
Setelah mengucapkan janji suci pernikahan. Alex dan Sherly pamit kembali ke hotel mereka. Takasi berterima kasih pada mereka sambil berjabat tangan.
"Terima kasih, aku akan memberikan kalian hadiah terindah untuk bulan madu kalian berada di Jepang ini yang tidak akan pernah kalian lupakan," ucap Takasi bersungguh-sungguh.
"Wah, tidak usah repot-repot loh Tuan Takesi. Saya sangat senang jika anda juga senang. Karena kita adalah teman," ujar Alex.
"Tidak apa, anggap saja itu hadiah bulan madu untuk kalian. Karena berkat mu, mungkin aku tidak akan menemukan Sizuka," ucap Takesi. Alex mengangguk sembari tersenyum.
"Baiklah jika anda memaksa, kapan hadiahnya, Tuan?" tanya Alex. Padahal tadi ia berkata tidak usah repot-repot, tapi kok nagih. Dasar Alex.
"Besok Sasuke akan menyiapkan semuanya. Tunggu saja kabar darinya," jawab Takesi. Kemudian ia mendekat ke telinga Alex dan berbisik.
"Cobalah melakukan sesuatu yang berbeda nantinya. Kau pasti akan berterima kasih padaku." Itulah yang di bisikkan oleh Takeshi.
Alex hanya diam membisu karena tidak mengerti apa maksud dari perkataan Takesi. Ia menjadi sangat penasaran dan menjadi tak sabaran ingin segera tahu kejutan seperti apa yang akan di kasih oleh rekan bisnis yang sudah menjadi temannya itu.
"Oh, baiklah kalau begitu. Kami pulang dulu, selamat bersenang-senang malam ini Tuan Takesi, selamat untuk mencetak gol," ucap Alex. Keduanya bergandengan tangan keluar dari gereja menuju hotel mereka.
Sasuke yang mendengar Alex akan mendapatkan hadiah. Ia cemberut pada tuannya.
"Tuan," panggil Sasuke dengan wajah yang cemberut menghampiri pengantin baru yang sedari tadi hanya berdiam-diaman saja itu.
"Apa!" jawab Takesi datar.
"Kenapa Tuan pilih kasih. Aku yang banyak berjasa di sini," ujar Sasuke merajuk. Takesi hanya menatapnya datar.
"Tuan! Apa aku gak di kasih hadiah juga," lanjut Sasuke merengek.
"Oh, mau hadiah juga. Kalau iri bilang bos, gak bisa banget orang dapat rezeki," ejek Takesi. Sasuke hanya mengerucutkan bibirnya sebel.
Takesi menghela napasnya panjang." Cuti satu hari besok," ucapnya terpaksa.
"Hah? Yang benar aja dong? Masa iya ngasih cuti cuma satu hari dalam 3 tahun," kesel Sasuke menggerutu. Tuannya itu sungguh terlena.
"Mau apa nggak?" kata Takesi seraya tanpa dosa. Mentang-mentang bos.
__ADS_1
"Iya deh, dari pada gak sama sekali," jawab Sasuke lesu.
"Sungguh teganya, teganya, teganya ... ooooh, pada diriku ...."
Takesi hanya menatapnya tertegun sambil menganga dengan kepala memiring.
********
Di dalam kamar hotel. Takasi curi-curi pandang pada istrinya yang sangat acuh dan cuek bebek. Baru kali ini ada wanita yang mengcuhkan dirinya yang seolah di anggap antara ada dan tiada.
"Ehem ...." Takesi berdehem.
"Ehem ... ehem." Kedua kalinya lelaki itu berdehem, bahkan sampai tenggorokannya berasa kering benaran. Namun, sang istri tetep acuh tak acuh dengan cuek bebeknya.
"kamu mau mandi?" tanya Takesi basa-basi sambil garuk-garuk kepalanya merasa canggung.
"Ntar," jawab Sizuka singkat. Ia masih sibuk membersihkan make'up nya.
"Mau makan atau minum? Atau mau istirahat? Tidur, mandi, nyantai, duduk, boker?" Entah apa-apa yang ia tanyakan supaya tidak boring dan canggung. Ia ingin mengobrol intinya.
"Kemarilah," ujar Sizuka.
Takesi yang di di panggil pun langsung senang.
"Oke sayangku," ucapnya dengan wajah sangat ceria. Dan berjalan cepat duduk di samping istri di shopa sambil memasang wajah yang super duper imut seperti anak kucing yang meminta di usap-usap.
"Kita sudah menjadi suami istri, bukan?" tanya Sizuka datar.
"Ya," jawab Takesi cepat.
"Kalau begitu kamu akan memberikan apapun yang aku mau kan? Seperti rumah mewah, mobil mewah, perhiasan, baju mahal?" tanya Sizuka.
Takesi menatapnya intens. Gak suka duit tapi suka barang mewah. Memang ya, wanita itu gak bisa di tebak. Pikir Takesi. Tapi ya sudahlah, tou sudah menjadi istri ini, duit suami adalah duit istri.
"Tentu saja, aku kan kaya," jawabnya sombong dengan bangga.
__ADS_1
"Oh, kalau begitu mulai dari sekarang aku yang akan mengatur keuangan kamu!" kata Sizuka tegas.
"Oke!" Takesi tak kalah tegas nya.
"Ku begitu mana dompet, credits chart, kartu hitam, gold, merah, kungin, hijau pink, kamu. Sini kasih aku," pinta Sizuka menyodorkan tangannya.
"Hah?" Takesi menatapnya kebingungan.
"Untuk apa?" tanya Takesi.
"Hem, menurut mu?"
Takesi menatapnya, Sizuka sangat serius dengan ucapannya ternyata. Dengan sangat terpaksa ia pun menyerahkan dompetnya.
"Oke, kalau gitu sekarang kamu keluar!" usir Sizuka dengan seenaknya jidat.
"Hah? Kamu ngusir aku? Bukan ngajak mandi bersama gitu?" kaget Takasi tak percaya. Malam pertamanya malah di usir oleh bini.
"Nggak, keluar sana," jawbnya tegas tak mau di bantah.
"Setidaknya wik-wik dulu kek, mau ya," bujuk Takesi dengan nada menggoda.
"No!"
Takesi kecewa dengan raut wajah wajah sedih. Sakit ... sakitnya tuh di sini.
"Yakin gak mau? Ntar nyesel loh," rayu Takesi lagi.
Sizuka menghela nafasnya.
"Aku lagi dapet, Tuan!" jelas Sizuka.
Wajah Takesi yang murung campur kecewa tadi, kini tiba-tiba berubah menjadi ceria mendengar jika istri lagi dapat.
"Sungguh? Oh, jadi kamu lagi dapet," kata Takesi sembari tersenyum lebar dengan hati yang gembira. Entah aneh, kalau lelaki pada umumnya merasa kecewa karena sang istri lagi dapat, justru ia malah bahagia. Lain dari yang lain memang. Bahkan Sizuka Saha merasa aneh pada suaminya itu.
__ADS_1