
Sherly keluar dari kamar mandi, ia menatap suaminya penuh curiga jika bibir bengkaknya ini adalah perbuatan dari suaminya itu.
"Kenapa?" tanya Alex pura-pura tidak tau.
"Kamu kan yang udah buat bibir aku bengkak?' manyun Sherly hingga bibirnya semakin membengkak dan itu membuat Alex tak dapat menahan tawanya.
"Iiih jahat banget sih." Sherly memukul-mukul lengan suaminya, dan Alex tak menghadiri justru semakin mengencangkan suara tawanya.
"Jahat dari mamanya coba?" tanya Alex mencoba menahan tawanya melihat Sherly yang sudah lelah memukuli dirinya.
"Ini?" Sherly menunjuk bibirnya sambil memanyunkan di depan wajah Alex.
"Kenapa bibirnya? Minta di cium." Alex malah menggodanya, dan alhasil membuat Sherly meninju perut suaminya itu cukup kuat.
"Auw ...." Alex meringkuk kesakitan hingga membuat Sherly merasa bersalah.
"M-maaf, aku gak sengaja. Reflek tadi," sesalnya panik, ia memapah Alex dan membawanya duduk di shopa.
"Sakit?" cemas Sherly, tangan mungilnya mengelus perut Alex.
Alex yang di elus pun tersentak, sensasi tubuhnya menjadi aneh. Panas dingin serta darah terus berdesir hanya dengan sentuhan lembut itu pada perutnya, padahal ada baju kaos yang manjadi penghalang. Namun, tubuhnya sangat sensitif, hingga bagian bawahnya, benda pusaka berharga miliknya berdiri tegak di balik celana bokser yang tanpa di sadari oleh Sherly.
"A-aku gak apa-apa? Sekarang aku mau mandi," kata Alex gelagapan.
"Mandi? Bukannya tadi kamu udah mandi?" heran Sherly.
"I-itu karena cuaca nya panas." Alex mengibaskan tangannya ke wajah," ya di sini sangat panas."
Sherly setengah percaya setengah nggak. Nyatanya di dalam kamar hotel ini sangatlah dingin karena AC masih menyala. Di sisi lain ia melihat wajah merah Alex hingga setengah percaya jika lelaki itu memang kepanasan.
"Ya, mandilah. Seperti kau memang kepanasan."
Alex mengangguk, dengan langkah cepat ia berjalan menuju kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
"Aduh brother, sepertinya kau harus bersabar ya. Belum waktunya."
Sementara itu, Sherly membereskan pakaiannya. Pagi ini ia dan Alex keluar dari hotel. Hotel yang tadinya di sediakan untuk malam pertama mereka. Namun ia senang karena suaminya itu sangat pengertian yang dirinya masih membutuhkan waktu untuk menetapkan hati menyerahkan mahkota berharga nya. Walau sebenarnya sudah berjanji, tetapi mentalnya belum siap ternyata.
"Em, anu ...." Alex menghentikan ucapannya saat hendak memanggil Sherly. Ia bingung harus memanggil nya dengan sebutan apa? Apa tetep harus memanggilnya nama?
"Om butuh sesuatu?" tanya Sherly menyadari Alex yang kini hanya menyembulkan kepalanya di balik pintu.
__ADS_1
Alex tersenyum sambil garuk-garuk kepalanya." Aku minta tolong ambilkan handuk," pinta Alex ragu.
Handuknya sekarang ini di jemur di teras hotel akibat basah. Sherly tak menjawab, ia langsung saja berjalan menuju teras dan mengambil handuk milik suaminya dan memberikannya pada Alex.
"Terima kasih, em ...."
"Panggil Lily aja, Lily panggilan sayang oleh keluarga," kata Sherly yang begitu peka.
"Baiklah, terima kasih Lily." Sherly hanya tersenyum membalas nya.
"""""
Keduanya berjalan beriringan memasuki lift dengan Alex yang menyeret koper mereka. Sesampainya di loby hotel. Keduanya sudah di jemput oleh supir keluarga Alex dan membawa mereka ke restoran.
di sana seluruh anggota besar keluarga Sherly dan Alex sudah berada menunggu kedatangan keduanya yang kini sudah memesan restoran tersebut khusus untuk keluarga mereka saja hanya untuk menikmati makan siang bersama sekaligus merayakan hari pernikahan Alex dan Sherly.
Semua ini sudah di rencanakan oleh Bagas dan Ratna, karena sudah mau menikah dengan anaknya yang perjaka tintong tua itu mesti dengan bukan karena cinta.
