
"Kamu hamil?" tanya Angga dengan manik serius. Sera menatap dalam anaknya menunggu jawaban.
"Nggak Pah, Lily gak hamil," jawab Sherly jujur.
"Lantas," kata Angga menarik alisnya.
"Atau jangan-jangan kamu sudah melakukan hubungan intim dengan Devan?" lanjutnya lagi menembak.
"Bukan sama Devan," jawab Sherly pelan.
"Apa?" Sera menutup mulutnya tak percaya.
"Lalu sama siapa? Papah nya?" tebak Angga enteng.
"Bukan, tapi sama om nya."
Angga mengusap wajahnya kasar. Mengapa nasib anaknya sama seperti dirinya dan Sera. Kisah itu terulang kembali, hanya saja berbeda, Om bukan papah.
"Apa kamu mengenal Om nya Devan? Mencintai nya?" tanya Sera dengan hati yang terasa seperti di iris. Ngilu rasanya.
"Hanya mengenal, tapi tidak mencintainya. Tapi Lily mohon, biarkan Lily menikah dengannya."
Sera mendengar itu langsung lemes. Mengapa anaknya mengalami nasib percintaan yang serupa dengannya. Pacaran dengan siapa lalu menikah nya dengan siapa. Sera pun menatap iba pada putrinya itu, kemudian memeluknya erat tau apa yang di rasakan nya sekarang. Sakit ....
Sherly terpaksa berbohong mengenai dirinya dan Alex. Tapi hanya ini satu-satunya cara agar dapat menikah dengan lelaki itu. Ia tau kisah cerita cinta tentang Sera dan Angga. Sebab itulah mengapa ia mengarang cerita yang serupa.
"Suruh datang ke rumah lelaki itu, Papah ingin bertemu dengannya," ucap Angga tegas. Sherly mengangguk.
Tidak ada pilihan lain sekarang. Kisahnya dan Sera terulang lagi pada anaknya, sebab itulah ia memutuskan untuk menikahkan mereka secepatnya dan berharap lelaki itu dapat mencintai anaknya sama seperti dirinya mencintai istrinya.
"Semuanya sudah terjadi, takdir kalian sudah ditentukan. Kamu yang sabar ya, seiring waktunya berjalan kamu pasti bisa mencintainya, dan berharap Devan bisa menerima ini semua,' kata Sera menyemangati anaknya. Sherly sebenarnya merasa bersalah, namun tak ada pilihan lain.
"Iya Mah."
"Lalu bagaimana dengan Devan, apa dia sudah tau?" tanya Sera kembali. Sherly menggeleng.
Sera menghembuskan napasnya panjang, pasti Devan akan mengalami hal yang serupa dengan Leo. Namun inilah garis takdir yang tak dapat di hindari, mau tak mau lelaki malang itu harus menerima kenyataan ini. Pikir Sera iba.
Setelah selesai berbicara serius dengan orangtuanya, Sherly masuk ke kamarnya. Di dalam kamar gadis itu merebahkan dirinya di kasur, air mata mengalir dengan sendirinya mengingat ungkapan Devan yang menyakitkan hatinya. Tidak menyangka jika dirinya di permainan seperti ini, apa keputusan nya salah menikah dengan lelaki tak dikenal hanya karena patah hati dan ingin membalas perbuatan Devan? Tidak, ia sudah yakin dengan keputusannya menikah dengan Alex, hanya dengan cara ini ia dapat membalas lelaki brengs*k itu.
"Oh iya, aku kan gak punya nomor telpon Om Alex? Gimana aku bisa menghubungi untuk memintanya ke sini." Sherly baru sadar, ia berpikir sejenak sambil mengigit bibir bawahnya.
"Aku datangi aja deh rumahnya, moga Om Alex ada."
Sherly keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Sayang kamu mau kemana?" tanya Sera melihat anaknya yang sudah menenteng tas selempang nya.
"Keluar bentar aja Mah, mau ketemu sama Dara dan Yuna." Bohong Sherly, hari ini ia sudah banyak berbohong pada mamanya.
"Ya sudah kamu hati-hati. ingat jangan lupa memberi tahu Alex untuk datang ke rumah, Papah mau ketemu sama dia."
Sherly sudah memberi tahu tentang Alex, dari nama, umur serta pekerjaan.
"Iya Mah, assalamu'alaikum."
"Wa'allaikumsalam."
Sherly naik taksi untuk ke rumah Alex, untungnya ia ingat alamat rumahnya.
Sesampainya di depan rumah Alex, Sherly menetralkan dirinya agar tidak gugup. Ia bingung, apa yang akan ia katakan nantinya jika Alex tidak ada di rumah dan yang ia temui adalah kedua orangtuanya Alex.
Bel berbunyi, pelayan rumah Alex membukakan pintu.
"Cari siapa ya Mbak?" tanya pelayan wanita itu saat sudah membukakan pintu.
