
"Pah." Rengek Sherly pada Angga dengan nada manja.
"Apa sih sayang, jangan paksa Papah ya. Papah mana bisa tidur tanpa mamah kamu," ucap Angga berusaha sabar. Ibu hamil mulai ada maunya. Dan dirinyalah yang kena imbasnya.
"Tapi ini bukan kemauan Lily kok, ini kemaun cucu Papah loh. Masa iya Papah tega ngebiarin cucunya sendiri ileran nantinya. 'Kan malu juga di liat orang," cemberut Sherly dengan mata berkaca-kaca.
"Ya nggak juga, maksud Papah bukan gitu. Tapi ...."
"Bilang aja nggak boleh, gak usah lah pake alesan ini, itu. Kalau nggak mau ya udah, Lily gak maksa kok, dan Lily gak akan mau ke sini lagi."
Sherly merajuk, ia beranjak pergi meninggalkan Angga yang mematung menatap anaknya.
"Aduh merajuk anak satu itu. Gak di turuti ya begini, di turuti ya aku yang sengsara, nasib-nasib."
Angga mengusap wajahnya kasar. Permintaan ibu hamil sangat berat baginya. Malam ini Sherly ngotot ingin tidur dengan Sera. Sedangkan dirinya sudah seperti perangko, nggak mau terpisahkan. Bisa-bisa tidurnya tidak akan nyenyak tanpa kelonan sama sang istri. Tapi melihat anaknya yang merajuk, ia pun menjadi tak tega.
"Alex ini kemana perginya bocah tengil ini. Istrinya merajuk bukannya di bujuk, di rayu, malah di diemin aja, sengaja memang mau buat si gundul puasa. Sebel," gerutu Angga mencari keberadaan Alex.
"Woy curut item sawah! Elu ya, bini merajuk begitu, lo malah enak-enakan duduk santai sambil ngopi di sini, sengaja ye mau bikin si gundul susah!" sinis Angga. Sedangkan Alex hanya acuh tak acuh sembari menghirup secangkir kopi hitamnya yang di temani pisang rebus.
"Terus, Alex harus apa? Lagian kenapa Papah gak ngalah aja sih. Kasihan kan Lily ngidam pengen tidur sama emaknya," ucap Alex.
"Masalah gue gak bisa tidur tanpa memeluk bini gue Lex. Ngertiin dikit lah," sahut Angga duduk di samping Alex, lalu mengambil meminum kopi milik Alex seenaknya.
"Dasar mertua gak ada akhlak. Ini kopi Alex, kalau mau, bikin sendiri sana. Jangan main ambil punya orang aja," ujar Alex merebut secangkir kopi di tangan Angga.
"Set dah nie bocah, gue gibas juga palak lo. Lagian nie kopi bini gue yang bikinin, jadi ini kopi, ya kopi gue lah," ucap Angga tak mau mengalah, ia ambil kembali cangkir dari tangan Alex.
"Enak aja kalau ngomong, ini Alex sendiri yang bikin. Mamah cuma kasih pisang rebus kesukaan Papah aja. Dasar orang tua, cemilannya pisang rebus, ompong rupanya gigi mu?" ucap Alex seraya tertawa mengejek, lalu ia ambil kembali cangkir kopi itu dari tangan Angga. Rebutan kopi hitam ceritanya menantu mertua ini.
"Sebenarnya gak suka, tapi karena gue menghargai semua masakan bini gue. Jadi gue bilang aja kalau ini kesukaan gue. Gak taunya di bikinin terus setiap hari, blenger-blenger dah perut. Tapi mau gak mau harus di habiskan! Nah sekarang lo yang habiskan tu pisang, jangan sampai nyisa ya, bini gue ngamuk kalau ngeliat makanan sisa, ngeri." ucap Angga.
"CK, dasar bucin akut!" ejek Alex sembari memakan pisang rebus.
"Terus gimana ini ceritanya ngidam Lily? Jangan bikin dia ngambek loh, tau sendiri anaknya kalau dah ngabek kayak apa? Bisa tahan sebulan itu," ujar Alex kembali menanyakan masalah ngidam istrinya yang membuat Angga galau.
"Iye, iye. Gue ma bini gue tidur di kamar kalian, nah kalian boleh tuh tidur di kamar kita," ucap Angga. Lalu Alex mengelus dadanya sabar.
"Dasar mertua sableng, dah tau anaknya ngidam kepengen tidur ma emaknya, malah emaknya pula yang di bawa. Benar-benar bikin darah tinggi dah, untung mertua, kalau bukan gue libas juga lo," batin Alex menghela panjang.
