Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Season 2, tidak bertemu Yura


__ADS_3

"Ayo sayang di makan. Mamah suapain ya," ujar Ratna memanjakan Sherly layaknya anak kecil.


"Lily bisa makan sendiri Mah," tolak Sherly merasa tidak enak.


"Udah gak apa, gak usah malu. Sama Mamah sendiri ini," ucap Ratna yang bersikeras. Ia tetep menyuapi Sherly hingga wanita itu mengalah dan menerima suapan dari sang mertua.


"Enak kan, kalau makan itu harus Yang sehat. Jangan terlalu sering makan yang berminyak, berlemak apa lagi pedas. Kasian cucu Mah di dalam perut kamu," ucap Ratna yang menasehati Sherly tanpa melihat arah nya.


Ratna tidak tahu jika Sherly tengah menahan sara ingin muntah nya yang terpaksa menelan makanan nasi bersama sayur-mayuran tersebut.


"Ak lagi sayang."


"Mah udah ya, Lily udah kenyang banget nie," ucap Sherly yang merasa enek dalam perutnya. Makan itu rasanya seperti memakan rumput saja. Tidak suka sama sekali.


"No! Kamu baru aja makan satu suapan. Pokonya harus habisin." Ratna pemaksaan banget hingga Sherly seperti tersihir olehnya dan memakan makanannya itu walau dalam hati menangis.


"Ya Allah, ampunilah hamba mu ini. Mas Alex! Help me ...." teriak batin Sherly sambil mengunyah makanannya.


"Ah, apa kau mendengar sesuatu Tina?" tanya Alex.


"Tidak Pak? Emangnya Bapak mendengar apa?' tanya Tina.


"Saya mendengar seperti ada yang sedang memanggil nama saya. Apa itu Lily ya?" ucap Alex sesaat di kantornya yang merasakan ada sesuatu yang sedang memanggil dirinya.


"Ah, itu hanya perasaan Bapak saja, mungkin karena Bapak terlalu merindukan Bu Sherly," ucap Tina sembari tersenyum.


"Kamu benar, saya memang sangat merindukan istri saya. Rasanya pengen cepat-cepat pulang ke rumah," ujar Alex sambil membayangkan wajah cantik istrinya.


"Kalau begitu Bapak harus mengejar semuanya dengan cepat!" perintah Tina.


"Kamu memerintah saya Tina!" ucap Alex, hendak marah.


"Mau pulang cepat gak?" ledek Tina sembari menahan senyumnya.


"Iyalah, siapa juga yang gak mau pulang cepat. Kamu juga pasti mau pulang cepat kan?"


"Oh, kalau begitu ayo kita bekerja keras hari ini. Dan jangan banyak mengeluh sebagai alasan," ucap Tina yang sangat berani pada atasannya. Kalau bukan dirinya yang mengingatkan, perusahaan akan segera gulung tikar akibat sang direktur malas-malasan padahal tanggung jawabnya sangat lah banyak.


Alex mendengus kesal. Ia pun kembali melanjutkan pekerjaan yang menumpuk tak ada habisnya.


*****


Sherly merasa sudah tak sanggup lagi untuk menghabiskan makanan sebanyak itu. Ratna benar-benar tidak kira-kira memberikannya makan seperti orang yang tak pernah makan selama setahun.


Untungnya bel pintu berbunyi hingga ia terselamatkan dan bergegas membukakan pintu.


"Pelan-pelan Nak jalannya, kalau tersandung gimana?" teriak Ratna melihat Sherly berjalan dengan langkah cepat.


"Assalamualaikum."


"Wa'allaikumsalam, loh Mamah?"


Sera datang, kedua berpelukan.


"Masuk Mah. Di dalam ada Mamah Ratna juga," ujar Sherly.


"Oh ya?"


Sherly dan Sera masuk, Ratna tersenyum lebar melihat siapa yang datang. Ia pun menghampiri besannya.


"Eh, Jeng Sera."


"Halo Mbak, apa kabar?" Keduanya berpelukan, lalu cipika-cipiki.


"Alhamdulillah baik jeng. Kamu dan keluarga sehat juga kan?"


