
"Yura ... Yura, halo." Adam berteriak memanggil nama Yura. Ia lihat layar hpnya yang ternyata sudah tidak tersambung lagi panggilan telepon tersebut.
"Ada apa dengan Yura? Aaaaaakkkkhhhh, kenapa malah kayak gini sih?" Adam mengacak rambutnya prustasi. Pikirannya kembali kalut oleh Yura.
"Pelakor? Maksudnya apa cobak!Lagian siapa juga yang memiliki hubungan? Pacaran aja cuma 1-2 kali aja, itu pun waktu SMA," ucap Adam, sembari merebahkan tubuhnya sambil memejamkan mata.
Adam gelisah tak menentu arah. Perasaannya sangat sesak mengingat ucapan Yura yang tak ingin di temui atau di hubungi lagi olehnya. Adam selalu bertanya-tanya dalam hatinya, ada apa sebenarnya?.Apa yang terjadi? Masih belum mendapatkan jawaban membuat Adam tak bisa tidur nyenyak. Ia terus bolak-balik tubuhnya di kasur sambil memeluk guling.
"Pengen curhat nie, biar hati tenang. Tapi sama siapa? Biasanya Lily sih. Tapi bocah itu sekarang udah nikah, terus sama siapa dong? Aaagggrrrr, menyebalkan."
Adam mrnghembus nafasnya kasar. Lalu lelaki itu bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka.
"Yura, oh Yura. Kenapa kamu membuat aku jadi gila kayak gini sih? Udah seneng-seneng setelah mengetahui kamulah yang menoloku waktu itu, eh sekarang malah begini. Meresahkan hati tau gak! Pokoknya besok kita harus bicara, titik!"
Adam duduk di teras melamun sambil melihat bintang yang beribuan di angkasa. Bahkan Nampak wajah Yura yang tersenyum di antara bintang-bintang di atas sana. Adam mengucek matanya, lalu kembali melihat.
Dan ternyata itu hanyalah angan-angan nya saja.
"Nampak begitu dekat, tapi ternyata sangat jauh. Untuk menggapai mu sangatlah tidak mungkin, tapi cintaku pada Yura tidak ada yang tidak mungkin, sejauh apapun dia. Aku akan mengejarnya dan akan membuat dia jatuh cinta padaku." Tekat Adam sangat tegas dan yakin. Jika ia bisa menggapai cintanya Yura yang tak sejauh bintang di langit.
"Aaagggrrrr, gak tahan lagi. Borok amat lah, yang penting hati gue lega." Adam menekan nomor Sherly.
"Halo." Suara laki-laki yang ternyata menjawab panggilan dari Adam.
"Halo Om. Lily mana?" tanya Alex.
"Udah tidur, kenapa?" tanya balik Alex dengan nada malas sembari menguap.
"Mau curhat nie, masalah tentang Yura!" ucap Adam.
"Woy, sableng muridnya gendeng. Lo kira-kira dong, liat jam woy, liat jam. Jangan gila ye di tengah malam gini dong, kesambet lo," heran Alex.
Jam menunjukkan pukul 1 malam, dan Adam dengan entengnya mau curhat masalah wanita ke istrinya. Apa gak gila dia, untung jauh. Coba kalau ada di depan muka, udah di pepes deh.
"Yaelah, bentar doang napa Om. Resah banget nie, galau!" ujar Adam memaksa.
"Nggak, lo lupa kalau Lily lagi hamil? Orang hamil itu harus banyak istirahat, gak boleh yabg namanya bergadang, lo ngerti gak!" kesel Alex, enak aja istrinya suruh di bangunin hanya untuk curhat. Emang hari esok gak ada apa? Bikin naik pita aje.
"Yaelah, kalau gitu curhat sama Om aja lah." Adam sangat kekeh. Alex menepuk keningnya tak habis pikir.
"Nggak! Gue juga mau tidur, capek," tolak Alex cepat.
"CK, Om kan cowok. Masak jam segini tidur? Cemen amat," ujar Adam mengejek.
"Gue juga manusia woy, bukan robot. Lagian gue habis bertempur tadi, ya capek lah. Mana besok mau kerja," jawab Alex sinis.
"Dasar mesum, gak inget bini lagi hamil malah di ajak tempur. Kembung-kembung dah tu perut si tembak lava panas melulu." Adam kembali mengejek.
"Emangnya kenapa? Lagian gak ada larangannya ini, asal gue pelan-pelan aja. Dan pula, perut Lily emang bakalan kembung, kan ada calon anak gue, dasar oneng. Jangan bilang lo iri? CK, kasihan deh Lo, jomblo sih. Dah jomblo, ngenes pula," ujar Alex mengejek Adam.