"Om Alex nya ada?" tanya Sherly.
"Ada Mbak, mari masuk. Saya akan panggilkan." Sherly menganggukkan kepalanya, ia masuk ke rumah dan duduk di ruang tamu yang sudah di persilahkan oleh pelayan rumah Alex tersebut dengan ramah.
"Bukannya mbak ini pacarnya mas Devan waktu itu ya?" batin pelayan itu yang masih ingat dengan wajah Sherly saat Devan membawanya ke rumah ini. Karena tidak mau ikut campur, pelayan itu langsung saja memanggil Alex di kamarnya.
"Tamu?" Alex membuka pintu kamarnya." Tamu siapa Bi?" tanya Alex.
"Gak tau namanya Mas, tapi gadis itu pacarnya mas Devan tempo hari di bawa ke sini," jelas pelayan itu.
Alex nyaris ingin lompat tinggi, baru saja ia memikirkan gadis itu, namun umurnya sangat panjang. Yang di pikiran datang sendiri ke rumah ini, tapi ada apa? Alex pun penasaran.
"Baiklah, tolong bikinkan dia minuman, saya ganti baju dulu."
"Baik Mas."
Alex dengan cepat mengganti bajunya, ia menyisir rambutnya dengan di iringi irama jantungnya yang berdebar. Harusnya ia sudah melupakan rasa ini, tetapi gadis itu malah justru datang sendiri padanya bahkan meminta hal yang tak pernah ia duga. Menikah dengannya entah keberuntungan atau sebuah musibah, namun yang pasti ia sangat senang hari ini.
"Sherly, udah lama nunggunya?" kata Alex baru saja menghampiri Sherly.
"Nggak kok," jawab Sherly dnegan senyuman.
Alex mempersilahkan Sherly minum yang sudah di sediakan oleh pelayan rumahnya.
Suasana menjadi canggung, tidak tau harus memuli dari mana obrolan mereka sekarang ini.
__ADS_1
" Kamu ke sini mau ketemu sama aku?" tanya Alex akhirnya membuka suara.
"Iya, tadi aku udah bicarakan masalah kita sama orangtuaku. Dan mereka meminta kamu datang ke rumah, papah ingin bertemu dengan mu," kata Sherly.
"Sebenarnya nanti malam kami berencana mau datang ke rumahmu, hanya saja aku tidak tau alamat rumahmu, dan aku juga lupa meminta nomor telpon mu. Dari tadi aku terus memikirkan cara agar bisa menghubungi mu, tapi syukurlah kamu keburu datang ke sini."
"Oh benarkah, jadi nanti malam Om Alex datang bersama omah dan opah?" tanya balik Sherly. Alex mengangguk.
"Apa langsung membicarakan pernikahan kita?" tanya Sherly lagi.
"Entahlah, kita liat aja nanti malam," kata Alex.' Oh iya kedua orang tua kamu gak marah?"
Sherly menggeleng, maka dari itu ia menyatakan kebohongan pada orangtuanya. Ada perasaan lega di hati Alex.
Setelah cukup lama mengobrol, Sherly pamit pulang karena hari sudah semakin sore.
"Omah dan Opah mana?" tanya Sherly, ia tak melihat kedua orang tua Alex.
"Mereka istirahat, kamu pulang aku anter ya biar sekalian aku tau alamat rumah kamu."
Alex mengatakan jika kedua orangtuanya sedang beristirahat, mana mungkin ia mengatakan jika kedua masih dalam keadaan pingsan, bisa malu dirinya jika Sherly tau apa penyebab pingsannya orangtuanya itu.
Selama di perjalanan keduanya hanya diam tanpa suara, Sherly memandang keluar jendela sedangkan Alex fokus mengemudi, namun sesekali ia melirik gadis itu.
"Em, bagiamana dengan Devan? Apa kamu akan mengatakan padanya?" tanya Alex.
"Nanti saja jika tanggal pernikahan kita sudah di tentukan," jawab Sherly malas mendengar nama kekasihnya itu.
Angga hanya manggut-manggut saja sambil terus mengemudi.
"Rumah kamu di sini?" Alex memperhatikan rumah yang sederhana itu, tidak besar tidak pula kecil.
"Iya, apa mau mampir?" tawar Sherly.
"Nggak deh, biar sekalian aja nanti malam," tolak Alex halus.
"Baiklah kalau begitu, aku masuk dulu ya. Om hati-hati di jalan, dan sampai bertemu nanti malam!"
"Iya, sampai bertemu nanti malam." Alex menatap kepergian Sherly sampai gadis itu masuk kerumahnya dan menghilangkan dari balik pintu. Alex memperhatikan rumah di hadapan nya ini.
"Kayak gak asing nie rumah, tapi rumah siapa ya?" batinnya terus memandangi rumah Angga.
Alex.
__ADS_1
*******
Maaf ya jika tidak sesuai imajinasi kalian ... tapi semoga suka hehehehe