
Sore itu, Sera dan Angga bergegas memasuki mobil. Tujuan mereka pergi ke kediaman Bobby untuk menginap di sana. Setelah berpamitan dengan ibu Endang tentunya. Sebelum memasuki mobil, Sera berpapasan dengan Keyra, wanita itu memasang muka masam tak ingin menatap. Sedangkan Sera cuek dan tetep tersenyum walaupun dalam hati terus bertanya, apa kesalahannya?
Sementara Leo, ia menatap sendu pada Sera, hatinya begitu sesak. Begitu sulit baginya untuk melepaskan Sera, namun ia berusaha untuk ikhlas asal wanita yang ia cinta itu bahagia dirinya pasti akan bahagia apa lagi lelaki yang menjadi suaminya adalah ayahnya sendiri sudah pasti ia percaya jika Angga akan menjaga kekasih, ralat mantan kekasih nya itu dengan baik.
"Aku selalu berdoa, semoga kamu selalu di beri kebahagiaan, Sera. Aku ikhlas, dan doakan saja semoga aku juga mendapatkan kebahagiaan sama seperti kamu. Tapi ketahuilah, bahwa kamulah yang selalu ada di hatiku! "batin Leo menatap kepergian mobil Angga hingga menghilang dari pandangannya.
Sang eyang menepuk pundak cucunya pelan, ia mengerti perasaan sakit di rasakan Leo sekarang. Tetapi takdir tidak bisa di hindar dan di salahkan. Hanya bisa pasrah dengan keadaan dan menerima kenyataan..
"Le, eyang tau kamu masih mencintai Sera. Tapi sekarang dia sudah menjadi ibu kamu! ikhlaskan, nak. "ucap eyang menyadarkan Leo.
Leo tersenyum kikuk, mengangguk pelan dengan hati begitu sesak.
" Semoga kamu dan Keyra akan bahagia juga seperti kedua orang tua kamu, sayang. Eyang selalu mendukung dan mendoakan yang terbaik buat kamu!"
"Terima kasih eyang, terima kasih karena selalu ada buat Leo. Leo akan berusaha untuk ikhlas dan merelakan Sera buat papah. Leo ikhlas asal mereka bahagia, "suara begitu terdengar parau dan gemetar, terlihat jelas bahwa saat ini Leo sedang menahan tangisnya. Sang eyang merasa kasihan pada cucunya itu, ia pun memeluknya dan Leo menumpahkan semua kesedihannya di dalam pelukan sang eyang.
" Kamu yang sabar ya sayang, Allah tidak tidur, Allah pasti akan memberikan rencana yang indah buat kamu. Kamu harus yakin dan percaya akan, karena semua akan indah pada waktunya! "
Leo hanya mengangguk, ia menarik nafasnya dalam-dalam. Mencoba tersenyum dengan sejuta kesedihan di hati. Leo bangkit lalu ia berpamitan untuk masuk kedalam kamar.
Sesampainya di dalam kamar, helaan nafas berat lagi -lagi terdengar keluar dari mulutnya. Apa lagi saat mendapati istrinya di dalam kamar dengan raut wajah masam menatapnya tajam. Namun Leo berusaha untuk tidak mempedulikannya, ia berjalan melalui Keyra begitu saja menuju kamar mandi.
"Leo, aku ingin bicara? "teriak Keyra menatap punggung suaminya.
Akan tetapi Leo seolah tidak mendengar, ia tetep meneruskan langkahnya masuk kedalam kamar mandi dan menutup kencang hingga membuat Keyra berteriak marah.
" Hemmmm, apa aku bisa bahagia? apa aku bisa bahagia sama sepertimu, Sera? "Leo mengusap wajahnya penuh kesedihan. Ia bersandar di balik pintu kamar mandi.
Sementara itu, Angga dan Sera masih dalam perjalanan. Keduanya bergandengan tangan dengan Angga yang mengemudi yang tak mau melepaskan tangan istrinya sedetik saja.
" Gimana kalau kita makan dulu, kamu mau? "usul Angga.
__ADS_1
" Boleh deh, kita makan di mana? "
Angga tersenyum, ia mengecup tangan istrinya dari genggaman tangannya. Dan terus mengemudi ketempat tujuan dimana ia dan sang istri akan makan bersama sebelum sampai ke rumah mertua.
" Kita makan di sini, ya? " Sera mengangguk setuju, Angga tersenyum lalu ia turun dari mobil begitu juga dengan Sera.
Keduanya berjalan bersama dan tak lupa dengan tangan yang terus menyatu. Mereka masuk kedalam restoran dan memilih tempat duduk. Keduanya masih sibuk memilih menu di buku menu. Namun tiba-tiba ada yang menghampiri meja mereka berdua.
"Permisi... "sapa salah satu seorang gadis dari tiga di antaranya. Sera dan Angga spontan menoleh lalu mengerutkan dahi menatap ketiganya.
" Hay om, kenalin aku Nindy..."ujarnya memperkenalkan diri dengan nada genit sambil mengedipkan sebelah mata menggoda Angga.
"Oh... "jawab Angga tak peduli. Gadis itu mendesah kecewa. Sementara Sera hanya menahan senyumnya seraya mengejek.
