Pesona Aryanti

Pesona Aryanti
Iya hati hati Nak...


__ADS_3

Bangun pagi terasa segar otak dan fikirannya juga badannya sampai sampai Aryanti tak menyadari Adrian suaminya tak ada di sampingnya biasa mereka tidur,hanya Alinea yang ada di sampingnya tidur dengan tidak beraturan dan menghabiskan tempat,dan entah gimana prosesnya Aryanti tak ingat Alinea tidur di sampingnya entah Ibu mertuanya yang menidurkannya entah Bi Inah.


Aryanti duduk di pinggir tempat tidur dan tersenyum memandang putri cantiknya...begitu besar rasa sayang dirinya dan Adrian pada Alinea kecil ini,serasa tak ada bandingannya,mungkin seperti itu semua orang tua pada buah hatinya...


Alinea begitu penuh dengan limpahan kasih sayang baik dari Mama Papanya Kakek Neneknya yang masih begitu lengkap tak kurang suatu apapun...dalam termangu nya Aryanti teringat Aira dan Made Ardika betapa tak beruntungnya nasib Aira sekecil itu sudah di hadapkan pada persoalan perasaan yang begitu peliknya,sampai sampai Papanya berani menaruhkan segalanya hanya untuk satu senyum kebahagiaan putrinya.


Dan kesedihan Aryanti saat teringat suaminya Mas Adrian yang sekarang menginap di tahanan kantor polisi entah seperti apa,apa bisa tidur ? seperti dirinya yang tak ingat apa apa saking capeknya fikiran dan perasaannya,fisik dan mentalnya benar benar lagi di uji tapi Aryanti menghibur dirinya nggak mungkin Pak Daud tak mengurus suaminya.


Keluar kamar yang begitu terasa lengang semua berantakan mainan Alinea baru di beresin Bi Inah dan di tempatkan di keranjangnya,lalu di sapu dan di pel nya, Ibu dan Bapak mertuanya mungkin sudah jalan jalan keluar dan Aryanti di sambut suara riuh burung burung di samping rumah huniannya yang semua kandang telah terisi sama berbagai jenis burung.


Teringat perjanjian dengan Made Ardika yang mau negosiasi dengan saudaranya kita lihat apa semua tidak bohong ?


Dan hari ini Aryanti berencana mau nengok Suaminya Mas Adrian di kantor polisi mungkin sambil memberi kesaksian juga melewati pemeriksaan polisi terkait kasusnya dengan Made Ardika, Dan Aryanti akan di dampingi Bapak mertuanya Pak Daud,juga Komang Putri semoga Pak Made Ardika juga cepat sehat dan bisa bersaksi agar semua cepat selesai,kasihan Aira yang tak mengerti apa apa...


Keluar kamar mandi Aryanti sudah mendengar Ibu bapak mertuanya lagi berbincang dengan Pak Daud,mungkin mereka juga seperti dirinya ingin segera tuntas menyelesaikan masalah ini,Aryanti berdandan dan meneliti wajahnya di cermin dan meyakinkan dirinya apa benar mukanya mirip Ida Ayu Saraswati ? mengingat semua itu Aryanti jadi merinding sendiri,merasa takut juga memerankan menjadi orang yang telah meninggal dunia bulu kuduknya jadi berdiri dan Aryanti tak ada pilihan lain yang lebih baik selain mengikuti episode episode drama Made Ardika.


Terasa ada yang kurang dalam dirinya mendapati tidurnya hanya berdua dengan putrinya,tak ada yang memeluknya,dan saat mau bangun selalu menariknya kembali,dan terjadilah adegan saling dorong Aryanti mau bangun dan Adrian masih mau memeluknya,barulah Adrian melepaskan Aryanti setelah di beri hadiah pelukan dan ciuman pagi.


Alinea masih terlelap di pandangnya raut mukanya sama Aryanti, dan di usapnya rambut dan kepalanya sudah semakin besar anakku...semoga jalan panjang yang akan kamu lalui semuanya lancar,begitu mudahnya dan tak menemui halangan apapun Nak...


Aryanti keluar kamar menemui Bapak dan Ibu mertuanya yang lagi minum dan sarapan bersama Pak Daud, Pak Daud bangkit saat Aryanti menghampirinya dengan maksud dan tujuan akan memberikan kursi buat Aryanti,dan dirinya pindah tempat ke kursi yang pojok


"Duduk sini Nak..." Ibu Handayani mempersilahkan Aryanti sambil menatap raut mukanya yang sudah agak segar,apalagi sudah berdandan.


"Iya Bu terimakasih..." Aryanti duduk perlahan


"Ayo Dek Aryanti mau sarapan apa, ada roti, sama kue kue basah,minumnya mau apa ?"


"Biarin Bu apa saja nanti aku bikin sendiri,perasaan Aku belum begitu mau sarapan...Aku mau bertemu Mas Adri memastikan apa dia baik baik saja ?"

__ADS_1


Pak Surapraja dan Ibu Handayani juga Pak Daud saling pandang.


