Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Season 2, calon buah hati


__ADS_3

Alex menunggu Sherly yang sedang di periksa oleh Angga. Rasa cemas sangat menyelimuti dirinya berharap sang istri tidak kenapa-kenapa.


"Halo, Alex kamu di mana?" tanya Bagas menelpon Alex karena tidak ada di kantor.


"Di rumah sakit Pah," jawab Alex lirih.


"Apa? Di rumah sakit! Kok bisa? kamu gimana sih jadi suami? Istri sampai sakit begitu, kamu apaain menantu ku itu, hah?" Bagas menyodorkan beberapa pernyataan dengan nada tinggi.


"Manusia sakit wajar, itu tandanya Allah masih sayang. Kirim doa kek, biar Lily cepet sembuh, bukan malah ngomel aje," sahut Alex ketus membuat Bagas ingin menbejek anaknya itu.


'Uh dasar tua bangka, awas kalau sampai menantu ku itu kenapa-napa. Tak sate kamu," ujarnya mengancam lalu mematikan sambungan telponnya.


Alex hanya menghela nafasnya berat. Sesungguhnya ia juga sangat cemas.


Angga membuka pintu ruangannya. Dengan cepat Alex bangkit lalu menghampiri Angga.


"Pah, bagaimana keadaan Lily?" tanya Alex tak sabaran.


"Sus, tolong kamu panggilkan dokter kandungan," perintah Angga pada salah satu Suter yang kebetulan lewat.


"Baik Dok."


Alex menyipitkan matanya.


"Untuk apa dokter kandungan Pah?" pertanyaan bodoh dari Alex membuat Angga ingin memakan hidup-hidup menantunya itu.


"Emang dokter kandungan fungsinya untuk apa?" tanya balik Angga.


"Buat memeriksa orang hamil," jawab Alex." Tapi siapa yang hamil?"


Angga langsung menoyor kepala Alex sangking kesalnya. Emang siapa lagi kalau buka Sherly. Gak mungkin dirinya sendiri kan?


"Lo kelewatan pintar. Makanya otak jadi sableng begitu," sinis Angga tak menjawab pertanyaan Alex. Lebih baik ia kembali masuk ke ruangan melihat anaknya.


Alex yang kebingungan mengikuti Angga masuk. Matanya melirik arah snag istri. Otaknya yang Lola kini mulai loading. Dan mulai mencerna perkataan Angga.


"Jadi, istri Alex hamil Pah!" seru Alex dengan expresi terkejut sambil memegang kedua bahu Angga.


"Dasar dodol. Emang di ruangan ini lo pikir ada siapa selain Lily," jawab Angga sinis.


Alex menoleh arah istr8yang kini sedang memaksakan senyum lembut padanya dengan bibir yang sangat nampak pucat.


"Sayang, jadi kamu benaran hamil?" tanya Alex senang. Ia genggam tangan istrinya erat lalu mengecupnya berkali-kali.


"Belum yakin. Tapi semoga saja perkiraan ku benar," sahut Angga. Alex manggut-manggut sangat berharap jika malaikat kecil itu benaran hadir di rahim Sherly.


Sosok anak yang sangat di harapkan bagi orang tua yang apalagi baru membangun rumah tangga sejahtera. Akan sangat lebih bahagia lagi dengan adanya kehadiran anggota baru di kehidupan mereka.


"Amin Ya Allah, semoga ya sayang. Semoga malaikat kecil kita hadir di sini," ucap Alex mengelus perut rata Sherly lembut.


"Semoga kamu benaran ada ya sayang. Papah dan Mamah sangat menanti kehadiran mu," bisik Alex pada perut sang istri.


Sherly meneteskan air matanya bahagia. Tapi rasa takut juga menyelimuti. Bagiamana jika dirinya tidak hamil, dan itu hanya perkiraan Angga saja. Masih belum tau apakah benar-benar ada tau hanya harapan palsu saja.