"Alhamdulillah Mbak, semoga keluarga kita selalu di beri kesehatan," jawab Sera sambil meletakkan barang bawaannya ke atas meja.


Sherly menatap barang bawaan itu curiga. Sepertinya dirinya tidak terselamatkan, yang ada malah masuk ke jurang semakin dalam lagi.


"Loh Jeng Sera bawa apa?" tanya Ratna.


"Ini Mbak, buah-buahan sama jus. Sehat buat ibu hamil," jawab Sera sembari mengeluarkan buah dari dalam plastik dan memindahkan nya ke dalam keranjang.


"Ana, tolong di cuci ya," ucap Sherly, ia harus cepat-cepat menyingkirkan buah itu supaya cepat di masukan ke kulkas supaya Sera tak akan memaksa nya memakan buah.


"Dia ...."


"ART nya mereka, dia masih muda. Ini sangat bahaya buat rumah tangga anak-anak kita. Takutnya menjadi pelakor," bisik Ratna.


"Tapi gak semuanya kayak gitu kan?" balas Sera sembari melirik arah dapur.


"Iya, tapi jika ada kesempatan semuanya yang gak mungkin menjadi mungkin. Lebih baik sedia payung sebelum hujan," ujar Ratna.


"Terus gimana? Apa suruh mereka tukar lagi?" tanya Sera.


"Iya lah, kalau gak begitu kehidupan rumah tangga anak-anak kita gak akan aman. Apalagi sekarang ini lagi musimnya pelakor, wanita tak tau dirinya. Ingin dapat uang cepat dengan cara menggoda laki orang biar dapat duit," ujar Ratna menggebu, ia sangat benci yang namanya pelakor.


Akibat trauma jadi siapa saja yang masih muda dan cantik ia selalu waspada. Karena bisa saja terjadi yang tak pernah orang ketahui.


Sera hanya menggut-manggut lalu menyodorkan jus pada Sherly.


Sedangkan Ratna menyodorkan susu hamil juga pada Sherly.


"Jadi, aku harus minum yang mana ini?" tanya Sherly bingung karena dua-duanya menyodorkan segelas minuman yang berbeda.


"Jus lebih seger dan sangat sehat tanpa harus minum susu," ujar Sera.


"Nggak dong, justru susu hamil lebih berkhasiat. Sedangkan jus bisa di minum kapan saja, nah kalau susu kam hanya 3 kali dalam sehari, itu pun hanya di waktu hamil muda aja. Nanti beberapa bulan ganti lagi, jadi lebih baik kamu minum susu aja," ucap Ratna.

__ADS_1


"Tapi jus lebih sehat!"


"Susu ibu hamil juga tak kalah sehatnya," ujar Ratna tak mau kalah.


Kedua wanita itu malah debat membuat Sherly semakin pusing melihat kelakukan ibu dan ibu mertuanya itu. Diam-diam ia pergi ke kamar lalu mengganti pakaiannya, lebih baik ia ke kampus dari pada melihat kelakuan kedua mamahnya itu yang gak ada mau ngalah.


"Pokoknya Lily harus minum jus dulu, ya kan sayang."


"Gak bisa dong, Lily baru saja selesai makan jadi dia harus minum susu. Lily sayang susunya di minum ya!"


Keduanya pun kembali menyodorkan minuman yang di buat oleh mereka masing-masing. Tapi sesaat menoleh arah tempat Sherly duduk, ternyata kursinya sudah kosong.


"Loh, Lily mana?" tanya Sera.


"Jangan-jangan dia ada di bawah kolong meja lagi." Ratna pun mencari Sherly di bawah meja.


"Gak ada, Lily sayang kamu di mana?"


"Hey kamu, liat menantu saya?" tanya Ratna pada Ana dengan tatapan tak suka.


"Sepertinya Bu Sherly masuk ke kamarnya, Nya," ujar Ana takut. Ia sebenarnya tidak mengerti kenapa mertua dari majikan baru nya itu tidak menyukai dirinya.


Sera dan Ratna hendak mengetuk pintu kamar Sherly dan Alex. Belum sempat mengetuk, pintu keburu di buka oleh Sherly yang sudah rapi dan cantik.


