Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Season 2, dinner


__ADS_3

"Terima kasih, atas kerja samanya," ucap Alex saat bersalaman dengan klien bisnisnya.


"Sama-sama Pak Alex, sampai jumpa di Jepang. Saya akan membawa anda berkeliling sampai puas," jawabnya sembari tertawa.


Percakapan mereka sebenarnya menggunakan bahasa Inggris. Karena klien Alex merupakan orang Jepang. Tapi gak perlu di terjemahkan lah ya, cukup pakai bahasa Indo sana.


Alex mengangguk, dalam hatinya berpikir keras.


"Ke Jepang? Itu artinya aku harus pergi ke sana dan meninggalkan Lily," batinnya lesu. Mana rela berpisah, apa lagi selama 3 hari di sana. Namun karena perjalanan bisnis ini sangat penting bagi perusahaan, ia pun rela tak rela. Hanya saja tak tau cara memberitahukannya pada Sherly tentang masalah ini.


Setelah kepergian kliennya yang dari Jepang itu. Alex kembali ke ruanganya.


"Saya ... ng." Alex menghentikan ucapannya sesaat Tina mengisyaratkan untuk diam dengan meletakan jari telunjuknya ke bibir sambil melirik arah Sherly.


Alex mengangguk, ia berjalan mendekati shopa di mana istrinya tengah terbaring, tertidur lepap.di sana. Kemudian Alex mengisyaratkan Tina untuk pergi keluar. Wanita itu mengangguk pelan dan berjalan pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Kamu pasti bisa ya." Alex mrnggusap lembut pucuk kepalanya.


"Maaf ya, aku agak lama. Sampai-sampai ku ketiduran." Lalu ia mengecup kening istrinya itu lembut dengan perlahan. Alex bangkit, tak ingin menganggu istrinya tidur, ia duduk di kursi kebesarannya sambil melihat kontrak yang telah ia sepakati dengan klien Jepang tadi.


"Apa kamu gak apa-apa kalau aku tinggal?" Alex khawatir sekaligus takut jika Sherly tidak memberikan izin dirinya pergi.


Setelah satu jam lamanya Sherly tertidur, wanita itu akhirnya bangun. Ia meregangkan otot-ototnya.


"Hey, kamu udah bangun?" Spontan Sherly menoleh arah sumber suara. Ternyata suaminya sudah berada di ruangan ini.


"Mas,.kamu udah selesai?" tanya balik Sherly sambil mengucek mata dengan suara khas bangun tidurnya.


Alex tersenyum lalu mendekat.


"Masih ngantuk, hem?" tanya Alex sambil mengusap rambutnya.


'Hem, ngantuk banget." Sherly mengangguk lalu bersandar di bahu suaminya.


"Mau tidur lagi?" tawar Alex.


"Sekarang jam berapa?" Sherly melihat arah jam di tangannya." Kamu masih lama kerjanya?" Kemudian bertanya pada Alex.


"Udah selesai sih, kamu mau pulang?"


"Hem, pulang aja yuk. Jangan lupa nanti malam kita dinner loh." Sherly menginginkan.


"Pasti dong sayang, kau tau. Kita belum pernah berkencan selama kita bersama, jadi dinner malam ini sudah lama aku nanti. Mana mungkin aku lewatkan," ucap Alex serius.


"Ya udah ayo kita pulang, nanti keburu macet di jalan."


Alex mengangguk. Lelaki itu meraih tas istrinya lalu ia pakaian ke tangannya, kemudian Alex mengangkat tubuh istrinya dari depan.


"Loh, kok aku di gendong? Turunin aja Mas, aku bisa jalan sendiri kok," tolak Sherly atas apa yang di lakukan suaminya.


"Kamu masih ngantuk, dari pada jalan oleng terus nabrak dinding. Mending aku gendong aja lebih aman," jawabannya tak mau mendengar penolakan.


"Tapi ini di kantor Mas, malu kalua di liat karyawan kamu," ucap Sherly.


"Untuk apa malu, toh justru aku pengen mereka tau jika kamu adalah nyonya nya Alex, istri cantikku," ucapnya bangga.


Sherly tak dapat berkata lagi, ia hanya bisa patuh dengan suaminya dan berpegangan kuat saat Alex mulai berjalan menuju lift.


