
Setelah prosesi akad nikah dan moment pengambilan foto, semua orang berkumpul dan bercengkrama sambil menikmati hidangan yang sudah dipesan oleh keluarga Nick dalam acara tersebut.
Sedangkan Raju dan Kanaya kini duduk berdampingan di antara mereka yang sedang asyik bernostalgia karena telah lama tidak bertemu.
Perasaan Raju saat ini bercampur aduk karena dia mengerti apa yang dirasakan oleh saudara kembarnya.
Sementara itu Kanaya merasa sangat bahagia dengan pernikahan tiba-tiba yang baru saja diadakan oleh kedua orang tuanya.
dia merasa bersyukur karena pernikahan mendadak yang direncanakan oleh kedua orang tuanya telah mempertemukan dirinya dengan pemuda yang selama ini mengisi hatinya.
Meskipun dia tidak pernah kenal dekat dengan pria itu, tapi rasa kagum terhadap sang pria membuat dirinya bahagia bisa menikah dengan pria yang selama ini dikaguminya.
Di saat Kanaya menikmati duduk berdua dengan Raju, pria yang sudah sah menjadi suaminya itu berdiri meninggalkan dirinya.
Kanaya bingung melihat sikap sang suami yang terlihat dingin padanya.
Ada sedikit luka yang ditorehkan oleh Raju pada wanita yang baru saja menjadi istrinya.
Saat ini Kanaya belum mengetahui bahwa suaminya memiliki saudara kembar, Kanaya masih mengira bahwa suaminya merupakan sosok Raja yang selama ini dikaguminya.
Kanaya mengingat pertemuan dirinya dengan Raja beberapa tahun yang lalu, saat dia baru saja menjadi mahasiswi di Universitas Islam Al-Azhar.
"Nay, kamu kebagian tugas apa?" tanya Kania pada teman yang baru beberapa hari ini dikenalnya.
"Ini, aku dapat tantangan buat cari kakak senior yang bernama Rajasa Surya Atmaja, setelah itu aku harus bisa mendapatkan tanda tangannya, tapi masalahnya aku enggak kenal sama yang namanya Raja," jawab Kanaya bingung.
"Mhm, kalau masalah itu kita tinggal tanya senior aja, Nay," ujar Kania menenangkan teman barunya itu.
"Iya, sih. Kalau kamu, kebagian tugas apa?" tanya Kanaya.
"Aku di suruh cari buku, yang mana di sana terdapat kertas yang berisi motivasi. Aku harus keliling semua perpustakaan yang ada di Universitas ini dan membongkar semua buku yang ada di dalamnya. Kertas motivasi itu ada 10 lembar di 5 perpustakaan yang ada di Universitas ini," jawab Kania.
"Ya ampun, Nia. Susah banget, kamu harus kerja keras mulai hari ini. Waktunya hanya 3 hari," ujar Kanaya merasa bersyukur tantangan yang didapatnya tidak sesulit sang teman baru.
"Ya udah kalau gitu, aku kerjakan tugas aku dulu," ujar Kania.
Setelah itu Kanaya dan Kania berpisah, mereka pun melaksanakan tugas yang mereka terima dari senior.
Kanaya melangkah mencari senior yang kira-kira bisa ditanyai tentang sosok senior yang bernama Raja.
Pas saat itu Ratu dan Raja sedang berdiskusi didepan Fakultas Syari'ah, tanpa rasa takut Kanaya menghampiri mereka.
"Permisi, Kak." Kanaya memasang wajah seramah mungkin agar 2 orang senior yang ada di hadapannya bisa membantunya.
__ADS_1
Raja dan Ratu menoleh pada mahasiswi baru yang menghampiri mereka.
"Iya, Dek. Ada apa?" tanya Ratu pada Kanaya.
Raja hanya diam menatap wajah anggun sang mahasiswi baru.
"Kak, aku mau tanya. Apakah kakak kenal dengan senior yang bernama Rajasa Surya Atmaja?" tanya Kanaya tanpa menyadari bahwa pria yang ada di hadapannya adalah orang yang dicarinya.
Ratu tersenyum mendengar pertanyaan sang mahasiswi baru, dia tak menyangka bisa kebetulan.
"Hehehehe." Senyuman Ratu membuat Kanaya menautkan kedua alisnya.
"Maaf, Kak. Apa ada yang salah?" tanya Kanaya merasa serba salah.
