Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Season 2, berbohong


__ADS_3

Hari esoknya. Sherly bergegas pergi ke rumah sahabatnya ya itu Yura yang hanya tinggal satu-satunya sahabat yang paling dekat selain Dara. Dara sudah entah pergi kemana di negara orang, walau ada kabar tapi tidak setiap hari, paling 1 bulan sekali wanita itu menghubungi kedua sahabatnya. Jadi Sherly tiada tempat lagi untuk bercerita selain ke Yura, karena kalau gak cerita rasanya gimana gitu? Kayak ada yang kurang di dalam hati, begitulah wanita.


"Assalamualaikum." Sherly sudah berada di rumah Yura.


"Wa'allaikumsalam, eh Nak Sherly. Gimana kabarnya Nak?" tanya Andin.


"Alhamdulillah sehat Tante." Sherly menyalami Andin.


"Oh iya di mana Yura?" lanjut Sherly bertanya sembari mencari sosok sahabatnya.


"Oh, Yura ada di taman belakang. Ada Adam di sana," jawab Andin menunjuk taman belakang. Sherly pun bergegas menghampiri Yura yang sedang duduk santai di kursi sembari membaca buku.


"Woy, ngapain lo." ujar Sherly mengagetkan Yura.


"Astagfirullah, untung jantung gue sehat. Ih kau ini, bikin kaget tau gak?" Yura mengelus dadanya karena kaget.


"Adam mana? Kata tante tadi ada." Sherly mencari sosok Adam.


"Di sebelah sana, lagi cabut rumput sama papah." Tunjuk Yura di arah pohon, dan ternyata ada Adam dan Yuda di baliknya.


"Eh, sejak kapan Adam jadi tukang kebun?" gumam Sherly.


"Tadi," jawab Yura. Sherly pun menoleh arahnya.


"Eh tau gak?"


"Nggak!" jawab Yura cepat, singkat dan padat. Sherly pun berdecak sebel.


"Ih kau nie, denger dulu lah. Aku mau cerita nie." Mulai mengaktifkan mode ngambek.


Yura tertawa kecil." Iya-iya, duh ibu hamil sensitif amat dah. Emangnya mau cerita apaan?'


Sherly kembali ceria." Aku tuh sebel banget sama Mas Alex tau gak. Masa mau bikin pesta kejutan ulang tahun aku gak jadi, ngeselin kan?" kisahnya dengan wajah di tekuk.


"Loh, kok bisa? Kenapa?" tanya Yura.


"Gue paksa dia buat jujur. Abisnya sikapnya itu mencurigakan, ya udah akhirnya aku pura-pura mau pisah ranjang, bahkan ngancem buat cerei kalau dia gak jujur," lanjutnya kemudian menceritakan kisah awalnya hingga selesai.

__ADS_1


"Oalah, pantesan aja gak jadi bikin kejutan kan udah tau, terus ngapain lagi coba di lanjutkan? Kan dah gak terkejut lagi, gak seru dong," komentar Yura membuat Sherly berdecak semakin sebel.


"Ia, kau pun juga sama," gumam Sherly malas. Yura memutar bola matanya.


"Ya udah deh, gue balik dulu."


"Lah, udah gitu doang?" heran Yura.


"Terus mau ngapain lagi?" jawab Sherly yang sudah bangkit dari duduknya.


"Jadi lo datang ke sini cuma mau cerita doang gitu?"


"Iya lah, emangnya mau ngapain. Setidaknya udah plong hati gue udah mengeluarkan unek-unek," jawab Sherly enteng.


"Hadew, dasar bumil." Yura menepuk keningnya. Dan Sherly melambaikan tangannya lalu pamit pergi.


Setelah kepergian Sherly, Adam menghampiri kekasihnya itu.


"Tadi aku sekilas liat Sherly? Di mana dia?" tanya Adam yang kini penuh dengan keringat bahkan bajunya sampai basah.


"Hem, udah pulang baru aja," jawab Yura sembari memberikan sebotol minuman.


"Ya gitu deh, dia datang ke sini cuma mau cerita doang. Habis itu pergi gitu tanpa jejak."


"Emangnya cerita apa?" kepo Adam, ia duduk di samping Yura. Yura tersenyum, ia mengelap keringat Adam dengan handuk kecil di keningnya.


"Cerita masalah suaminya, bla, bla, bla ... gitulah," ucap Yura menceritakan cerita dari Sherly tadi.


Adam tersenyum lalu mengacak rambut Yura gemes." Biarin aja, ntar juga baik lagi suasana hatinya. Namanya juga orang lagi hamil."


Yura manggut-manggut mengerti, ia menyandarkan kepalanya di bahu Adam. Wala8banyak keringat tetapi tidak bau asam, melainkan masih tercium bau wangi khas maskulin pada tubuh tunangan itu.


Sementara Sherly. Ia tidak kembali pulang. Tetapi menuju kantor Alex.


"Malas mau pulang, mending gangguin Mas Alex aja di kantor," ucap Sherly terkekeh. Ia sudah masuk di gedung suaminya.


"Selamat siang Mbak Sherly," sapa Tina sekretaris Alex.

__ADS_1


"Halo Kak Tina, lama gak ketemu. Makin seksi aja."


Tina tersenyum malu karena di puji oleh istri bosnya.


"Tapi kok Mbak Sherly datang ke sini?" tanya Tina.


"Emangnya salah datang ke kantor suami sendiri?" jawab Sherly.


"Nggak sih, tapi kan pak Alex nya gak ke kantor dari pagi. Emangnya Mbak Sherly gak tau?" ujar Tina.


"Apa? Gak ke kantor, kamu serius Kak?" kaget Sherly, pasalnya tadi pagi suaminya itu pamit untuk berangkat ke kantor.


"Iya, kan lagi pergi ke luar kota, gak inget ya?" ucap Tina yang berpikir jika Sherly lupa.


"Apa? Keluar kota! Kok gak bilang?" Sherly langsung mengambil hpnya di dalam tas.


"Halo Mas."


"Assalamualaikum sayang, ada apa, hem?' jawab Alex.


"Wa'allaikumsalam, kamu di mana Mas?" tanya Sherly.


"Aku di kantor, kenapa sayang?" tanya balik Alex. Sherly melirik arah Tina dengan wajah pucat. Suaminya itu berbohong padanya. Tapi kenapa?


"Lagi di mana? Aku mau ke kantor ya sekarang," ucap Sherly berusaha untuk tidak menangis.


"Jangan sayang, aku mau meeting di luar kantor soalnya nanti sama Tina. Takut nya kita gak ketemu, soalnya beberapa menit lagi kami mau berangkat meeting," cegah Alex.


Sherly langsung lemas, ia bahkan sudah menitikkan air matanya. Sebenarnya kejujuran suaminya itu sungguhan atau hanya alasan ulang tahunnya aja supaya ia tidak lagi bertanya tentang tidak jujurnya Alex.


"Om, ayo!" Terdengar suara wanita di sana.


"Sayang, udah dulu ya. Tina udah manggil aku. Dah sayang i love you, nanti aku pulang agak telat dikit ya, assalamualaikum."


Tubuh Sherry kembali lemah, bahkan hampir jatuh.


"Astagfirullah, Mbak!" teriak Tina, untungnya ia dapat dengan cepat menangkap tubuh Sherry. Dan segera membawanya duduk di shopa.

__ADS_1


"Mas Alex berbohong Kak? Kenapa dia berbohong sama aku Kak?" Isak tangis Sherly pecah. Tina pun memeluk Sherly dengan wajah tak percaya jika bosnya tega seperti itu pada istri yang bahkan lagi hamil.


__ADS_2