Sesampai di dalam lift ....


"Mas, turunin aku. Nanti kamu pegel," pinta Sherly. Alex pun menurunkan istrinya, namun tak lepaskan nya. Lelaki itu merangkulnya erat.


Sherly hanya bisa pasrah, toh berontak juga percuma. Setelah lift terbuka,. Alex kembali menggendong istrinya tersebut.


"Wah, gak nyangka loh kalau ternyata Pak Alex orangnya romantis bingits."


"Iya, jadi iri banget tauk. Andai suamiku kayak pak Alex, pasti seneng pake banget."


Para karyawan berbisik-bisik melihat sikap romantis bos mereka pada istrinya. Banyak yang memuji, banyak pula yang mengatakan jika keduanya adalah pasangan serasi. Iri tentunya.


Sherly hanya menyembunyikan wajahnya di bidang dada suaminya karena malu. Sedangkan Alex acuh, dan Semakin mendongak kan kepalanya dengan bangga.


"Mau makan dulu gak?" tanya Alex saat keduanya sudah berada di dalam mobil.

__ADS_1


"Nggak deh, nanti keburu kenyang sebelum pergi dinner," tolak Sherly.


"Tapi itu masih lama loh sayang, kita berangkat nya jam 7 malam ini, paling makannya bisa jam 8. Aku gak mau kamu sampai kelaparan hanya, kalau sakit maag bagiamana? Makan dikit aja dulu ya." Alex membujuk Sherly, ia tak ingin istrinya kelaparan sebelum pergi dinner. Apalagi masih lama berangkat nya, sedangkan sekarang masih jam 5 sore.


"Em, boleh deh. Tapi makan yang ringan-ringan aja ya, buat ganjel perut aja," pinta Sherly mengalah. Setidaknya ia sangat bersyukur memiliki suami yang sangat perhatian.


"Baiklah, hamburger mau?" tawar Alex. Sherly pun mengangguk menyetujui nya.


Alex menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia turun dari mobil dan membiarkan istrinya di dalam mobil saja. Dan membiarkan dirinya mengantri panjang layaknya kereta api demi istrinya itu bisa makan.


" Ini untuk di makan sekarang, dan yang ini buat nanti di rumah." Alex menyerahkan sebungkus hamburger itu pada istrinya setelah ia sudah berada di dalam mobil.


"Kamu gimana? Gak makan juga?" tanya Sherly.


"Aku bisa nanti di rumah. Lagi pula aku lagi menyetir," ucap Alex yang sudah kembali menjalankan mobilnya.


Sherly membuka bungkusan hamburger satunya.


"Buka mulutnya, biar aku suapi kamu makan. Kamu juga harus makan." Sherly menyodorkan makanan itu ke mulut Alex. Dengan dengan hati lelaki itu menerima nya.


"Makasih sayang."


Keduanya terus memakan makan mereka sampai habis, dan mobil juga sudah terparkir di lobby apartemen mereka.


"Aku mandi duluan ya Mas." Setelah masuk ke apartemen, Sherly langsung pamit hendak mandi.


"Barengan aja yuk!" goda Alex.


"Nggak deh, aku buru-buru. Udah banjir soalnya deres banget, risih."


"Apa yang banjir sayang?" tanya Alex yang tak mengerti.


Namun Sherly tak menjawab, ia membuka lemari pakaiannya, lalu membuka laci dan mengambil sebungkus pembalut. Alex yang melihatnya pun baru mengerti.


"Ooooh, jadi yang di maksud banjir itu datang bulan nya. Ternyata jadi wanita itu gak semudah seperti yang di bayangkan," batin Alex terus memandang arah istrinya yang kini beralih mengambil baju.


*****


Sesuai yang di janjikan, Alex sudah berpakaian rapih malam ini. Kemeja warna putih yang ia gulung ke siku semakin menambah ketampanannya, sekarang ia sudah siap dan tinggal menunggu istrinya saja.


Alex menoleh, spontan saja ia langsung terpana dengan kecantikan istrinya malam ini. Istri itu memang cantik, tapi malam ini sangat, sangatlah cantik. Rasa ia ingin mengurung nya saja di dalam kamar agar tak ada mata laki-laki lain di luaran sana yang melihat istrinya tersebut.