" Om, ini kartu nama aku, dan di sana ada nomor telepon ku. Jangan lupa nanti hubungi aku ya? "ucap Nindy tak menyerah sembari menyerahkan kartu nama dengan nada genit berusaha menggoda Angga.
Sera panas terbakar api cemburu, ia berdiri lalu mengebrak meja kuat menatap tajam pada gadis yang telah memberikan kartu nama pada suaminya.
" Hey, cabe ungu! lo mau menggoda suami gue? mau jadi pelakor, lo? "bentak Sera dengan suara tinggi membuat seluruh pengunjung melihat kearah mereka.
" Iya, dia suami gue dan gue istrinya! lo gak liat cincin melingkar di jari manis kita, hah. "Sera benar-benar marah, ia kesal karena gadis itu terang-terangan merayu suaminya di depannya. Dan tak segan-segan mempermalukan gadis itu di depan umum berharap kapok dan tak mengulangi lagi.
Gadis itu melihat ke kiri dan ke kanan karena banyak yang mencibir dirinya, malu? tentu saja.
" M-maaf, saya pikir om ini bukan suami mbak... saya pikir dia... "
" Sugar, Daddy? "sela Sera sinis dapat menebak.
Gadis itu kembali menundukkan kepalanya benar-benar malu.
" Sadar mbak, cantik-cantik jangan mau jadi cabe ungu alias cabe -cabean apa lagi pelakor. Hidup lo gak bakalan tenang, apa lagi cuma mau menikmati duitnya aja gak akan halal. Cari kerjaan yan benar baru bisa dapetin suami yang baik! "nasehat Sera. Gadis itu hanya mengangguk lalu tanpa permisi ia berlari karena malu dan di susul dengan kedua temannya.
__ADS_1
Suara riuh lun menyoraki gadis itu dengan mengejek dan menghina.
Angga hanya tersenyum menatap istrinya, ia seneng istrinya begitu berani.
" Apa kamu senyum -senyum? seneng ya di godain sama gadis itu? "ujar Sera menatap sinis suaminya.
" Ya nggak lah, tapi aku seneng karena kamu marah. Dan marah berarti kamu cemburu? kalau cemburu berarti kamu sayang sama aku."jawab Angga, dan Sera masih merasa kesal.
Sudah pasti begitu banyak gadis di luaran sana menggoda suaminya, bukan hanya satu atau dua orang, bisa saja hampir setiap gadis bila melihat suaminya bakalan terpana. Siapa yang tidak? bahkan dirinya saja begitu cepat dapat melupakan Leo akibat terpana dengan kegantengan dan ke gagahan suaminya, apa lagi memiliki sikap lembut dan penyayang siapa pun ingin memiliki Angga menjadi miliknya. Dan Sera harus menjaga ketat suaminya itu jika tidak ingin ada pelakor -pelakor lain yang menggoda. Tidak? Sera tidak akan biarkan itu terjadi, ia harus memusnahkan seluruh pelakor di muka bumi ini.
"Ayo pulang, udah gak nafsu lagi mau makan. Nanti ada yang dateng lagi orang mau menggoda kamu! "ajak Sera beranjak dan di ikuti oleh Angga tanpa komentar apa-apa.
Para pengunjung hanya memperhatikan, tak hanya sedikit yang membicarakan mereka. Namun Sera tak peduli, membawa suaminya jauh jauh dari sana, agar tak ada lagi yang dapat melihatnya Sera pun meminta kantong plastik hitam berukuran besar dari restoran tersebut sebelum melangkah keluar.
"Sayang, itu buat apa? "Angga menatap heran.
Sera tak mejawab, ia membuka kantong plastik hitam itu lalu memasukan kepala Angga di dalamnya ... ups maksudnya, kepala Angga di tutupi dengan kantong plastik agar tak ada yang dapat melihat wajah ganteng suaminya untuk saat ini.
Para pengunjung pun tertawa dengan apa yang di lakukan Sera. Sampai segitunya melindungi suaminya dari penggoda.
Angga kebingungan di dalam sana, namun ia tak menolak apa lagi marah. Dan hanya pasrah apapun di lakukan oleh istrinya itu. Tangannya di tarik dan di tuntun masuk kedalam mobil baru lah plastik itu di lepaskan dari kepala Angga.
"Jadi...."
"Jangan banyak tanya, ayo cepetan jalan. Kita pulang ke rumah papah! "ujar Sera cepat. Angga hanya mengangguk, lagi-lagi pasrah dan jadi anak yang penurut.
" Huuuuh, gak akan aku biarin siapapun yang mau merebut mas Angga dari aku. Dia suamiku, hanya milikku seorang. "batin Sera tak rela jika banyak mata memandangi suaminya apa lagi berniat ingin merebut suaminya dari tangannya. Selagi Angga tidak berhaianat, ia akan mempertahankan suaminya itu dengan cara apapun.
"Mas, besok-besok kalau mau keluar rumah jangan tampil ganteng ya.... pakai plastik lagi kayak tadi atau topeng juga boleh! "ujar Sera.
Angga menoleh pada Sera," sekalian aja di bungkus, yank!" komentarnya ketus tak suka dengan ide gila istrinya.
__ADS_1
*******
Maaf ya kalau banyak typo, mataku gak bisa lama -lama melihat layar ponsel, pedih dan sakit. 😢 tapi berusaha akan di perbaiki lagi 😊