
Pov Alex ....
Setelah lelah seharian akibat sibuknya bekerja. Akhirnya pulang juga. Namun pada saat di jalan aku melihat cafe yang lumayan ramai, aku pun tertarik ingin bersantai di sana. Lagipula rasa malas pulang ke rumah membuat ku tak ingin cepat-cepat kembali pulang. Malas bertemu mamah, papah. Pasti itu-itu lagi yang di tanyakan.
"Alex, kapan kamu akan menikah?"
Huh, rasanya ingin berteriak, menghilang dari muka bumi ini jika di tanya lagi untuk kesekian kalinya. Bukanya tidak ingin menikah, siapa juga yang mau menjomblo seumur hidup. Hanya saja selama ini aku masih belum menemukan wanita yang pas di hati, bukanya tidak ada yang mau denganku. Bukannya sombong sih, namun ada puluhan wanita yang mengantri menginginkan diriku.
Akan tetapi, justru seperti itu yang menyebabkan mengapa aku gak suka. Aku malah jijik dengan para wanita yang mengejar ku, bukan masalah tipe. Namun sikap dan perilaku mereka yang membuat aku engan untuk melihat.
Sesaat aku sedang memainkan handphone
Tiba-tiba pendengaran ku buyar akibat tawa girang dari arah meja di deretan depanku. Tawa yang membuat perhatianku ingin melihat. Dan benar saja, ada tiga gadis yang sedang asik mengobrol entah apa yang merdeka bicarakan sehingga bisa tertawa lepas seperti itu. Ku lihat ada beberapa buku di meja, aku yakin jika mereka adalah mahasiswi terlihat jelas dari usia mereka yang masih muda.
Sesaat pandangan ku mengarah pada satu gadis di antaranya. Melihat tawanya yang begitu tulus membuat aku ingin terus menatapnya. Sorotan mata yang tajam, namun tingkah yang menggemaskan saat ia bercerita dengan gaya bicaranya membuat darahku berdesir. Ada apa ini?
Aku terus memandang arahnya. Kulihat ia meminum minuman nya lalu berdiri. Aku menyerngit menatapnya.
"Gue ke toilet dulu ya, kebelet banget," ucapnya, sungguh suara yang begitu merdu.
"Ck, dasar beser," ejek kedua sahabat nya.
Entah dorongan apa yang membuat aku juga ikut berdiri lalu mengikutinya, seakan ada yang berbisik. Ah ... apa yang aku lakukan, kenapa aku mengikutinya? Aku sendiri bingung dengan diriku layaknya orang bodoh, aku melihat gadis itu berdiri di depan wastafel sebelum masuk ke wc. Dia melihat dirinya di cermin sambil merapihkan rambutnya yang panjang. Aku tepat berdiri di belakangnya sehingga dia dapat melihat diriku dari pantulan cermin. Dia kaget, aku ingin tertawa melihat wajahnya yang kaget, sungguh lucu ekspresi nya.
Dengan gugup dia tersenyum arahku dari pantulan cermin itu. Ah senyuman yang begitu indah membuat jantung berdetak. Dia melangkah masuk ke wc, begitu juga dengan ku.
" Apa yang aku lakukan di dalam sini?" Ku garuk kepalaku yang tak gatal, tak lama kemudian pintu wc di sebelahku terdengar seperti di buka. Aku yakin dia sudah selesai. Lalu bagaimana denganku? Apa aku juga keluar sekarang dan berkenalan dengannya? Ah sepertinya itu tidak mungkin, aku gak mau dia berpikir jika aku adalah om-om mesum yang sedang mencari sudar baby.
"Ais, daleman aku basah gimana nie? Tembus gak ya ke rok. Kan gak lucu nanti di kira aku pipi di celana. Pulang aja deh," ucapnya seperti bicara pada dirinya sendiri. Aku yang mendengarnya ingin tertawa. Bagaimana bisa dia menyatakan itu di depan toilet pria. Apa dia memang suka ceroboh seperti ini? Pikirku.
Sepertinya tak ada lagi suara di luar, aku pun keluar. Saat aku kembali di meja, ku lirik dia tidak duduk di kursinya, mungkin karena daleman nya yang basah pikirku.
"Pulang yuk, daleman gue basah nie. Gak nyaman banget," ucapnya pada kedua temannya yang sudah cekikikan. Aku juga menahan senyumku mendengarnya.
"Ih kalian ini, dah lah gue pulang duluan." Dia merajuk, sungguh menggemaskan melihatnya, ingin ku cubit rasanya pipinya itu.
Dia pergi, aku juga pergi. Padahal makanan yang aku pesan belum datang. Rasanya sudah tidak berselera lagi setelah melihat kepergiannya. Aku tidak tahu siapa dia, tinggal di mana dia. Aku berharap suatu saat nanti dapat kembali bertemu dengannya dan berkenalan dengannya. Ah aku ke geer'an banget, dia emangnya mau berkenalan denganku? Apalagi usia kami sangatlah jauh. Huuuuuf, berharap sama takdir sajalah.
******
Pov author.