Pintu di ketuk. Dengan cepat Angga membuka pintunya. Dan ternyata yang datang adalah seorang dokter laki-laki yang di panggil oh suster atas perintah Angga tadi yang sudah tiba.


"Selamat siang Dokter Angga," sapanya ramah.


"Selamat siang Dokter Bayu. Maaf sudah merepotkan Anda," jawab Angga sambil berjabat tangan dengan dokter Bayu selaku dokter kandungan.

__ADS_1


"Apa ini anak dan menantu mu?" tanya Bayu melirik Alex dan Sherly.


"Iya ... tolong periksa anak saya. Saya takut jika perkiraan saya salah, anda pasti jauh lebih tau di bandingkan dengan saya," ucap Angga.


"Anda terlalu merendah. Anda adalah dokter yang hebat. Saya yakin perkiraan anda tidak akan salah, untuk memastikan saya akan periksa."


Angga mengangguk, Alex bangkit dari tidurnya dan membiarkan sang dokter memeriksa istrinya. Dalam hati berdoa semoga Allah benar-benar menitipkan kepercayaan malaikat kecil di dalam rahim istrinya.


"Selamat ya Bu, usia kandungan anda sudah jalan 2 minggu," ucap Bayu setelah memeriksa perut Sherly.


"Be-benarkah Dok? Jadi aku hamil?" tanya Sherly rasa tak percaya jika dirinya tengah mengandung.


"Iya, saya akan memberikan vitamin dan obat mual," ucap Bayu sangat yakin.


Angga tersenyum senang. Momen seperti ini ia jadi ingat ketika Sera hamil Sherly dulu. Diam-diam ia menyeka air matanya yang sudah menetes bahagia. Anak yang ia besarkan dari bayi hingga sekarang kini sudah mau menjadi seorang ibu. Sungguh sangat bahagia hidup ini.


Sedangkan Alex hanya bengong. Apa benar pendengarannya tidak salah. Ia akan menjadi seorang ayah. Sungguh sangat tidak bisa di percaya.


"Aku mau menjadi ayah?" ucap Alex tiba-tiba.


"Et dah nie bocah ... iye. Selamat bro, akhirnya tidak sia-sia gue jadi guru lo selama ini. Dan hasilnya sangat memuaskan, hebat-hebat. Menantu idam lah pokoknya," ucap Angga sembari menepuk-nepuk pundak Alex.


Alex tersenyum bangga. Ia mendekat arah Sherly. Dengan tangan yang gemetar ia mengusap perut rata itu yang di dalamnya ada mahluk hidup ciptaan Allah yang berasal dari sel miliknya.


Tanpa sadar Alex meneteskan air mata, perasaan sangat senang. Hati mana yang tak senang jika sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Kemudian suara isakkan mulai terdengar, lelaki itu yang awal mulanya hanya meneteskan air mata sedikit, dan lama-lama malah menjadi bukti.


Alex menangis bahagia, bahagia tang tiada duanya selama hidupnya ini. Rasa haru, sedih, senang. Tak tau lagi bagiamana harus mengungkapkan.


"Terima kasih sayang, terima kasih karena sudah memberikan kehidupan yang sangat indah. Kehidupan yang awalnya suram, dengan adanya dirimu kini mulai Cera. Dan sekarang semakin Cera bahkan berwarna dengan di tambah anak kita, terima kasih karena sudah mau mengandung anakku."


Alex tak ada henti-hentinya berterima kasih pada Sherly. Mengandung bukanlah hal yang mudah, bahkan para wanita merelakan tubuhnya yang langsing menjadi melar, merelakan perutnya yang rata menjadi buncit. Dan rela menahan rasa sakit ketika melahirkan hingga rela mati demi sang anak. Alex sangat menghormati ibunya yang sudah melahirkan, dan kini ada wanita kedua yang ia harus hormati. Ya itu ibu dari anak-anaknya.


