
Alex berangkat ke kantor, selama di perjalanan wajahnya tak lepas dari senyum. Bahkan nampak berseri-seri. Hatinya bak lautan bunga yang tengah mekar, bahagia. Itulah yang ia rasakan sekarang ini. Bagaimana tidak, cintanya terbalas sudah, walau belum sepenuhnya istrinya mencintai dirinya. Ia sudah sangat bahagia mendengar akan belajar mencintai dirinya, ia akan sabar menunggu.
Alex turun dari mobilnya, ia berjalan dengan gagah hendak memasuki kantor nya. Sang satpam yang berjaga membukakan pintu untuk sang atasan, dengan senyum ramah sambil menundukkan kepala satpam itu menyapa.
"Selamat pagi Pak Alex," sapa nya ramah.
"Pagi, Pak Agus." Alex membaca nama tertera di atas kantong baju satpam tersebut dengan senyum lebarnya. Satpam itu langsung bengong seketika.
"Pak Agus sehat? Topinya miring." Alex membetulkan topi pak Agus." Nah begini kan ganteng, Pak Agus lebih terlihat gagah," ucap Alex.
Pak Agus hanya mematung tak percaya jika di hadapannya ini adalah bos besarnya. Sudah 5 tahun ia bekerja di kantor ini sebagai satpam namun belum pernah sapaannya di jawab, paling di balas dengan senyum tipis saja. Apa lagi sampai menanyakan kabar, dan membenarkan topinya. Pak Agus langsung pingsan seketika.
"Pak, Pak Agus. Saya yakin jika yang lewat tadi itu adalah kembaran nya pak Alex," ucap teman nya yang tak kalah kagetnya.
"Ya elah, nie orang malah molor," ucapnya saat melihat pak Agus yang sudah tergeletak di lantai.
Alex melangkah menuju lift. Sesaat ia sedang menunggu. Dan bukan hanya dirinya saja yang menunggu, ada banyak karyawan yang lainnya juga.
"Pagi Pak Alex," sapa mereka barengan.
"Selamat pagi," balasnya sambil terus mengambangkan senyumnya.
"Eh, tadi itu yang menjawab pak Alex?" bisik salah satu karyawan di sana.
"Kayaknya bukan deh," jawab temennya.
Para karyawan berbisik-bisik dengan sikap Alex pagi ini. Yang lain dari hari-hari biasa yang cuek dan hanya tersenyum seadanya saja.
"Sepertinya suasana hati Pak Alex sedang bahagia."
"Iya benar, di kasih obat sama ya sama istrinya?"
Berita pernikahan Alex sudah menyebar di kantor, banyak para karyawan bertanya-tanya. Gadis malang mana yang menikah dengan lelaki kolot seperti Alex. Yang terkenal dengan julukan bujang lapuk akibat Bagas yang selalu memanggil Alex saat datang ke kantor. Dan membuat mereka sangat terkejut dengan berita menikahnya bos bujang lapuk mereka tersebut.
Bunyi lift terdengar saat pintu lift terbuka. Alex masuk lebih dulu dan para karyawan menunggu lift berikutnya datang. Menang selalu seperti itu. Mana mungkin mereka bernai satu lift dengan atasan mereka.
"Hey, kalian gak ada yang mau masuk?" tanya Alex. Para karyawan saling pandang kebingungan.
"Ayo cepatan masuk!" ajak Alex.
"N-nggak Pak! Pak Alex duluan saja," tolak mereka halus.
"Udah gak apa-apa, mari masuk. Kita ke lantai atas bareng," ujar Alex sembari tersenyum yang tak biasa. Justru membuat para karyawan semakin takut di buatnya. Pasti kerasukan, itulah yang mereka pikirkan.
*****
Alex bekerja sangat serius, ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya agar cepat kembali pulang supaya bisa bertemu istrinya tercinta karena dirinya sudah sangat merindukan istri kecilnya itu. Mengingat wajahnya, senyumnya. Suara indahnya, apalagi rasanya. Membuat otak kotor keluar. Apa lagi saat ia menengok ke bawah, di balik celana nya yang sudah melembung tinggi berbentuk segi tiga itu. Alex mendesah.
