Pengantin Yang Tertukar

Pengantin Yang Tertukar
Bab 18


__ADS_3

Acara pernikahan dadakan yang direncanakan Raffa dan Kayla sudah berhasil menyatukan putranya dengan putri kedua sahabatnya.


Namun, pernikahan itu menyisakan luka di hati kedua putranya karena wanita yang mereka cintai tertukar.


Semua acara sudah selesai, semua orang kembali ke rumah masing-masing, mereka akan kembali bertemu di acara resepsi pernikahan yang akan diadakan di kota Padang di rumah Raffa.


Ratu dan keluarganya ikut pulang ke kota Padang bersama kedua orang tuanya, tapi tidak dengan Raja dan Raju.


Raja harus tinggal di rumah mertuanya hingga mereka berangkat ke Padang untuk acara pernikahan, begitu juga dengan Raju, dia pulang ke rumah Nick dan Gita yang ada di Bandung.


Mereka sengaja menyuruh Raja dan Raju tinggal agar mereka bisa mengenal pasangan mereka masing-masing.


"Gue harus balik ke Bandung," pamit Raju pada Raja sebelum Raju masuk ke dalam mobil ayah mertuanya.


"Iya, lu hati-hati di sana," ujar Raja melepas kepergian saudara kembarnya.


Mata Raja tertuju pada Kanaya yang berdiri di samping saudara kembarnya, Raju dapat melihat tatapan cinta yang dilayangkan Raja pada istrinya.


Sementara itu, Kania yang berdiri di samping Raja hanya diam menunduk. Raju menatap wanita yang dicintainya sekilas sebelum dia meninggalkan Raja dan Kania di Yogyakarta.


Kania tidak melihat pandangan Raju padanya, dia merasa sedih melihat sahabatnya berdampingan dengan pria yang dicintainya.


Mereka pun berpamitan dan meninggalkan villa megah milik Reza.


Setelah semua orang pergi, Reza dan Lisa mengajak masuk Kania dan Raja.


Mereka duduk di sebuah sofa yang ada di depan TV besar.


"Nia, Ayah dan Ibu akan pulang ke rumah. Kalian tetaplah di sini hingga waktu keberangkatan ke Padang datang," ujar Reza pada putrinya dan menantunya.


"Hah? Kenapa Ayah dan Ibu meninggalkan kami di sini?" protes Kania tidak terima dengan keputusan orang tuanya.


Kania merasa canggung tinggal bersama pria yang baru saja menjadi suaminya.


"Ayah harus menyelesaikan pekerjaan ayah, lagian kamu di sini bersama Raja. Suamimu akan menjagamu dengan baik," ujar Reza.


"Benar, 'kan, Raja? Kamu akan menjaga istrimu di sini?" tanya Reza memastikan menantunya menuruti kemauannya.


"I-iya, Om," jawab Raja.


"Lho, kamu kenapa manggil ayah dengan sebutan Om? Kalian sudah menikah, itu artinya orang tua Kania juga orang tua kamu." Lisa menegur menantunya.


"Oh, iya. Ma-maaf, Yah," lirih Raja.


Raja masih canggung dengan kehidupannya yang baru saja dimulai.


"Ya sudah, kalau begitu kami berangkat, ya. Kalau kalian butuh apa-apa Pak Mamat akan membantu kalian," ujar Reza.


Pak Mamat merupakan penjaga Villa megah itu, di villa tersebut juga disediakan 10 orang pelayan sehingga mereka tidak akan kesulitan dalam mengurusi Villa.


"Iya, Yah." Kania terpaksa menerima apa yang sudah diputuskan oleh kedua orang tuanya.


Setelah itu, Reza dan Lisa pun pergi meninggalkan Raja dan Kania di villa tersebut.

__ADS_1


Kini tinggallah Raja dan Kania yang masih duduk di berdua di sofa. Mereka bingung apa yang akan mereka lakukan.


Tak berapa lama Raja pun berdiri, dia hendak meninggalkan Kania yang masih diam di sana.


"Hei," seru Kania menghentikan langkah sang suami.


Raja membalikkan tubuhnya lalu menatap Kania heran.


"Ka-kamu mau ke mana," lirih Kania bingung mau memanggil suaminya dengan sebutan apa.


