Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Episode 80


__ADS_3

Hari berikutnya, malam ini tepat jam 9 malam Leo masih bergelut dengan pekerjaannya dengan serius. Keyra datang menghampiri, ia duduk di samping Leo menggelayut manja di. lengangnya.


"Leo... "panggilnya dengan suara manja.


" Hem... "jawabnya singkat tanpa menoleh dan fokus ke depan layar laptopnya.


" Aku-aku lagi kepengen banget... apa kamu gak kepengen begitu? "Keyra mengusap dada Leo dengan jari -jemarinya lembut meraba-raba di sana.


Leo menghentikan aktivitasnya lalu menoleh kearah Keyra, dan ternyata wanita itu berpakaian seksi dengan keadaan perut sedikit membuncit. Leo mengerutkan alisnya.


" Kamu ini, kenapa malam -malam begini berpakaian seperti itu? apa kamu gak kasihan sama bayi kamu di dalam perut! "ujar Leo.


Keyra mengerucutkan bibirnya sebal, Leo tidak peka sama sekali. Malam ini. Keyra begitu menginginkan belain kasih seorang suami. Entah ini hormon kehamilan atau mungkin memang dirinya yang haus akan kasih sayang Leo yang belum pernah ia dapatkan selama menikah dengannya. Dan sebab itulah ia berpakaian baju tidur yang transparan agar Leo tertarik dengannya. Hasrat laki-laki mana yang tak tergoda pikir Keyra.


"Le... kita sudah kurang lebih 3 bulan menikah. Tapi kita masih belum melakukan itu. Kenapa kamu sampai menahannya? aku ini istri kamu, Leo! "ujar Keyra lirih dengan mata berkaca -kaca.


Leo menghembuskan nafasnya lalu menghadap kearah lain." tidurlah, aku lagi sibuk! "


Keyra mengepalkan keduanya tangannya kesal," Leo! apa kamu tidak menganggap aku ini istri kamu? kenapa kamu seolah jijik sama tubuh aku. Apa salah aku Leo? kenapa sampai -sampai gak mau berhubungan badan sama aku! kenapa? "bentak Keyra benar-benar kesal.


" Aku tidak menginginkan nya! "jawab Leo singkat.


Begitu menyakitkan hati Keyra. Harus berapa lama lagi ia bisa mencairkan hati Leo untuknya, harus seperti apa lagi ia bersikap agar dapat di mencintai Leo sepenuhnya. Keyra tak habis pikir, terbuat dari apa hati laki-laki di hadapannya ini.


"Kenapa? "Keyra terus bertanya mencari jawaban.


" Karena aku tidak mencintai kamu! berhubungan badan tanpa rasa cinta itu sama saja makan sayur tanpa garam. Kamu tau rasanya apa, bukan? hambar. "


Bagai di sambar petir hati Keyra, Leo tetep tidak pernah bisa mencintai dirinya. Ia sudah melakukan berbagi macam cara untuk mendapatkan cinta Leo. Tetapi semua itu sia-sia. Ini memang salahnya, melakukan hal. licik agar bisa mendapatkan Leo dan menikah dengannya. Cinta itu memang buta, karena begitu besar cintanya kepada Leo sebab itulah ia bertekad melakukan hal itu. Namun siapa sangka, ternyata memiliki Leo bukan membuat dirinya semakin di lihat dan di cintai. Tapi semakin membuat Leo menjadi jijik pada dirinya.


"Le, aku harus berbuat apa supaya kamu bisa mencintai aku? apa yang harus aku lakukan Leo? "isak tangis Keyra, apa ia harus menyerah, tapi bagaimana dengan nasib anaknya nanti?


Leo bungkam, hati dan perasaan tak bisa di bohongi. Rasa kesal dan benci terhadap wanita itu begitu besar dalam dirinya. Sebesar apapun Keyra berusaha, namun hatinya tetep tidak akan pernah terbuka untuknya.


"Maaf, tapi aku benar-benar tidak bisa mencintai kamu,"ucap Leo menatap Keyra.

__ADS_1


"Sedikit pun? "tanya Keyra dengan air mata yang terus mengalir.


" Iya, sama sekali tidak ada. Aku menikahi kamu hanya tanggung jawab aku sebagai seorang ayah terhadap anaknya, bukan karena aku menyukai kamu apa lagi cinta. Jadi berhentilah seolah-olah aku peduli. Karena sampai kapan pun aku tidak peduli! "


Setelah mengatakan itu, Leo bangkit dan keluar dari kamar. Keyra kembali terisak, pernikahan yang ia impikan bahagia dengan lelaki yang ia cintai semua sirna. Menikah dengan cinta bertepuk sebelah tangan ternyata begitu menyakitkan. Hatinya terluka... apa ini yang di namakan, karma?