"Mas, ayo jalan. Kok malah bengong," tegur Sherly sambil melambaikan tangan ke depan wajah suaminya karena bengong melihat arahnya.


"Kita gak jadi pergi aja yuk?" ucap Alex.


"Loh, kenapa rupanya?" heran Sherly, udah capek-capek dandan malah gak jadi pergi.


"Kamu terlalu cantik, aku takut kamu di culik sama laki-laki lain. Aku gak mau sampai itu terjadi, lebih baik mencegah sebelum mengobati, ibaratnya sedia payung sebelum hujan," ucap Alex.


"Alasan macam apa itu Mas? Lagi pula, mana ada orang mau menculik ku, kau pun aneh-aneh aja loh," kesel Sherly, bukan mudah berdandan cantik seperti ini. Dan lagi, ia sangat menginginkan dinner malam ini, karena selama menikah memang belum pernah pergi dinner atau berkencan.


"Ya kali aja 'kan? Musibah gak ada yang tau, dan sekarang ini perasaan aku gak enak. Mungkin saja ada bahaya yang akan datang nantinya," ucap Alex kekeh, lelaki itu sangat tidak ingin kecantikan istrinya di nikmati oleh banyak mata. Cukup dirinya saja.


Sherly benar-benar kesal dengan alasan suaminya, ia berlari ke kamar dan menghempaskan tubuhnya ke kasur. Lalu ia menangis di balik bantal.


"Sayang." Ternyata Alex mengejarnya.


"Dah lah Mas, jangan ganggu aku. Aku mau tidur." Sherly menepis tangan Alex yang berada di pundaknya. Ia kembali menutupi wajahnya dengan bantal.


Alex menyesali perbuatannya, apa yang sudah ia lakukan. Seharusnya ia tak mengatakan batal, hanya karena ia takut banyak yang memperhatikan istrinya, ia sangat cemburu hingga membuat istrinya itu menangis. Egois bukan?


"Sayang, aku minta maaf. Aku ...."


"Kalau gak mau berkencan, sebaiknya gak usah berucap sehingga orang gak merasa di PHP in. Aku tau aku jelek, makanya kamu malu mau mengajak aku keluar," ucap Sherly dingin. Wanita itu tak mau menatap suaminya.


"Sayang, bukan seperti itu ...."


"Dan lah Mas, aku lelah. Sekarang aku mau tidur, tolong jangan ganggu aku." Sherly memejamkan matanya sambil membelakangi Alex. Kesalnya sampai ke ubun-ubun.


Alex mengusap wajahnya kasar, tak seharusnya ia begitu. Kenapa ia begitu bodoh l, sekarang istrinya marah padanya, apa yang harus ia lakukan sekarang.


"Alex, kenapa otak bodoh mu itu di pelihara. Ya Allah apa yang harus aku lakukan agar istri ku gak marah lagi." Alex menjambak rambut nya, lalu memandang arah punggung istrinya.

__ADS_1


"Aaggghhhrr ...." Alex kembali naik ke kasur lalu memeluknya erat dari belakang.


"Maafkan aku, maafkan aku. Kau gak bermaksud seperti itu, kamu sangat cantik. Bahkan terlalu cantik." Alex menangis yang masih memeluk istrinya.


"Makanya aku takut jika kau di culik nantinya, aku bahkan takut hanya banyak mata yang memandangi kecantikan mu. Aku tau aku egois, kenak-kanakan. Tapi aku gak bisa jika gak cemburu, padahal mereka hanya sekedar memandang saja, tapi aku tetep saja gak rela," jelas Alex sambil menangis.


Sherly hanya diam, ia membiarkan suaminya itu mengeluarkan unek-uneknya. Padahal dalam hatinya ingin tertawa, jadi hanya karena gak mau orang-orang memandangi diri sehingga rela membatalkan rencana dinner yang sudah memesan restoran tersebut.


"Jangan marah lagi, aku Mohon maafkan aku. Aku tau aku salah, aku bodoh. Itu karena aku sangat mencintaimu, kamu hanya milik ku seorang. Jadi aku mohon, Jagan marah, aku bisa gila sayang. Aku mohon. " Alex tak ada henti-hentinya memohon.


