Pesona Aryanti

Pesona Aryanti
Belum mengerti


__ADS_3

Aryanti merasa lemas dan tak bertenaga kepalanya begitu pusing dan serasa gelap lalu membuka mata dan memejamkan kembali begitu beberapa kali sampai dirinya sadar dan ingat walau dengan mata yang masih begitu ngantuk dan kesadaran belum kumpul sepenuhnya,Aryanti meraba seluruh tubuhnya dan pakaiannya yang masih begitu lengkap dari atas kepala sampai ujung kakinya yang terasa begitu dingin tapi masih pakai kaos kaki tanpa sepatu.


Dengan mengerjap ngerjap kan matanya Aryanti melihat sekelilingnya di manakah dirinya dan serasa habis tidur yang begitu lama,Aryanti tak ingat dan tak tahu dimanakah ini,mencoba mengingat antara sadar dan tidak Aryanti mengingat saat tadi pagi pagi dirinya berlari di jalan raya di tengah ramainya orang orang berolahraga.


"Astaghfirullahaladzim apa aku mengalami kecelakaan ?" sekali lagi Aryanti merasakan seluruh tubuhnya tapi tak ada yang terasa sakit semuanya baik baik saja.


Dalam kerasnya berfikir mengumpulkan kembali ingatannya Aryanti mengingat terakhir bicara sama siapa dan bertemu siapa di jalan raya tadi dan dadanya begitu berdegup kencang,hatinya diliputi ketakutan yang mendalam, kecemasan yang tak terkira, sedikit demi sedikit otaknya mulai bekerja dan mengingat rentetan kejadian dari mulai keluar rumah dan mencium putrinya dan suaminya,ya ya ya....Ya Allah di mana sekarang Aku ini ? sudah jam berapa ini dari kejadian tadi ? Alinea ? Mas Adrian Bi Inah ?


Ini semua benar benar kejadian, aku ini ada dimana ? Aryanti tak mengira akan sejauh ini dirinya masuk kedalam jerat perangkap orang semacam Made Ardika yang selalu di katakan sama Komang Putri begini-begini tetapi dirinya tidak mempercayainya, Aku di culik ? untuk apa ? minta tebusan pada suamiku atau pada mertuaku ?


Ruangan apa ini seperti tempat karaoke atau studio musik ? kalau memang aku diculik kenapa aku tidak diikat kedua tanganku ? kenapa mulut aku tidak dilakban ? kenapa aku tidur di tempat tidur yang begini nyaman dan berselimut pula ? Aryanti mencoba bangun dan duduk di tempat tidur sambil memegang kepalanya dan menggerakkan kakinya.


Aryanti bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju ke arah jendela yang tertutup dan Aryanti melihat keluar ingin tahu apakah ini masih siang udah sore atau bahkan malam sambil tetap di dalam hatinya di liputi ketakutan dan ketakutan juga perasaan was was dan menjadi hati hati juga waspada,hanya jalan keluar yang ada dipikirannya tetapi di tempat dirinya ini sepertinya begitu sulit Aryanti menemukan jalan keluar kecuali pintu itu,Aryanti memandang keluar kaca pemandangan begitu indah dengan danau dan perahu perahu sebuah danau di lihat dari ketinggian pucuk pucuk pohon pinus berada di bawahnya berarti dirinya berada di ketinggian yang sangat tinggi di manakah ini ? dan di manakah ini ? begitu banyak pertanyaan dalam hatinya dan Aryanti mulai berfikir strategi tapi harus tahu dulu apa motif dari ini semua.


Aryanti berkeliling di dalam ruangan itu ada tempat tidur yang dipakainya tidur tadi alat-alat musik serasa alat sebuah band komplit dengan pengeras suara kabel-kabel serta pernak-pernik musik ada di dala ruangan yang begitu luas ada kursi ada sofa tapi yang tidak ditemukan Aryanti hanya tidak ada orang.


Pintu di ketuk dari luar begitu mengagetkan Aryanti dan Aryanti terpaku di tempatnya berdiri dan memandang yang membuka kunci pintu


"Selamat sore Bu Aryanti...sudah bangun rupanya ya...tidurnya begitu pulas saya sampai nggak tega membangunkan Bu Aryanti, saya bawa makanan juga teh hangat lumayan buat menyegarkan fikiran Bu Aryanti"


Aryanti tak menjawab hanya memandang tajam ke arah Made Ardika yang menyimpan makanan dan minuman di meja kecil dekat koleksi meja gitar gitar yang berjajar...

__ADS_1


"Saya harap Bu Aryanti tenang silahkan minum atau sekedar makan makanan pilih saja yang Bu Aryanti suka"


Aryanti masih diam seribu bahasa,bukan makanan dan minuman yang dirinya inginkan tapi seribu pertanyaan dan jawaban yang di inginkan nya.


