
Resepsi pernikahan raja dan Raju akan dilaksanakan esok hari.
Hari ini Raja dan keluarga Kanaya berangkat dari Bandung ke Kota Padang untuk menghadiri acara resepsi pernikahan Raju dan Kanaya serta Raja dan Kania.
"Naya, apakah barang-barang kalian sudah siap?" tanya Gita pada putrinya setelah mereka selesai sarapan pagi.
"Sudah, Bu," jawab Gita.
"Lalu bagaimana dengan barang-barang Raju?" tanya Gita lagi pada putrinya.
Kanaya menoleh ke arah suami dinginnya yang bagaikan beruang kutub itu, lalu dia tersenyum ke arah ibunya.
"Sudah juga, Bu. lagian barang-barang Bang Raju tidak banyak yang akan disiapkan, tuh dia pulang ke rumahnya sendiri, kok," ujar Kanaya.
"Oh, iya. Kalau begitu Raju tidak usah membawa pakaian kamu yang ada di sini, jadi nanti kalau kalian datang ke rumah ini tidak perlu lagi membawa barang-barang yang banyak," ujar Gita memberi saran kepada menantunya.
"Iya, Bu. aku juga meminta Kanaya untuk tidak membawa banyak barang ke Padang, jika nanti dia membutuhkan pakaian kita bisa mampir di butik om Agung dan Tante Dian," ujar Raju.
Dia sengaja berkata seperti itu berharap agar istrinya tidak perlu membawa banyak barang, cukup membawa barang-barang yang sangat dibutuhkannya.
"Nah, benar juga apa yang dikatakan suamimu, Naya. Pakaian di butik om Agung dan Tante Dian bagus-bagus. kalau kamu mau nanti Ibu yang nemenin kamu shopping di butik om Agung dan Tante Dian, bener nggak, Yah?" ujar Gita.
Hal ini merupakan kesempatan yang berharga bagi Gita, dia dapat menyalurkan hobi shoppingnya di butik sang sahabat.
"Yang mau shopping itu Putri kamu atau kamu sih?" tanya Nick pada istrinya.
Nick sudah dapat mencium akal bulus sang istri, Gita memang hobi shopping serta travelling.
Selama ini nik selalu memahami bagaimana kelakuan istrinya, Kanaya tersenyum mendengar ucapan ayahnya.
Kanaya juga mengerti hobi ibunya tersebut.
"Tenang, Bu. Nanti kalau sampai di Padang biar aku yang anterin ibu dan Kanaya shopping di butik om Agung," ujar Raju pada ibu mertuanya.
"Nah, Yah. Raju saja dengan senang hati ingin menemani kami shopping, begini menantu idaman para mertua," ujar Gita ada maunya.
Nick hanya bisa menggelengkan kepalanya, sejak dulu istrinya selalu seperti ini. Nick tidak kaget lagi dengan sifat istrinya ini.
__ADS_1
Fahri ikut tersenyum mendengarkan ucapan ibunya.
Mereka semua sudah sangat mengerti bagaimana sifat ibunya.
"Ya sudah, Ayo kita siap-siap. Takutnya nanti malah ketinggalan pesawat," ujar Nick.
Setelah itu semua orang keluar dari ruang makan, mereka melangkah ke kamar masing-masing untuk mengambil barang-barang yang sudah mereka siapkan.
Fahri sudah berdiri di samping mobil yang akan mereka gunakan untuk berangkat ke bandara.
Mereka akan membawa mobil menuju bandara dan akan menitipkan mobil tersebut di sana karena mereka hanya beberapa hari di Padang.
Fahri dibantu oleh Raju menyusun barang-barang di bagasi mobil.
Setelah semua barang-barang masuk ke dalam mobil mereka pun masuk ke dalam mobil lalu Fahri melajukan mobil meninggalkan rumah sederhana milik Nick dan Gita.
Fahri melajukan mobil setelah memastikan semua anggota keluarga masuk ke dalam mobil tersebut, Raju duduk di samping Fahri sedangkan Kanaya dan kedua orang tuanya duduk di bangku belakang.
Di sepanjang perjalanan tak banyak mereka berbicara, Raju menatap ke depan sambil membayangkan bertemu dengan saudara kembarnya secepatnya.