Adam memutar bola matanya malas.
"Mentang-mentang dah gak jomblo lagi, gak inget dulu kalau situ adalah rajanya jomblo. Sekarang aja mengejek, padahal dulu lebih ngenes lagi. Sok-sok'an ngatain orang jomblo ngenes," balas Adam tak mau kalah.
"Dah lah, malas pula debat ma bocah bau kencur kayak lo. Kencing dalam botol aja masih belum lurus, sok-sok'an mau pacaran," ucap Alex meremehkan.
"Sembarang aja kalau ngomong nie Om-om tua. Mau lomba? Jangan-jangan Om sendiri yang masih belum lurus kencing dalam botolnya."
"Sorry ya, gue bukannya gak bisa lurus. Hanya saja tongkat milik gue sangat besar, jadi gak muat kalau kencing di dalam botol," ujar Alex.
"Emangnya punya lu, kecil imut-imut kayak ukuran bayi," lanjutnya mengejek ukuran tongkat milik Adam.
"Enak aja, Om kalau melihat punya Adam pasti bakalan pingsan kejang-kejang," jawabnya yang tak mau kalah.
"Iye sangking kecilnya," ucap Alex yang terus mengejek seraya tertawa.
"Dah lah, males pula aku ngomong sama mu Om. Niat hati mau curhat malah dapat ejekan. Huuuuh, menyebalkan."
Adam langsung mematikan sambungan telponnya. Alex di sana tertawa puas penuh kemenangan. Ia merebahkan dirinya lagi lalu memeluk erat istrinya dan ikut tidur kealam mimpi indah.
__ADS_1
Sedangkan Adam menghela nafasnya berkali-kali. Sangat resah gelisah perasaan hatinya, galau, dilema menyatu menjadi satu.
Tak dapat memejamkan matanya hingga pagi menjelang subuh.
******
Alex pamit kerja dengan sang istri. Ia terus mengecup perut yang masih rata itu bahkan mengajak bicara.
Sherly hanya bisa tersenyum melihat suaminya yang sangat menginginkan seorang anak. Ia pun harus menjaganya dengan hati-hati hingga menjelang persalinan tiba.
"Papah berangkat kerja dulu ya sayang. Jangan nakal, jangan bikin Mamah muntah-muntah terus, oke. Jangan lupa buat jagain mamah ya."
"Iya Papah ku sayang," jawab Sherly menirukan suara seperti anak kecil sembari mengelus kelapa suaminya yang sedang menempelkan kupingnya pada perutnya.
Alex mendongak, lalu mengecup seluruh wajah sang istri dan berakhir mendarat di bagian bibir. Cukup lama berciuman Alex rasa tak ikhlas meninggalkan istrinya sendirian di rumah.
"Kalau ada apa-apa langsung kabarin aku ya. Hp kamu jangan sampai mati, jangan sampai jauh-jauh dari kamu, ingat itu!" Tegas Alex mengingatkan. Sherly mengangguk bahkan sampai bosan. Sudah hampir ratusan kali Alex mengatakan hal yang sama, antara bersyukur atau tidak. Tetepi mematuhi perintahnya lebih baik karena ia tau jika sang suami sangat khawatir padanya.
"Nanti pembantu baru mulai bekerja, jangan lakukan apapun apalagi membantunya, cukup dia saja yang melakukan pekerjaannya, Karena itu adalah tugasnya. Kami adalah nyonya, ingat!"
"Iya saumiku sayang, ya udah pergi gih. Entar keburu siang loh," ucap Sherly setelah memeluknya sebentar lalu merapihkan jasnya kembali.
"Kami mengusirku?" cemberut Alex karena dengan terang-terangan istrinya itu mengusirnya cepat-cepat pergi.
"Nggak, ya ampun." Sherly menepuk keningnya sambil geleng-geleng." Aku takut nanti jalanan keburu macet Mas ku sayang, katanya mau meeting pagi ini?"
Sherly mengingatkan. Suaminya itu tidak bisa sekali di singgung sedikit.
"Huuuuf, menyebalkan. Kenapa harus ada kerja. Kan kalau gak ada aku bisa bersamamu sepanjang waktu," keluh Alex.
"Kalau gak kerja, kamu mau kasih mana anak istri mu dengan apa? Duh gemes banget sih suamiku ini." Sheryl mencubit gemes pipi suaminya.
Alex tersenyum lalu mengecup kening istrinya lembut. Acara pamitan kerja penuh darma, tapi Alex suka, ia bisa menunda supa bisa dekat selalu dengan wanita yang ia sangat cinta itu.
