
Pada malam hari, di dalam kamar Leo dan juga Keyra...
Leo sudah masuk lebih dulu kedalam kamar setelah makan malam yang belum usai tadi, hatinya benar-benar merasa sakit. Begitu susah melupakan seseorang ada dalam hatinya. Begitu berat menerima kenyataan yang ada bahwa sekarang seseorang itu menjadi bagian keluarganya. Bukan seorang istri melainkan seorang ibu.
"Kenapa? kenapa harus kamu Sera. Bagaimana bisa aku melupakan kamu kalau setiap hari aku selalu melihat wajah kamu, selalu melihat senyum manis kamu, dan kau tau... hati benar-benar sakit saat melihat papah memelukmu, menciummu, sakit Sera. Sakit! "Leo mengusap wajahnya kasar. Ia duduk bersandar di shopa, hatinya sesak, perkirakan stres, ia prustasi.
Leo membuka pintu luar balkon, lalu ia duduk di sana sambil menghidupkan sebatang rokok. Awalnya ia tidak perokok, namun setelah menikah ia menjadi sering merokok.
"Sera... "desahnya dan kembali menghisap sebatang rokok itu dalam-dalam lalu mengeluarkan asapnya dengan lamunan.
Keyra masuk kedalam kamar, ia mencari sosok suaminya tetapi tak melihat berada di dalam tersebut. Keyra melihat pintu luar arah balkon terbuka, ia yakin jika suaminya berada di sana kemudian menghampirinya.
"Leo... "panggil Keyra, ia melihat banyak asap berterbangan di sana membuatnya terhirup kemudian batuk-batuk..
" Matikan rokoknya, Leo! kenapa kamu menjadi seperti ini sekarang? "Keyra menghampiri lalu merampas sebatang rokok di tangan Leo kemudian ia matikan dan membuangnya.
" Kamu ini kenapa? kenapa kamu menjadi seperti ini. Kamu bukan lagi Leo yang aku kenal, Leo yang tidak pernah kenal dengan rokok! "ucap Keyra membentak.
Leo menoleh pada istrinya," apa yang harus aku lakukan? hanya dengan merokok membuat hatiku tenang Keyra, kamu tidak mengerti bagaimana perasaan aku. "
Keyra menggeleng," apa ini masih tentang Sera? "
Leo diam, Keyra sudah menduga.
" Mau sampai kapan kamu terus seperti ini, Leo? Sera sudah bersuami, dan dia mamah kamu sekarang! apa kamu masih tidak bisa melupakannya, dan membuka hatimu untuk ku?"ucap Keyra menahan air matanya, hatinya benar-benar sakit. Ia memiliki seorang suami tetapi tidak dengan hatinya.
Lagi-lagi Leo diam, ia tak dapat menjawab ucapan istrinya. Dalam kenyataannya hatinya masih tersimpan rapat pada Sera, begitu sulit untuk melupakan wanita yang telah mengisi hatinya, dan begitu sulit pula untuk menggantikannya. Sudah berusaha mencoba, tetapi nyatanya tidak segampang seperti membalikan telapak tangan, hatinya benar-benar tidak memiliki rasa pada Keyra. Dan begitu membuat hati menjadi semakin sakit untuk berpura-pura.
"Masuklah, basuh muka kamu agar merasa lebih baik, "perintah Keyra.
__ADS_1
Leo patuh ia masuk kedalam dan Keyra mengikuti langkah suaminya kemudian menutup pintu kembali, lalu memperhatikan Leo dari belakang. Leo masuk kedalam kamar mandi, ia membasuh mukanya di wastafel lalu ia melihat wajahnya sendiri dari bayangan cermin. Wajah menyedihkan, itulah yang selalu Leo ucapkan pada dirinya sendiri.
"Kamu tidak tidur? "Keyra menghela, lagi-lagi ia harus tidur sendirian di kasur yang begitu besar itu.
" Aku masih ada kerjaan, tiduran lebih dulu. "Leo membuka map nya lalu ia mengerjakannya di meja shopa dengan serius.
Dari awal pernikahan, Leo tidak tidur seranjang dengan Keyra. Ia selalu membawa kerjaannya kerumah dan menghabiskan malam dengan mengerjakan pekerjaannya hingga tanpa sadar tertidur di shopa, begitu setiap harinya.