Leo melaju kencang, bukanya tega terhadap seorang wanita apa lagi sedang mengandung anaknya. Namun perasaan hatinya benar-benar tidak bisa di bohongi, lukanya begitu besar. Dari kepergian Sera dari hidupnya masih terasa membekas di hati, di tambah lagi harus menerima wanita yang benar-benar ia benci dan memaksa masuk ke dalam kehidupannya, semakin besar goresan luka di saat ini. Leo prustasi, ia butuh tempat bersandar agar membuat hatinya tenang. Tapi kemana? dan siapa yang dapat menghiburnya saat ini.


Pada saat terus mengemudi, tiba-tiba matanya tak sengaja melihat sosok wanita berjalan di trotoar seorang diri. Leo menepikan mobilnya lalu keluar dari mobil dan menghampiri wanita itu.


"Nadira! "panggilnya. Nadira menoleh.


" Loh, Leo! kamu lagi apa di sini? "tanya Nadira.


" Kamu yang lagi apa di sini, ini sudah malam, gak baik seorang gadis keluar malam -malam begini, bahaya! "Leo bertanya balik.


Leo tak habis pikir, kenapa ada seorang gadis yang begitu bodoh. Tidak mementingkan dirinya sendiri.


" Aku ke apotik, ibuku sakit. Lalu apa aku diam saja? gak mungkin kan! "jawab Nadira ketus.


Nadira menghela pelan," kalau ibu mau mungkin kami sudah di rumah sakit sekarang. Namun sayang ibu selalu menolak, dan lebih memilih meminta aku beli obat dari pada harus ke rumah sakit! "


Leo menatap sendu," ayo aku antar kamu pulang. "tawarnya.


" Tapi... emangnya kamu dari mana? "


" Nggak dari mana-mana. Ayo aku antar pulang sekarang, kasihan ibu kamu sudah menunggu. "


Nadira mengangguk pasrah, ia pun masuk kedalam mobil Leo dan mereka bersama menuju ke rumahnya Nadira.


" Emang ibu kamu sakit apa? "tanya Leo setelah menjalankan mobilnya.


" Entahlah, tapi kata ibu cuma sakit biasa aja. Dan ini dia minta aku belikan obat sakit kepala. Tapi aku sering melihat ibu sering minum obat setiap hari, namun saat aku tanya ibu cuma jawab 'cuma pusing sedikit' kadang aku merasa ada yang salah sama ibu akhir -akhir ini! "jelas Nadira dengan raut wajah sedih.


"Kenapa gak coba di periksa aja ke rumah sakit? biar tau sebenarnya sakit apa ibu kamu." saran Leo.

__ADS_1


"Aku udah coba, Le. Tapi ibu keras kepala dan selalu nolak. Aku juga gak ngerti. "jawabnya mendesah.


Leo diam, ia terus mengemudi sampai tidak di depan rumah Nadira yang sederhana.


" Ayo masuk! "ajak Nadira, dan Leo mengangguk lalu masuk kedalam rumah.


" Assalamualaikum, Bun ini obatnya," Nadira menyerah katong kecil itu kepada ibunya.


"Terima kasih ya, tapi itu siapa? "sang ibu memandang kearah Leo yang menundukkan kepalanya sembari tersenyum sopan.


" Oh, ini Leo. Teman satu kantor Dira, Bun! tadi gak sengaja ketemu di jalan. "jelas. Nadira.


" Assalamualaikum, Bu. Saya leo! "Leo memperkenalkan diri sambil mencium punggung tangan ibu Nadira.


Ibu Nadira tersenyum," mari silahkan duduk, nak. "


" Terima kasih, bu. "


Nadira tersenyum kecil, lalu ia pergi ke dapur dan mengambil obat untuk ibunya.


" Ini minum nya Bun, ayo obatnya di minum juga biar gak pusing lagi! "


Sang ibu yang bernama Rita itu tersenyum, lalu ia membuka obat dan meminumnya.


" Ibu sakit apa? "Leo mencoba bertanya.


" Sakit biasa, nak. Cuma pusing aja kok! "jawab Rita sembari tersenyum menatap Leo.


" Apa gak coba di bawa ke rumah sakit aja bu? "Leo memberi saran.


" Alah, cuma pusing sedikit aja kok. Penyakit gak boleh di manja, nanti kebiasaan! "lagi-lagi menjawab, bahwa semuanya baik-baik saja.


Leo mengangguk sembari tersenyum membalasnya.


" Oh iya, apa kamu sudah menikah? "pertanyaan Rita membuat jantung Leo berdegup kencang.

__ADS_1


__ADS_2