"Loh, kamu mau ke mana?" tanya keduanya.


"Mau ke kampus Mah," jawab Sherly sembari menyelempangkan tasnya.


"Tapi kamu kan lagi hamil?" ucap Ratna.


"Lily hanya hamil Mah, bukan cacat. Lagian Lily baik-baik aja kok. Lily janji akan berhati-hati," jawab Sherly meyakinkan.


"Tapi ...."


"Nggak apa-apa, jangan khawatir ya."


"Kalau begitu minum dulu jus nya biar lebih sehat," timpal Sera yang masih tak melupakan tujuannya.


"Jangan, susu aja. Lebih jernih pikiran," sahut Ratna yang masih tak mau mengalah juga.


Sherly menepuk keningnya sembari geleng-geleng kepala. Ternyata masih belum selesai.


"Buat Mamah aja deh, lagian Lily udah kenyang banget. Kalau begitu Lily berangkat dulu ya, dah Mamah-Mamah ku yang cantik ... muaaah." Sherly mengecup kedua pipi mamah dan mamah mertuanya.


"Hati-hati sayang," ucap Sera." Jangan lari ya."


"Iya Mah, Pasti kalau gitu kalian hang akur ya. Bye ...."


Kedua wanita itu saling pandang, lalu keduanya tertawa menyadari jika mereka berdua tak jauh beda dengan suami-suami mereka sendiri yang sering debat masalah hal yang tak penting.


Virus bucin cinta ❎


Sherly menaiki taksi pergi ke kampus. Ia berpamitan pada sang suami melalui telpon. Awalnya Alex melarang dan mengomel sepanjang obrolan. Sherly pun menjelaskan tujuan dirinya ke kampus bukan untuk kuliah, sebenarnya itu hanya alasan saja supaya bis kabur dari kedua mamah tersebut.


Sherly juga menjelaskan jika ia ke kampus sekalian ingin bertemu dengan Yura dan menanyakan soal penyelamatan Adam waktu itu. Jika benar itu adalah sahabatnya sendiri, Sherly sangat berterima kasih kepadanya.


Dan mau tak mau Alex pun mengizinkan, di larang juga percuma toh istrinya sedikit keras kepala. Ia hanya bisa menasehati dan mengingat kan untuk selalu hati-hati dan selalu memberinya kabar setiap saat. Sherly hanya menjawab iya saja supaya lebih cepat tanpa komentar apa-apa lagi.


Selang beberapa setelah menelpon sang suami. Mobil taksi berhenti tepat di depan kampus nya. Sherly tak lupa membayar, dengan perlahan ia keluar dari mobil taksi tersebut lalu bergegas mencari di mana sahabatnya berada.


"Duh, kemana nie bocah? Mana nomor gak aktif lagi." Sherly berjalan sedikit berlari terus menelusuri lorong-lorong kampus sembari bertanya-tanya juga pada siswa yang lain.


"Halo Ra. Lo di mana?" tanya Sherly menelpon salah satu sahabatnya selain Yura.


"Di kantin gue, ada apa?" jawab Dara dengan mulut penuh.


"Ngapain lo di sana?" pertanyaan bodoh sih sebenarnya. Tapi Sherly ingin aja bertanya.


"Lagi berang," jawab sinis Dara.


"Oh berenang, kirain lagi makan," sahut Sherly membuat Dara memutar bola matanya.


"Makanlah, emangnya sejak kapan kampus kita kantin berubah menjadi kolam renang? Masih di tanya lagi," sinis Dara menjawab.


"Kirain aja Lo sah gak sehat lagi," ujar Sherly.


"Eeeer," geram Dara pada sahabatnya itu." Ada apa Lo telpon gue? Tumben," ucapnya.


"Lo lagi bareng Yura gak? Gue lagi nyariin dia nie. Udah hampir kelilingi kampus, tapi tetep aja gak keliatan batang hidungnya. Mana nomor gak aktif pula," ujar Sherly.


"Yailah gak keliatan, rang Lo cari batang idungnya. Giliran gue aja mana pernah lo cariin, cemburu nie," ujar Dara merujuk.


