
Hari ini hari libur, tapi kerja di Hotel dan Restourant hari libur malah hari rame makanya jarang ada karyawan yang di kasih libur pada hari Sabtu minggu kalau bukan untuk alasan tertentu seperti Aryanti masih menyelesaikan kuliah akhirnya. Adrian malas-malasan aja dan menimbang nimbang kerja apa nggak ya? dari semalam ponselnya penuh dengan panggilan tak terjawab juga pesan chatting, ada dari Livia juga teman temannya yang lain yang biasa ngobrol nongkrong di cafe jalanan.
Malas amat fikirnya hari ini apalagi temannya Aryanti nggak masuk lagi hari ini jadi nggak ada teman diskusi soal pekerjaan, lalu lamunan bawah sadarnya melayang pada sosok Aryanti, badannya yang tinggi langsing kulitnya bersih walau eksotik. Wajahnya manis banget dengan lesung Pipit di sebelah kirinya teramat manis kalau tersenyum, hidung mancung dengan alis alami tanpa ukiran.
Adrian tersenyum sendiri dan tersadar dengan lamunannya dia terperanjat sendiri dan mengusap mukanya.
Adrian sendiri kaget dengan dirinya kok melamun sejauh itu, tapi kenapa dirinya merasa kehilangan saat Aryanti tak masuk kerja? Adrian menepis semuanya lalu bangun dan duduk di tepi tempat tidur.
"tok tok tok..."
"Mas Adrian bangun udah siang, kerja nggak?"
"Iya Bi, aku udah bangun."
Dan suara pembantunya itu hilang lagi. Adrian berfikir mau masuk kerja aja mau kerja walau Aryanti lagi nggak masuk masa baru kerja seminggu udah KO oleh rasa malas, lagian ngapain tergantung pada orang lain... semangat Adrian! jangan kalah sama teman kerjamu biar mendapat kepercayaan Bapak.
Seisi rumah merasa heran pada majikan mudanya lain dari biasanya, bisa bangun pagi dan rutin pergi kerja bahkan hari minggu juga, orangtuanya yang mulai mengurangi aktifitas di luar merasa ada yang lain dengan anaknya seminggu ini, nggak banyak yang di pinta cuma kemarin dia meminta mobilnya untuk bisa di pakai kembali. Tak masalah bagi Pak Surapraja asal anaknya memperlihatkan niat baik.
Uang juga di kasih secukupnya tapi tak ada protes atau penolakan seperti biasanya. Sungguh ini perubahan yang sangat baik menurut penilaian Pak Surapraja, dirinya melihat anaknya seminggu ini disiplin banget.
"Adrian, kamu dan Aryanti memperlihatkan kerja yang bagus selama minggu kemarin semua bisa kalian lakukan tanpa bantuan orang lain dan untuk minggu besok silahkan pindah dan pilih bagian yang kalian ingin dalami."
"Ya Pak,nanti Adri ngobrol dulu sama Yanti maunya di mana dulu."
"Bagus begitu komunikasi, biar semuanya lancar."
"Terus kendalanya apa kemarin kemarin kerja di office?"
"Nggak ada biasa aja, Yanti juga biasa biasa aja maksudnya bisa menjalani dan mengikuti bagaimana kerja orang di situ."
"Syukurlah, itu yang Bapak suka dari anak muda seperti kalian."
Adrian menyelesaikan sarapannya sambil melihat lihat ponselnya, sesekali menutupnya dan melihatnya kembali. Pak Surapraja memperhatikan anaknya yang mewarisi dirinya dari potongan muka postur badan juga gaya bicaranya, terbersit kerinduan akan masa mudanya dulu yang penuh perjuangan di awal awal karier nya.
"Bapak ke kantor nggak?"
"Enggak,Bapak mau istirahat Ibumu mulai melarang kalau hari minggu biar buat istirahat."
"Oh ya udah, mobil Adri di bawa ya Pak."
__ADS_1
"Ya ya ya...hati hati ya..."
Adrian menjalankan mobilnya pelan pelan saja dan sampailah di pertigaan pasar yang waktu itu pernah kejadian dan pertama kalinya ketemu Aryanti. Adrian lebih memelankan mobilnya berharap ada seseorang di ujung pandangannya, dan benar saja...seorang gadis berjilbab duduk sambil membaca buku di bawah pohon beringin dan di depannya odong-odong berputar dengan anak-anak kecil di dalamnya.
Adrian gelagapan, terus aku mau apa? pikirnya, mampir, nanya, basa basi, atau... ah aku nggak tahu kok aku jadi begini? mau nanya nanya apa kan udah tahu Aryanti hari ini izin nggak masuk, mau basa basi apa ya...kebetulan aja lewat, ah masa gitu? terus enaknya apa ya alasannya nggak jelas banget.
"Tok tok tok..." mobilnya di ketok tukang parkir.