Raju ingin berbicara dengan saudara kembarnya untuk membahas masalah pernikahan yang kini mereka jalani.
Dia merasa permasalahan yang tengah mereka hadapi saat ini merupakan masalah yang sangat urgent sehingga dia perlu bertatap muka dengan sang saudara kembar.
Selama beberapa hari ini Raju maupun Raja tidak saling berkomunikasi karena mereka sibuk dengan kehidupan baru mereka masing-masing.
Mereka sibuk dengan penderitaan yang tengah mereka jalani.
Sedangkan saat ini Kanaya sangat senang akan bertemu dengan Raja sang pujaan hati.
Kanaya sudah bertekad akan membahas rencana yang harus mereka lakukan dalam mengakhiri pernikahan yang sudah mereka lakukan tanpa menyakiti hati kedua orang tua mereka.
Dia yakin saat ini Raja sedang memikirkan rencana yang terbaik untuk masa depan mereka masing-masing.
Sesampai di bandara mereka langsung check in, dan menaiki pesawat yang akan mereka tumpangi menuju bandara internasional Minangkabau yang ada di Sumatera Barat.
Di Bandara Internasional Minangkabau, sopir keluarga Raffa sudah menunggu di luar bandara.
__ADS_1
Mereka sampai di Bandara Internasional Minangkabau pada pukul 11.15. Raju langsung menghampiri Pak Ujang saat melihat mobil milik keluarganya sudah terparkir di depan bandara.
"Selamat siang, Tuan. Selamat atas pernikahan Tuan," ujar Pak Maman tersenyum pada putra majikannya.
"Terima kasih, Pak." Raju tidak terlalu merespon apa yang diucapkan oleh pak Maman.
"Silakan masuk, Nyonya Tuan," ujar Pak Maman mempersilakan keluarga Kanaya untuk masuk ke dalam mobil Van milik keluarga Raffa.
"Terima kasih, Pak," ucap Gita.
Mereka pun masuk ke dalam mobil Van mewah milik Raffa.
"Wah, istrinya Tuan Raju cantik sekali," ujar Pak Maman takjub saat melihat istri Raju.
Dia sengaja menggoda putra dari majikannya itu karena hal itu sudah biasa dilakukannya.
Pak Maman dan 3R sangatlah akrab karena Pak Maman merupakan satu-satunya sopir yang selalu mengantar jemput 3R sejak kecil.
3R pun sudah menganggap Pak Maman sebagai orang tua yang mereka hormati dan mereka sayangi.
"Ish, Pak Maman, jangan bikin aku malu," ujar Raju berbisik pada supir pribadi keluarganya.
Gita dan Nick tersenyum melihat reaksi menantunya yang terlihat malu.
Fahri juga menertawai saudara iparnya itu, dia merasa Raju sangatlah cocok dengan adiknya
Sedangkan Kanaya hanya diam, dia tidak memberi respon apa-apa kecuali tersenyum dengan terpaksa agar semua orang yakin bahwa dia menerima perjodohan ini.
Pak Maman mulai melajukan mobil setelah memastikan semua keluarga telah berada di dalam mobil dan duduk dengan nyaman di atas mobil tersebut.
Di sepanjang perjalanan mereka mengobrol membahas berbagai hal agar tidak ada kecanggungan di antara mereka.
Pak Maman yang merupakan seorang yang bergaul di masyarakat memiliki wawasan yang luas sehingga setiap kali mengobrol dengan Nick dan Fahri dia tidak merasa canggung dan pembicaraan mereka pun saling menyambung.
Setelah mereka menempuh perjalanan selama 40 menit, mereka pun sampai di kediaman keluarga Surya Atmadja.
Rumah megah itu dari tahun ke tahun tidak ada perubahannya, Raffa memang sengaja tidak merubah bentuk rumah yang sudah dibangun oleh kedua orang tuanya agar kenangan kedua orang tuanya tetap melekat di benaknya meskipun kedua orang tuanya sudah tiada.
__ADS_1
Saat mereka sudah sampai di depan rumah megah itu, Raju bergegas turun dari mobil, sehingga semua orang yang ada di mobil itu pun heran melihat apa yang dilakukan oleh Raju.
Bersambung...