"Jangan bercanda deh Ra. Gue serius ini. Lo ada nampak Yura apa nggak?" tanya Sherly dengan serius.


"Nggak, malah gue juga nyariin tadi. Karena perut laper ya udah gue mampir kantin dulu," ujar Dara.


Yura tidak kelihatan di kampus. Sherly hampir putus asa mencarinya apa lagi nomor nya gak aktif sedari tadi.


Di satu sisi, ternyata bukan hanya Sherly yang sedang mencari Yura. Rupanya Adam melakukan hal yang sama. Di kampus ia juga sedang mencari keberadaan Yura, lelaki itu selalu menghubungi nomor Yura tapi hasilnya nihil karena nomor nya gak aktif.


"Kemana sih kamu Yur? bahkan hari ini kamu gak ke kampus?" Adam prustasi, orang yang tak sabar ingin ia temui malah tidak ada. Kemana gadis itu sekarang? Apa di rumahnya, tapi kenapa? Dalam hati Adam terus bertanya-tanya.


*****


Orang yang di cari-cari ternyata sedang sakit di rumahnya. Terlalu banyak pikiran hingga membuat kepalanya terasa pusing, di tambah lagi sang papah memang melarangnya untuk pergi kemana-mana bahkan ke kampus sebab itulah Yura menjadi tidak enak badan akibat banyak pikiran.


"Minum obat dulu ya Nak!" ujar sang mamah penuh perhatian.


"Makasih ya Mah." Yura sangat bersyukur, setidaknya sang mamah masih baik dan selalu percaya padanya. Mamah tidak pernah membeda-bedakan antara dirinya dan Yuri. Karena bagi mamah mereka berdua adalah anak kandungnya yang lahir dari rahimnya.

__ADS_1


Walau sebenarnya Andin tidak mengerti mengapa Yuri bersikap egois seperti itu terhadap Yura. Padahal sewaktu kecil mereka sangat akur dan saling menyayangi satu sama lain.


****


Di kampus, Adam menelepon Sherly untuk menanyakan di mana keberadaan Yura. Karena ia tahu jika Sherly bersahabat dengan Yura..


"Kamu lagi sama Yura, Ly?" tanya Adam.


"Nggak, nie aja gue lagi nyariin di kampus. Tapi anaknya gak masuk kuliah hari ini. Mana di telpon nomor gak aktif lagi," jawab Sherly.


Adam mendesah kecewa


" Kamu tau di mana rumahnya Yura?"


Adam bertekad ingin menghampiri rumah Yura, karena tak ada lagi cara lain selain radang ke rumahnya.


"Lo yakin mau ke sana?" tanya Sherly.


"Iya Ly, aku penasaran banget. Pengen memastikan aja gitu, tapi aku yakin sih kalau dia lah orangnya, karena kalau nggak? Mana mungkin sapu tangannya bisa ada sama aku kan?" ujar Adam sangat yakin. Sherly manggut-manggut mengerti.


"Gimana kalau besok aja kita ke rumahnya. besok kan libur! Nanti aku ajak Dara juga biar papahnya gak marah kalau cuma kamu aja yang datang, kita kan udah biasa ke sana," saran Sherly.


"Kenapa gak sekarang aja sih?" Adam malah gak sabaran ingin segera bertemu dengan Yura.


"Hari sudah mau sore Adam. Bapaknya tu beda dari manusia lainnya. Ngertiin dikit lah, gak gampang tau gak bisa bertemu sama Yura kalau di rumahnya itu. Apalagi kala ada nenek lampir satu itu, bikin darah tinggi tau gak," ujar Sherly. Adam mengerutkan keningnya bingung.


"Nenek lampir! Siapa itu?"


"Itulah siapa lagi kalau bukan Yuri, kembarannya Yura. Satu dara tapi kok kayak saudara tiri, aneh banget," ucapnya sebel jika mengingat perilaku Yuri.


"Sudah jangan terlalu gak suka sama orang. Ingat, kamu itu lagi hamil. Nanti anakmu mirip dia gimana? Emangnya kamu mau," ucap Adam.