"Aku kerja dulu ya, dah sayang."
Dan sebenarnya Sherly juga malas, semenjak hamil ia menjadi sangat malas. Bahkan mandi saja ia malas kalau tidak di paksa oleh Alex.
Beberapa saat kemudian, pintu bel berbunyi. Sherly yakin jika itu adalah orang yayasan yang membawa ART untuk bekerja di apartemennya. Dengan langkah perlahan Sherly membukakan pintu.
"Halo, selamat siang? Apa betul dengan Ibu Sherly?" sapa seseorang wanita paruh baya dengan sangat ramah.
"Betul, ada perlu apa ya?" Sherly bertanya.
"Saya dari yayasan kasih bunda. Suami anda atau tuan Alex sudah memesan salah satu pekerjaan di yayasan kami. Dan kami juga sudah memberitahu padanya jika hari ini saya datang bersama Mbak Anna yang akan berkerja di sini," jelas ibu yayasan itu.
Sherly tidak mudah percaya dengan orang. Ia segera menelpon suaminya terlebih dulu untuk memastikan. Dan ternyata benar, jika mereka dari yayasan yang seperti di ucapkan oleh suaminya.
"Jadi mbak ini yang mau akan bekerja di sini?" tanya Sherly setelah keduanya di persilahkan masuk. Sherly memandangi wanita yang terlihat masih muda di samping ibu yayasan tersebut.
"Iya Bu, dia namanya Ana. Usianya masih 23 tahun tapi cara bekerjanya sangat telaten sekali, dan dia orang yang sangat rajin, giat dalam bekerja," puji ibu yayasan mengenai Ana.
"Oh, saya harap juga begitu. Karena saya lagi hamil muda jadi suami saya berharap ada orang yang benar-benar bisa bekerja dengan benar, giat, telaten dan jujur," ucap Sherly tegas.
"Saya akan berjuang keras Bu. Karena saya lagi butuh uang, jadi saya akan bekerja dengan giat dan tidak akan mengecewakan Ibu dan Bapak nantinya," ucap Ana menimpali dengan sangat meyakinkan Sherly.
"Baiklah, saya coba percaya sama kamu dan memberikan kamu kesempatan, saya tidak akan segan jika kamu berulah. Dan saya akan baik jika kamu sangat memuaskan kinerjanya kamu," ucap Sherly sangat tegas dengan expresi datar.
Sherly mengikuti cara mamahnya saat hendak menerima ART di rumahnya dulu. Karena sekarang ia adalah nyonya di rumah ini, maka semua aturan ia yang buat.
"Baik Bu, saya mengerti!" ucapnya sangat yakin.
Setelah beberapa saat kemudian. Ibu yayasan juga sudah pergi dan kini hanya tinggal Sherly dan Ana saja di apartemen tersebut. Sherly mulai menunjukkan kamar Ana, dan pekerjaan apa saja yang yang harus di lakukan dan gak boleh di lakukan.
Sherly juga tidak mengizinkan Ana masuk ke kamarnya tanpa izin. Bahkan membersikan kamarnya saja Sherly masih bisa sendiri karena itu menurutnya kamar adalah privasi dirinya dan sang suami.
"Kamu istirahat aja dulu, besok kami boleh memulai bekerja," ucap Sherly.
"Baik Bu," jawabnya sopan.
__ADS_1
"Kalau mau makan ambil aja di dapur, kalau gak ada makan kamu tinggal masak aja. Jangan perlu sungkan, saya jarang masak jadi kami kalau mau makan gak perlu nunggu saya," lanjut Sherly, Ana mengangguk.
"Ya udah kalau begitu saya tinggal dulu."
Sherly meninggalkan Ana di kamarnya untuk beristirahat.
Sesaat Sherly sedang berada di kamarnya. Bel kembali berbunyi, kali ini ia mengerutkan keningnya bertanya dalam hati siapa kali ini yang datang. Sherly pun bergegas keluar untuk membukakan pintu.
"Bu, ada yang datang," ujar Ana yang ternyata juga keluar dari kamarnya.
"Biar saya liat dulu, kalau kamu sendirian di rumah gak boleh sembarang bukain pintu kalau ada yang datang. Bahkan jika itu adalah seorang kurir," ucap Sherly mengingatkan.
"Baik Bu," jawabnya mengerti. Sherly mengangguk lalu mengintip dahulu sebelum membukakan pintu.
"Eh mamah. Kok gak kasih kabar sih kalau datang?" Dengan cepat Sherly membukan pintu yang ternyata mamah mertuanya yang datang.
"Halo sayang, assalamualaikum," ucapnya dengan wajah ceria lalu memeluk menantunya.