Alex mengangguk." Kita akan sama-sama belajar untuk menjadi orang yang baik, kita sama-sama merawat dan membesarnya sampai mereka dewasa sampai usia kita menjadi tua bahkan sampai salah satu kita menutup mata," balas Alex.


Kini Sherly yang mengangguk. Ia kecup tangan Alex lama. Dan Alex membalasnya dengan kecupan di kening, kedua pipi lau di bibir. Tak peduli ada orang di sekitar.


"Ck, dasar bocah," gumam Angga. Jiwa iri nya meronta-ronta.


Dan ternyata ada seseorang yang sedari tadi berdiri di ambang pintu. Kini orang itu sudah sudah banjir dengan air mata yang berlinang.


"Huuuaaa, aku sedih bro," ucapnya mewek sambil memeluk Angga.


"Nie orang kenapa?" bingung Angga.


"Gue sedih," ucapannya sambil mengelap ingusnya di baju Angga.


Angga langsung mendorongnya, menoyor kepalanya kesal.


"Setan iblis sialan. Jorok lo peak!" teriak Angga kesal. Pada sohibnya, siapa lagi kalau bukan Bobby.


"Gue lagi sedih lo malah omelin gue. Jahat lo," rajuknya cemberut. Angga memutar bola matanya malas. Kenapa juga setiap hari harus bertemu dengan mertua sekaligus sahabatnya itu. Sangat membosankan, tapi bila jauh anehnya rindu. Seolah di pikat layaknya bulu perindu.


"Sedih kenape?" tanya Angga malas.


"Ya sedih aja, sekarang usia kita berarti sudah tua," ucapnya.


"CK, baru sadar lo kalau sudah tua," jawab Angga cepet. Bobby pun memanyunkan bibir sebel. Lebih baik ia menghampiri cucunya dari pada berdebat dengan menantunya itu.


"Selamat ya sayang. Opah seneng banget, akhirnya opah akan menjadi opah buyut," ucap Bobby sambil mengusap pucuk kepala Sherly.

__ADS_1


"Bukannya lo, memang udah jadi kakek buyut dari anak gue," sahut Angga.


"Diem lo, ngerusak suasana orang lagi sedih aje. Momen mau nangis nie, ilang dah gara-gara elu," sinis Bobby sewot. Angga pun kembali menoyor kepala mertuanya itu. Dosa-dosa dah, gemes banget sih. Untung cuma dia yang berani sama mertua, coba kalau menantu lainnya. Mana berani seperti itu, yang ada ciut duluan.


"Permisi." Dokter Bayu kembali masuk ke ruangan seraya membawa kantong plastik berisi vitamin dan obat mual.


"Makan yang banyak ya Bu, banyakin minum air putih. Dan hati-hati karena janin Ibu masih lemah, tapi saya sudah memberikan obat menguatkan janin. Tetapi tetap saja Ibu harus berhati-hati, dan jangan sampai kecepatan." Dokter memberikan nasehat yang harus di lakukan dan mana yang tidak boleh di lakukan pada Sherly maupun Alex.


"Iya Dok, terima kasih." Alex menjabat tangan dokter Bayu.


"Kalau begitu saya permisi dulu. Mari Dokter Angga, Dokter Bobby. Dan selamat untuk kalian ya atas calon cucunya," ucap Bayu pada rekan kerjanya sesama dokter.


"Terima kasih banyak."


******


Sherly sudah kembali pulang ke apartemennya dengan Alex yang menemani. Alex tidak kembali ke kantor, mana mungkin ia berani meninggalkan sang istri yang masih sakit dan mabok berat.


"Sayang, gimana kalau kita tinggal di rumah papah Bagas aja," saran Alex supaya istrinya tidak sendirian selama ia bekerja.


"Nggak ah, mana betah aku Mas," tolak Sherly.


"Kalau pergi ke rumah papah Angga?" tanya Alex lagi.


"Nggak mau ah, aku maunya di sini aja loh. Lebih bebas dan lebih nyaman," ucap Sherly dengan nada manja.