"Cilub ... ba," ujar Si Ucok melambaikan tangan sambil menyengir.
"Apa kau liat-liat, gak laut ini masih di kantor?" ucap Alex galak pada si Ucok.
"Kau sendiri yang membangunkan ku, siapa suruh pikiranmu kotor. Di cuci dulu woy, Loudry kalau perlu biar bersih," sahutnya dalam imajinasi Alex.
"Kau pun lucu, aku hanya memikirkan istriku, bukan si Baba. Kenapa kau malah bangun, aneh memang," ucap Alex ketus.
"Panggil istrimu sana," perintah Ucok.
"Ngapain?"
"Kangen Baba, ah elu. Dasar gak peka,"
__ADS_1
"Dasar Oneng, Baba kan lagi dapet. Emang elu aja yang kangen," kesel Alex.
"Huuuuaaaa, kangen Baba, kangen Baba ...."
"Diam lah, berisik. Mending lo tidur sekarang, jangan ngabisin sabun lagi, malu tau nyuruh OB beli sabun batangan terus, tidur-tidur. Gak ada Baba di sini, dia lagi kuliah."
"Ah pelit lu, nyesel gue hinggap dan bertelur di tempat lu," gerutunya kesel.
"Eh burung abal-abal, lo juga gak guna. Sekalinya di gunain malah tiga menit doang udah cetak gol. Apa-apaan itu, memalukan. Maka sekarang lo merengek-rengek minta di asah, gue sebelah juga lo," kesal Alex.
"Auk ahk, gelap," ucapnya dan langsung tertidur.
Alex hanya menghela nafasnya saja. Ia berpikir, harus di apakan si Ucok ini agar kuat dan bertahan lama saat mencetak adonan nantinya. Jangan sampai terulang lagi, 3 menit itu.
"Tina, tolong panggilkan Leo. Suruh dia datang ke ruangan saya sekarang," ucap Alex menelpon sekretarisnya.
"Baik Pak." Sekretaris yang bernama Tina itu langsung menghampiri ruangan Leo yabg berupa hanya karyawan biasa di kantor ini.
"Pak Leo," panggil Tina, ia tidak tahu yang mana Leo. Namun menurut laporan data yang ia baca jika Leo adalah karyawan staff keuangan di perusahaan tersebut.
"Saya Bu," jawab Leo. Ia berdiri agar Tina dapat melihat arahnya.
"Kamu ikut saya, Pak Alex memanggilmu datang ke ruangan nya," ujar Tina tanpa basa-basi lagi.
"Pak Alex? Bukanya dia adalah direktur utama di kantor ini. Kenapa dia memanggil Leo?" rekan kerja Leo bertanya-tanya. Namun Leo hanya diam, ia pun tengah berpikir, untuk apa adik iparnya itu memanggilnya.
"Baik Bu." Leo mengikuti Tina berjalan menuju ruangan Alex. Sesampainya di depan pintu, Tina langsung mengetuknya.
"Masuk," ucap Alex
"Permisi Pak, Pak Leo sudah ada di sini," ujar Tina.
"Silahkan masuk Pak Leo," ujar Tina mempersilahkan Leo masuk. Leo hanya mengangguk sembari mengucapkan terima kasih.
"Abang," sapa Alex langsung menghampiri Leo. Tina yang belum keluar dari ruangan itu melongo.
"Abang? Mereka memliki hubungan," batinnya, namun tak ingin ikut campur. Ia pun pamit undur diri dari ruangan itu.
"Pak Alex memanggil saya ada keperluan apa?" tanya Leo sopan dan sangat formal pada Alex.
Alex memutar bola matanya," ayolah Bang, jangan kayak orang lain aja loh," ucapnya sambil merangkul Leo dan mengajaknya duduk di shopa.
"Ini di kantor, dan masih jam kerja. Sangat tidak sopan bagi saya yang hanya karyawan biasa di kantor ini," jawab Leo tegas.
"Jangan kayak itulah Bang, mau di mana pun dirimu, kamu tetap lah Abang ipar aku."
"Harus profesional dong, urusan pribadi jangan di bawa-bawa ke kantor. Di rumah atau di luar saya memang Abang ipar kamu, tapi jika di dalam kantor saya adalah bawahan kamu," tegas Leo lagi. Alex menghela nafasnya berat. Bukan itu tujuan dirinya memanggil kakak iparnya itu ke ruangannya.