Lagi -lagi Keyra harus merasakan pahitnya kekecewaan, hingga menumpuk di dalam dada bahkan sampai merasa sesak begitu banyak menahan semuanya. Apa salahnya? dosa apa yang sudah ia lakukan sehingga begitu berat mendapatkan cobaan dalam hidupnya. Ingin bahagia, ingin juga merasakan di cintai oleh seorang suami, dan di sayang, apa lagi di manja. Terkadang Keyra begitu iri melihat betapa bahagianya hidup sahabatnya yang berbeda nasip dengannya, yang begitu sangat di cintai oleh ayah dan anak tersebut.
"Baiklah, kalau begitu aku tidur lebih dulu. Jangan tidur terlalu malam, kamu juga harus menjaga kesehan. "ucap Keyra mengingatkan.
" Hem. "jawab Leo singkat tanpa menoleh.
Keyra menitikan air matanya, ia berjalan menyeret kakinya terasa berat. Hatinya benar-benar sakit dengan sikap cuek Leo padanya. Padahal malam ini ia ingin tidur bersama di kasur yang sama, tak perlu melakukan apa-apa sudah cukup. Tetapi hanya bisa menahan semua rasa kekecewaan itu.
Keyra merebahkan diri lalu menutupi dirinya dengan selimut dan memejamkan matanya. Dengan linagan air mata terus berjatuhan hingga membasahi bantal.
"Ugh... "Leo berdiri dan meregakan otot -ototnya terasa kencang, ia melirik arah tempat tidur dan melihat istri tertidur nyenyak. Perlahan ia mendekati lalu duduk di sampingnya dan memandangi wajah cantik yang sembab itu.
" Air mata? "Leo bergumam, ia menghapus lembut jejak air mata membekas di pipi Keyra. Ada rasa bersalah dalam hatinya.
" Maafkan aku, key. "lirihnya berucap pelan.
Setelah cukup lama memandang Keyra, Leo bangkit lalu berjalan keluar kamar untuk mengambil air putih karena tenggorokan sudah begitu kering. Pada saat hendak mengambil gelas, ia di kejutan dengan adanya Sera di dapur. Sesaat Leo menghentikan langkahnya lalu memperhatikan Sera diam-diam.
Sera membuka lemari di mana letak piring dan gelas berada, karena tubuhnya pendek hingga ia harus berjinjit untuk meraih gelas tersebut.
"Ya Allah, susah banget sih punya tubuh pendek. Wajar saja kalau mas Angga selalu menyebutku si pendek, hmmmp."gerutu Sera saat kesusahan mengambil gelas tersebut.
__ADS_1
Leo menahan tawanya, lalu ia kembali memperhatikan tingkah Sera yang lucu, memang selalu membuatnya ingin tertawa dari dulu hingga sampai sekarang.
"Kyaaaaa..."
"Sera awas... "
Gelas hampir jatuh mengenai dirinya, dengan cepat Leo menarik tangan Sera hingga gelas tersebut tidak mengenai kepala Sera. Keduanya terjatuh dengan Sera berada di posisi atas tubuh Leo.
" Sera, kamu gak apa-apa? "Leo khawatir.
Sera membuka mata, lalu menatap Leo hingga bola mata keduanya saling bertatap. Sera sadar lalu ia dengan cepat bangkit dan menjauh dari Leo.
" Sera, kamu tidak apa apa? "Leo hendak mendekat.
" Berhenti di situ, Leo. "teriaknya membentak.
" Ser, aku... "
" Stop, LE... "Sera menggeleng. Ini salah, tak seharusnya ia berpelukan dengan Leo tadi, walaupun tidak di sengaja namun ia merasa sudah mengkhianati suaminya.
Leo terdiam, ia menatap sedih pada Sera. Wanita itu takut padanya, tetapi ia terpaksa melakukan itu agar Sera tidak terluka.
Sera berlari, ia tidak jadi mengambil air minum. Ia melangkah cepat menaiki tangga dan masuk kedalam dan menutup pintu dengan keras. Angga terbangun.
"Sayang, kamu ngapain di sana? "
Sera menoleh, matanya berkaca -kaca lalu berlari naik keatas ranjang dan langsung memeluk suaminya erat menyembunyikan wajahnya di dada Angga.
" Hey, sayang ada apa? kamu kenapa? "Angga bertanya lagi. Tubuh istrinya gemetar, Angga kebingungan.
__ADS_1
" Mas, ayo kita segera pindah dari dari sini! "