Sekarang ia sudah tidak nyaman dan betah lagi tinggal di rumah kedua orangtuanya seperti dulu. Entah karena sudah terbiasa atau tidak merasa bebas dan leluasa saat bersama dengan suami.


"Tapi aku khawatir kalau kamu sendirian di sini. Kalau ada apa-apa gimana?" cemas Alex.


"Aku nggak akan kenapa-napa kok, aku akan hati-hati. Aku benaran gak betah kalau lama-lama tinggal di sana. Please ...." Sherly memohon untuk tetep tinggal di apartemen ini. Ia akan berhati-hati supaya dirinya dan kandungannya tidak kenapa-kenapa agar suaminya tidak terlalu cemas.


"Tapi harus janji untuk selalu memberi aku kabar, dan mulai besok akan ada ART yang akan bekerja di sini untuk menemani kamu dan mengerjakan semua pekerjaan rumah ini. Kamu harus banyak istirahat," ucap Alex tegas.


"Tapi masak boleh kan?" tanya Sherly.


"Nggak boleh, ingat kamu harus banyak istirahat dan gak boleh sampai kecapean," jawab Alex kembali tegas membuat Sherly cemberut.


"Tapi aku bosan pasti Mas, masa masak buat suami sendiri gak boleh. Dan yang membuatkan kamu makan adalah wanita lain," cemberut Sherly tidak suka jika suaminya memakan masakan wanita yang bukan dari anggota keluarganya.


Alex menghela nafasnya panjang." Baiklah kalau masak aku kasih izin, tapi khusus untuk pagi aja. Kalau malam aku bisa masak sendiri," ucap Alex dan membuat Sherly senang.


"Makasih sayang, kamu memang suami dan calon ayah yang paling baik sedunia."


Alex berbunga-bunga hatinya. Calon ayah. Ah, rasanya jadi tidak sabar ingin segera cepat-cepat bertemu dengan si buah hati. Pasti suana apartemen ini berubah menjadi ramai dari tangisan bayi. Pulang kerja terasa lelah akan hilang setelah melihat anak istri di rumah yang akan selalu menjadi penyemangat.


"Sehat-sehat selalu ya Mamah, begitu juga dengan dedek di dalam perut. Jangan nakal ya, jangan bikin Mamah sakit dan muntah-muntah terus. Kami sangat menyayangi mu, cepatlah tumbuh besar supaya kita segera bertemu," ujar Alex memeluk lembut perut Sherly menyandarkan kepalanya di perut yang masih rata itu berharap sang calon buah hati dapat mendengar ucapannya.


"Ia Papah. Papah juga harus sehat terus, dan kerja jangan sampai kecepatan. Nanti sakit, dedek pasti sedih," sahut Sherly yang menirukan suara anak kecil sembari mengelus kepala Alex.


"Papah gak akan sakit, Papah kan kuat," sahut Alex. Lalu mengecup perut itu berkali-kali.


Sherly tertawa cekikikan merasa geli karena Alex mengecupnya dengan baju di angkat hingga bulu-bulu halus yang ada di dagunya mengenai kulitnya.


"Geli Mas," ucap Sherly yang cekikikan. Alex malah jahil, ia semakin menempelkan jenggot halunya pada kulit di perut Sherly.


"Udah oke. Aku mau pipis nie gara-gara ketewa terus," teriak Sherly. Alex pun menghentikan candaannya.


"Jangan ngompol di celana kamu ya, bau hancing," canda Alex. Sherly cemberut. Ini semua gara-gara siapa? Untungnya benaran gak pipis di celana.

__ADS_1


Kebahagiaan kian menyelimuti keluarga kecil itu dengan kehadiran si calon buah hati. Keluarga besar juga ikut merasakan kebahagiaan yang sama yang telah mengetahui kabar bahagia tersebut. Terutama pada Sera yang sebentar lagi akan menjadi seorang nenek yang sesungguhnya.


__ADS_2