"Pa mau berhenti apa jalan? kalau mau parkir tolong pinggirkan"
"Oh iya" Adrian gugup tukang parkir nggak ngerti amat sih gerutu dalam hatinya.
Adrian terpaksa minggirkan mobilnya dan turun, sambil berjalan mikir gimana nanti aja.
Adrian berdiri di belakang Aryanti yang lagi asyik membaca dan tak sadar ada yang memperhatikan di belakangnya.
"Asyik banget sarapan bukunya Yan...boleh aku ikutan?"
Aryanti agak kaget sambil melirik ke atas dan membuka kacamata bacanya.
"Ya ampun Mas Adrian mau kerja ya?" Aryanti gelagapan seperti biasa malu-malu.
"Oh nggak apa apa aku lagi nungguin ini, sambil nunggu Bapakku daripada di rumah." Aryanti menunjuk odong odong nya.
"Kuliah jam berapa emangnya?"
"Karena lagi bimbingan aku janjian sama dosen pembimbing nanti habis duhur untuk revisi."
"Boleh aku antar?" Adrian mengatakan itu meluncur begitu saja, seperti di hipnotis tanpa perhitungan jelas.
"Hah…oh emh, Mas Adrian mau ngantar aku?"
Aryanti mengerutkan dahi penuh selidik.
"Maksudku kan aku kerja, siang nanti istirahat sekalian aku makan siang ya keluar antar kamu, kamu mau kan?" Adrian seperti kesannya memaksa.
"Boleh, kalau Mas Adrian nggak keberatan."
"Gitu dong, keberatan apa nggak di gendong kok di temenin doang heeeeee...ya sudah aku tunggu nanti di ujung masuk gang ke rumah kamu ya..."
__ADS_1
"Oh, iya Mas."
"Aku jalan dulu ya."
"Silahkan Mas."
Adrian kembali ke mobilnya dan menghidupkan mobilnya dalam pandangan Aryanti yang belum habis rasa heran terkejut dan kagetnya, ada rasa deg-degan tapi Aryanti menepis semuanya.
"Siapa itu tadi Nak?"
Belum hilang rasa kagetnya tadi Aryanti dengan kedatangan Adrian yang tiba tiba dan menawarkan dirinya, tiba tiba bapaknya datang mengagetkannya lagi Aryanti tersadar dirinya mematung agak lama.
"Oh emh, itu Mas Adrian Pak teman kerjaku di Hotel."
"Oh, ya sudah kalau mau pulang biar Bapak yang teruskan jaga di sini."
"Iya Pak." Aryanti menyerahkan dompet kotak pada bapaknya, dan membereskan buku bukunya di masukin ke tas goni nya lalu pamit pada Bapaknya sambil mencium tangannya. Bapaknya mengangguk dan memandang punggung anak semata wayangnya yang segala segalanya baginya dan istrinya.
Dalam perjalanan pulang Aryanti tersenyum sendiri, ada apa sih dengan anak boss nya Adrian pasti ada maunya, mau di bantu apa kali Aryanti belum bisa memahami karakternya, baru seminggu juga kurang kerja bareng lebih tepatnya belajar kerja, bersama-sama ketemu tiap hari makan siang juga di restoran waktu itu yang bayar dirinya apa mau membalas itu semua kali nggak tahu lah...
Tapi tak urung juga hati Aryanti deg degan juga baru kali ini ada pria yang datang dengan sengaja menawarkan diri mengantarnya apalagi itu seorang Adrian anak boss nya di tempat ia kerja. Tak mampu Aryanti membayangkan khayal dan mimpi manisnya, selalu ingat pepatah Mama dan Bapak nya bercita-cita tinggi boleh tapi jangan terlalu tinggi berkhayal nanti jatuhnya akan sakit, kita orang biasa biasa aja ya mimpinya juga biasa aja sangat realita memang.
Dalam pandangan dan prinsip keluarga nya akhlak dan moral adalah yang utama akhlak yang baik ibarat intan permata di dasar lautan di dalam lumpur di kedalaman terdalam juga tetap akan kelihatan berkilau, jadi berkilau lah dengan kebaikan akhlak mu.
Pesan moral yang begitu dalam yang di tanamkan orangtua Aryanti pada dirinya menjadikan Aryanti pribadi yang baik menyenangkan enak di pandang dan diajak bicara.Satu kelebihan yang di milikinya yaitu Sholehah, terima apa adanya dengan rasa syukur jadi hidupnya tenang dan adem ayem...
.
.
.
.
.
Penulis sedang merevisi novel ini dari awal dan ingin menyempurnakannya menjadi idealnya bab sebuah novel, jadi untuk itu akan menambah bab tanpa merubah tokoh dan alur cerita.
Terimakasih, Selamat membaca kembali 🙏
__ADS_1
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