__ADS_1
Setelah dari restoran, gadis itu turun dari mobil sahabatnya. ia melambaikan tangan sebelum masuk ke rumah.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, abis dari mana kamu?"
Gadis itu memutar bola matanya malas.
"Is Papah nie, habis dari kampus lah?" jawab gadis itu lalu menghempaskan tubuhnya ke shopa.
"Tapi telat 2 jam Lily?" ucap sang Papah, siapa lagi kalau bukan Angga.
"Hadew, Papah ini. Kenapa makin tua makin posesif banget sih Pah. Lagi pula Lily itu gak kemana-mana kok, hanya makan sama Yuna dan Dara," jelas Sherly malas.
"Hey, Papah belum tua lah. Hanya umur saja yang bertambah, namun jiwa tetap muda, gagah, ganteng pula tuh. Dan mamah kamu tergila-gila sama Papah," protesnya tak terima di bilang tua.
"Ck, tidak sadar diri," gumam Lily.
"Narsis mu itu Pah-Pah." Sherly geleng-geleng dengan papahnya.
"Tapi emang iya sih, walaupun Papah sudah tua, gendut, keriput, ubanan. Namun tetep gagah dan ganteng. Lily juga tergila-gila sama Papah, gak ada laki-laki lain yang bisa menandingi Papah."
"Tentu jelas dong, Papah gitu loh."
Keduanya sama-sama tertawa, Sherly terus bercerita tentang dirinya di kampus bahkan sampai di restoran tadi. Tak pernah ada yang terlewatkan. Gadis itu selalu menceritakan apa saja kesehariannya ke pada Angga tanpa malu.
"Oh iya, gimana kabar pacar kamu? Sudah lama dia gak main ke sini?" tanya Angga.
"Dia agak sibuk Pah, tapi besok dia mau ke sini kok. Katanya mau ngajak Lily pergi ke rumah nenek nya," jelas Sherly." boleh 'kan Pah?"
"Dia anak baik, asal gak macam-macam sama kamu Papah bakal kasih izin kok."
"Makasih Pah, Papah memang terbaik deh." Sherly semakin mempererat pelukannya di lengan Angga.
Setelah lama berbincang, Sherly pamit ke kamar karena lelah. Angga hanya mengangguk dan membiarkan anaknya pergi ke kamarnya.
"Hey, tuyul-tuyul kalian ngapain di kamar?" teriak Sherly mengetuk pintu kamar di sebelah kamarnya.
"Berisik," balas teriak dari dalam.
"Kalian ngapain sih? Tumben banget betah di dalam kamar?" heran Sherlly.
__ADS_1
Pintu kamar itu terbuka. Dua laki-laki remaja berusia 14 tahun itu keluar dari kamarnya menatap Sherly dengan tangan terlipat di dada.
"Kepo deh," ketusnya pada Sherly.
"Ck dasar bocah, jangan bilang kalau kalian lagi nonton film aneh-aneh," tuduh Sherly pada kedua adik kembarnya itu.
" Enak aja, Kakak jangan asal tuduh ya. Kita gak ngapa-ngapain kok," sahut Nico membela.
"Oh, benar kah? Gak percaya gue."
"Apaan sih? Sana masuk kamar sendiri aja deh. Kepo banget urusan laki-laki," usir Ricko ketus. Dan mendorong kakaknya hingga masuk ke kamar.
" Awas kalau kalian macem-macem, gue bakal aduin ke mamah," ancam Sherly.
" Dasar pengadu."
"Biarin, wek ...." Sherly menutup pintunya.
Nico dan Ricko adalah putra kembar Angga dan Sera. Tak lama saat Sherly meminta adik waktu berusia 5 tahun dulu. Tak lama kemudian Sera langsung di beri anugrah. Hamil kembali dan mendapatkan rezeki dengan bayi kembar berjenis kelamin laki-laki. Tentu saja Angga dan Sera sangat bersyukur kala itu.
Sherly merebahkan dirinya di kasur. Telponnya berdering ....
"Halo sayang, kamu udah pulang?" ucap Sherly girang saat kekasihnya menelpon.
"Hem, baru aja keluar dari kampus. Besok jadi kan temani aku ke rumah nenek?"
"Jadi dong, tadi aku juga udah kasih tau sama Papah, boleh katanya,' jawab Sherly.
"Baguslah, besok siap-siap ya sebelum jam 9 pagi. Aku jemput pokoknya kamu harus sudah siap. Nanti kayak dulu saat mau ke rumah aku. Aku datang kamu malah baru bangun tidur," ucapnya.
"Hehehe, iya-iya gak lagi kok. Janji deh!"
"Awas ya kalau boong. Nanti aku cium kamu sampai bibir kamu bengkak," ancamnya.
"Emangnya berani?" Sherly malah menantang.
"Ya elah malah nantangin nie bocah. Awas aja ya kalau ketemu, gak akan aku kasih ampun."
"Wek gak takut ...." Sherly langsung mematikan sambungan telponnya sepihak.
"Dasar, gemes banget sih?" ucapnya geleng-geleng dengan tingkah Sherly, namun semakin membuatnya cinta.
__ADS_1