
"Devan mana?" tanya Alex ingin tahu.
Sherly nampak diam, bahkan terlihat kesedihan di wajah cantiknya. Alex menatapnya intens.
"Kamu habis nangis? Kenapa?" tanya Alex kembali.
Sherly tertunduk diam, lama kelamaan suara Isak tangis pun terdengar membuat Alex panik seketika.
"Sher, ada apa? Kenapa kamu menangis, kamu boleh kok cerita sama aku." Alex mendekatkan kursinya supaya dapat menyentuh bahu Sherly dan mengelusnya pelan agar gadis itu sedikit tenang.
"Sher, apa kamu ada masalah sama Devan?" tanya Alex lagi, menebak.
"Om ...." Sherly hendak bercerita, namun nampak ragu.
"Tidak apa jika kamu gak mau cerita. Tapi jangan menangis ya," ujar Alex lembut, entah keberanian dari mana tangannya menghapus air mata yang mengalir deras di pipi Sherly.
Hatinya seakan teriris mendengar suara tangis Sherly. Ingin ia meraih tubuh mungil itu dan memeluknya.
"Devan ... Devan jahat sama aku Om. Aku gak tau apa kesalahan aku sehingga dia tega mempermainkan perasaanku." cerita Sherly sambil terisak.
Entah mengapa ia ingin memberi tahu tentang masalahnya pada Alex, padahal ia tidak mengenal lelaki di hadapannya ini. Namun sentuhan tangan Alex membuat hatinya sedikit tenang. Apa lagi melihat raut wajah kepeduliannya yang nampak tulus.
Alex nampak terkejut, Devan menyakiti kekasihnya? Alex menggeleng tak percaya.
"Apa yang sudah di lakukan sama kamu?" tanya Alex penasaran, rasa tak percaya jika keponakannya itu tega menyakiti Sherly, gadis cantik di hadapannya.
Flashback sebelum datang ke restoran.
Saat di kampus, Sherly sibuk mencari kekasihnya. Ia sudah beberapa hari tidak bertemu setelah pertemuan di rumah neneknya Devan. Walau satu kampus namun jurusan mereka berbeda.
Gadis itu terus mencari bahkan menelpon namun nomor tujuan sedang di luar jangkauan.
"Kemana kamu Van? Beberapa hari ini sulit banget menghubungi kamu," gumam Sherly mendesah.
"Kak, maaf mau tanya. Apa.ada liat Devan?" tanya Sherly pada seniornya.
__ADS_1
"Ada liat sih tadi," ucapnya sambil mengingat.
" Bernerkah, di mana kak?" tanya Sherly tak sabaran.
" Coba cari di perpus, kayaknya di sana deh sama teman-teman nya," ucap senior itu mengingat Devan berada di perpus saat ia tak sengaja melihatnya tadi.
" Perpus? Tumben banget ... eh, makasih ya kak info nya."
"Yo," jawabannya singkat.
Sherly langsung berlari kecil menuju perpus, tak sabar ingin segera bertemu dengan kekasihnya itu. Beberapa hari tidak bertemu membuat hatinya rindu.
"Tapi kok tumben amat dia ke perpus? Ada angin apa ya," gumam Sherly tersenyum kecil sambil terus berjalan.
"Eh, katanya di perpus. Tau nya di sana." Matanya tak sengaja melihat sosok kekasihnya sedang duduk berkumpul bersama 5 sahabatnya di kolidor tak jauh dari perpustakaan.
Dengan senyum lebar Sherly hendak menghampiri, namun sesaat langkahnya terhenti dan senyum lebarnya seketika hilang mendengar lontaran Devan pada salah satu sahabatnya di sana.
" Do, mana motor gue. Ah elo ingkar janji nie. Gue udah pacaran kurang lebih 6 bulan sama Sherly, tapi motor gue belum juga Lo kasih-kasih," ucap Devan kepada Aldo.
"Hey, emang dalam taruhan ada? Bukanya Lo bilang jika di antara kita bertiga bisa mendapatkan Sherly Lo kasih motor?"
Aldo tertawa, begitu juga dengan kawan-kawannya yang lain.
" Ah elo, ganteng-ganteng tapi bodoh. Maksud gue mendapatkan dia itu bukan hanya sekedar pacaran bro. Tapi tidur sama dia, mendapatkan perawan nya, ah bego lo," ucap Aldo meremehkan.
