Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
episode 79


__ADS_3

Satu minggu kemudian, Sera dan Angga sedang bermasalah malasan di atas kasur. Malam minggu yang cerah, besok hari libur membuat mereka tak ingin melakukan apapun selain berdua di dalam kamar, apa lagi selain kelonan. Dan sudah pasti semua itu adalah permintaan Angga. Dan Sera tak dapat menolaknya.


"Sayang aku mau mandi, kamu mau ikut? "tawar Angga menggoda, memeluk istrinya dari belakang.


" Nggak ah, males nanti lama. "tolak Sera.


" Yaaah, kok gitu? kan udah lama loh aku puasa! "cemberut Angga dengan raut wajah sedih.


Sera menghela," mandilah, aku tunggu kamu di kasur ya... "ucap Sera pelan dengan wajah tersipu malu, seolah mengisyaratkan.


Wajah yang sedih itu kini menjadi ceria ia bersemangat kembali dengan senyuman di wajahnya.


" Oke sayang ku... muach! "


Angga berlari kecil menuju kamar mandi, Sera menggeleng melihat kelakuan suaminya itu. Tak lama Angga masuk kedalam kamar mandi, handphone Sera berbunyi, ada panggilan masuk dengan nomor tak di kenal.


" Siapa ya? "gumamnya melihat layar ponselnya yang masih berdering.


" Halo! "jawab Sera kemudian.


" Halo, Sera ya? "tanya seseorang di seberang sana dengan girang.


" Iya, tapi ini siapa? "


" Aku Nadira, ingat! "ucap Nadira, ia baru ada waktu untuk menelpon sahabatnya itu.


" Nadira? "Sera mengingat nama itu," oh astaga, Nadira... Ya Allah, kamu apa kabar? "Sera baru ingat degan sahabat lamanya yang sudah hilang kontak.


" Hehehehe, alhamdulillah baik. Seneng banget akhirnya aku bisa dapet nomor kamu lagi, udah lama loh kita gak kontak. "


Sera senang, sejujurnya ia juga sudah lama mencari keberadaan sahabatnya itu. Namun tak kunjung dapat.


" Hiks, aku senang kamu menghubungi aku lagi. Aku pikir kamu udah lupa sama aku! "ucap sera menangis bahagia.


" Dasar cengeng, nanti kirim alamat kamu ya. Kapan -kapan aku main deh ke rumah kamu. Aku kangen banget tauk! "


Sera mengangguk, ia mengusap air matanya," janji ya, harus loh main ke sini. Banyak banget yang ingin aku ceritain sama kamu tentang... "


Sera menghentikan ucapannya.


" Tentang suami kamu? "tebak Nadira, ia terkekeh kecil di sana.


" Eh, kok kamu tau?... tunggu -tunggu, kamu dapet nomor aku dari mana? "


Nadira menjadi tertawa, ia dapat membayangkan wajah kebingungan Sera sekarang.


" Dari Leo, dan aku juga tau kalau kamu sudah menikah dan bukan sama Leo. "


Sera tersentak, bagaimana bisa sahabatnya yang sudah lama menghilang itu bertemu dengan Leo, mantan kekasihnya serta anak tirinya.


" Cie... yang udah nikah! "lanjut Nadira ngeledek.


" Ih apaan sih, "wajah Sera marona," pokoknya sekarang kamu harus jelasin, gimana kalian bisa ketemu padahal belum saling kenal, iya kan? "sambung nya penasaran tentang pertemuan Nadira dan Leo.

__ADS_1


" Ih, kepo deh.. "


" Ayolah Nad, jangan bikin aku mati penasaran nie. "Sera tak sabaran, sampai -sampai tak mempedulikan lagi seseorang di sampingnya sedang menguping yang masih memakai handuk di pinggang nya.


" Sayang... "bisik Angga.


" Sstttt! "Sera meletakan jari telunjuknya di bibir mengisyaratkan Angga diam.


Angga sebel, lalu ia merajuk dan duduk di kasur dengan wajah sewot sambil melipatkan kedua tangannya di dada sembari memperhatikan Sera yang lagi asik telponan.


Sera dengan serius mendengarkan cerita Nadira, ia tak menghiraukan suaminya yang merajuk. Lagi pula ia sudah lama tak telpon dengan sang sahabat, masa bodo dengan aura cemburu di sana.


"Iiis, sayang mah gitu. Aku di cuekin! "Angga menghentakkan kedua kakinya di lantai sebel, lagi-lagi Sera tak mempedulikan dirinya.


Karena kesal tak di hiraukan, Angga bangkit lalu ia mendekati Sera dan memeluknya dari belakang. Tangan Angga begitu nakal, ia masukkan kedalam kaos baju Sera dan meraba-raba di sana hingga berhenti di bukit kembar itu dan mulai meremasnya pelan.


"Mas, diam sih! "Sera melotot kan matanya kepada Angga.


Wajah Angga menatap melas sang istri.


" Nanti dulu, aku terima telepon dulu dari sahabat lama aku... sabar ya! "Sera mengecup lembut pipi Angga agar bersabar sebentar lagi.


Dan lelaki itu menghela pasrah, ia pun menarik kembali tangannya." Ya udah deh, tapi jangan lama ya. Aku mau bikin kopi dulu,"ujar Angga berisik, Sera mengangguk dan Angga bangkit lalu memakai bajunya dan keluar dari kamar meninggalkan Sera yang masih telponan.