"Saya mengerti ketakutan Bu Aryanti,kecemasan,dan juga mungkin kebencian pada saya,tapi semua ada jawabannya kalau Bu Aryanti bisa tenang dan bisa makan,tidak saya racun lihat ini gelas saya" Made Ardika menuangkan gelas teh Aryanti ke gelas dirinya dan Made Ardika meminumnya dan memastikan semua makanan dan minuman aman tanpa racun seperti pandangan dan selidik Aryanti.


Saya akan bercerita kalau Bu Aryanti mulai minum... silahkan,atau perlu saya sodorkan ? maaf ini tolong di minum dulu"


Aryanti menjadi berfikir ini Made Ardika menculik dirinya tapi begitu sopan pada dirinya, menjadi suatu tantangan bagi dirinya ada apa ini semua satu keanehan dan aneh luar biasa.


Aryanti menerima gelas yang masih hangat dengan isi tak penuh lagi karena sebagian setelah dituang ke dalam gelas Made Ardika dan meminumnya di hadapan Aryanti.


"Simpan saja dulu rasa takut Bu Aryanti saya tidak akan mengganggu Bu Aryanti asal Bu Aryanti mengikuti saja apa yang saya inginkan dan ini juga bukan pemaksaan" Hah ? bukan pemaksaan ? saya ada di sini juga ini hasil pemaksaan tanpa persetujuan !


Dengan beberapa tegukan isi gelas habis di teguk nya dan memang perutnya begitu lapar dan baus,dan Aryanti menyimpan gelas dengan kencang di meja tadi masih dalam diam belum bicara apapun dan memandang tajam pada Made Ardika yang seolah tanpa beban tersenyum dengan santai...


"Bu Aryanti nggak mau berteriak ? kalau mau teriak silahkan lepaskan semua beban di hati Bu Aryanti nggak apa apa nggak bakal ada yang dengar ini ruangan kedap suara biasa di pakai latihan bermain musik dan saya sewa sewakan salah satu usaha saya juga"


"Saya tak perlu tahu itu semua Made Ardika ! Kalau memang anda cukup pintar pasti Made tahu yang saya inginkan saat ini !"


"Pernyataan yang begitu pintar nggak di ragukan lagi salah satu aset termahal dan teristimewa The Praja Hotel dan Restourant Group Ibu Aryanti Surapraja"

__ADS_1


Aryanti berusaha tetap begitu tegar dan menguat nguat kan dirinya sambil tetap menatap tajam ke arah Made Ardika yang kelihatan santai.


"Saya begitu senang berbicara dan ngobrol dengan Ibu Aryanti,begitu luwes,pintar,cantik dan berwawasan luas seperti saya suka pada istri saya yang sudah lama meninggal"


"Stop ! jangan kait kaitkan saya dengan istri Made yang sudah tidak ada saya masih hidup,saya masih nyata di zaman milenial seperti sekarang ini Made begitu berfikiran picik,sempit dan kuno menghubungkan sesuatu yang di luar akal sehat apa arti semua ini ?" Aryanti begitu emosi.


"Jadi Bu Aryanti juga orang modern berfikiran sangat maju banyak terobosan,banyak pemikiran inovasi menganggap saya itu sakit juga hemght ? keterlaluan..."


"Jadi apa arti semua ini satu kata kalau bukan Made itu sakit ?"


"Terserah kata orang seluruh dunia,tanyakan juga pada semuanya apa nggak boleh aku mencintai,melihat dari dekat, mendengar suaranya,melihat senyumnya,juga melihat kemarahannya...seseorang yang seperti istriku ?"


Aryanti tertegun semua ini bukan kata kata orang sakit tidak ngelantur tidak mengacau...semua omongan Made Ardika terarah hasil pemikiran orang sehat.


"Katakan apa yang Made inginkan dari saya ? tebusan uang ? jabatan kembali ?"


"Haaaaaaaa...Bu Aryanti jangan merendahkan diri Bu Aryanti sendiri,apa mau Bu Aryanti di tukar dengan uang ?"


"Lantas apa yang Made inginkan !?" Aryanti hilang kesabarannya dan membanting apa saja yang ada di depannya gitar yang tertata rapi Aryanti tarik rantai yang menghubungkan satu sama lainnya dan semua jatuh berantakan...Aryanti marah membabi buta dan merusakkan menjatuhkan dan melempar lemparkan apa yang bisa di pegangnya.


Aryanti tersungkur bertekuk lutut di samping barang barang yang berantakan dan Made menghampirinya menyodorkan tangannya tapi Aryanti tak mau menyambutnya,dan Made Ardika meraih kedua bahu Aryanti dan mengangkatnya perlahan dan mendudukan Aryanti di kursi yang hanya ada dua,Aryanti terisak dalam putus asa begitu tak mengerti sungguh tak mengerti semua ini.

__ADS_1


Made Ardika merentangkan kedua tangannya menawarkan pelukan sambil mengangguk tapi Aryanti memalingkan mukanya.


__ADS_2