Raja menautkan kedua alisnya saat mendengar Kania memanggilnya dengan sebutan kamu.


Raja merasa aneh di saat seorang istri memanggil suaminya dengan sebutan 'kamu'.


Seketika Raja teringat pada mamanya yang memanggil 'Abang' pada papanya.


"Apa kamu bilang? Kamu panggil aku dengan sebutan kamu?" tanya Raja sedikit kesal.


Kania menunduk mendengar pertanyaan dari sang suami.


"Ma-maaf, Ma-mas," lirih Kania.


Kania yang merupakan keturunan Jawa dan Minang bingung harus memanggil apa pada suaminya.


"Mhm, jangan panggil aku dengan sebutan 'Mas'," bantah Raja.


Sebagai keturunan Minang, Raja merasa asing dipanggil dengan sebutan khas orang Jawa.


"Lalu, aku harus memanggil apa?" tanya Kania bingung.


"Oh, ba-baiklah, Ba-bang," lirih Kania pelan.


Ibu Kania juga memanggil Ayahnya dengan sebutan Abang karena ayahnya merupakan keturunan Minang sama dengan Raja.


"Kalau begitu enak di dengar, aku tidak suka dipanggil mas," ujar Raja.


"I-iya, Bang," lirih Kania.


"Kamu mau bilang apa tadi?" tanya Raja mengingatkan topik yang mereka bahas sebelumnya.


"Abang mau ke mana?" tanya Kania.


Kania berusaha membiasakan memanggil Raja dengan sebutan yang diinginkan oleh suaminya.


"Aku mau ke kamar," jawab Raja.


"Mhm, a-aku." Kania bingung harus berbuat apa.


"Ada apa? Kamu mau ikut?" tanya Raja pada Kania.


"Mhm," gumam Kania.


Dia masih saja bingung harus bagaimana, rasa canggung di antara mereka masih saja terlihat, meskipun Raja terlihat santai.

__ADS_1


"Kalau kamu mau ikut, ayo. Aku mau tidur, pusing," ujar Raja.


Raja bosan di villa yang besar itu berdua dengan istrinya.


Kania bingung antara mau ikut atau tidak.


"Kalau kamu mau ikut, Ayo," ajak Raja.


Raja pun meraih tangan Kania lalu menarik Kania untuk melangkah mengikuti langkahnya menuju kamar.


Sesampai di kamar, Raja langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Kania diam mematung menatapi sang suami yang terlihat santai membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Raja heran melihat tingkah sang istri.


"Hei," lirih Raja.


Suara Raja membuyarkan Kania yang selalu saja melamun kebingungan di hadapan sang suami.


"Eh, i-iya. A-ada apa?" tanya Kania.


"Apa yang kamu lakukan di sana?" tanya Raja pada Kania.


"Mhm." Lagi-lagi Kania bingung.


"Sini tidur," ajak Raja.


Raja tidak menjaga jarak dengan Kania, karena dia berusaha menjadikan Kania sebagai seorang teman.


Kania masih saja mematung di tempatnya, Raja menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang istri.


Raja turun dari tempat tidur, lalu dia menghampiri Kania.


Raja membawa Kania ke tempat tidur dan menyuruh Kania untuk berbaring di atas tempat tidur.


"Tidurlah," ujar Raja.


Kania masih diam, Raja pun duduk di depan Kania.


Dia menatap dalam wajah sang istri, Raja mulai mencermati wajah wanita yang ada di hadapannya.


Kecantikan Kania tidak kurang dari kecantikan Kanaya, wajah Kania teduh menunjukkan sosok wanita yang sholeha.


"Ada apa? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Raja pada sang istri.


"Mhm, a-aku," lirih Kania.


"Aku tahu kita baru saja bertemu dan baru saja kenal, sekarang kita sudah terikat dengan ikatan pernikahan meskipun kita terpaksa menjalani pernikahan ini. Apakah salah kita berteman?" tanya Raja.


Raja menawarkan sebuah pertemanan pada istrinya agar hubungan mereka tidak terlihat canggung di mana pun mereka berada.


Kania menatap wajah tampan sang suami, dia melihat wajah itu tidak jauh berbeda dengan pria yang dicintainya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2