Angga berjalan menuju dapur, ia membuat kopi agar tidak mengantuk nantinya saat bertempur dengan sang istri. Ia berniat membalas dendam atas puasanya selama seminggu lebih.


Saat Angga duduk di shopa yang sudah siap dengan secangkir kopinya. Tiba-tiba pintu terdengar suara ketukan. Angga bangkit untuk membukanya.


"Assalamualaikum!"


" Leo! "ujarnya menatap lekat anaknya.


" Slow pah, Leo gak akan merebut Sera kok. Ikhlas sudah! "ucap Leo santai.


" Terus ngapain kamu malam-malam begini ke rumah papah? "selidik Angga.


" Ayolah, emang ada undang-undangnya anak gak boleh berkunjung ke rumah orangtuanya! "jawab Leo terkekeh kecil, ia dapat melihat wajah ketakutan papahnya. Takut ia merebut Sera dari tangannya.


" Hanya itu, serius? "Angga masih tak percaya.


" Apa papah meragukan ku? "ucap Leo jujur, Angga menatap dalam tatapan mata anaknya. Tak ada kebohongan sama sekali di sana dan itu membuatnya lega.


" Tapi kenapa? tumben kamu main ke sini."Angga masih mengintrogasi anaknya.


Leo menghembuskan nafasnya, "apa aku boleh masuk? pegel nie dari tadi berdiri mulu!" sindir Leo.


"Oh, masuklah! "ajak Angga, dan leo masuk kedalam lalu ia langsung duduk di shopa bersandar di sana dengan suara helaan nafas terdengar berat.


" Leo bete di rumah, bingung mau pergi ke mana lagi. Biasanya Leo selalu pergi ke rumah teman, karena sekarang dia lagi berkencang, jadi Leo gak ada pilihan lain selain ke rumah papah. Gak ganggu 'kan? "


" Gak ganggu gundul mu. "batin Angga mendesah, bakalan lama nie tempurnya gara-gara kedatangan sang anak. Ah menyebalkan.


Angga juga ikutan duduk, ia meminum kopi yang ia buat tadi.

__ADS_1


" Ehem-ehem, udara panas ya tenggorokan kering. "Leo sedikit menyindir.


Namun Angga acuh pura-pura tidak dengar.


" Wuih, kopi enak nie. "Leo hendak meminum kopi Angga namun langsung di pukul tangannya.


" Bikin sendiri, enak aja main ambil minuman orang...,"ujar Angga pelit kepada anaknya dan menjauhkan gelas itu dari Leo.


"Yaelah, gak ada berubah -berubahnya. Masih aja pelit kayak dulu sama ank sendiri, ck. Leo jadi kasihan sama adikku nanti!"Leo bangkit lalu mencari dapur untuk membuat minuman untuk dirinya sendiri.


" Apa hubungannya? "gumam Angga lalu ia kembali menghirup kopi nya.


Setelah beberapa menit kemudian....


" Bosen pah, gak ada hal yang mengasikkan gitu? main PS misalnya! "ujar Leo merasa bosan.


Angga diam berpikir, sudah lama ia tak bermain dengan anaknya.


" Boleh juga, kebenaran papah punya yang baru dong. "Angga pamer dengan sombong.


" Widih, keren banget. Buat leo ya? "


" Enak aja, beli woy! "saut Angga ketus.


" Dasar pelit, "gerutu Leo mengerucutkan bibirnya.


Leo dan Angga asik main PS berdua, dan Sera penasaran kenapa suaminya gak masuk-masuk kedalam kamar. Padahal ia sudah lama mematikan sambungan telpon dari sahabatnya itu dan ia juga sudah bersiap-siap dengan pakaian baju tidur seksinya.


Sera keluar mencari suaminya, ia menarik alisnya mendengar suara ribut ribut di ruang tamu. Sera perlahan melangkah dan mengintip di balik tembok.


"Leo! "Sera tersentak mendapati anak tirinya ada di rumahnya. Meyakinkan lagi, ia melihat sekali lagi.


" Benaran itu Leo, mereka main PS bersama? tumben akur. "gumam Sera memperhatikan dari jauh di balik tembok yang hanya menyembulkan kepalanya saja.


" Emmmmm, biarlah. Aku tunggu aja di kamar, syukurlah kalau mereka akur, seperti Leo sudah benar-benar melupakan masa lalunya. "Sera tersenyum lalu masuk kembali kedalam kamar dan menunggu suaminya di sana.


Hampir jam tengah malam kemudian...


Angga begitu gembira, merasa puas karena dapat mengalahkan anaknya tadi. Leo sudah pulang dan Angga masuk kedalam kamarnya dengan raut wajah yang ceria sambil bersiul-siul saat membuka pintu.


Tiba-tiba aura menakutkan saat dirinya masuk kedalam kamar, wajah ceria nan gembira itu hilang dalam seketika. Ia menelan ludahnya merinding apa lagi mendapatkan tatapan horor yang begitu mematikan itu.


"S-sayang? belum tidur."Angga menyengir sambil garuk-garuk kepalanya.


"Masih inget sama bini? "


Gleeeeeek....


" S-sayang... alamak mati aku! "


" Keluar! tidur di kamar sebelah malam ini. "


Angga keluar dengan deraian air mata menangis bombay karena di usir dari kamarnya sendiri.

__ADS_1


" Ah nasib lo ndul, puasa lagi kita malam ini. Nasib... nasib! "


__ADS_2