"Lo yang ngomong gak jelas, sialan. Gue pikir cuma mendapatkan dia hanya pacaran aja, mana tau kalau harus tidur juga sama dia," komentar Devan kesal.
"Lo berdua paham gak maksud dari perkataan gue saat taruhan?" tanya Aldo pada kedua temannya yang ikut dalam taruhan. Keduanya mengangguk, Devan pun langsung mengacak rambutnya prustasi.
Aldo mengadakan taruhan kepada ke-tiga sahabat nya dan salah satunya Devan. Barang siapa di antara ke-tiga sahabat nya itu bisa mendapatkan Sherly, gadis terkenal cantik di kampus ini akan di kasih motor olehnya. Sherly bukan hanya terkenal cantik, namun terkenal juga jika tak ada satu laki-laki yang mampu mendekatinya, sebab itulah Aldo penasaran. Apalagi ia tahu jika ke-tiga sahabat itu adalah idola di kampus ini bagi kaum Kawa. Terutama Devan.
Dan keduanya sahabat gagal mendapatkan Sherly, namun tidak pada Devan yang tak putus asa yang terus menerus mendekati Sherly hingga akhirnya di terima menjadi kekasihnya.
"Kenapa kamu Van? Bukanya kalian udah pacaran, seharusnya udah melakukan lebih bukan?" tanya seorang wanita duduk di sebelah Devan.
__ADS_1
"Itu dia masalahnya, agak susah meminta itu sama dia. Jangankan melakukan itu, di cium gak nyampe 10 detik aja udah gak mau lagi, Kalau begini gue gak bakal bisa dapatin motor itu," cerita Devan menggebu dan membuat ke-lima temannya tertawa.
" Kok bisa? Lo nya aja kali yang gak pinter merayu?" tanya Aldo.
"Tauk, biasanya sama cewek-cewek lain belum pacaran sehari udah mencetak gol aja. Lah ini pacaran udah 6 bulan tapi belum melakukan apa-apa, masa kalah sama cewek bro," timpal teman satunya.
"Gue udah capek hati buat merayu dia, segala cara udah gue lakuin. Bahkan gombalan maut gue aja di tolak sama dia. Sampe bosen tau gak, dia sama kayak om gue, payah, kaku pokoknya gak asik banget lah," ucap Devan dan di iringi tawa dari teman-temannya.
Sherly yang mendengar itupun langsung lemas tubuhnya, ia terduduk di lantai sambil menangis pelan menahan suaranya. Sakit, itulah yang di rasakan nya saat ini. Ia tidak menyangka jika Devan mendekati dirinya hanya karena sebuah motor. Padahal hatinya sangat mempercayai Devan jika lelaki itu baik dan tulus padanya.
"Berati Lo gak cinta dong sama dia?"
" Cinta sih cinta, tapi bosan bro. Pacaran sama dia gitu-gitu aja, di cium aja sering nolak, peluk begini juga gak mau. Siapa coba yang mau, mendin temanan aja kan," ucap Devan.
"Temanan aja mau tuh di peluk- peluk," sahut temannya melihat Devan memeluk Imel. Mereka pun tertawa.
Sherly bangkit, ia tak sanggup lagi mendengar ucapan yang sangat menyakitkan itu. Ia menyerat kakinya berat meninggalkan kampus. Hatinya bak di sambar petir mengetahui fakta bahwa dirinya hanyalah barang taruhan Devan demi sebuah motor. Walau dirinya tidak rugi karena tidak melakukan apa-apa selama pacaran. Namun hatinya tetep sakit karena cintanya tulus pada lelaki itu.
Flashback of.
Alex mengepalkan tangannya mendengar cerita Sherly. Rahangnya mengeras menahan amarah pada keponakannya itu yang sudah sangat keterlaluan.
"Om ...." panggil Sherly pelan dengan suara serak. Alex menarik nafasnya untuk meredakan amarahnya yang sudah mendidih.
"Iya."
Sherly menatap wajah Alex lekat, namun sorotan matanya kosong.
"Ayo kita menikah."
"Apa?'
*****
Alhamdulillah berkat doa kalian semua aku udah dapat hp lagiπ€, insyaallah akan up dan secepatnya liris cerita Nadira dan Vindra.
__ADS_1
Terima kasih semuanya, love you. Dan selamat menunaikan ibadah puasa πππ