"Ayolah, kali ini saja. Oke! Mau curhat nie," pinta Alex memelas.
"Iyalah, iyalah. Hah, apa yang ingin kau curhat kan?" Leo pun mengalah pada akhirnya. Alex langsung meninju pelan lengan abang iparnya itu senang.
"Nah gitu dong, oiya Bang. Alex mau tanya? Saat Abang bikin adonan cetak itu berapa lama biasanya?" tanya Alex.
"Gue gak pernah bikin adonan kue Alex. Mana tau, itu semua kakak ipar kamu yang membuatnya," jawab Leo, ia menatap Alex heran. Lelaki di hadapannya ini memanggil dirinya hanya untuk bertanya soal kue adonan? Lalu curhatnya itu di mana?
"Wah, hebat juga ya kakak ipar. Dia kerja keras!Terus Abang ngapain aja saat itu hingga menyerahkan semuanya pada kakak ipar? Tiduran aja," tanya Alex. Leo benar-benar tidak mengerti dengan pertanyaan konyol tak bermutu adik iparnya itu.
"Iya, itu pun kalau di rumah. Tapi keseringan aku di kantor. Setelah pulang kue sudah ada aja di meja," ucap Leo.
"Kok bisa? Gimana caranya?" tanya Alex polos. Entah kelewatan polos atau apalah otaknya ini. Arah pertanyaan dan jawaban itu sebenarnya berarah lawanan. Yang satu bertanya adonan apa? Dan yang satunya menanggapi nya adonan yang lain.
__ADS_1
"Lo ini sebenarnya bertanya soal apaan sih? Kok rasa gak nyambung gitu?" Leo merasa ada yang salah.
"Emangnya Abang pikir aku tanya soal apaan?" tanya balik Alex. Leo ingin sekali rasanya menjitak kepala adik iparnya itu jika tidak mengingat jika dirinya adalah karyawan di kantor ini.
"Lo tanya adonan kue kan?" ucap Leo.
"Bukan, tapi adonan anak," jawab Alex santai, Leo benar-benar ingin melempar sepatutnya itu ke kepala Alex yang super pintar itu.
"Jadi dari tadi lo tanya soal begituan?"
"Emang Abang kira soal apaan, adonan kue? Rajin amat," ucap Alex." Ah Abang, umur doang tua, tapi istilah kode-kodean aja gak tau. Masa gitu doang mesti di ajarin."
Sabar, Leo! Sabar. Dia adalah bos Lo sekarang ini, anggap saja ini ujian dalam mengasah kesabaran.
Leo menarik nafasnya dalam-dalam." Jadi itu yang ingin kamu curhat kan sama aku. Kenapa memangnya?" tanya Leo.
"Mau tanya aja sih? Ya sekalian cari pengetahuan gitu," jawab Alex sambil garuk-garuk kepalanya.
"Emangnya kamu sama Sherly udah belah duren?" tanya Leo lagi dengan nada mengejek." Belah duren aja belum, sok-sok'an tanya-tanya segala."
"Eits ... enak aja belum, udah dong. Ya walaupun gak belah duren, cuma belah semangka aja. Tapi masih tetep enak kok, walau bentar doang," ucap Alex.
Leo diam sejenak sambil mencerna ucapan Alex yang mengatakan hanya belah semangka. Seketika ia langsung tertawa mengerti maknanya.
"Oh jadi itu, emangnya berada lama sebentar yang itu?" ledeknya.
"Tiga menit," ucapnya pelan.
Jiwa Malaikat. (Terdiam)
Jiwa Syetan. (Senyuman jahat)
Jiwa Iblis. ( HAHAHAHA ....)
Alex menatapnya kesal.
"Jangan tawa," ucapnya. Namun Leo tak berhenti.
"Jangan ketawa."
Leo semakin mengeraskan suara tawanya, bahkan guling-guling di shopa.
Alex mengangkat baju belakang Leo lalu membuangnya ke luar layaknya membuang sampah.
"Huuuuf, niatnya pengen curhat malah di ketawain. Sebel!"
__ADS_1