"Hehehe, tidak ada. Kamu beruntung sekali," ujar Ratu masih sambil terkekeh kecil.
Kanaya masih belum mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Ratu.
"Maksud, Kakak?" tanya Ratu lagi.
"Kamu beruntung bisa ketemu langsung dengan orangnya," ujar Ratu memberitahukan bahwa pria yang ada di hadapannya adalah pria yang dicarinya.
"Ada apa kamu mencari saya?" tanya Raja langsung.
Seolah-olah Raja memberitahukan kalau dia adalah orang yang dicari Kanaya.
Dia tidak percaya bahwa dengan mudah dia dapat menemukan senior yang menjadi incarannya saat ini.
"Iya, ada apa?" jawab Raja.
"Begini, Kak. Saya mendapat tantangan tugas untuk mendapatkan tanda tangan kakak. Apakah saya boleh meminta tanda tangan kakak?" tanya Kanaya langsung tanpa basa-basi.
"Hah, kamu butuh tanda tanganku?" ujar Raja dengan nada dingin.
"I-iya, Kak. Boleh saya minta tanda tangannya?" tanya Kanaya lagi berharap Raja akan langsung memberikan tanda tangannya.
"Gila nih panitia OSPEK pakai nama gue enggak bilang-bilang," gumam Raja di telinga Ratu.
Ratu hanya tersenyum mendengar umpatan sang kakak.
"Boleh, tapi ada syaratnya," ujar Raja iseng.
Entah mengapa jiwa jahilnya Raja timbul di saat itu juga.
__ADS_1
"Hah? Syarat? Apa syaratnya, Kak?" tanya Kanaya langsung.
"Kamu harus jadi pelayanku selama satu hari. Semua akan kita mulai besok dan temui di sini pukul 11.00," ujar Raja.
"Ish, jangan kelewatan lho, Kak," bisik Ratu mengingatkan saudara kembarnya.
"Baiklah, kalau begitu." Kanaya pun pergi dengan hati yang mendongkol.
"Apa susahnya, sih tinggal kasih tanda tangan saja. Dasar semua cowok sama saja, pasti cari kesempatan dalam kesempitan, huhft," gerutu Kanaya.
Semalaman Kanaya sudah membayangkan hidupnya esok hari akan lebih berat, karena dia harus melayani senior menyebalkan itu.
Gadis itu tidak dapat tidur, dia merasa hari yang sulit sudah ada di hadapannya.
Pada pukul 11.00, Kanaya sudah berada di tempat Yangs udah ditentukan oleh Raja, tapi dia tidak menemukan sosok Raja di sana.
Satu jam Kanaya menunggu, Raja datang bersama Ratu. Di saat itu, Kanaya mengira Raja dan Ratu merupakan sepasang kekasih karena mereka selalu saja berdua.
"Kak, kakak ke mana saja? Saya sudah menunggu kakak satu jam di sini! Kakak sudah melakukan kesalahan," bentak Kanaya langsung.
Dengan berani Kanaya mengungkapkan rasa kesalnya pada Raja.
Raja mengernyitkan dahinya, dia mulai berpikir harus melakukan apa terhadap gadis itu.
"Kakak sudah menyia-nyiakan waktu saya selama satu jam menunggu," ujar Kanaya lagi melangsungkan aksi protesnya.
"Hei, kamu berani sekali dengan senior," ujar Raja kesal.
"Saya harus berani jika saya berada di posisi yang benar," bentak Kanaya lagi.
Mendengar perkataan Kanaya akhirnya Raja memberikan tanda tangannya dengan cuma-cuma tanpa memberikan syarat apa pun.
Di saat itu, Kanaya menjadi kagum dengan sikap Raja, dia pun mulai mengagumi sosok Raja, meskipun dia mengira Ratu adalah kekasih Raja.
Selama satu semester Kanaya selalu mencuri pandang pada sosok Raja, dia selalu memperhatikan apa saja yang dilakukan oleh Raja dengan Ratu.
Sejak itu dia mulai merasakan bahwa ada sesuatu di hatinya untuk pria yang bernama Raja.
"Naya," lirih Kayla menyapa menantunya.
Kanaya tertegun, panggilan Kayla membuyarkan lamunannya.
"Raju, mana?" tanya Kayla yang menyadari putranya tak lagi duduk di samping menantunya.
__ADS_1
"Raju?" Kanaya mengernyitkan dahinya heran, dia merasa ada yang salah dengan ucapan Kayla.
Bersambung...