"Wa'allaikumsalam, kok Mamah gak kasih kabar Lily dulu kalau mau datang. Kan Lily bisa siapin makan," ucap Sherly sembari cipika-cipiki mertuanya.
"Kejutan dong," ucap Ratna. Ia meletakan barang bawaannya yang sangat banyak.
"Mamah bawa apa aja?" Tidak heran lagi, sudah biasa ibu mertuanya itu jika berkunjung selalu bawa belanjaan entah apa saja bahkan yang tidak penting sekalipun.
"Bawa makan sehat buat kamu. Kamu duduk di sini ya. Biar Mamah yang menyiapkan makan buatmu," ucapnya tegas seakan tak ingin di bantah.
Sherly hanya bisa patuh, dan memperhatikan ibu mertuanya sedang menuangkan makanan yang sudah di masak kedalam wadah dengan sangat telaten.
Sherly merasa senang mendapatkan mertua sebaik Ratna. Ya walaupun sedikit menyebalkan karena hal yang tidak suka menjadi suka gara-gara di paksa olehnya. Seperti sekarang ini. Makanan yang di bawa itu ternyata berupa sayur-sayuran yang sangat tidak ia sukai. Dan ternyata bukan.hanya satu macam, tapi hampiri nyaris seluruh terbuat dari sayuran-sayuran. Entah itu brokoli, wortel, kol, kembang kol, kentang, bayam dan masih banyak lagi. Sherly jadi ingin muntah membayang makanan sayuran itu masuk ke mulutnya.
"Ini buat siapa Mah?" tanya Sherly pura-pura tidak tau.
"Ya buat kamu lah sayang, kamu kan lagi hamil. Jadi makanan harus yang sehat dan bergizi untuk kamu dan calon cucu Mamah," jawab Ratna. Sherly menyengir kaku.
"Buat Ana aja boleh?" gumam Sherly pelan.
"Ana? Ana siapa?" Ternyata Ratna dapat mendengar, pendengarannya sangat tajam.
"Oh itu, ART yang akan bekerja di sini. Mas Alex yang nyaranin untuk pakai ART aja, biar aku gak terlalu capek katanya," ucap Sherly.
" Bagus dong, memang seharusnya begitu kan. Lagian dari awal Mamah udah nyaranin pakai ART, tapi Alex bilang kamu yang gak mau. Jadi Mamah gak bisa memaksa keputusan kamu yang ingin mandiri, dan sekarang sampai anak kamu besar, pokonya kamu harus pakai ART, dan beny sitter untuk anak kamu nanti. Papah juga udah nyariin Alex untuk buat rumah yang besar untuk masa depan kalian, jadi sebelum lahiran kalian sudah harus pindah," ucap Ratna panjang lebar.
Sherly tak dapat berkata apa-apa lagi, jika sudah menjadi keputusannya begitu ia hanya bisa menuruti saja karena ia sedang hamil, dan orang tua jauh lebih berpengalaman di banding dirinya.
"Ana."
"Ya Bu."
"Tolong bawaan ini ke belakang ya. Maaf ya sudah mengganggu waktu istirahat kamu," ujar Sherly.
"Nggak apa-apa Bu. Sudah menjadi tugas saya," jawab Ana.
"Oh iya An, ini Mamah mertua aku. Namanya Mamah Ratna." Sherly memperkenalkan mertuanya pada Ana.
"Selamat pagi Bu," sapa Ana sopan.
Ratna memperhatikannya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Wanita yang masih muda, lumayan cantik. Kulit tidak terlalu hitam maupun putih, tinggi badan cukup ideal, begitu juga bentuk tubuh. Ratna terus menatapnya intens.
"Kamu boleh bawa ke belakang," perintah Sherly pelan. Entah tidak tau apa yang ada di pikiran ibu mertuanya itu terhadap Ana.
"Ada apa Mah?" tanya Sherly pelan.
"Kamu harus hati-hati sama dia. Jangan sampai mengundang pelakor dalam rumah tangga kamu," ucap Ratna. Sherly terhayak.
Ia bahkan tidak berpikir sampai sejauh itu.
"Bukannya seuzun, tapi setan tidak ada yang tau. Apa lagi dia masih muda dan lumayan cantik. Pelakor bisa menjadi siapa saja bahkan pembantu," lanjut Ratna mengingatkan. Pengalaman hidupnya tak ingin terjadi para anak-anak cucunya. Ia selalu waspada semenjak kejadian dulu dan selalu memili wanita tua yabg menjadi ART di rumahnya.
Sherly menjadi kepikiran.
__ADS_1