"Selamat datang pengantin baru, kita semua sudah menunggu kalian berdua," sambut anggota keluarga keduanya lebay membuat Alex dan Sherly hanya menghela lalu menurut saja yang kini sudah di tarik.
Sherly di tarik oleh Ratna untuk duduk berkumpul dengan para istri lainnya. Sedangkan Alex di dorong paksa oleh Bagas duduk di bagian para suami. Mereka memilih duduk terpisah agar bisa bergosip ala emak-emak yang tak ingin para lelaki tahu rahasia perempuan.
Dan tentu saja para lelaki setuju dengan lapang dada, karena kenyataannya mereka juga sangat bosan mendengar para istri mereka masing-masing saat bergosip, apa lagi bercerita tentang sinetron kesayangan mereka ya itu 'ku menangis' membuat gendang pendengar ingin pecah.
"CK." Angga berdecih karena dirinya kalah ganasnya oleh menantunya itu. Seumur-umur belum pernah membuat bibir istrinya bengkak.
"Berapa ronde lo semalam?" lanjutnya bertanya, cie ... Angga kepo ....
"Ronde? Tapi aku semalam lagi gak berada di pos kamling untuk ngeronde tuh," jawab Alex.
Astaga ... Angga pun menoyor kepala menantunya itu.
"Bukan ngeronde maling pea. Tapi ronde, ronde olahraga malam, bodoh."
"Tapi aku semalam gak kemana-mana, gak ke pos kamling atau ke tempat olahraga?" jawab Alex kembali dengan wajah polosnya membuat Angga ingin mencekiknya saat ini.
"Astaga Om Bagas, dulu Om Bagas saat mencetak anak ini pakai gaya apaan? Liat noh otaknya sambleng nya kebangetan," kata Angga gregetan.
"Gaya kuda lumping," jawab Bagas santai.
"Pantes," komentar Angga ketus.
__ADS_1
"Lo tadi malam melakukan ritual gak sih?" imbuh Bobby.
"Ritual sesajen maksudnya?" tanya Alex dengan wajah sama, ya itu tampang polos.
Angga pun jingkrak-jingkrak sangking gereget nya.
"Lo tau istilah mantap-mantap gak?" tanya Leo yang akhirnya buka suara. Tadi dirinya hanya tertawa saja.
"Tauk," jawab Alex.
Dan Bobby yang kini menoyor kepala Alex." Kalau soal itu aja, otaknya nyambung. Aeuh, gue geplak juga lo."
Angga dan Bagas menepuk keningnya.
"Nah saat Lo melakukan itu berapa kali? 3 kah 4 kak atau sampai pagi?" lanju Leo bertanya, kepo banget ya....
"Nggak semuanya, soalnya aku ma Lily hanya tidur," jawab Alex jujur.
"Hah?" kaget ketiga nya." Udah gitu doang, gak ada acara ritual?"
Alex hanya mengangkat kedua bahunya.
"Terus, bibirnya bengkak gitu apaan kalau bukan mantap-mantap?" Angga sangat ingin tahu.
"Aku menciumnya, itu pun diam-diam saat dia tidur," jawab Alex jujur lagi, ia pun terkekeh mengingat kelakuannya semalam.
"Udah gitu doang?" selidik Angga tak percaya.
"Mau gimana lagi, Lily masih polos dan lugu. Jadi dia sangat takut untuk melakukan itu, aku mana tega meminta hak ku padanya tadi malam. Dan sialnya dia sangat senang,' jawab Alex.
"Ya mungkin karena waktu itu pertama kali baginya, kau harusnya tau lah. Untuk pertama kalinya melakukan itu sangat menyakitkan bagi wanita, mungkin itulah Lily jadi takut saat melakukannya lagi," ucap Angga, arahan bicaranya seolah memberi dukungan pada Alex untuk bersabar.
"Melakukannya lagi? Memangnya Lily udah pernah melakukannya? Sama siapa?" tanya Alex, ia lupa saat ini jika Sherly mengatakan jika mereka berpura-pura sudah melakukan itu.
"Woy otak bulu, lo ini bodoh, sambleng atau pura-pura gendeng sih?" sahut Bobby sinis.
"Apaan sih?" kata Alex tak paham.
" Lo berdua sudah melakukan itu 'kan sebelumnya?" tanya Leo penuh selidik, ia curiga jika Alex dan adiknya tidak melakukan apapun melihat betapa polosnya Alex.
"Aku sama Lily ... Kapan?"
__ADS_1
Alex langsung seketika mendapatkan toyoran dari Angga, di susul oleh Bobby, dan di ikuti oleh Bagas. Sedangkan Leo hanya menggeleng sudah menduganya.
Alex yang ditoyor kepala pun menatap kebingungan." Apa salahku?"