"Pah ...."
"Iye, bercanda. Ah elu, gak bisa banget di ajak canda. Nangis tuh?" ledek Angga sembari tertawa mengejek.
Alex memutar bola matanya malas, ia lebih baik meminum habis kopi nya lalu segera pergi dari mertuanya itu.
Sesaat Alex hendak bangkit tanpa mengucapkan kata pun. Angga menghela nafasnya dengan berat.
"Ya deh, demi anak cucu ngalah gue," ujar Angga pasrah." Tapi kita tidur sekamar ya," lanjutnya.
"Ya gak mesti tidur sekamar juga kali, emangnya gak bisa tidur tempat lain?" Ogah Alex.
__ADS_1
"Emangnya kamar di rumah gue ada banyak? Ya kalau lo gak mau ya gak apa-apa sih. Gue tidur di kamar kalian, dan lo tidur di ruang tv, di shopa Sono," ucap Angga. Alex mendengus kesal.
"Iya, tapi awas loh peluk-peluk. Geli tau gak!" Alex mengingatkan.
"Pede banget hidup lo, lagian siapa juga yang mau. Amit-amit tralala-trilili deh, mending gue peluk guling dari pada peluk sesama pisang, apa enaknya?"
"Alah, sok ngeles kayak bajai, padahal kalau tidur sama opah Bobby peluk-peluk tuh. Bahkan cium -cium pipi segala lagi, iiih geli," ucap Alex merinding membayangkan jiak itu terjadi pada dirinya.
"Rumor itu, gosip bajing*n tengik itu di percaya. Gak akan," jawab Angga kekeh. Karena ia memang tidak merasa. Padahal ia tidur nyenyak, emangnya orang tidur bisa tau ngapain aja? Tapi entahlah, mungkin iya, jika itu hanyalah rumor, gosip Bobby saja.
"Terserahlah, yang penting jangan deket-deket. Dah lah, Alex mau samperin Lily dulu. Habiskan tuh pisang rebus, kalau gak habis Alex aduin sama Mamah," ujar Alex.
"Dasar bocah tengil, sini lo kalau berani. Gue bejek-bejek lo jadi cincang ayam."
Alex berlari sembari tertawa, ia menghampiri istrinya yang sedang nonton tv dengan wajah di tekuk, masih kesal dengan papahnya tadi.
"Hey, kok cemberut aja. Kenapa, hem?" tanya Alex pura-pura tidak tau apa yang terjadi.
"Aku sebel sama papah Mas, masa papah gak mau turuti kemauan dedek," adunya dengan nada manja.
Alex tersenyum lalu mengusap perut istrinya.
"Hey jagoan or wonder woman. Kamu pengen bobok sama omah ya? Berati Papah bobok sendirian dong malam ini," ucap Alex pada perut Sherly sembari mengusapnya lembut.
"Banget, pengen banget. Papah ngalah dulu ya malam ini. biar dedek bobok sama omah dulu," sahut Sherly dengan menirukan suara anak kecil.
"Iya, demi anak Papah rela kok gak bobok sama Mamah malam ini. Tapi jangan sering-sering ya, Papah gak bisa bobok kalau jauh-jauh dari Mamah," ujar Alex menempelkan kuping nya ke perut Sherly, lalu ia kecup lembut.
Sherly hanya tersenyum sembari mengusap kepala suaminya.
"Mas."
"Nanti malam kita gak tidur bareng, aku kangen tau," ucapnya lebay. Sera memutar bola matanya malas, makin tua suaminya ini semakin manja melebihi anak-anak.
"Kan cuma satu malam aja Mas, ngalah dulu napa?" ujar Sera.
"Iya, makanya itu aku mau kangen-kangenan dulu sama kamu. Kita main cepet ya, mumpung Lily masih kangen-kangenan juga sama Alex," ucap Angga dengan senyum liciknya. Ia memutar balik tubuh istrinya lalu mengecup bibirnya lembut.
"Dasar kamu ini Mas, bisa-bisa nya minta jatah di waktu yang mepet."
Angga tidak peduli, setidaknya ia harus mendapat jatah sebelum pisah kamar supaya tidur bisa nyenyak sedikit walau tanpa istri di sampingnya.
Angga bergerak cepat. Tetapi pintu sudah di ketuk-ketuk seperti tak sabaran oleh Sherly.
"Mah, Mamah ngapain sih? Kok pake di kunci segala pintunya?" teriak Sherly memanggil Sera.
