Pesona Aryanti

Pesona Aryanti
Lamunan angan angan


__ADS_3

Pagi-pagi Aryanti sudah bangun walau terasa mata dan badan begitu malas untuk bangun juga kepalanya begitu berat karena tidur terlalu malam, tapi Aryanti tetapi ingat hari ini dirinya akan berangkat kembali ke Pangandaran dan akan dijemput sama Pak Tono.


Setelah membersihkan diri Aryanti keluar dari kamar mandi mendapati Mamanya sedang memasak di dapur Mamanya hanya tersenyum dan meliriknya.


"Bapak sudah berangkat ke pasar Ma ?" Aryanti berhenti sejenak sambil mengeringkan kakinya di keset,dan mengeringkan rambutnya dengan digosok-gosok handuk.


"Ya seperti biasa" Mamanya menjawab pendek.


Setelah menunaikan kewajibannya shalat subuh dan membereskan semua barang yang ingin di bawanya, Aryanti keluar kamar lagi dan menghampiri Mamanya yang masih sibuk di dapur, Aryanti melihat-lihat apa yang dimasak Mamanya dan apa yang sudah matang di meja makan


"Mau bantuin Mama masak ? tapi udah hampir selesai tinggal iris ini buat mendoan tempe..."


"Ya sudah biar Yanti saja yang ngirisnya"


Mamanya menggeser tatakan buat mengiris yang diatasnya sudah ada tempe dengan pisaunya.


"Nak,kamu harus ingat setinggi apapun jabatan kamu dalam pekerjaan dan karirmu kalau nanti kamu sudah menikah tetap posisimu adalah sebagai istri,yang harus bisa membeli perut suamimu dengan masakan kamu, itu yang Nenek kamu ajarkan terhadap Mama waktu itu"


"Apa itu masih berlaku Ma ? heeee... kan sekarang zaman sudah modern banyak makanan matang siap saji yang bisa kita beli dan bisa kita dapatkan dengan mudah apa apa tersedia,bahkan sekarang tinggal pijit ponsel makanan datang"


"Itu yang keliru menurut Mama, memang sekarang banyak makanan di luar sana apalagi kalian bekerja mungkin tidak ada waktu untuk bisa memasak atau menyajikan makanan di rumah,tetapi kamu sebagai istri suatu saat nanti harus tahu apa makanan kesukaan suamimu dan kamu harus bisa membuatnya"


"Iya Ma Yanti Yanti mengerti,kan dari kemarin-kemarin sebelum Yanti bekerja biasa bantuin Mama masak,lagian kan kita harus hidup bersama dulu baru tahu kesukaan seseorang"

__ADS_1


"Bisa dan pinter aja kamu menjawab...heee"


"Heeeee...."


"Itu hanya nasehat seorang Mama yang sangat dasar terhadap putrinya yang mulai memasuki masa dewasa"


"Iya Ma..."


"Terus kamu nanti berangkat kira-kira jam berapa Nak ?"


"Sedatangnya aja Pak Tono menjemput Ma... mungkin agak siangan sedikit"


"Iya biar bapakmu sudah pulang dan bisa mengantar kamu"


"Yanti sarapan duluan boleh ya Ma...perasaan Yanti lapar banget" sambil mengambil piring dan menyentong nasinya.


"Makan saja Mama biar nunggu Bapak pulang dulu, sekarang kan Bapak punya anak tetangga yang bisa diandalkan menunggui odong-odong nya yang di pasar sambil dagang balon mainan jadi kalau Bapakmu mau pulang makan ada yang nungguin, kalau yang di alun-alun buka hanya pagi saja sampai jam 9 dan nanti sore anak-anak sudah waktunya main dibuka lagi"


"Ma Yanti kan sudah punya penghasilan Yanti sudah punya tabungan Mama sama Bapak kira-kira mau dibeliin apa sama Yanti, ingin rasanya Yanti memberi sesuatu sama Bapak sama Mama dari keringat Yanti sendiri"