"Ih amit-amit jabang bayi, jangan sampai ya Allah."


Adam tertawa kecil." Ya udah kabarin aja besok ya, jangan lupa loh."


"Iye, eh kalau pulang gue nebeng dong," ujar Sherly manja.


"Hem."


Setelah jam kuliah berakhir. Sesaat Sherly hendak menaiki mobil Adam. Ternyata mobil sang suami tiba di depan kampus. Lelaki itu menjemput istrinya, padahal di telpon bilang jika ia tidak bisa menjemput karena ada meeting di luar kantor.


"Katanya om Alex gak jemput?" tanya Adam.


"Entahlah," jawab Sherly.


Alex tersenyum menatap keduanya.


"Katanya gak bisa jemput?" tanya Sherly sembari memukul lengan suaminya pelan.


"Hehehe, gak tenang aku. Makanya langsung jemput setelah meeting. Untungnya cepet tadi karena klien lagi ada urusan mendadak," jelas Alex sembari merangkul pinggang istrinya.


"Ya udah pulang yuk." Alex membukakan pintu mobil lalu membiarkan Sherly masuk lebih dulu.


"Thanks, bro." Alex melambai tangan pada Adam. Dan Adam membalas anggukan.


"Mamah kita udah pada pulang belum ya di rumah?" gumam Sherly.


Alex tersenyum yang mendengar gumaman istrinya." Kamu pasti kaget ya dengan perilaku Mamah yang sangat heboh?" tanya Alex. Sherly mengangguk pelan.


"Ya begitulah Mamah. Dulu aja waktu kak Sinta hamil, prilakunya sama seperti ke kamu. Bahkan kak Sinta selalu bersembunyi di rumah orangtuanya gara-gara gak ma ketemu sama mamah. Di kasih makan terus," cerita Alex. Sinta adalah mamahnya Devan.


"Waduh, kalau begitu mah bisa-bisa nie perut buncit bukan karena ada dedek di dalamnya


Tapi gara-gara kekenyangan akibat mamah suka kasih makan," ucap Sherly sembari mengelus perutnya membayang jika mertuanya selalu memberinya makan sayur-sayuran.


Alex pun terkekeh. Sesampai di apartemen Sherly dan Alex membuka pintu. Dan ternyata kedua mamah mereka sudah tidak ada lagi di sana membuat Sherly lega.


"Ana." Panggil Sherly.


"Ana siapa?" tanya Alex kebingungan.


"Itu loh Mas, ART baru kita," jawab Sherly. Alex mengangguk lalu ia menuju dapur untuk mencuci tangan terlebih dulu.


Sesaat di dapur ia berpapasan dengan Ana.


"Kamu siapa?" tanya Alex dingin.


Ana yang melihat Alex langsung ketakutan. Apalagi wajahnya sangat sangat serta dingin seolah ingin memakannya hidup-hidup.


"Sayang, sayang sini dulu deh," panggil Alex. Sherly pun langsung menghampiri.


"Kenapa Mas?" Mata Sherly tertuju pada Ana.


"Oh kamu di sini. Aku cariin kamu loh tadi," ucap Sherly.


"Ma-maaf Bu. Saya tidak dengar," ucapnya gugup dengan wajah tertunduk.


"Kamu yakin dia dari yayasan bunda kasih?" tanya Alex.


"Iya, emangnya kenapa Mas?"


"Aku udah minta orang yang kerja itu umurnya di atas 40 tahun loh. Bukan yang masih muda kayak gini. Kalau tau gitu mending cari aja tempat lain, ini penipuan namanya," kesal Alex. Sherly mengerutkan keningnya tak tau apa-apa.


"Tapi kamu gak ngomong apa-apa sam aku kan? Ya aku mana tau kalau kamu mintanya wanita sudah berumur bukan yang masih muda. Lalu sekarang gimana? Apa kita pulangin aja dia?" tanya Sherly.


Ana yang mendengar langsung menggeleng dan berlutut di hadapan keduanya.


"Saya mohon Pak, Bu. Tolong jangan pecat saya. Saya benar-benar butuh pekerjaan," ucapnya memohon dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


__ADS_2