"Sebentar ya Nak! Dikit lagi," jawab Sera dengan suara terbata Karena tubuhnya terus di hantam oleh Angga.
Sherly menekuk wajahnya, lalu kembali ke shopa di mana Alex masih nonton tv di sana.
"Kenapa?" tanya Alex melihat istrinya balik lagi, ia pikir tadi mendengar langkah kaki adalah ayah mertuanya. Gak taunya adalah istrinya sendiri yang balik lagi.
__ADS_1
"Pintu kamar mamah di kunci, aku ketuk-ketuk tapi belum di buka-buka sama Mamah. Gak tau ngapain?" jawab Sherly cemberut. Ibu hamil kenapa mudah sekali cemberut.
Alex mencari sosok ayah mertuanya di sekeliling rumah. Dan tak menemukan tanda-tanda keberadaan nya. Ia mengerti, pantas saja pintu di kunci. Lagi bikin adonan.
"Sabar ya sayang, mamah sama papah lagi bikin adonan sebenar. Kan mau tidur terpisah. Seharusnya kita juga bikin juga dong," ujar Alex, ia merangkul istrinya dan menciumi jenjang lehernya.
"Tapi aku udah ngantuk banget Mas, lelah," ucap Sherly.
Alex menghentikan kegiatannya. Ia tersenyum lalu mengelus Surai hitam miliknya dengan lembut.
"Sabar dulu ya, jamu bobok sini aja dulu. Nanti kalau papah sama mamah udah selesai baru kamu pindah ke kamar bmdan bobok sama mamah," ucap Alex mencoba memberikan pengertian pada istrinya.
Sherly mendesah, ia merebahkan dirinya dan menjadikan paha Alex sebagai bantal. Alex mengusap lembut kepalanya dan mengecup sekilas.
Sementara itu, Angga sudah mencapai puncaknya. Ia tersenyum lalu mengecupi pipi istri dengan gemes.
"Cantiknya istriku ini, makin tua makin cantik, itu bagus," ucapnya.
Angga selalu memanjakan Sera, ia tak pernah perhitungan dengan uang supaya istrinya itu dapat membeli Skincare berapa pun harganya supaya istrinya bisa merawat tubuhnya.
"Udah deh jangan gombal. Sana mandi, kasihan anak kita dari tadi udah ngetuk-ngetuk pintu."
"Mandi bareng ya, biar hemat waktu," goda Angga.
"Ini udah malam, kasihan istri orang dah nungguin dari tadi udah kepengen tidur sama emaknya. Yang ada kamu minta nambah pula nantinya," kesel Sherly memukul dada suaminya. Ia tidak percaya dengan ucapan modus itu, bohong jika hanya bilang mandi bersama, nyata buka hanya mandi malah main kuda-kudaan lagi.
Angga tertawa sampai suaranya menggema, ia bangkit dari tempat tidur lalu berjalan menuju kamar mandi.
Setelah selesai, Angga barulah menghampiri Sherly dan Alex yang masih berada di shopa dengan Sherly yang sudah tidur di paha suaminya.
"Sudah tidur? Berati gak jadi dong?" ucap Angga.
Tiba-tiba Sera datang lalu mencubit kuping suaminya dengan kesal. Salah siapa anak sampai tertidur seperti itu. Kasihan sudah kepengen banget tidur sama emaknya, tapi malah terus di tunda-tunda sama mesum tua satu ini.
Angga hanya mengadu kesakitan.
"Bawa Lily ke kamar Lex, kasihan dia," ucap Sera.
"Iya Mah." Perlahan Alex menggendong istrinya, dan membawanya ke kamar Sera dan Angga.
"Dan kamu Mas, tidur di shopa selama satu minggu!" ucap Sera tegas memberikan hukuman pada suaminya.
"Yah, yah. Kok gitu Yang? Gak mau ah, masa iya aku tidur di shopa?" rengek Angga seperti anak kecil.
"Oh ya udah kalau begitu 2 Minggu!" Bukannya kasihan malah semakin bertambah.
Angga mewek-mewek di lantai bahkan guling-guling karena tidak mau. Dan Sera acu tak acuh, ia pergi begitu saja masuk ke kamarnya dan setelah Alex keluar dari kamarnya, Sera langsung mengunci pintu rapat-rapat.
"Ngapain Pah?" tanya Alex.
"Gak liat apa, orang lagi berenang gini, pake nanya segala," sinis Angga menjawab.
__ADS_1
"Ya elah, sewot amat. Baru aja dapat jatah, masih kurang?" ejek Alex.
"Kepo," jawabnya singkat. Dan Alex mematung menatapnya.