"Nak, bukannya Bapak sama Mama mu menolak tetapi Bapak sama Mamamu merasa cukup dari penghasilan usaha yang sekarang Bapakmu jalankan, bahkan setelah kamu lulus kuliah Bapak sama Mamamu bisa menabung sedikit demi sedikit, walaupun belum terucap ada keinginan Bapakmu tapi Mama sudah menebak kalau Bapakmu ingin menunaikan ibadah haji seandainya ada umur cukup bekal dan biayanya tetapi itu tidak akan membebankan kepadamu sisa tabungan dari kemarin kemarin dan tabungan ke depan semoga bisa mencukupi nya, tak tega rasanya Mama memakai uang hasil keringatmu, tabung lah untuk masa depan"


"Masya Allah Mama...? sesuatu yang Yanti tidak terpikirkan semoga niat baik Bapak dan Mama terwujud nanti pasti Yanti bisa membantunya memenuhi keinginan Bapak dan Mama yang sangat mulia itu"

__ADS_1


"Iya Nak Aamiin, sekarang Bapak sama Mama sudah daftar ke biro haji dan bank yang di tunjuk dan persyaratan sudah hampir komplit tinggal mungkin sedikit lagi menunggu dapat jatah kursinya aja, Bapak sama Mamamu hanya meminta do'a dari kamu itu saja,dan maaf Mama baru bicara sama kamu sekarang"


Percakapan antara Ibu dan anak di kegiatan memasak,makan dan bersih-bersih akhirnya siang juga,Pak Tono telah datang dan Bapaknya Aryanti juga sudah selesai makan.


Pak Tono menaikkan semua barang-barang milik Aryanti dengan begitu hormat dan sopan nya ,Pak Tono tahu sedikit banyak kalau Aryanti sekarang adalah pucuk pimpinan di Hotel tempatnya bekerja dan sekaligus tunangan anak bos utamanya Adrian Suraparaja, Pak Tono bersalaman dengan kedua orang tuanya Aryanti,dan Aryanti memeluk dan mencium kedua pipi Mamanya,lalu bersalaman dan mencium tangan bapaknya dan mereka berpisah di ujung gang jalan ke arah rumahnya Aryanti,Aryanti melambaikan tangan pada kedua orangtuanya dan mobil melaju membawa Aryanti berangkat ke tempat kerjanya kembali.


"Hotel baik baik saja Pak Tono,nggak ada apa apa ?"


"Baik Bu semua berjalan seperti biasanya"


"Pak Tono Saya mau tidur ya,Pak Tono nggak apa apa nggak saya ajak ngobrol dulu ?"


"Oh silahkan Bu tidur saja,nanti mau istirahat nggak Bu biar saya nyari rest area yang nyaman"


"Nggak usah langsung saja saya masih kenyang,kecuali Pak Tono lelah dan ngantuk ya istirahat dulu lah..."


"Iya Bu" Pak Tono melihat Aryanti dari spion dalam dan kelihatan Aryanti mulai mejamkan matanya.


Fikiran Aryanti jauh melamun kan Adrian yang entah di mana sekarang posisinya cuman Aryanti ingat akan janji antara Adrian dan dirinya kemarin tidak usah saling mengantar tidak usah saling mengabari sampai malam menjelang,mungkin Adrian lagi terbang atau sudah sampai atau malah belum berangkat, Aryanti tidak tahu detilnya seperti apa,juga Aryanti juga tak bertanya pada Adrian.


Aryanti kembali membuka lamunannya saat-saat pertama Adrian dan dirinya duduk dalam perjalanan seperti sekarang yang waktu itu pertama kali dirinya tidur bersandar ke sebelah bahu Adrian, kesepiannya mulai datang menyergapnya dan Aryanti hanya bisa merangkai saat-saat kebersamaan demi kebersamaan yang telah di lewatinya di mulai dari perjalanannya saat ini.


Karena belum tidur Aryanti membuka ponselnya tak ada pesan tak ada panggilan masuk,atau panggilan tak ter terjawab, hanya pesan dari Linda juga Pak Edi menanyakan kesehatannya dan juga kapan kembali itu juga sudah terlewat beberapa waktu kebelakang,Aryanti kembali menutup ponselnya,dan melihat jam di pergelangan tangannya,mencoba tidur dalam lamunan yang tak hilang dari angan angannya.

__ADS_1


__ADS_2