Karena merasa kasihan, Sherly pun menghela nafasnya lalu memutar balik tubuhnya.


"Dasar bodoh, pengen banget rasanya aku membelah kepala kamu ini Mas! Pengen liat gitu isi kepala kamu itu ada apa?" Sherly geleng-geleng kepala.


Alex langsung menghapus air matanya dengan senyuman lebar merasa senang." Jadi ... kamu udah gak marah lagi sama aku?"


Sherly langsung menyentil kening suaminya itu.


"Sekarang jadi berangkat gak nie? Sayang loh restorannya kalau gak jadi dinner, udah keluar uang malah gak jadi. Kan Sayang," ucap Sherly.


"Iya, iya jadi. Ayo kita berangkat sekarang." Dari pada istrinya marah lagi, mending langsung aja ajak dengan cepat tanpa komentar apa-apa lagi.


"Tunggu dulu dong, makeup aku luntur nie gara-gara kena air mata. Aku benerin dulu."


"Gak usah, lagian kamu tanpa makeup udah cantik kok," jawab Alex, lalu langsung dapat pelototan tajam. Alex pun langsung mengambil kan alat tempur istrinya itu segera.


"Bisa berabe kalau dia merajuk lagi, lagian nie mulut kenapa gak mau diam sih? Di jahit tau rasa kau," ucapnya pada dirinya sendiri.


******


Selama dalam perjalanan, Alex tak pernah melepaskan tangannya yang menggenggam erat tangan istrinya. Bahkan lelaki itu selalu mengecupnya.


"Di sini restoran yang kamu sewa itu Mas?" tanya Sherly saat mobil Alex sudah terparkir.


Di sana terlihat sepi, mobil hanya ada 2-3, mungkin punya karyawan restoran itu. Tak ada mobil pengunjung, karena Alex sudah menyewanya dari sore hingga jam 10 malam, khusus untuk mereka berdua dinner malam ini.


Sherly tersenyum, suaminya itu memang sangat romantis. Tau saja cara menyenangkan hati wanita walau tak tau cara mengungkapkan nya. Seperti Sekarang ini, Alex sudah membukakan pintu mobil untuk istrinya bahkan sudah mengulurkan sebelah tangannya. Sherly tersipu.


"Silahkan ratuku," ucap Alex.


"Terima kasih, rajaku," jawab Sherly.


Keduanya berjalan beriringan sambil bergandengan tangan. Para karyawan restoran sudah menyambut kedatangan mereka sambil membungkukkan setengah badan mereka.


"Selamat datang," ucap semuanya serempak.


Sherly kagum dengan kemewahan resto tersebut. Dan ia di buat tertegun saat dua pelayan laki-laki menarik kursi di salah satu meja yang sudah di hiasan bunga dan lilin serta makanan terhidang di atasnya. Sungguh sangat romantis.


"Mas ...."


"Kamu suka?" tanya Alex lembut.


Sherly mengangguk cepat yang handak meneteskan air matanya." Iya Mas, aku sangat suka. Terima kasih." Sherly lalu langsung memeluk suaminya erat.


"Jangan menangis, ayo kita duduk."


Alex mempersilahkan Sherly duduk, baru dirinya duduk di hadapannya. Alex tersenyum sambil menggenggam tangan Sherly yang terletak di atas meja.


"Aku mencintaimu istriku," ucap Alex lalu mengecup punggung tangan istrinya.


Sherly belum sempat mengatakan apapun. Tiba-tiba ....


"Woy, durasi 3 menit! Lagi kencan nie ye ...."


CUIT ... CIUT ....


Spontan Alex langsung batuk-batuk terkejut dengan kedatangan orang yang tak di undang itu.


"Kalian ngapain datang ke sini?" tanya Alex kesal. Bahkan sangat-sangat kesal.


"Mau makan gratisan lah. Ngapain lagi?" jawabannya enteng lalu langsung duduk saja seenaknya dan memakan makan di atas meja itu dengan lahap layaknya tak berdosa.


Sherly dan Alex hanya mematung menatapnya, bahkan keduanya kini sudah tak duduk lagi di kursi mereka karena sudah di ambil alih.

__ADS_1


"Alamak, hancur sudah makan malam romantis kuuuuu ...." teriak Alex.


__ADS_2