah paham. Kami gak melakukan apapun. Tadi itu hanya kecelakaan," ucap Yura sembari menangis.


Namun Yuda tidak mau dengar, ia menatap Adam sinis lalu memukul hingga Adam sampai tersungkur di lantai. Yura berteriak memanggil nama Adam dan membuat Sherly dan Dara mendengar lalu bergegas menghampiri.


"Ada apa ini Pah?" tanya Andin. Ia melihat Adam di lantai.


"Adam, kamu gak apa-apa Nak?" Andin membantu Adam berdiri.


"Oh, jadi kamu yang namanya Adam! Laki-laki brengs*k yang sudah mempermainkan anak kesayangan ku, Yuri. Dan sekarang kamu malah menggoda Yura. Laki-laki macam apa kamu?" ucap Yuda dingin.


"Saya tidak mempermainkan anak anda Om. Karena saya tidak mengenal Yuri!" jawab Adam.


"Bagaimana mungkin tidak kenal. Sedangkan kalian berpacaran? Kamu pikir anak saya ini main kamu apa?"


"Sejak kapan saya pacaran sama Yuri, sedangkan orang yang saya cintai adalah Yura! Coba anda tanyakan sama anak kesayangan anda, sejak kapan kami kenal. Bahkan saya namanya saja baru hari ini tau," ucap Adam. Kali ini ia tak mau mengalah. Biarlah semuanya jelas.


"Apa maksud kamu?" tanya Yuda.


"Adam tidak mengenal Yuri Om, tapi Yuri yang kenal Adam karena dia menyamar sebagai Yura sewaktu bertemu dengan Adam. Anak kesayangan Om ini sudah mengada-ada dan mengarang cerita yang tidak, akibat iri pada Yura," sela Dara menimpali. Ia sudah sangat geram dengan tingkah Yuri.


"Benar kan Yuri?" lanjutnya bertanya pada Yuri dengan menyeringai.


Yuri panik, ia menatap takut pada papahnya.


"Apa benar itu Yuri?" tanya Yuda dengan nada membentak.


Tubuh Yuri gemetar ketakutan. ia bahkan tak berani menatap papahnya.


"Jawab! Apa sekarang kamu mulai jadi orang bisu hah?" bentak Yuda lagi.


"Iya! Iya berbohong soal itu. Kenapa harus dia mendapatkan laki-laki seperti Adam. Kenapa bukan aku! Jelas-jelas aku jauh lebih cantik, pintar dan seksi di bandingkan dengan anak penyakit ini," ucap Yuri dengan nada tinggi menatap Yura penuh kebencian.


"Kenapa selalu Yura yang mendapatkan semuanya, perhatian, cinta dan kasih sayang dari kalian semua. Jelas-jelas aku jauh lebih pintar dan sehat dari dia. Kenapa?" tanya Yuri berteriak.


"Dari kecil aku selalu mengalah padanya, hanya karena dia suka sakit-sakitan. Apapun yang aku inginkan selalu di berikan untuknya, dia selalu mendapatkan perhatian dari kalian, bahkan nenek. Sedangkan aku? Aku kalian acuhkan, aku juga ingin mendapatkan kasih sayang yang lebih apa kalian tau itu hah?" teriak Yuri lagi mengeluarkan unek-uneknya.


Yuri sejak kecil tumbuh dengan sehat, berbeda dengan Yura yang selalu sakit-sakitan dari lahir sehingga ia harus mendapatkan perawatan khusus dan perhatian lebih dari orang-orang di sekitarnya. Dan mengabdi Yuri yang tumbuh dengan tubuh yang sehat. Dan membuat Yuri menjadi iri pada Yura.


Yuri berusaha keras agar perhatian orang-orang tertuju padanya. Ia mendapatkan nilai bagi di kelas dan selalu mendapatkan prestasi supaya kedua orangtuanya bangga padanya.


Tetapi semua yang ia lakukan nihil. Kedua orangtuanya hanya mengucapkan selamat saja dan masih tetep memperhatikan Yura yang tak mendapat apa-apa di sekolah. Sehingga Yuri sangat membenci Yura dan mulai melakukan cara licik supaya perhatian kedua orangtuanya tertuju padanya dengan cara memfitnah Yura, membuat Yura seolah-olah iri padanya.


Dan ternyata berhasil, berhasil membuat yang sang papah berpihak padanya, tetapi tidak dengan sang mamah. Namun, Yuri cukup puas dengan satu orang saja yang berpihak padanya sehingga dapat membuat Yura menderita dengan di benci oleh papahnya sendiri.


"Aku benci sama Yura. Kenapa harus ada dia di dunia ini!" lagi-lagi Yuri berarti mengeluarkan semua unek-uneknya di hatinya hingga membuat Yuda reflek menampar wajah anak kesayangannya itu.


Yuri terdiam dengan tangan mengusap pipinya bekas tamparan sang ayah. Ia tersenyum dingin.


"Kenapa Papah menampar Yuri, seharusnya Yura yang Papah tampar karena sudah membuat Yuri menangis," ujar Yuri sembari tertawa dengan deraian air mata yang mengalir.


Yuda syok, ia mengalami serangan jantung mendadak hingga pingsan.

__ADS_1


__ADS_2