"Sabar Dek Aryanti sarapan saja dulu...nanti malah sakit terus kamu nggak bisa memberi kesaksian jadi berlarut larut akhirnya" Pak Surapraja bicara seakan memberi perintah.


"Apa Ibu bikinin minumnya mau apa ? biasanya anak muda minumnya aneh aneh,kopi juga banyak ragamnya dan di mix macam macam"


"Eh Ibu jangan biar Aku bikin sendiri" Aryanti bangkit ke belakang ada Bi Inah juga lagi sarapan.


"Neng Bibi sarapan duluan,tadi Ibu beli makanan banyak banget,ini di bagi dua nggak bakalan habis"


"Iya Bi makan saja...masih ada minuman apa Bi ?"


"Itu paling kopi,teh..."


"Coklat coklat an nggak ada lagi habis Bi ?"


"Ya sudah aku minum teh saja..." Aryanti membikin sendiri minumannya dan membawanya ke depan teras kembali.


Pak Surapraja dan Pak Daud sudah berdiri sambil melihat lihat kebun binatang,dan melihat Aryanti sudah duduk kembali lalu Pak Daud menghampirinya.


"Dek Aryanti silahkan sarapan dulu, setelah itu saya tunggu di office karena akan banyak agenda kita hari ini...gimana sudah seger bisa istirahat malam tadi ?" sambil senyum Pak Daud menatap Aryanti.


"Lumayan Pak...Iya saya nanti ke kantor"


Pak Daud sama Pak Surapraja berangkat duluan sambil berbincang,Aryanti sarapan sama Ibu mertuanya.


"Bu saya titip Alinea lagi,mungkin saya masih akan banyak urusan,sampai semuanya selesai dan Mas Adrian bisa pulang,baru mungkin saya bisa tenang"


"Nggak usah di fikirkan Alinea ada Ibu sama Bi Inah... selesaikan dulu semuanya"

__ADS_1


"Mas Adri gimana tidurnya ya...juga sudah sarapan belum hari ini ? Aryanti seperti bergumam pada dirinya sendiri.


"Nggak usah berlebihan,semua baik baik saja semalam Pak Daud sama Bapaknya nengok dari sana kelihatan nggak ada yang perlu di khawatirkan, sengaja nggak ajak Dek Aryanti karena Ibu tahu kamu sudah istirahat."


"Ibu...apa Ibu sudah dengar dari kesaksian saksi saksi dari Jefferson ,Ashley ,Me Nik dan Aira ?"


"Ibu hanya dengar sedikit dari Bapak,memang semua begitu janggal kedengarannya,tapi saat Made Ardika tak Ada perlawanan saat suamimu amarah perasaan Ibu percaya pada mereka... mereka kelihatan jujur tapi nggak tahu kita serahkan semuanya pada penyidik dari kepolisian..."


"Apa yang Ibu tangkap dari kesaksian mereka ?" Aryanti menatap Ibu mertuanya dengan sangat harap bisa memberi sedikit tanggapan atas kesaksian saksi saksi dari Made Ardika.


Dan Ibu Handayani balik menelisik kejujuran di wajah menantunya.


"Pemikiran Ibu mungkin salah juga mungkin benar Nak,tapi perbuatan Made Ardika sangat memaksakan diri menyekap, menculik kamu dengan cara tidaklah sopan hanya untuk memenuhi ambisinya,menekan kamu dalam ketakutan dan keterpaksaan mengikuti peran yang dia harapkan,dan itu harus di balas dengan hukuman yang setimpal dan juga hukuman yang berat,juga hukuman dari suamimu itu adalah akibat dari perbuatannya yang begitu nyata mencolok mata banget"


"Awal awal Aku di sana Bu depresi berat,apalagi saat aku belum tahu motifnya seperti apa,baru setelah Aku tahu tujuannya aku sedikit merasa lega juga saat di pertemukan dengan putrinya, Aku percaya ini benar benar untuk putrinya Aira"


"Ya ya ya...Ibu tak dapat bayangkan hidup dalam tekanan beberapa hari meninggalkan Anak dan suami dalam kecemasan, kamu begitu sukses menjalani semua itu Nak..."


"Tak ada pilihan lain yang lebih baik Bu...selain Aku ikuti keinginannya dengan satu harapan bisa segera selesai dan bisa cepat pulang,dan itu juga selalu ada perdebatan dan negosiasi diantara kami,semua akan Aku ungkap di hadapan penyidik kepolisian"


"Ungkapkan semuanya biarkan semua polisi yang menangani, salahnya suamimu keburu emosi tak sempat meminta penjelasan apapun karena jelas jelas Made Ardika di posisi salah"


"Iya Bu... Aku kasihan Mas Adri takut stres di kantor polisi"


"Ya Sudah biar siang ini di lihat dan beri semangat"


"Sudah Aku pamit dulu ya Bu,Aku berangkat dulu mungkin sudah di tunggu Pak Daud..."


"Iya hati hati Nak..."

__ADS_1


__ADS_2